Minggu, 10 Juli 2011

Broken Heroes


CRASH!

Laki-laki berkumis itu tumbang seperti gerakan lambat dalam film. Menggeletar. Berkali-kali tubuhnya mengejang, lalu diam. Tanpa nafas, tanpa detak jantung. Matanya masih melotot … ke arahku! Tengkukku langsung bergidik ngeri.

 Lalu diam. Semuanya sepi, senyap, seperti dalam kuburan. Hanya mata-mata yang melotot ngeri dan jantung yang memompa cepat. Memandang ke arah tubuh yang bersimbah darah dan tergeletak diam tadi.

Sedetik kemudian, ruangan ini seperti kelebihan suara. Ada yang menjerit, ada yang terisak, dan ada yang hanya diam saja sambil gemetar. Aku sendiri takut bukan main dan meringkuk di sudut tembok. Baru kali ini seseorang terbunuh di depanku. Rasanya seperti ... entahlah. Tetapi mengerikan!

Aku memberanikan diri memandang ke seluruh ruangan. Sekarang tinggal empat orang laki-laki setelah si pria berkumis itu mati. Ada Alex, kekasihku; Jimmy dan Nathan, yang keduanya pernah mengatakan cinta kepadaku. Dan seorang lagi, meski sudah hampir setahun kami sekelas, aku tak tahu namanya. Kurus dan selalu berjaket hitam. Aku tak pernah memperhatikannya, karena dia juga jarang sekali bersuara. Sepertinya juga tidak penting. Paling dia juga ketakutan setengah mati seperti halnya kami.

“DIAM!” teriak lelaki yang masih memegang belati berlumuran darah itu. Keras. Sangat keras. Dunia kembali sunyi. Ah, tidak juga. Masih terdengar isak tangis di mana-mana.

Lelaki itu mengangkat belatinya dan mempermainkannya sambil tersenyum. Melempar ke tangan kiri, dikembalikan ke tangan kanan secara berulang. Baju yang dipakainya seperti baju penjara. Aku tahu, karena aku pernah melihatnya di tv. Terlihat, sebuah pistol menyelip di pinggangnya, seperti yang sering dipakai para polisi.

Tenggorokanku tercekat. Tiba-tiba dia melihatku! Lama. Sangat lama sekali. Sampai dadaku terasa sesak karena matanya yang mengerikan. Aku sulit bernafas. Aku... aku... tolong...

Dia kemudian memanggil seseorang yang juga berseragam penjara. Uh aku lega sekali.

“Buang mayat itu keluar! Biar para polisi yang mengepung kita itu tahu bahwa kita tidak main-main! Dan lemparkan juga kertas ini! Ini daftar permintaan kita. Kita harus keluar dari sini hidup-hidup. Aku punya rencana bagus jika mereka tidak menyerbu masuk.”

Mayat pria berkumis itu kemudian diseret begitu saja sampai darahnya membekas sepanjang lantai, menganak sungai. Setelah itu, dia digelindingkan begitu saja pakai kaki dari pintu ruangan kursus bahasa Inggris ini. Bibirku mulai bergetar.

Dua orang. Hanya dua orang penjahat. Ada empat laki-laki di sini. Tetapi sepertinya pistol itu menakutkan mereka. Keempatnya malah ikut meringkuk bersama kami. Bahkan lelaki yang tak kukenal namanya itu sampai sekarang tidak berani menampakkan wajahnya. Menyembunyikannya di balik rambut lurusnya yang hitam. Mungkin dia sangat ketakutan sekarang. Seperti aku, seperti kami.

JLEB!

Sebuah suara! Cukup keras. Seperti sesuatu yang ditusuk. Aku tercengang. Mataku liar mencari. Siapa lagi yang mati?! Siapa lagi yang tertusuk!?

Ya Tuhan! Mata lelaki itu lagi-lagi menangkapku. Belatinya menancap gagah di sebuah meja. Dia berdiri di depan meja dan menatapku tajam. Tajam sekali. Aku bergidik.

Belatinya itu dicabutnya pelan. Masih menatapku. Masih sangat tajam. Masih membuat dadaku sesak dan sulit menarik nafas.

Dia lalu mendekat ke arahku. Semakin dekat. Sangat dekat. Hingga sekarang sudah tepat di depanku. Lalu berjongkok sambil tetap menatapku. Dia memainkan kepalanya ke kanan dan ke kiri tanpa mengalihkan matanya dari wajahku. Kadang melotot, kadang menyipit, seperti memeriksa wajahku dengan teliti. Seperti membenci wajahku. Seperti mau menggoreskan luka di pipiku! Seperti mau merobek-robeknya!

Bibirku lagi-lagi bergetar. Aliran darah di sekujur tubuhku mengucur sangat deras sampai otot-ototku menegang. Kaku. Sediam es, sedingin kutub. Aku menggigil, lagi. Semoga ini mimpi! Kuharap ini khayal semata! Tolong, siapapun! Bangunkan aku! Kumohon!

Aku terpekik! Suaraku kembali tercekat di tenggorokan ketika belati di tangannya mulai bermain-main di sekitar wajah dan leherku. Dadaku bertambah sesak. Kenapa aku susah sekali menarik nafas?! Aku sudah kepayahan!

Sial! Aku tak bisa berhenti menatap belati itu. Mataku mengikuti kemanapun belati itu bermain-main di wajahku. Mengkilat sampai memantulkan cahaya lampu ruangan. Berbau anyir darah sampai aku tak bisa mencium wangi parfumku sendiri.

Bibirku masih gemetar. Tubuhku mati rasa. Sumpah! Aku bahkan bisa mendengar detak jantungku sendiri. Ingin rasanya berteriak sekencang-kencangnya, menjerit sekeras-kerasnya. Walau mungkin bisa membuat urat leherku putus, aku tak peduli. Tetapi tenggorokanku masih tercekat, tak bisa bersuara. Kumohon, berhenti.

Belum selesai kengerianku, dia mulai menurunkan belatinya, ... ke leherku! Aku terus melihatnya. Semakin dekat dan terus mendekat ke leher sampai aku tak bisa melihatnya karena tertutup daguku. Ludahku tertelan entah berapa kali karena ngeri. Tengkukku kembali bergidik.

CESS!

Nafasku terhenti. Sesuatu yang dingin dan tajam menyentuh leherku. Rasanya seperti disentuh es. Ya Tuhan! Belati itu menyentuh leherku!

Aku tak tahu apakah aku berkeringat atau tidak. Aku tidak tahu apakah wajahku pucat atau tidak. Karena lagi-lagi aku tak bisa merasakan apa pun! Penjahat itu menyeringai. Aku melihatnya sangat jelas. Kumisnya yang tidak beraturan, giginya yang kuning, dan wajahnya yang berminyak dan bercodet. Aku melihatnya detail sekali. Wajah yang tak akan pernah kulupakan seumur hidup. Itu pun jika aku masih hidup setelah ini.

“Kenapa manis? Kamu takut? Hmm?” Dia tersenyum. Kemudian terbahak. UGH! Mulutnya terbuka lebar. Nafasnya bau sekali! Aku merasa mual. Aku ingin muntah!

Siapa pun, tolong aku! Aku melirik kemana pun mencoba mencari seseorang. Tampan, berbadan kekar; Alex, kekasihku! Dia pasti menolongku!

Itu dia! Di sana!

Aku melongo saja. Kekasihku, wajahnya pucat sekali. Masih menunduk, seperti pura-pura tidak melihat apa yang terjadi. Ada ketakutan di matanya, ada kepengecutan di bibirnya yang gemetar. Ah, sia-sia! Kekasihku banci!

Aku kaget bukan main. Nafasku tertahan. Aduh! Leherku mulai terasa panas dan perih. Apa yang terjadi?

“Ups, maaf sayang. Ini tidak sengaja.” Penjahat itu lagi-lagi menyeringai. Nafasnya semakin bau. Begitu menyengat hidungku karena dia dekat sekali dengan wajahku. Mualku datang lagi. Hampir saja aku muntah.

Dia mengangkat pisaunya dan menunjukkannya kepadaku. Darah? Darah baru? Darahku? Apakah leherku sudah terpotong?

Ah, tidak mungkin! Hanya beberapa tetes. Mungkin leherku hanya tergores sedikit. Aku jadi berpikir, kalau hanya menyentuh saja bisa menggores … bagaimana kalau …? Ah, aku tidak berani melanjutkan pikiranku sendiri. Aku mulai menangis terisak. Dadaku belum pernah menendang-nendang seperti ini. Sakit sekali.

Nafasku tertahan lagi.

Sekarang dia mulai memainkan pisaunya di mataku. Menggoyangkannya pelan. Bola mataku terus mengikutinya. Ke kanan, ke kiri. Pelan. Sangat pelan. Aku merasakan mataku sangat panas saking ngerinya, seperti ada yang sedang menamparnya berulang.

CESS!

Mulutku terbuka lebar tiba-tiba. Jantungku berhenti. Aku butuh udara. Aku tidak bisa bernafas! Mataku sampai melotot ngeri.

Aku merasakannya lagi. Sesuatu yang dingin seperti es, tetapi ada sesuatu yang cair dan hangat menempel di pipiku. Ya Tuhan punggung belati itu menyentuh pipiku!

Aku gemetar hebat. Tidak pernah aku setakut ini. Mataku melirik ke sana kemari, mencari seorang pahlawan, siapa pun itu.

Mereka! Dua lelaki yang pernah menyatakan cinta mati kepadaku itu. Yang berjanji mengorbankan apa pun untukku. Tetapi sama saja. Keduanya meringkuk di tembok dengan wajah seperti mayat saking pucatnya. Ah, mereka juga banci! Sial!

Aku dipaksa menatap ke penjahat itu lagi. Ya, Tuhan! Aku nyaris pingsan! Wajah penjahat itu hanya tinggal beberapa senti dari wajahku. Sepertinya mau mencoba menciumku. Tolong, aku benar-benar mual sekali sekarang. Aku takut jika muntah akan membuatnya semakin marah. Tolong …

Aku memalingkan wajahku secara refleks. Sial! Semoga dia tidak marah.

“Matamu indah sekali manis. Biar kucongkel dan kubawa pulang ya?” Dia tertawa mempermainkan ketakutanku. Aku tahu dia tidak akan melakukannya. Aku tahu! Tetapi aku masih saja merinding ketika pucuk belati itu diarahkannya menghadap tepat di mataku. Benar-benar di depan mataku!

Entah keberanian dari mana, entah kekuatan dari mana, aku bisa memalingkan muka menghindari belati itu dan melindungi wajahku dengan kedua tangan. Aku tidak mau lagi melihat wajah itu atau belati lagi. Mataku menyipit ngeri ke sebuah pojok ruangan, mengintip melalui celah-celah jariku.

Di sana! Aku melihatnya!

Tiba-tiba semua menghilang dari pandangan secara perlahan. Sedetik kemudian aku tidak bisa melihat apa pun selain … dia …, yang tak berhenti berlari, yang membuat nafasku nyaris terhenti, mungkin membuat dunia juga berhenti. Seperti sebuah gerakan lambat dalam film, aku melihatnya sangat pelan.

Dia melompati meja menuju ke arahku. Membuka mulutnya seperti berteriak entah apa, karena aku tidak bisa mendengar apa pun. Tetapi tunggu dulu. Aku seperti mendengar sesuatu. Ya, aku memang mendengar sesuatu. Derap langkahnya, dan suara mulutnya mengalun di telingaku, seperti nyanyian malaikat. Tidak ada musik, hanya nyanyian malaikat. Merdu sekali. Begitu sunyi, begitu dingin, begitu terasa lambat.

Dia menarik penjahat itu dari belakang lalu memukulnya di kepala sambil tetap membuka mulutnya dengan urat leher kencang, seperti berteriak. Tetapi yang kudengar masih saja nyanyian malaikat. Tetap sangat merdu. Dan masih saja, di mataku, seperti gerakan lambat.

Dia memukul penjahat itu entah berapa kali. Terus menerus sampai penjahat itu terpelanting dan pistol serta belatinya terjatuh.

Aku tak bisa berhenti memandangnya. Setiap detail gerakannya, bahkan rambutnya yang terombang-ambing ketika memukul, atau jaketnya yang bergerak tidak beraturan mengikuti tubuhnya, aku melihatnya. Terasa indah, seperti menari. Tidak, seperti … simphoni. Tiba-tiba aku mencium bau malaikat meski aku tidak pernah menciumnya sebelumnya. Tetapi aku yakin ini bau malaikat. Ini bau tubuhnya. Malaikatku!

Lelaki itu, — aku tersadar, lelaki yang sampai sekarang tak mempunyai nama. Lelaki yang selalu berjaket hitam agak lusuh dan pendiam.

Dia masih mencoba mengejar. Tetapi sebuah tendangan menghantam punggungnya dari belakang. Dia terhempas memporak-porandakan kursi yang ada di sana. Teman penjahat itu! Dia licik sekali! Pengecut! Bangsat! Banci! Entah berapa kali aku memaki dalam hati. Hampir semua makian kukeluarkan.

Lelaki tak bernama itu mencoba berdiri dengan susah payah tanpa mempedulikan apa pun. Aku melihat darah di sebuah meja yang rusak. Ya Tuhan! Lelaki itu terluka karena paku yang keluar dari kayu. Mataku pedih. Aku ingin menangis.

Dia masih mencoba berdiri dengan menyingkirkan kursi yang bergelatakan di sana sini. Dia berhasil berdiri tetapi masih goyah. Aku melihatnya terhuyung.

Tetapi sesuatu tiba-tiba membuat mataku nyeri. Membuat hatiku merasakan kesakitan yang sangat. Ini terlalu nyeri!

Seperti sebuah benang masuk ke lubang jarum, seperti itulah belati itu menancap tanpa meleset di jantungnya. Seratus persen tepat sasaran.

Dunia berhenti. Waktu berhenti. Nyanyian malaikat berhenti. Tarian dan simphony berhenti. Ya Tuhan! Malaikatku!

Dia mengerang, membuat dunia kehilangan suara, sampai terasa perih sekali di telinga. Jatuh perlahan dengan lutut. Mulutnya masih menganga seperti mencoba menghirup udara, tetapi udara tidak juga menghampiri hidung dan paru-parunya. Mataku benar-benar sedang disiksa!

Tenggorokannya seperti tersedak sesuatu hingga menghasilkan suara yang mengenaskan. “GRRHK … GHRRRK …” Suara yang begitu menyedihkan menyakiti gendang telinga, menusuk pedih sangat di mata. Suara yang seperti nyanyian kematian. Tidak! Aku ingin nyanyian malaikat lagi, bukan nyanyian yang ini!

Tiba-tiba pandangannya berubah sayu. Dia melihatku sesaat, seperti memastikan kalau aku baik-baik saja. Aku melihat cahaya di matanya. Cahaya yang seolah tersenyum setelah yakin aku baik-baik saja. Dan hal itu … Benar-benar membuatku menangis. Ya Tuhan! Jangan siksa aku lagi! Sakit sekali dadaku ini. Ini terlalu sakit. Aku tidak bisa menahannya lagi.

Dia menengadah, masih mencoba menarik nafas, mungkin untuk yang terakhir kalinya, … lalu jatuh terlentang. Di mataku terlihat pelan. Sangat pelan. Seperti bermenit-menit, seperti berjam-jam. Lalu diam dan mati setelah mengejang sesaat. Tangisku pecah tak karuan. Saat ini aku benar-benar berharap semoga mataku buta untuk sesaat, agar aku tidak melihat kejadian ini tadi.

Argh! Siapapun, lari dan katakan kepada malaikat maut agar jangan membawanya dulu! Kumohon … kumohon …

Nafasku seperti memberontak ingin ikut kemanapun nafasnya pergi. Jantungku ditusuknya dengan dadanya yang tertancap belati.

Tiba-tiba semuanya terasa hitam. Semuanya terlalu hening. Aku tak lagi mendengar apa pun, tak lagi melihat apa pun.
~





Mataku mengerjap pelan. Aku melihat beberapa polisi sudah berada di ruangan. Teman-temanku sudah tidak ada lagi. Dua penjahat itu sedang diangkut sebuah tandu. Seorang, kepalanya tertempus peluru, dan seorang lagi tiga lubang di sekitar dada.

Lalu aku melihatnya. Dia masih tergeletak dengan belati di dadanya. Pucat, berdarah, dengan bibir yang mulai membiru. Beberapa polisi melewati dan melompati jasadnya. Seperti manusia tak dikenal dan tak dibuang. Seperti seseorang yang harus diangkut terakhir kali, bahkan lebih terakhir dari dua penjahat itu. Hatiku mendadak perih melihatnya diperlakukan seperti itu.

Aku tergugu, terisak. Aku seperti sudah mati. Mulutku membuka, tanganku menggapai begitu saja. Aku ingin bersuara, “Tolong dia … tolong dia …,” tetapi tidak ada satu kata pun yang keluar.

Ketika seorang polisi melompati jasadnya lagi, aku menjadi teringat ketika pendengaranku menangkap nafas-nafasnya yang terakhir. Sesak, tersengal, … mengenaskan! Hidungnya saat itu tak mendapat udara setitik pun. Seperti suara denting menakutkan. Benar-benar menyakiti dadaku.

Tangisku memuncak. Badanku lemas semuanya.

Seorang polisi wanita merangkul pundakku dan menuntunku keluar dari ruangan itu sambil berkata, “Semua sudah berakhir manis, semua akan baik-baik saja.”

Aku menggeleng kepala pelan. Aneh, suaraku kini terdengar, meski terlalu lirih. “Justru semuanya baru dimulai ketika dia, seorang lelaki tak bernama, datang di hatiku sekarang. Mungkin untuk selamanya. Dan semuanya tidak akan baik-baik saja, karena dia, seorang lelaki tak bernama, pergi dari kehidupanku sekarang. Yang ini pasti selamanya.” Lalu aku terisak.

Aku menggapai ke arah malaikatku yang mati lagi untuk meminta polisi itu mengangkat jasadnya dari situ. Aku tak akan sanggup melihatnya lagi. Tetapi tak ada suara yang keluar dari mulutku. Aneh, aku kembali tak bisa bersuara.

Polisi itu memperhatikan tindakanku, tapi dia tetap tak mengerti.

Aku melihat lelaki itu lagi. Masih tergeletak di sana, masih tidak dipedulikan. Sekali lagi seorang polisi melompati jasadnya. Aku kembali nyeri.

“Do you have a name, my angel? My broken heroes?” Kata suara hatiku, tetapi dia pasti tidak bisa mendengar.
~






Aku melihat tubuhku tergeletak di sana dengan belati menancap di dada. Masih tak berharga, masih tak dipedulikan, masih tak mempunyai arti.

Lalu aku mencarinya, gadis yang perasaanku padanya tak bisa kugambarkan melalui kata. Di mana dia? Apakah dia baik-baik saja?

Aku melihatnya sedang dituntun seorang polisi wanita ke sebuah mobil ambulan. Sesaat aku seperti melihat tangannya mencoba menggapai ke arahku seolah-olah mengkhawatikanku. Ah, tidak mungkin. Aku pasti terlalu berkhayal tentangnya. Lagipula aku sudah mati. Yang penting dia baik-baik saja. Syukurlah …

Aku melihatnya tak berkedip, lalu melihat jasadku yang tergeletak tak berharga. “Seorang gadis yang perasaanku kepadanya tak tergambarkan, tetap hidup, … dan pecundang sepertiku mati. Hmmm, sepertinya pertukaran yang cukup adil. Sangat adil.”

Mobil ambulan lalu membawanya pergi dengan sirine yang mengaung. Dan aku, seorang pecundang, … di sini sendiri. Mati. Mungkin memang sudah takdirku untuk selalu sendiri. Bahkan ketika mati.



(Boleh copy paste, tapi kalau tidak keberatan, mohon dicantumkan sumbernya)

Tidak ada komentar: