Selasa, 12 Juli 2011

Dia dan Gadis Anggun Berambut Panjang yang Berkulit Sewarna Gading

 
gambar diambil dari sweetmandarinchef.wordpress.com

Dia


DIAM!

Tetapi suara itu tidak menggubrisku. Menjadi semacam lebah yang terus mendengung. Lagi-lagi menusuk berulang kupingku. Lagi-lagi membuat kepalaku mau pecah.

Kalian tahu, hari itu aku melihatnya. Diam. Anggun. Berambut panjang, berkulit sewarna gading. Matanya sihir! Senyumnya semacam hipnotis. Sampai aku terpaku. Sampai jantungku lupa berdenyut sepersekian detik.

Dan suara, sekali lagi bergumam. Dari mulut teman-teman. Tentangnya, tentang keluarganya. Mengataiku mengais mimpi untuk menjadikannya sebuah mahkota. Di penjara hati mereka, di sangkar jiwa mereka. Tetapi apa gadis berambut hitam berkulit gading itu tahu? Ah memusingkan.

Suara lagi.

Kali ini dari tetangga-tetangga. Pada dasarnya para wanita setengah tua. Berceloteh tentangku, mencibir keluargaku. Aku anak seorang pelacur, kata mereka. Aku adik dari preman, cibir mereka. Dan lagi-lagi mereka bilang aku akan tetap hina meski aku mengaji atau umroh ke tanah suci. Aku sudah mendengarnya berulang.

Suara-suara itu benar-benar menampar otakku. Aku, ... dingin. Lebih dingin dari salju. Dan mataku, menjadi semacam pedang yang menghunus. Mungkin lebih tajam dari itu.

*****

Gadis anggun berambut panjang yang berkulit sewarna gading


Aku lihat kamu semakin kurus. Kenapa? Sakit? Banyak tugas? Atau banyak pikiran? Tapi kau tetap diam dengan sikapmu yang lebih dingin dari salju dan matamu yang setajam pedang menghunus dan. Dan mata itu, … benar-benar menusukku.

Kau tahu sesuatu? Cermin selalu berkata jujur. Dia tidak pernah berbohong. Tidak sepertimu
Cermin ini bilang bahwa aku semacam inspirasi bagi puisi. Katanya lagi, mata-mata manusia tak bisa menghindar dari senyum magisku. Dan bila aku meminta sesuatu, ‘abrakadabra!’, semua pria akan berebut untuk memberikannya padaku lebih dulu dari yang lain.

Cermin yang kutatap sekarang ini, sama dengan cermin kepunyaanmu. Bahkan sama dengan milik semua orang. Tidak ada cermin palsu. Tidak sepertimu. Sikapmu itu, aku yakin palsu. Sepalsu tatapanmu, mungkin juga hatimu.

Bagaimana bisa, ketika teman-temanmu memimpikanku untuk mencuri pandang ke arahku, kamu dingin? Sangat dingin. Sampai aku menggigil. Kamu hanya diam menunduk, tak menggubrisku. Hei! Aku sedang berharap kau melihatku!

*****

Dia


Suara itu lagi. Aku tersungkur. Aku menciut. Semakin membuatku hilang dari peredaran. Seperti bumi menelanku. Tidak adakah yang bisa membungkam suara-suara itu? Atau harus kuambil parang lalu kucacah bibir-bibir serupa lebah itu? Atau kujejali saja mata penuh selidik itu dengan paku?

Tidak! Seonggok daging berteriak.

Ya, aku mendengarmu. Kau ingin melihatnya bukan? Gadis berambut hitam dan berkulit gading itu? Kau memohon agar ada dentuman-dentuman di tubuhmu yang terbungkus dadaku bukan? Tetapi tidak!
Aku mencarimu tetapi hanya ada denyut. Memerihkan kepala sampai terasa kejang. Mengelana jauh dengan terbang meski sudah jatuh berulang kali. Tetap tak ada yang ditemukan. Sampai nyeri datang lagi ketika denyut itu berteriak. Kenapa tak ada mata yang menyihir dan senyum yang menghipnotis itu?

Aduh! Kepalaku nyaris pecah! Tidak boleh ada lagi tentangnya! Jelas!? Aku tidak pantas memikirkan gadis berambut hitam berkulit sewarna gading itu.

*****

Gadis anggun berambut panjang yang berkulit sewarna gading


Kau lebih diam dari kuburan. Lebih sunyi dari kesunyian itu sendiri. Tak ada gelegak, tak lagi berteriak. Sangat diam …

Senyum yang biasa kau sebarkan itu semakin kabur saja. Berganti dengan sikap sebeku salju. Padahal kau selalu tersenyum kepada setiap orang yang kau temui. Itu dulu. Dan kini kau benar-benar menyepi. Sering aku tidak melihatmu di antara teman-temanmu. Kau bosan? Kau jenuh? Lalu apa? Matamu yang bercahaya, sekarang setajam pedang. Semakin lama semakin tajam dan memberikan redup. Tidak lagi menyilaukan. Kau tahu, aku merindukan cahaya di matamu yang dulu.

Apa kau perhatikan aku sekarang? Karena cermin ini bilang kalau aku sedang bercahaya. Semacam cahaya di matamu dulu itu. Lebih besar lagi, kata cermin itu. Entahlah, cermin itu bilang demikian. Aku percaya saja. Tetapi sepertinya hal itu tidak memberi pengaruh apa pun kepadamu. Tidak ada reaksi kimia di segumpal daging. Tidak ada aliran listrik di sepasang mata pedangmu. Tidak ada gelagat seperti fajar yang biasa tampak di setiap lelaki yang menatapku.

Kau aneh. Tidak seperti mereka yang berebutan mencari sesuatu agar mataku, -yang kata si cermin sangat lentik, untuk memperhatikan tingkah laku atau bicara mereka. Ah, mereka mengganggu saja! Aku bosan. Aku ingin kau yang melakukannya untukku. Kau jelas berbeda. Ada sesuatu yang janggal. Atau matamu sedang rusak? Kalau tidak, bagaimana bisa matamu sama sekali tidak melirikku?

*****

Dia


Sebenarnya aku meliriknya sekilas waktu itu. Dan ketika dia bergelagat untuk melihatku, aku melihat ke arah lain. Berpura-pura acuh. Apa aku semunafik itu?

Dari lirikan sekilas semacam tadi, segumpal daging dalam dadaku berdebum lagi. Sepasang mata ini terbasuh oleh embun dingin. Dan tentu saja, benda kecil berwarna merah di dalam tempurung kepalaku berhenti memukulkan denyutnya yang selalu membuatku sakit.

Kupukul kepalaku pelan. Ada suara berdengung. Suara-suara wanita. Tetap tentang kehinaan dan asal-usulku. Aku terus menciut.

Lalu aku seperti sedang dipukuli habis-habisan. Oleh siapa lagi selain mata-mata selidik itu. Oleh bisik-bisik diselingi lirik kepadaku, bahkan diiringi dengan cekiki meremehkan. Aku terus menciut. Jangan laknati aku! Jangan kutuk!

Aduh, aku melupakannya!

Suara … suara …

Tawa itu nyaring sekali di telinga. Nyaris saja tuli. Tawa wanita-wanita penggosip murahan karena tidak ada kerjaaan. Mungkin gendang kupingku sudah berdarah karena suara-suara itu. Tawa menjijikkan.
Manusia hina … manusia hina … Kata itu menjatuhkanku berulang kali dari tempat tertinggi. Sampai mati, lagi, mati, lalu lagi.

Kata ‘ibumu seorang pelacur’, menusuk-nusukkan jarum di otakku. Sampai aku yakin tidak mungkin ada sesuatu senyeri ini. Dan kata ‘kakakku preman pemerkosa’, menaburkan garam di lukaku. Apa ada yang peduli?

Sungguh aneh! Sebenarnya, aku tidak pernah mendengar suara itu secara langsung dari bibir mereka. Tetapi aku benar-benar melihat mata mereka yang seperti ular siap melilitku dan menggigitku kapan saja. Sumpah, aku melihatnya! Hanya saja setiap aku mendengar cekikikan wanita yang kebetulan berada di dekatku, maka suara-suara penghinaan akan berjatuhan seperti bom. Atau lebih mirip hujan meteor. Kenapa? Karena meledak-ledak di kepalaku sampai terasa nyeri luar biasa.

Kupukul lagi kepalaku agak keras. Tetapi suara-suara tak juga diam. Malah semakin banyak tawa yang menggema. Apa kalian bisa membantuku? Kalau tidak biarkan aku menghilang!

*****

Gadis anggun berambut panjang yang berkulit sewarna gading


Aku membencimu!

Hei, kamu dengar? Aku membencimu! Kamu menjijikkan! Banci! Munafik! Najis! Kotor! Dan ..., dan ..., mencuri sesuatu dariku. Sesuatu yang bernama mimpi buruk.

Ah, kenapa sulit sekali memahami? Kenapa segala keacuhanmu malah memberiku semacam ramuan untuk selalu mencari tahu tentangmu? Meski setiap hari suara cermin meyakinkanku bahwa aku ini lebih dari imajinasi, tetapi tetap tidak bisa menangkap pedangmu yang terus menusuk mataku.

Cermin tadi pagi bilang kau mungkin sedang mengalami masalah, hingga sedikit demi sedikit menghilang.
Apa karena celoteh ibu-ibu itu? Tentang ibumu yang seorang pelacur? Tentang kakakmu yang berkali-kali masuk penjara karena merampok dan memperkosa? Kudengar lagi baru tadi pagi ketika ibu-ibu sedang ngerumpi, ayahmu dulu tewas dihajar massa karena mencuri ya?

Kalau ibumu memang pelacur, lalu kenapa?! Memang kakakmu sering keluar masuk penjara, lalu kenapa?! Dan ayahmu seorang pencuri, lalu kenapa?!

Ah, jangan pedulikan suara-suara itu. Sumbang! Kamu adalah kamu! Bukan kamu adalah siapa di balikmu! Seharusnya kamu tahu itu! Apakah bila ada seorang bayi perempuan lahir di kampung pelacur, langsung mendapat akte beragama pelacur, begitu?! Bodoh sekali kamu!

Aku tidak melihat asal-usulmu. Aku melihatmu dulu yang matanya bercahaya, yang bibirnya selalu melukis senyum, dan semua ucapanmu selalu memberi rasa nyaman. Lalu ketika suara-suara itu mulai berbisik ketika kau menginjak remaja dan gadis-gadis mulai melirikmu, kau semakin jauh dan jauh. Sampai aku samar melihatmu.

Hei, dengar ya! Aku tetap tak akan berhenti memulai tidur dengan membayangkanmu. Seperti mungkin juga beberapa gadis lain yang sebayaku. Memang suara ibu-ibu itu semakin hari semakin nyaring saja. Mendengung ke semua telinga. Tetapi jangan harap bisa mempengaruhiku. Hah!

Dan untukmu, semoga aku bisa melihat lagi cahaya di matamu ketika suara-suara itu tak lagi membuatmu seperti kuburan.

*****

Dia


Kupukul kepalaku lebih keras. Lagi dan lagi. Mungkin rasa sakit bisa mengurangi nyeri akibat suara itu. Diam! Diam!

Serang gadis sebayaku―aku mengenalnya, dia tetanggaku, tersenyum dan duduk di sampingku. Aku ikut tersenyum. Dan ketika sepatah kata hapir terucap―benar-benar hampir!, ibunya datang. Anehnya, kali ini bersama suaminya yang melotot ke arahku dan menyuruh anak gadisnya pulang. Dicari teman, kata mereka. Tapi aku melihat lain di mata mereka. Di sana tertulis, semacam undang-undang mungkin, ’Jangan bergaul dengannnya! Nanti kamu jadi pelacur!’

Sumpah! Aku benar-benar melihat tulisan itu di mata mereka. Apa salahku? Apa aku sudah berbuat kurang ajar! Apa aku berbuat kotor? Apa wajahku serupa iblis?

Dan aku tak berhenti menciut.

Kalian tahu, kejadian itu sudah berulang kali terjadi. Sampai suaraku semakin lama semakin hilang. Berganti tawa yang memecah gendang telinga.

Memang, tidak semua orang seperti mereka. Sebagian yang mengenalku masih bisa bersikap baik. Dan mereka tulus. Aku yakin itu. Begitu juga dengan teman-temanku, mereka juga baik kepadaku. Tetapi ...
Ada suara lagi. Kini bukan hanya wanita, bahkan suara laki-laki.

Suara itu bilang, aku tidak pantas dicintai gadis mana pun! Kalian dengar itu? Gadis mana pun! Terutama putri mereka. Bahkan aku juga tidak pantas mencintai! Apa kalian bisa mempercayai itu? HA?

Sekarang aku menggigil. Ketakutan oleh suara-suara itu. Sungguh, suara-suara itu lebih lantang dari petir. Meledak!

*****

Gadis anggun berambut panjang yang berkulit sewarna gading


Kau benar-benar tanpa bekas! Bersembunyi di balik pintu dan jendela yang tertutup rapat. Ada yang bilang, pernah melihatu di kuburan seberang. Hanya diam. Duduk dengan tatapan kosong. Gila, mereka bilang.

Ugh! Ingin kubungkam mulut mereka dengan cacing. Atau kotoran saja? Ha ... ha ... ha ... benar! Mereka lebih pantas dibungkam dengan kotoran. Karena sudah menghilangkan senyum darimu. Senyum yang sebenarnya menenteramkan. Mereka juga membuang tatapan ramah bercahaya darimu yang dulu selalu kau berikan ke semua orang. Yang paling parah adalah terbunuhnya tugas-tugas kami, teman-temanmu yang selalu kau bantu selama ini.

Anehnya mereka tak menggubris kelakuan Tina, putri tetua setempat yang sering membawa pacarnya ke rumah untuk menginap. Dan juga mereka tidak perah menyinggung sedikit pun tentang anak-anak bapak Riyan yang selalu mabuk-mabukan dan bergerombol melecehkan perempuan dengan kata-kata kotor. Kamu tahu, sering juga mereka berkelahi. Dan lagi tingkah suami-suami mereka yang berjudi tiap malam di pos ronda, terang-terangan! Mengapa semua diam? Takut? Banci semua!

Kamu tidak merokok, semua tahu itu. Tidak pernah berkata kasar, semua juga tahu itu. Tidak berjudi dan minum, bahkan mereka juga akan berteriak lantang bahwa kau tidak seperti itu. Lalu? Ya, sekali lagi kamu menjadi tokoh utama. Berperan antagonis yang dibenci hampir semua orang. Dan para orang tua melarang anak gadis mereka dekat-dekat denganmu. Bahkan orangtuaku juga demikian.

Kamu! Muncullah! Jangan bersembunyi! Jangan biarkan suara-suara itu menakutimu!

*****

Dia


ARGH! DIAM! Kutampar pipiku berulang kali. Hilang ditelan suara.

Aku ingin membenturkan kepalaku. Ingin. Ingin sekali. Berulang. Ribuan kali jika perlu. Sampai pecah. Tetapi tidak! Ini salah!

Kulihat lagi batu-batu nisan itu. Hening. Sangat bisu. Menyeramkan! Atau malah sebenarnya menarik? Apa kubenturkan saja kepalaku di sana? Jangan! Iya! Jangan! Iya! Jangan!

ARGH!

Aneh aku mendengar suara putih. Baru kali ini aku mendengarnya. Sesaat tadi suara putih membungkam semua suara, tetapi kemudian suara putih kalah oleh suara lain. Begitu terus. Berulang.

ARGH! Kepalaku sakit! Kalian bisa merasakannya?

Hening ... aku melihat batu nisan itu lagi. Dia melambai-lambai ke arahku.

Benturkan! Benturkan! Kata batu nisan itu.

Aku mendekatinya dengan jantung yang berdebar. Oh, batu nisan itu menarik sekali! Ingin kubenturkan saja kepalaku di sana! Biar suara-suara itu tidak bising lagi di telingaku.

*****

Gadis anggun berambut panjang yang berkulit sewarna gading


Berita pagi.

"Seorang pemuda tewas mengenaskan dengan kepala berlumuran darah. Dia ditemukan tergeletak di jalan dekat kuburan. Juga ditemukan bercak darah yang sama persis dengan darahnya di sebuah batu nisan. Polisi menduga, pemuda itu bunuh diri dengan membenturkan kepalanya ke batu nisan tersebut.

Malam harinya ada seorang gadis yang datang bersama keluarganya melaporkan bahwa pemuda tersebut tewas saat mencoba menolongnya dari segerombolan berandal. Mereka memukulinya dengan pentungan hanya untuk menahan mereka biar sang gadis bisa lari.

Setelah diselidiki, ternyata gerombolan tadi melarikan diri lewat kuburan, dan kemungkinan salah satunya menyentuh batu nisan dengan darah pemuda yang masih menempel di tangannya."

Aku terhenyak. Nama pemuda yang tewas itu namamu.
Kamu pergi?


(Boleh copy paste, tapi kalau tidak keberatan, mohon dicantumkan sumbernya)

Tidak ada komentar: