Minggu, 24 Juli 2011

Ah, Perasaan Anda Saja …



Kadang, bisa jadi, pada suatu ketika, Anda sedang berada pada suatu ruangan dan kemudian di sana ada orang yang saling berbisik sambil mungkin sempat sekali (selintas) melihat Anda. Setelah itu Anda mungkin berpikiran, mereka sedang membicarakan saya. Pernah?


Atau misalnya, ada orang yang sedang berbicara di depan, dan Anda mendengarnya bersama puluhan atau ratusan orang lain, dan kebetulan yang berbicara itu mengenal Anda. Pada suatu ketika, dalam salah satu bagian pembicaraannya, dia mengatakan sesuatu yang-mungkin-mirip dengan ciri, sifat, atau peristiwa yang Anda lakukan dulu. Kemudian Anda merasa bahwa itu adalah memang untuk Anda, menyindir Anda. Pernah?

Bisa juga misalnya, Anda merasa karena terjadi perbedaan pada perhatian orang kepada Anda, kemudian Anda berpikir bahwa orang itu sedang kesal pada Anda. Atau juga ketika Anda sedang berbincang untuk pertama kalinya kepada seseorang, kemudian orang itu lebih banyak diam atau mungkin jawabannya datar, Anda kemudian menyimpulkan orang tersebut tidak menyukai atau malah membenci Anda. Pernah?

Pada kenyataannya, tidak hanya Anda, mungkin semua orang pernah mengalaminya. Saya pernah, saudara saya pernah, teman saya pernah, orang-orang yang tidak mengenal saya, pernah mengalaminya. Tetapi benarkah hal-hal itu terjadi dan ditujukan kepada Anda?

Sepertinya tidak selalu.

Mungkin pada beberapa waktu, iya, benar, mereka sedang membicarakan Anda atau kesal terhadap Anda. Tetapi tidak selalu.

Pernahkah Anda dikira orang melakukan sesuatu padahal Anda tidak melakukannya? Pernah ada sebuah kejadian, seseorang bekerja di sebuah penerbitan. Karena penerbitan adalah sebuah pekerjaan yang bidangnya termasuk dalam hal kreativitas, sehingga penampilan tidak terlalu utama. Orang itu sering pergi hanya memakai sandal, jins dan kaos. Kebetulan, dia masih kos. Anehnya (atau kita sebut saja, wajarnya), ada beberapa teman kos di sana mengira dia berbohong. Dia tidak bekerja hanya karena dia memakai sandal setiap hari dan jins. Menurut mereka, orang itu berpura-pura bekerja agar tidak malu.

Ini. Di sini. Mereka mengira sesuatu dan sangat percaya keyakinan mereka itu, tanpa mengecek kebenarannya. Orang itu benar bekerja. Tidak berbohong sama sekali. Hanya karena dia ‘tidak biasa’, kemudian didakwa dia berbohong.

Sama. Sama dengan kasus ketika Anda mengira seseorang membicarakan Anda atau tidak menyukai Anda. Bisa jadi memang benar, tapi belum tentu juga. Bagaimana kalau itu hanya perasaan Anda saja? Bagaimana kalau ketika seseorang berbicara, kemudian matanya sekilas kepada Anda, dan itu hanya kebetulan saja. Memangnya yang ada di tempat itu hanya Anda? Dan kalaupun memang hanya Anda, memangnya dia tidak punya teman atau kenalin di luar Anda yang bisa dia bicarakan?

Atau ketika seseorang sedang berbicara di depan podium dan kebetulan ‘seolah’ menyinggung Anda, memangnya kenalan dia hanya Anda? Memangnya yang memiliki atau melakukan hal tersebut di seluruh dunia hanya Anda? Memangnya yang memiliki peristiwa seperti yang dia bicarakan di depan itu hanya Anda? Benar hanya Anda? Dari sekian miliar orang di dunia ini hanya Anda? Tentu tidak. Bisa jadi orang lain. Bisa jadi dia sendiri yang dia bicarakan.

Pasti Anda pernah dikira melakukan, mengatakan, atau tahu sesuatu padahal Anda sama sekali tidak, bukan? Begitu juga dengan orang-orang itu. Anda mungkin mengira mereka mengatakan sesuatu tentang Anda, atau tidak menyukai Anda. Tapi juga belum tentu. Bisa jadi itu hanya perasaan Anda.

Lalu apa yang sebaiknya kita lakukan?

Ada baiknya, kita tetap bersikap biasa saja. Apa pun perasaan kita, apa pun yang kita alami tentang seseorang, kita tarik nafas dalam, lalu membatin, “Ah, perasaanku saja.” Lalu bersikaplah seperti biasa. Bersikaplah dia tidak melakukan apa-apa, bahkan kalaupun dia memang mengatakan sesuatu tentang Anda atau tidak menyukai Anda.

Yang ditakutkan jika Anda bertahan dengan keyakinan bahwa perkiraan Anda benar adalah Anda akan bersikap berbeda terhadap orang itu. Misalnya, setelah dua orang teman Anda berbisik, Anda mengira bahwa mereka sedang membicarakan Anda, maka sikap Anda kemungkinan besar akan berbeda terhadap kedua orang itu. Atau jika Anda bertahan mengira bahwa orang yang di podium itu sedang ‘menyindir’ Anda, perasaan dan sikap Anda akan berbeda terhadap orang itu. Atau juga, ketika Anda bertahan dengan perasaan bahwa seseorang tidak menyukai Anda, Anda pun juga akan bersikap berbeda terhadap orang itu.

Jadi, mungkin cara yang paling baik adalah memang bersikap biasa saja. Anggap saja apa pun yang mereka lakukan tidak tertuju pada Anda.

Tetapi bagaimana jika benar memang tertuju pada Anda? Ah, perasaan Anda saja.

(Boleh copy paste, tapi kalau tidak keberatan, mohon dicantumkan juga sumbernya)