Senin, 22 Agustus 2016

Sampai Kapan?



Dua tahun mengenalmu, membuatku hafal dengan kebiasaanmu.

Yang selalu menambah satu air mineral kalau memesan minuman apa pun. Katamu, yang manis untuk nongkrong sama aku, yang air mineral untuk hausmu.

Yang selalu geleng-geleng kepala setiap aku memborong buku atau sedang mengetik fiksi untuk blogku.

Yang selalu tertawa melihatku menghirup aroma kopiku sebelum meminumnya.


Minggu, 14 Agustus 2016

Setelah Kamu Tidak Lagi Ada


Kadang-kadang, aku kangen kamu. Kangen ketika kita sering ngobrol dan tertawa dulu. Kangen ketika kita berdua duduk berhadapan dengan secangkir kopi Lampung hitam di mejaku dan secangkir teh melati di mejamu. Kangen menemanimu bercerita seolah sebuah kamus humor berjalan yang memiliki stok cerita lucu yang tak ada habisnya.

Atau kangen ketika berkaraoke berdua, dengan suaramu yang ngebass dan sering falsnya tapi dengan pedenya terus berteriak-teriak dengan entah nada apa. Saat lagunya sedih kamu akan pasang juga muka sedih, sok serius menghayati lagu.


Kamis, 11 Agustus 2016

'Ada'



Ta, bukan jarak yang membuat kita terasa jauh, tetapi karena kita tidak saling berbicara. Maksudku, benar-benar berbicara. Bukan sekadar, “Kamu lagi apa?”, atau menceritakan apa yang hari ini kamu atau aku lakukan. Tetapi, apakah hatimu berubah? Apakah di sana kamu bertemu orang baru, yang awalnya biasa, lalu semakin lama, tumbuh menjadi cinta?

Jarak bukan masalahnya, tetapi komunikasi kita. Di bagian itu, mungkin kamu yang tidak bisa memahaminya.

Aku tidak takut dengan kejauhan, Ta. Di masa sekarang ini, jarak sejauh apapun bisa dipendekkan dengan saling berbicara. Ada Skype, Whats App, BBM, dan lain sebagainya. Semakin rutin kita berbicara, semakin hati kita terjaga. Semakin jarang kita saling menyapa, hati kita pun semakin kentara jaraknya.

Rabu, 07 Oktober 2015

Sampai Aku Bisa untuk Tidak Merindukanmu Lagi



Kita tidak akan berbicara tentang bagaimana kamu mematahkan hatiku, atau bagaimana lelahnya aku untuk berusaha melepaskanmu setelah itu. Itu tekadku hari ini.

Aku tidak mau membahasnya. Biar aku yang merasakannya, dan menyimpannya. Karena seberapapun aku menjelaskannya, kalau tidak mengalami sendiri kamu toh tidak akan mengerti. 

Sekarang, aku mengambil risiko besar ini, dengan menemuimu. Risiko yang dulu tidak berani aku ambil karena takut hatiku juga bisa kembali kamu ambil. Tetapi, kali ini aku sudah siap. Karena meski hatiku sudah melepasmu lama, tetapi pikiranku baru saja bisa melakukannya. Jadi, ini, aku di sini. Menguji mata, hati, dan pikiranku untuk menemuimu kembali. 

Senin, 07 September 2015

Keping - "Kamu Hanya Takut untuk Pergi"


1.
Kamu tahu tidak ada gunanya di sini, bersama orang yang sudah tidak sama lagi. Kamu hanya takut untuk pergi.

2.
Awalnya membanding-bandingkan, lalu mencari kekurangan biar ada alasan melepaskan.

3.
Yang dilepaskan kan perasaannya, bukan silaturahimnya.


4.
Aku cemburu, sayang. Aku hanya tidak bisa mengatakan.


Senin, 31 Agustus 2015

Epiphany*


Bapak tua di depan kami bukanlah siapa-siapa. Waktu itu kami hanya mampir di sebuah warung remang-remang kecil di tengah perjalanan ke Wonosari dari Yogya.

Pada saat kami datang, dia sudah duduk di sana. Berceloteh apa saja. Kata pemilik warung, namanya Yanto, dan meminta kami untuk memakluminya.

"Biarkan saja, mas, mbak. Wonge memang gitu. Tapi gak bahaya, kok."

Ya, sudah kami menurutinya.

"Wektu ra bakal mandeg mlaku, mbok'o koe terus nunggu (Waktu tidak akan berhenti, meski kamu menunggu)," katanya.


Rabu, 26 Agustus 2015

Keping - Sudah Lelah Bertahannya?

1.
Kalau memang niatnya mau jatuh cinta lagi, ya hatimu jangan ditinggal di masa lalu.

2.
Berjuang itu bersama-sama, bukan satu orang berjuang, satunya lagi menunggu hasilnya.

3.
Ngarepnya menyenangkan, tidak sesuai kenyataannya tidak.

4.
Kangennya sudah, nurunin ego untuk bilang kangennya yang belum.


Rabu, 10 Juni 2015

Cinta Pernah Tidak ke Mana-mana Sampai Beberapa Waktu Lamanya



Kita ini seperti sepasang, tanpa pernah benar-benar berduaan.

Jika sudah ngobrol, it was more than fun. Kamu bisa menceritakan apa saja dan aku bisa mendengarnya kapan saja dan berapapun lamanya. Kata demi kata. Bagiku itu seperti menonton sebuah film epic yang mampu membuat kita terpaku dan menontonnya berkali-kali. 

And then, there’s voices in my head, says, ‘Let's talk, and I will happy till the sky get dark’.

Kalau kamu sudah mulai menceritakan sesuatu yang lucu, aku akan terbahak. Don’t you know that it's funny how you can always make me laugh (or should I say happy?). Nobody can make me laugh like you did. Rasanya lebih hangat di dalam sana, di dada. Karena aku juga melihat kamu tertawa. 

Itu menyenangkan. Kita, melakukan hal-hal sederhana. Berbahagia di dalamnya. Tidak muluk-muluk. Tidak harus ke Bali, atau belanja ke Singapore. Tidak harus ke Dufan atau ke menara Eiffel. Cukup seperti ini saja. Ngobrol berdua, dengan kebegoan-kebegoan cerita di dalamnya. Tertawa bersama, melakukan hal bodoh bersama. Karena bahagiaku memang selalu sesederhana, 'apapun, selama bersamamu, aku bisa bahagia.'

Denganmu, aku tidak harus berpura-pura. Tidak harus terlihat pintar, bijaksana, atau dewasa. Cukup menjadi aku saja. Katamu, aku sudah menyenangkan. Tidak perlu menjadi yang bukan aku sebenarnya. Selama itu adalah yang terbaik dari diriku sendiri, berarti itulah aku yang sebenarnya. Kalimat yang tidak pernah bisa aku lupakan dan tanpa kamu tahu, dari sana aku mulai bisa mencari tahu siapa aku sebenarnya. Di situlah aku mulai jatuh cinta. (Apa kamu mengetahuinya?)

Rabu, 18 Maret 2015

Percuma



Aku bisa saja tetap ‘mengganggumu’ dengan pesan-pesan ‘Apa kabar?’ atau ‘Lagi apa?’-ku. Aku bisa juga meneleponmu hanya untuk mendengar suaramu dan membuatmu terbiasa dengan perbincangan-perbincangan kita maupun keberadaanku. Apapun selama aku bisa sekadar menyiratkan, “Hai! Aku di sini. Aku ada. Lihat aku.”

Aku bisa saja tetap berharap kalau suatu saat kamu akan memberikan bunga, mengatakan kalau kamu menyadari perasaanku dan kamu merasakan yang sama. Harapan yang tidak juga hilang meski sudah berusaha berulang kali kulupakan.