Rabu, 07 Oktober 2015

Sampai Aku Bisa untuk Tidak Merindukanmu Lagi



Kita tidak akan berbicara tentang bagaimana kamu mematahkan hatiku, atau bagaimana lelahnya aku untuk berusaha melepaskanmu setelah itu. Itu tekadku hari ini.

Aku tidak mau membahasnya. Biar aku yang merasakannya, dan menyimpannya. Karena seberapapun aku menjelaskannya, kalau tidak mengalami sendiri kamu toh tidak akan mengerti. 

Sekarang, aku mengambil risiko besar ini, dengan menemuimu. Risiko yang dulu tidak berani aku ambil karena takut hatiku juga bisa kembali kamu ambil. Tetapi, kali ini aku sudah siap. Karena meski hatiku sudah melepasmu lama, tetapi pikiranku baru saja bisa melakukannya. Jadi, ini, aku di sini. Menguji mata, hati, dan pikiranku untuk menemuimu kembali. 

Senin, 07 September 2015

Keping - "Kamu Hanya Takut untuk Pergi"


1.
Kamu tahu tidak ada gunanya di sini, bersama orang yang sudah tidak sama lagi. Kamu hanya takut untuk pergi.

2.
Awalnya membanding-bandingkan, lalu mencari kekurangan biar ada alasan melepaskan.

3.
Yang dilepaskan kan perasaannya, bukan silaturahimnya.


4.
Aku cemburu, sayang. Aku hanya tidak bisa mengatakan.


Senin, 31 Agustus 2015

Epiphany*


Bapak tua di depan kami bukanlah siapa-siapa. Waktu itu kami hanya mampir di sebuah warung remang-remang kecil di tengah perjalanan ke Wonosari dari Yogya.

Pada saat kami datang, dia sudah duduk di sana. Berceloteh apa saja. Kata pemilik warung, namanya Yanto, dan meminta kami untuk memakluminya.

"Biarkan saja, mas, mbak. Wonge memang gitu. Tapi gak bahaya, kok."

Ya, sudah kami menurutinya.

"Wektu ra bakal mandeg mlaku, mbok'o koe terus nunggu (Waktu tidak akan berhenti, meski kamu menunggu)," katanya.


Rabu, 26 Agustus 2015

Keping - Sudah Lelah Bertahannya?

1.
Kalau memang niatnya mau jatuh cinta lagi, ya hatimu jangan ditinggal di masa lalu.

2.
Berjuang itu bersama-sama, bukan satu orang berjuang, satunya lagi menunggu hasilnya.

3.
Ngarepnya menyenangkan, tidak sesuai kenyataannya tidak.

4.
Kangennya sudah, nurunin ego untuk bilang kangennya yang belum.


Rabu, 10 Juni 2015

Cinta Pernah Tidak ke Mana-mana Sampai Beberapa Waktu Lamanya



Kita ini seperti sepasang, tanpa pernah benar-benar berduaan.

Jika sudah ngobrol, it was more than fun. Kamu bisa menceritakan apa saja dan aku bisa mendengarnya kapan saja dan berapapun lamanya. Kata demi kata. Bagiku itu seperti menonton sebuah film epic yang mampu membuat kita terpaku dan menontonnya berkali-kali. 

And then, there’s voices in my head, says, ‘Let's talk, and I will happy till the sky get dark’.

Kalau kamu sudah mulai menceritakan sesuatu yang lucu, aku akan terbahak. Don’t you know that it's funny how you can always make me laugh (or should I say happy?). Nobody can make me laugh like you did. Rasanya lebih hangat di dalam sana, di dada. Karena aku juga melihat kamu tertawa. 

Itu menyenangkan. Kita, melakukan hal-hal sederhana. Berbahagia di dalamnya. Tidak muluk-muluk. Tidak harus ke Bali, atau belanja ke Singapore. Tidak harus ke Dufan atau ke menara Eiffel. Cukup seperti ini saja. Ngobrol berdua, dengan kebegoan-kebegoan cerita di dalamnya. Tertawa bersama, melakukan hal bodoh bersama. Karena bahagiaku memang selalu sesederhana, 'apapun, selama bersamamu, aku bisa bahagia.'

Denganmu, aku tidak harus berpura-pura. Tidak harus terlihat pintar, bijaksana, atau dewasa. Cukup menjadi aku saja. Katamu, aku sudah menyenangkan. Tidak perlu menjadi yang bukan aku sebenarnya. Selama itu adalah yang terbaik dari diriku sendiri, berarti itulah aku yang sebenarnya. Kalimat yang tidak pernah bisa aku lupakan dan tanpa kamu tahu, dari sana aku mulai bisa mencari tahu siapa aku sebenarnya. Di situlah aku mulai jatuh cinta. (Apa kamu mengetahuinya?)

Rabu, 18 Maret 2015

Percuma



Aku bisa saja tetap ‘mengganggumu’ dengan pesan-pesan ‘Apa kabar?’ atau ‘Lagi apa?’-ku. Aku bisa juga meneleponmu hanya untuk mendengar suaramu dan membuatmu terbiasa dengan perbincangan-perbincangan kita maupun keberadaanku. Apapun selama aku bisa sekadar menyiratkan, “Hai! Aku di sini. Aku ada. Lihat aku.”

Aku bisa saja tetap berharap kalau suatu saat kamu akan memberikan bunga, mengatakan kalau kamu menyadari perasaanku dan kamu merasakan yang sama. Harapan yang tidak juga hilang meski sudah berusaha berulang kali kulupakan.

Kamis, 26 Februari 2015

Selama Tentang Kamu, Fey


Dengar, jangan lakukan apa-apa, jangan katakan apa-apa. Cukup baca dan pahami saja. Kamu tidak perlu membalasnya, tidak perlu juga terlalu memikirkannya.

Kalau kamu butuh teman untuk bercerita, kamu punya emailku, punya sosial mediaku untuk membaginya. Aku pasti akan membalasnya secepat aku bisa.

Kalau kamu butuh bahuku, selama memungkinkan aku juga bisa mengusahakan untuk ke sana. Bahuku untukmu kapan saja. Untuk bersandar ketika kamu lelah dengan dunia, atau untuk sekadar menyandarkan bahagia agar tidak berlebihan dalam menanggapinya. Mungkin tidak seberapa, tapi kadang hanya itu yang aku punya untuk bisa melihatmu kembali tertawa seperti biasanya.


Senin, 22 Desember 2014

Mungkin Bila Nanti



Rasanya berbeda setelah kamu tidak ada. Malam-malamnya, suasananya, apa saja. Karena hangat yang biasanya muncul begitu saja di dalam dada kapanpun kamu menyapa, kini tidak lagi muncul memanjakan mata. Hanya ada bayanganmu di kepalaku yang tidak bisa kulupa. 

Rasanya tidak lagi sama meski aku pun masih baik-baik saja. Aku masih bisa makan ayam goreng kremes kesukaanku, teh melati hangat, atau membaca buku. Masih bisa berjalan-jalan ke mall, menonton film, atau ke pantai yang aku suka. Masih bisa bekerja dan bersenang-senang. Tetapi pasti lebih menyenangkan kalau kamu masih ada.

Kamis, 04 Desember 2014

Untuk Nanti


Aku tidak pernah lupa.

Aku tidak pernah lupa bagaimana menyenangkannya ketika kita tidak melakukan apa-apa, selain berbincang saja. Entah apa pun temanya, aku menikmatinya. Dari yang paling ringan tentang buku, film, sampai hal berat  seperti politik dan negara. Kita sering berbeda pendapat, tentu saja, terutama tentang politik dan negara. Tetapi tidak pernah masalah, karena justru bedalah yang membuatku bisa menemanimu berlama-lama. Kita bisa berdebat di sana.

Aku tidak lupa juga, bagaimana hanya dengan melihatmu, aku bisa tersenyum begitu saja. Aku tahu itu cinta, aku hanya tidak tahu apa kamu sebenarnya mengetahuinya. Kenapa juga kamu mau di sini bersamaku berlama-lama? Kenapa kamu selalu menjadikanku yang pertama kamu hubungi jika ingin berbicara? Cinta juga?

Tetapi aku tidak pernah (berani) menanyakannya. Terlalu takut juga untuk mengira-ngira kalau itu harapan. Jadi, aku tetap diam saja dan menikmati kapanpun kamu ingin aku di sana.

Aku juga ingat pada saat kita sering menyanyi bersama. Lagu-lagu Adele (kamu sering mengejanya A-de-le, dengan dele nya seperti kata kedelai di bahasa Jawa), Sheila on 7, Padi, Cokelat, Katy Perry, Natasha Beddingfield, John Mayer, dan lain-lain. Sampai aku suatu ketika memetik gitarku dan menyanyikan lagu yang masih asing bagimu.

           Broken pieces
A hundred kisses
A million views
Pictures of you