Rabu, 20 Juli 2011

Aku Memiliki Rahasia


gambar diambil dari www.nursalam.wordpress.com

Kau yang memiliki binar mata riang…

Sepertinya aku tidak akan bosan melihatmu … seperti ada goncangan kecil di hatiku setiap kamu melewati pintu itu atau kamu sedang berjalan di sekitarku.


Kamu tahu, entah bagaimana cara kerjanya, tetapi setiap kamu berada dalam jangkauanku, aku seperti memiliki radar khusus hingga selalu merasakan bahwa kamu sedang berada dekat. Lalu aku akan mencoba mencarimu. Dan benar. Kamu sedang berada dalam jangkauan pandanganku. Dan ketika kau tersenyum sambil menyapaku, aku selalu berusaha dengan susah payah agar kau tidak mendengar gemuruh di dadaku dan pijar di mataku. Memalukan sekali jika sampai kau melihatnya.

Tapi selalu yang terjadi adalah aku tidak pernah bisa menunjukkan betapa aku ingin kau sesering mungkin berada dalam jangkauan mataku. Agar aku bisa menikmati getaran janggal tak biasa yang terus-terusan melanda dadaku bila kau sedang berbincang denganku.

Aku selalu heran, bagaimana cara kau melakukannya di kala kita bertemu. Tapi teruskan saja … karena aku sangat menikmatinya … setiap jengkal waktunya …

*****



Kau yang sedang duduk beberapa kursi di depanku …

Kamu tahu kenapa aku selalu memilih untuk duduk dengan posisi diagonal di belakangmu? Karena aku bisa melihatmu secara jelas, walaupun tidak seluruh wajahmu.

Aku menikmati momen-momen itu. Tetapi yang paling kunikmati adalah momen ketika kamu selalu berlari kecil menyapaku sambil tersenyum. Dan binar matamu itu … selalu saja membuatku nyaris mengatakan cinta. Tetapi tetap hanya sebatas nyaris … tiba-tiba kata cinta hilang dalam kamus bibirku …

Ah, lihat sekarang ini. Kamu sedang memperhatikan dosen dengan mata yang nyaris tanpa kedip. Itulah yang mungkin membuatmu sangat menarik di mataku. Karena kamu selalu memperhatikan orang yang berbicara di depanmu. Begitu juga ketika aku bersamamu. Kamu bisa dengan detail mendengarkan setiap kataku dan menatapku ketika aku berbicara. Membuatku nyaman dan diperhatikan.

Bisakah kita pergi berdua saja sepanjang hari? Tertawa, saling bercerita dan aku bisa melihatmu seharian itu?

Ah, aku selalu ingin mengatakan itu kepadamu, tetapi aku hanya sanggup mengatakannya di buku ini. Meski aku tahu, jika hanya menulisnya di sini kamu juga tidak bakalan tahu.

*****



Kau yang tadi duduk sendiri …

Aku ingin menghampirimu di perpustakaan tadi, tapi sepertinya kamu sedang serius membaca dan menulis sesuatu. Aku tidak ingin mengganggumu. Aku melihatmu sebentar dari belakang. Mengagumimu. Lalu melangkah pergi sebelum kamu tahu keberadaanku.

Bukan berarti aku tidak mau menyapamu. Ingin, ingin sekali. Tapi seberapa pun aku ingin berada di dekatmu, aku lebih ingin kamu mendapatkan apa yang kamu inginkan, termasuk kebahagiaan. Dan barangkali kamu ingin mendapatkan nilai bagus dalam tugas yang kamu kerjakan itu, maka lebih baik aku meninggalkanmu sebentar.

Dan kamu tahu, pengorbananku untuk tidak menyapamu ketika sibuk mengerjakan sesuatu, selalu sepadan dengan apa yang kudapatkan kemudian. Karena kamu akan tersenyum girang sambil menunjukkan padaku apa yang kau dapatkan. Bagiku senyum girangmu itu lebih dari apa pun.

Boleh aku melihatnya lagi? Setiap hari?

Ah, lagi lagi aku hanya sanggup meminta di tulisan ini.

*****



Lagi-lagi tentang kamu …

Setiap aku ingin menuliskan sesuatu, selalu saja tentangmu. Puisi, cerita, apa pun. Selalu saja ada penggambaran tentangmu. Sepertinya kamu selalu mendatangiku kapan pun dimana pun. Tidak, tidak. Sama sekali tidak mengganggu. Justru aku menyukainya. Hanya saja, itu bayanganmu. Akan lebih menyenangkan jika memang kapan pun dan dimana pun selalu ada kamu dalam arti sesungguhnya.

Barangkali karena hari ini aku belum melihatmu sama sekali. Sehingga aku tidak bisa berhenti membayangkanmu. Selalu saja demikian bila dalam sehari mataku tidak menemukanmu. Otakku yang akan mencoba menemukanmu. Tetapi mudah sekali kamu ditemukan otakku. Karena barangkali memang hanya dipenuhi tentangmu.

Aku membayangkan apa yang sedang kamu lakukan sekarang ini. Sudah larut malam. Tidurkah? Jika tidur, bermimpi tentangkukah? Atau sedang terjaga? Jika sedang terjaga, sedang memikirkankukah?

Ah, aku ingin sekali tahu apa yang sedang kamu lakukan saat ini.

*****



Dan kadang-kadang ketika kulit kita bersentuhan …

Ketika momen seperti itu terjadi, gejolak di jantungku seperti sebuah turbulensi. Kencang. Terlalu kencang. Semoga kamu tidak menyadari betapa aku sedang gemetar saat itu. Kecil memang, tapi efeknya luar biasa. Membuatku semakin ingin kau menemaniku di sini. Setiap hari.

Tetapi entah mungkin kau tahu atau tidak tahu, karena kamu malah seperti menggodaku. Menyentuhku pelan meski hanya sekedar mendorong lenganku atau mencubitku pelan ketika aku memberikan lelucon ringan. Aku ingin merasakan momen ini lebih lama dari waktu itu sendiri. Setiap debarnya, setiap detiknya, setiap perasaan seperti melayangnya. Seperti ada … entah apa itu. Tapi rasanya benar-benar luar biasa.

Apakah ketika kulit kita bersentuhan, kamu juga merasakan getaran itu? Barangkali seperti ratusan ribu semut sedang berjalan di atas kulit kita? Apa yang kaurasakan? Apa seperti itu atau biasa saja?

Argh …. Aku bosan berbicara sendirian dengan buku ini …

*****



Kau yang berjalan seperti ada sayap di punggungmu …

Mungkin berlebihan. Tetapi itu yang kulihat tentangmu. Karena segala sesuatu tentangmu menarik mataku. Sampai mataku ingin ikut kemana pun kau pergi. Bahkan cara berjalanmu pun aku perhatikan detail. Ketika rambut panjangmu tertiup angin, lalu kamu memainkan rambutmu, dengan senyum yang tak pernah hilang dari wajahmu. Aku tidak pandai melukis, tetapi jika aku bisa melukis, sumpah, aku akan bisa melukismu hanya dengan membayangkanmu saja.

Jalanmu seperti berirama, atau jangan-jangan memang perasaanku saja.

*****



Maaf, aku memiliki rahasia …

Tentang sesuatu yang tersembunyi jauh dalam di dada. Tentangmu juga. Yang selalu terjangkau mata tetapi tak terjangkau kata.

Bahwa aku memiliki rasa. Rasa yang bagaimana menggambarkannya aku tidak tahu. Hanya saja aku ingin membuatmu bahagia. Selama mungkin aku tidak ingin memberimu luka. Sampai kapan pun.

Dan aku hanya ingin membuatmu merasa sangat indah, dan siap melindungimu dari luka maupun airmata kapan pun kau merasa terjatuh. Karena bersamaku, kau benar-benar dicintai, dan dicintai dengan benar-benar.

Itu rahasiaku. Bersama buku ini rahasiaku mungkin tersimpan. Semuanya sudah cukup hanya mengenalmu. Karena kau surga terdekat yang bisa dilihat.

*****



Kau yang memiliki entah buku harian atau buku kumpulan prosa ini …

Maaf, bukumu terjatuh setelah kita berbincang tadi. Aku ingin memanggilmu, tapi kau terlalu cepat berlari karena mengejar dosen itu. Dan maaf lagi, aku membacanya. Lalu jadi tergoda untuk ikut menulis di buku ini.
Seharusnya kau tahu apa yang dirasakan gadis itu juga ketika melihatmu. Apa kau tidak melihatnya? Tidak bisa melihat betapa bercahayanya mata gadis itu, ketika kau di dekatnya? Bukankah dia selalu tertawa begitu riang dan lepas ketika berbincang denganmu? Bukankah matanya selalu memiliki cahaya paling terang ketika melihatmu berjalan? Dan dia akan berlarian kecil menghampirimu hanya untuk menyapamu dan memberi senyuman? Sambil berharap bahwa kau akan tertarik dengan senyuman itu?
Apa yang membuatmu takut untuk membuka tabir hatimu padanya? Jangan takut. Barangkali memang dia juga merasakan yang sama sepertimu. Ralat, sebenarnya memang dia juga merasakan yang sama sepertimu. Ah, aku malu.
Jadi tunggu apa lagi. Ungkapkan kepadanya sesegera mungkin.
Buku ini akan segera kukembalikan nanti. Dan setelah kau membaca tulisan ini, aku tunggu kau di café pelangi untuk mengungkapkan perasaan itu. Aku tunggu sampai malam ketika café itu tutup. Mumpung malam minggu. Dan sendiri, jangan ajak siapa pun. Siapa tahu ini malam minggu paling istimewa kita.
Sampai ketemu … dan jangan takut mengungkapkannya …
Nb: seperti biasa, tulisanmu buruk sekali … hihihi … tapi aku tetap bisa membacanya dan senang bisa menemukan buku ini … Aku tahu gadis yang kau tulis itu aku. Karena aku selalu tahu ketika kamu memandangku diam-diam dari posisi diagonal atau bahkan dari belakang. Dan kamu saja yang tidak pernah tahu, bahwa sebenarnya sahabatmu, yang kamu percaya itu, juga selalu bercerita bagaimana kamu menggambarkan tentangku kepadanya. Jangan memarahinya ya?




2 komentar:

Nurul Khaliza mengatakan...

Ahh :* merinding baca tulisan ini.
Merindingnya keterlaluan ;p :D

namarappuccino mengatakan...

hihihi waaa tulisan lamaaa sekali :D