Jumat, 08 Juli 2011

Benar Sepahit Itu?


Iya, paham, mungkin kamu sedang merasa perih karena seseorang pergi darimu.
Tapi apa perihmu seperih orang yang kehilangan puluhan keluarga besarnya ketika bencana tsunami Aceh?Atau ketika gempa di Jogja?Atau bencana lain. Perasaan kehilangannya, perasaan, tercengkeramnya di dada, perasaan lukanya yang sangat memukuli pikirannya.
Benar seperih itu?

Iya, paham. mungkin kamu sedang merasakan sakit.
Entah hati, pikiran maupun fisik. Tapi apa sakitmu sesakit pekerja di luar sana yang disiksa, diperkosa, dibunuh? Yang setiap hari disiksa, disuruh bekerja tanpa bayaran, dihajar setiap berbuat kesalahan, disekap.
Benar sesakit itu?

Iya, paham, kamu sedang mengalami kesulitan. Mengerti.
Tapi apa kesulitanmu sesulit yang kehilangan rumah, pencarian, harta benda karena bencana? Sesulit orang yang tiba-tiba kehilangan semua yang dia punya karena dihantam tsunami, gempa, atau gunung berapi?
Benar sesulit itu?

Iya, paham. kamu sedang dikecewakan, disakiti hatimu.
Tapi apa kecewa dan sakit hatimu sekecewa dan sesakit hati gadis yang dijual untuk segepok uang oleh teman, keluarga dan orang yang dipercayanya? Yang kemudian ‘kehilangan’ masa depannya, yang kemudian tidak bisa bertemu keluarganya, yang kemudian ketika sudah tidak menarik lagi ditinggalkan begitu saja.
Benar sekecewa dan sesakit hati itu?

Banyak yang mengalami kepahitan lebih berat darimu. Kadang jauh lebih berat. Bahkan mungkin kamu tidak pernah membayangkan sebelumnya ada kepahitan seperti itu yang dialami orang. Pada kenyataannya ini hidup, ini nyata, ini dunia. Ini bukan surga, teman, yang segala sesuatu bisa sempurna seperti yang dibayangkan di kepala. Kadang ada kenyataan yang harus kamu hadapi. Pahit memang, tapi mau bagaimana lagi. Hadapi saja, terima saja.

Benar-benar banyak yang mengalami kepahitan hidup, jauh lebih berat dari kamu.
Mereka bertahan.
Jika hidupmu tidak separah mereka,
Apa yang membuatmu berpikir mau menyerah?

Tidak ada komentar: