Remember When*



Remember when I said my first ‘hello’, and you smiled at me then you said your first ‘hello’ too?
Itu awal kita saling mengenal. Aku sampai memperhatikan semua detail tentangmu. Tentu saja  aku membuatnya agar tidak terlalu kelihatan. Tapi aku memang memperhatikan dan merekam semuanya sebisaku. Rambutmu yang panjang, tinggimu yang sepundakku, matamu yang cokelat bening, semuanya. Tahukah kamu, itu pertama kali aku berani menyapa seorang gadis? Bahkan sampai sekarang aku masih tidak percaya kalau aku nekad menyapamu ketika itu. And, by the way, I never forget that first ‘hello’.
Remember when we had silly talks about everything all nights through cellphone?
Kita bercerita tentang makanan dan minuman apa yang kita suka, film, komik, buku, semuanya. Kita juga menceritakan kebodohan-kebodohan yang masing-masing pernah lakukan, lalu tertawa bersama. Kamu mengolokku atau aku yang terbahak dengan keisenganmu. Tanpa sadar, pagi sudah datang dan ternyata kita belum tidur sama sekali. That was fun.
Share

Ran

Aku suka melihatmu seperti itu. Tertawa dengan binar mata yang tidak bisa kujelaskan bagaimana gambaran kegembiraannya. Lalu kamu menunjuk apa saja kamu lihat dan kamu sangat menyukainya.

“Itu,” katamu, “Pelanginya tidak hanya tujuh warna. Ada banyak warna. Tidak melengkung juga, malah bentuknya serupa boneka. Aneh sekali. Tapi aku suka.”  
Ah, kalau saja kamu tahu, aku lebih suka bahagiamu itu dari pelangi tidak biasa itu.
“Itu juga! Lihat!” Lagi-lagi kamu menunjukkan sesuatu di atas. “Ada bintang jatuh berhamburan. Nyalanya tidak kuning atau putih. Warnanya kehijauan. Seperti kembang api, hanya yang ini lebih besar. Padahal ini siang, kenapa bisa kelihatan dan bisa begitu terang?” 
 Ah, kalau saja kamu tahu, matamu itu jauh lebih nyala dari bintang jatuh itu.
Share

SHINE ON Quote - Yang Buruk Itu Peristiwanya



Ketika terjadi sebuah peristiwa buruk,
Yang buruk adalah peristiwanya.
Bukan kamu.

Ketika menggoreng sesuatu dan gosong,
Yang gosong adalah sesuatunya,
Bukan kamu.

Share

Keping - Tak Bisa Melakukan Apa-Apa dengan Itu

1.
Hatiku masih selalu kusiapkan untuk menjadi rumahmu yang paling nyaman.
Kalau kamu sudah lelah berkelana, kamu bisa pulang lagi sekarang.

2.
Waktu selalu ada, tidak pernah pergi. Jangan menggunakan alasan 'sedang tidak ada waktu' hanya untuk menghindari bertemu denganku.

3.
Aku sulit melupakanmu, kamu sulit mengingat perhatianku.
 
4.
What if I already learn to let you go long before you realized that suddenly you miss me so?


Share

Surat ke-31


Ketika kamu terlalu berat hati untuk melepasnya pergi,
Ketika kepalamu terasa terbebani karena memikirkan dia malah membuatmu nyeri,
Ketika beban itu kemudian meluap ke matamu untuk menjadi tangis, tapi  kamu ingin menyembunyikan tangismu itu,
Kemari, dan ambil bahuku.


Share

Pernah

Kita pernah, berbicara sepanjang malam dan saling memuji. Mengatakan apa pun yang basa-basi, lalu saling menertawakannya. Tertawa karena merasa bahwa percakapan kita sangat konyol. Pujian-pujian bodoh yang kita sampaikan hanya untuk memperlambat waktu, agar kita bisa tetap bersama lebih lama. Kita memang melewati waktu dengan bodoh, tapi itu tetap menyenangkan. Sangat menyenangkan.

Kita pernah, saling mencari bahan pembicaraan hanya untuk menyenangkan hati kita karena bisa melihat salah satunya tertawa. Jika aku bisa membuatmu tertawa, aku sering tidak bisa menjelaskan sendiri betapa senangnya aku. Dan jika kamu bisa membuatku tertawa, aku melihat binar matamu selalu berbeda. Ada senang yang tak terjelaskan di sana.

Kita pernah, merasa bahwa mereka-mereka, yang makan di cafe yang sama dengan kita ketika kita sedang menikmati waktu berdua, adalah alien. Ini bumi kita, mereka menginvasinya dan mengganggu kebersamaan kita. Seharusnya kita serang mereka dengan senjata kimia. Kemudian kita menertawakan kebodohan pikiran kita itu. Sebenarnya yang alien kita atau mereka? That was fun.

Share

10 Menit Berbahagia Kembali


Ada momen tertentu dimana seseorang bisa merasa bosan, tidak nyaman, atau 'jatuh'. Momen yang tidak membahagiakan sama sekali. Tapi sebenarnya kita bisa membangkitkan kembali kebahagiaan kita dalam sepuluh menit atau kurang. Bagaimana caranya?


  1.  Menarik napas panjang, menghembuskannya, lalu tersenyum. 
      Karena kita harus ‘tahu’ bahwa ini hanya sementara, semuanya akan berlalu. Kita akan bisa melaluinya dan kembali baik-baik saja. Selalu.

     2. Menerima, dan terus berjalan.

      “Yang memang milikmu, pasti akan menjadi milikmu.
      Yang memang bukan milikmu, pasti tidak akan menjadi milikmu.
      Dan yang memang belum waktunya datang, juga tidak akan datang sekarang.
      Bagian mana yang belum kamu mengerti?”*

Share