Rabu, 19 April 2017

Hari Rabu di Tempat Paling Tersembunyi



Aku ingat ketika kamu memasuki ruangan, dan aku seperti... pernah merasa bahwa semua pandangan seolah menyempit pada satu titik? Mungkin seperti itu. Selalu seperti itu setiap hari Rabu.

And there. Look at you. Berjalan dengan percaya diri, tersenyum menyapa teman-temanmu sambil entah bercanda tentang apa. Mungkin aku tidak mendengarnya atau mungkin fokusku diambil sepenuhnya oleh kamu sampai aku tidak bisa mendengar apa-apa.

Selasa, 18 April 2017

Bahagia Lagi

Aku tidak akan membencimu. Tetapi, juga tidak berarti aku akan melupakan semua luka yang kamu berikan kepadaku. Aku akan menyimpannya. Semuanya. Untuk mengingatkan bahwa kamulah yang tidak pantas untukku, bukan aku. Untuk penanda ada luka di sana, dan aku tidak boleh mengalaminya lagi bagaimanapun juga.

Aku tidak akan 100% menyalahkanmu atas perpisahan kita. Karena, untuk apa bertahan jatuh cinta kalau dua-duanya tidak berbahagia.

Minggu, 27 November 2016

Aku 'Tahu' Kamu Akan Pergi



Aku 'tahu' kamu akan pergi, aku hanya tidak tahu akan secepat ini.

Dari awal, aku sudah ikhlas. Bukan saat kamu memutuskan pergi, tapi justru sejak awal kamu datang dan mengajakku berpasangan. O, bahkan saat awal berkenalan. Mungkin karena aku sudah belajar dari pengalaman, kalau orang, secinta-cintanya kita atau mereka, bisa pergi dan datang.


Selasa, 18 Oktober 2016

Tau



“Dia bukan siapa-siapa. Teman biasa. Jangan curigaan, ah!” katamu.

Ya, aku tau. Aku tahu ceritamu dan dia. Kalian bersahabat sejak SMA. Aku tau. Tidak ada cinta. Aku tau. Tau kalau selalu itu yang kamu ceritakan kepadaku.

Aku hanya mau tanya. Bagaimana kamu akan menjelaskan senyummu yang bisa otomatis muncul begitu saja ketika tidak sengaja bertemu dengannya? Bagaimana kamu akan menjelaskan kecepatanmu yang dengan segera menjawab telepon atau WA-nya? Bagaimana kamu akan menjelaskan betapa sering dengan tidak sengaja kamu bisa tiba-tiba bercerita tentang dia dengan begitu semangatnya?

Senin, 12 September 2016

Teman Kita Pernah Bercerita



Teman kita pernah bercerita.

Ada dua orang yang selalu tidak sabar menunggu pagi. Keduanya, ingin terus bertemu lagi, untuk saling mengagumi. Merasakan hangatnya percakapan, merasakan bagaimana ternyata seseorang bisa membenci malam karena itu artinya perpisahan.

Menyenangkan.


Seratus-Seratusnya



Kalau ada yang bertanya apa 100 hal yang bisa membuatku bahagia, aku bisa menjawab kamu seratus-seratusnya.





Minggu, 04 September 2016

Kalau Kamu Tidak Bisa Melakukannya, Lebih Baik Pergi Saja


Aku menuntutmu mencintaiku seolah-olah belum pernah ada yang menyakitimu. Lepaskan luka-lukamu yang dulu, lepaskan bahagiamu yang dulu. Kamu sudah bersamaku, bukan bersama masa lalumu. Jadi, jangan mencintai orang yang baru dengan hati lamamu.

Aku menuntutmu untuk memberikan hati dan pikiran baru. Aku bukan dia, dia, atau dia. Fisikku tidak sama, sidik jariku pun tidak sama, apalagi sifat-sifatku. Kamu tidak bisa mengharapkan aku memiliki tingkat humoris seperti dia, tidak bisa mengharapkan aku memiliki kebiasaan seperti dia. Tapi aku memiliki tanggung jawab untuk menjaga bahagiamu lebih besar dari mereka semua.


Rabu, 31 Agustus 2016

The Worst Part?

Tidak ada lagi yang sama. Tempat yang biasa kita datangi, warung mi ayam langganan kita, atau kacang rebus pinggir jalan di pojok perempatan dekat pos polisi. Rasanya sama, tetapi tetap suasananya berbeda.

Dulu, kalau ada kamu, aku menikmati setiap detiknya. Sekarang, aku ingin semua berlalu secepatnya. Sayang sekali, semua tempat itu adalah tempat yang memang aku sukai, jadi mau tidak mau, aku akan ke sana menikmati hari.

Setiap kali di tempat-tempat itu, bermunculan kamu di mana-mana. Di depanku sambil tertawa, membeli kacang rembus sambil bergurau dengan penjualnya karena seringnya kamu membeli darinya, atau kamu mengerutkan dahi setiap aku menambahkan empat sendok sambal ke mi ayamku. Kamu tahu aku selalu melakukannya, tetapi kamu tetap merasa heran setiap kali melihatku memasukkan begitu banyak sambal ke makanan apa saja.

Senin, 22 Agustus 2016

Sampai Kapan?



Dua tahun mengenalmu, membuatku hafal dengan kebiasaanmu.

Yang selalu menambah satu air mineral kalau memesan minuman apa pun. Katamu, yang manis untuk nongkrong sama aku, yang air mineral untuk hausmu.

Yang selalu geleng-geleng kepala setiap aku memborong buku atau sedang mengetik fiksi untuk blogku.

Yang selalu tertawa melihatku menghirup aroma kopiku sebelum meminumnya.