Minggu, 27 November 2016

Aku 'Tahu' Kamu Akan Pergi



Aku 'tahu' kamu akan pergi, aku hanya tidak tahu akan secepat ini.

Dari awal, aku sudah ikhlas. Bukan saat kamu memutuskan pergi, tapi justru sejak awal kamu datang dan mengajakku berpasangan. O, bahkan saat awal berkenalan. Mungkin karena aku sudah belajar dari pengalaman, kalau orang, secinta-cintanya kita atau mereka, bisa pergi dan datang.


Selasa, 18 Oktober 2016

Tau



“Dia bukan siapa-siapa. Teman biasa. Jangan curigaan, ah!” katamu.

Ya, aku tau. Aku tahu ceritamu dan dia. Kalian bersahabat sejak SMA. Aku tau. Tidak ada cinta. Aku tau. Tau kalau selalu itu yang kamu ceritakan kepadaku.

Aku hanya mau tanya. Bagaimana kamu akan menjelaskan senyummu yang bisa otomatis muncul begitu saja ketika tidak sengaja bertemu dengannya? Bagaimana kamu akan menjelaskan kecepatanmu yang dengan segera menjawab telepon atau WA-nya? Bagaimana kamu akan menjelaskan betapa sering dengan tidak sengaja kamu bisa tiba-tiba bercerita tentang dia dengan begitu semangatnya?

Senin, 12 September 2016

Teman Kita Pernah Bercerita



Teman kita pernah bercerita.

Ada dua orang yang selalu tidak sabar menunggu pagi. Keduanya, ingin terus bertemu lagi, untuk saling mengagumi. Merasakan hangatnya percakapan, merasakan bagaimana ternyata seseorang bisa membenci malam karena itu artinya perpisahan.

Menyenangkan.


Seratus-Seratusnya



Kalau ada yang bertanya apa 100 hal yang bisa membuatku bahagia, aku bisa menjawab kamu seratus-seratusnya.





Minggu, 04 September 2016

Kalau Kamu Tidak Bisa Melakukannya, Lebih Baik Pergi Saja


Aku menuntutmu mencintaiku seolah-olah belum pernah ada yang menyakitimu. Lepaskan luka-lukamu yang dulu, lepaskan bahagiamu yang dulu. Kamu sudah bersamaku, bukan bersama masa lalumu. Jadi, jangan mencintai orang yang baru dengan hati lamamu.

Aku menuntutmu untuk memberikan hati dan pikiran baru. Aku bukan dia, dia, atau dia. Fisikku tidak sama, sidik jariku pun tidak sama, apalagi sifat-sifatku. Kamu tidak bisa mengharapkan aku memiliki tingkat humoris seperti dia, tidak bisa mengharapkan aku memiliki kebiasaan seperti dia. Tapi aku memiliki tanggung jawab untuk menjaga bahagiamu lebih besar dari mereka semua.


Rabu, 31 Agustus 2016

The Worst Part?

Tidak ada lagi yang sama. Tempat yang biasa kita datangi, warung mi ayam langganan kita, atau kacang rebus pinggir jalan di pojok perempatan dekat pos polisi. Rasanya sama, tetapi tetap suasananya berbeda.

Dulu, kalau ada kamu, aku menikmati setiap detiknya. Sekarang, aku ingin semua berlalu secepatnya. Sayang sekali, semua tempat itu adalah tempat yang memang aku sukai, jadi mau tidak mau, aku akan ke sana menikmati hari.

Setiap kali di tempat-tempat itu, bermunculan kamu di mana-mana. Di depanku sambil tertawa, membeli kacang rembus sambil bergurau dengan penjualnya karena seringnya kamu membeli darinya, atau kamu mengerutkan dahi setiap aku menambahkan empat sendok sambal ke mi ayamku. Kamu tahu aku selalu melakukannya, tetapi kamu tetap merasa heran setiap kali melihatku memasukkan begitu banyak sambal ke makanan apa saja.

Senin, 22 Agustus 2016

Sampai Kapan?



Dua tahun mengenalmu, membuatku hafal dengan kebiasaanmu.

Yang selalu menambah satu air mineral kalau memesan minuman apa pun. Katamu, yang manis untuk nongkrong sama aku, yang air mineral untuk hausmu.

Yang selalu geleng-geleng kepala setiap aku memborong buku atau sedang mengetik fiksi untuk blogku.

Yang selalu tertawa melihatku menghirup aroma kopiku sebelum meminumnya.


Minggu, 14 Agustus 2016

Setelah Kamu Tidak Lagi Ada


Kadang-kadang, aku kangen kamu. Kangen ketika kita sering ngobrol dan tertawa dulu. Kangen ketika kita berdua duduk berhadapan dengan secangkir kopi Lampung hitam di mejaku dan secangkir teh melati di mejamu. Kangen menemanimu bercerita seolah sebuah kamus humor berjalan yang memiliki stok cerita lucu yang tak ada habisnya.

Atau kangen ketika berkaraoke berdua, dengan suaramu yang ngebass dan sering falsnya tapi dengan pedenya terus berteriak-teriak dengan entah nada apa. Saat lagunya sedih kamu akan pasang juga muka sedih, sok serius menghayati lagu.


Kamis, 11 Agustus 2016

'Ada'



Ta, bukan jarak yang membuat kita terasa jauh, tetapi karena kita tidak saling berbicara. Maksudku, benar-benar berbicara. Bukan sekadar, “Kamu lagi apa?”, atau menceritakan apa yang hari ini kamu atau aku lakukan. Tetapi, apakah hatimu berubah? Apakah di sana kamu bertemu orang baru, yang awalnya biasa, lalu semakin lama, tumbuh menjadi cinta?

Jarak bukan masalahnya, tetapi komunikasi kita. Di bagian itu, mungkin kamu yang tidak bisa memahaminya.

Aku tidak takut dengan kejauhan, Ta. Di masa sekarang ini, jarak sejauh apapun bisa dipendekkan dengan saling berbicara. Ada Skype, Whats App, BBM, dan lain sebagainya. Semakin rutin kita berbicara, semakin hati kita terjaga. Semakin jarang kita saling menyapa, hati kita pun semakin kentara jaraknya.