Selasa, 26 Juli 2011

Gadis Ini Tak Sekadar Obat


gambar diambil dari blognyakitaaa.blogspot.com

Ada sms yang menyatakan rindu.

Lelaki itu tertawa sinis. Maaf aku sedang tidak ingin disakiti olehmu. Aku kembalikan rindumu. Dia ketik kalimat itu, lalu mengirimkannya kembali.

Ingatannya mengenang lagi. Betapa sakitnya ketika itu. Dia tidak pernah melakukan apa pun separuh hati, termasuk dalam hal mencintai. Tetapi tiba-tiba saja, dia terkhianati.



Sejak awal, sebenarnya sudah kelihatan mau dibawa ke mana hubungan itu. Lelaki itu merasa bodoh sekali. Dia melihat semuanya. Kentara. Ketika teleponnya tidak angkat dari pagi sampai sore. Lalu si gadis hanya menjawab, ketinggalan. Atau hanya berjarak lima belas menit perjalanan tapi baru bisa bertemu dua minggu bahkan sebulan sekali. Padahal gadis itu tidak bekerja ataupun kuliah. Sayangnya, benar-benar sayangnya. Lelaki itu lemah terhadap tangis perempuan. Berkali-kali dia meminta hubungan itu untuk diputuskan tetapi setiap kali itu pula si gadis menangis. Dan hubungan pun berjalan lagi.

Sampai akhirnya, dia melihatnya. Di sana, di restoran itu. Kekasihnya bersama seorang pria. Tidak lebih tampan dari dia. Dia bahkan jauh lebih tampan dari lelaki itu. Mereka berangkulan, tertawa, bercanda mesra. Dia merekam momen itu baik-baik dari balik jendela bertirai. Kalian tahu bagaimana sakit hati itu? Seperti dada sedang diremas-remas oleh kekuatan terkutuk.  Mendepak-depak tak karuan. Membuat sesuatu air yang hangat ingin sekali keluar dari mata. Lelaki itu limbung. Hatinya remuk.

Barangkali pikirannya akan selalu positif dengan menyangka lelaki yang bersama kekasihnya itu seorang teman biasa atau saudara. Tetapi ketidakmungkinan terjadi setelah seorang pelayan di belakangnya sedang membicarakan kekasihnya dan laki-laki itu. Bahwa mereka sering ke sana. Bahwa lelaki yang sekarang bersama kekasihnya adalah teman dari majikan mereka. Bahwa lelaki yang bersama kekasihnya, adalah juga kekasih dari gadis kekasihnya itu.

Apa kalian sudah merasakan nyeri itu? Karena lelaki itu merasakannya sekali. Bisa dibilang itu adalah malam terburuk di masa hidupnya. Tidak, tidak. Lelaki itu tidak pernah takut kehilangan. Masalahnya bukan itu. Masalahnya ada pada kecewa. Kecewa sering lebih besar daripada kehilangan. Dan itu benar sekali.

Tetapi setidaknya satu fragmen cerita sudah terlalui. Fragmen kejatuhan lelaki itu. Fragmen yang menyesakkan. Tapi tidak boleh dihapus. Lelaki itu harus melalui fragmen itu karena dari sanalah dia bisa belajar cara untuk terbang. Pahit sangat memang, Perih sangat juga memang. Tapi semuanya akan berlalu, dan kebahagiaan akan datang untuk menetap selamanya.

Lelaki itu diam. Lalu tertawa. Aku akan baik-baik saja.

*****


“Hei, lelaki pasienku.”

Lelaki itu tergelak. Dia merasakan sesuatu di dadanya. Hangat. Dia pernah merasakan kehangatan seperti ini sebelumnya. Cuma yang ini jauh lebih nyaman. Serupa dengan melayang.

“Hai…”

Pasien. Kata itu semula berawal dari kalimat yang meluncur dari lelaki itu, bahwa ketika bersama gadis itu, dia seperti apa pun yang terjadi, terobati. Gadis itu tergelak. Mengatakan bahwa lelaki itu menggombal. Cantik sekali.

“Kamu di sini saja, menjadi obatku.” Lelaki itu tersenyum.

“Kamu tidak membutuhkan obat karena kamu adalah obat itu sendiri. Kamu akan bangkit dan menjadi cahaya lagi. Seperti yang selalu kau sebarkan selama ini,” bisik gadis itu.

“Kalau aku obat, aku relakan diriku untuk kau telan, kau kunyah dan kau hancurkan.” Lelaki itu tersenyum lagi.

“Aku juga adalah obat bagi diriku sendiri. Tetapi aku senang sekali mendengar itu darimu. Kamu lucu …”

Dan mereka tertawa berdua. Lepas. Rasanya nyaman sekali.

“Aku ingin belajar terbang,” lelaki itu bergumam setelah jeda sebentar.

“Bahkan pesawat atau burung pun bisa jatuh ketika terbang. Kamu tidak keberatan?”

“Kamu sudah terbang hanya saja kamu tidak mengiranya,” gadis itu melanjutkan. “ Terbang bukan berarti selalu kebahagiaan atau cahaya yang berpendar. Terbang juga bisa mengalami cuaca buruk atau hujan badai yang lebat. Terbang juga bisa jatuh sedemikian buruk hingga kamu hancur berantakan. Bukankah kamu sudah mengalaminya?”

Lelaki itu diam. Memperhatikan. Dalam.

"Bagi kebanyakan orang, jatuh berantakan adalah jatuh berantakan. Hilang, titik, musnah, mati. Tapi bagi sebagian kecil orang, dia akan menyatukan kembali setiap serpihan. Aku rasa kamu orang yang berbeda dari keduanya. Kamu tidak hanya menyatukan, tetapi menyempurnakan. Agar kelak terbangmu lebih bisa menghadapi situasi apa pun. Tidakkah kamu melihatnya sebagai sebuah keberuntungan?”

Kalimat itu langsung terpatri di hati. Masih memandang gadis itu. Dalam.

“Kamu … yang selalu mengatakan bahwa kamu akan baik-baik saja. Selalu … benar?” kerling gadis itu benar-benar memesona. “Jadi, semua akan baik-baik saja. Terbanglah. Setinggi-tingginya. Sejauh-jauhnya. Kalaupun jatuh, kamu pasti bangkit lagi. Benar bukan?”

Dalam.

“Lagipula sejak kejadian itu, kamu sangat jatuh. Paling sakit. Kalau itu yang paling sakit, berarti tidak akan ada hal yang sesakit itu lagi, bukan? Kan itu yang paling sakit, katamu.”

Ah, gadis ini benar-benar obatku.

“Kalau begitu ajak aku terbang bersamamu.”

“Ah, kamu menggombal.” Gadis itu mengibaskan tangan di depan mukanya sambil tertawa. Membuat dada lelaki itu seperti gempa.

Ada jeda. Ketika mata lelaki itu melihat fajar di matanya.

“Betul kan? Kamu memang pasienku.”

Lelaki itu tergelak. Hangat. Gadis itu kemudian menulis sesuatu.

Lima miliar? Apa ini?”

“Itu tagihan atas konseling barusan, pasienku.”

Lelaki itu tergelak lagi. Lebih hangat. Gadis ini benar-benar tidak sekadar obat.

*****


Lelaki itu menggumamkan nama. Entah mengapa ada getar tak biasa sewaktu gadis itu berkata di telepon,”Tunggu sebentar. Jangan kau matikan.”

Membuatnya merasa berharga untuk sekadar berbicara. Merasa dia dibutuhkan. Dan rasa itu sangat nyaman.

Awalnya bermula dari sebuah email masuk. Nama yang asing. Perempuan. Lelaki itu membukanya, dan hanya ada kata, “Aarman?”

Email yang mengherankan. Tidak semuanya mengetahui nama dia menggunakan dua huruf A di depan. Bahkan dia sering menggunakan nama palsu di bukunya termasuk di email ini. Tetapi bagaimana pengirim email ini tahu bahwa namanya Aarman dan ditulis dengan benar.

Diketiknya satu kalimat sederhana. “Iya, bagaimana Anda tahu?”

Selang beberapa lama terjawab, “Saia suka teka-teki. Saia tahu nama Anda di semua buku adalah anagram dari nama Anda yang asli.”

Benar, pengirimnya menggunakan kata “Saia” dan bukan “Saya”. Lelaki itu tetap curiga. Meskipun dia menggunakan nama samaran dengan anagram nama aslinya, tidak mungkin secara kebetulan tahu nama aslinya karena namanya jarang digunakan orang. Pasti pengirimnya adalah orang yang mengenal dia atau setidaknya kenal dengan seseorang yang mengenal dia. Tapi sudahlah. Lelaki itu tidak mau memperpanjangnya.

Setelah itu lelaki itu tidak tahu bagaimana awalnya, dia benar-benar lupa. Tiba-tiba saja hampir setiap malam dia berbincang dengan gadis pengirim email itu, namanya Rhara. Perbincangan penuh tawa meski hanya dalam dunia maya.

“Aku ingin bertemu,” tiba-tiba saja ada kalimat itu tertera di sana. Tidak biasanya lelaki itu menulis kalimat itu untuk temannya di dunia maya.

Di sana diam. Belum ada jawaban. Lama.

“Untuk apa?” akhirnya ada jawaban.

“Entahlah, aku tidak tahu. Aku hanya ingin bertemu. Meyakinkan bahwa kamu memang benar-benar kamu.”

Di sana lagi-lagi diam. Belum ada jawaban. Lama. Hanya kemudian muncul beberapa deret nomor. Nomor telepon!

“Itu nomor telepon kamu?”

Hanya dijawab senyum.

Itu awal mula dari semuanya.

*****


Gadis itu duduk di depannya, dengan secangkir cokelat favoritnya. Dan lelaki itu masih saja tak bisa menghentikan sesuatu semacam gempa yang berdentuman menyerbu dada.

“Apa yang kamu pikirkan?” gadis itu melihat sesuatu janggal. Dia tersenyum. Dan jantung lelaki itu debarnya makin tak terkira.

“Dunia.”

“Pandang aku, kamu tidak sendiri. Aku selalu bersamamu.”Jawab gadis itu. Matanya berbinar. Ada cahaya di sana.

Demi Tuhan, hanya itu yang kuinginkan. Dan wahai Tuhan, semoga tidak  lagi mimpi ini terlalu tinggi untuk kupanjatkan. Karena kepadanya hati ini terpikat. Bisakah aku dan dia terikat tanpa tali yang terlihat. Mmm… untuk selamanya mungkin. Mau? Ah, aku berbicara sendirian.

Aku mendengarnya. Jika memang ia, apa yang akan kamu lakukan?

Aku akan menemanimu sebelum kamu tidur. Setiap hari. Aku tidak akan tertidur sebelum kamu tidur. Aku akan memandangimu tanpa henti sambil berkata  tanpa henti di hati, “Syukurlah, kamu pasanganku.”
Segembira itu?

Jika ada sesuatu yang bisa kulakukan untuk meyakinkanmu bahwa aku lebih gembira dari itu, pasti akan kulakukan.

Tidak, tidak. Itu sudah cukup.

Dan kalau saja kamu tahu hatiku sejak lahir terbuat untukmu.
Ooo aku selalu tahu. Hanya saja aku menunggumu mempersembahkannya untukku.

Dan kalau saja kamu tahu, aku ingin merasakan melayang.

Ijinkan aku menjadi sayapmu.

Dan aku ingin selalu bercahaya.
Biarkan aku yang menyinarimu.

Dan aku ingin dicintai.

Bukankah kamu selalu dicintai? Olehku. 


“Kamu sudah meminum obatmu?”

Lelaki itu terbahak… lagi. Belum pernah dia sebahagia ini. Gadis ini selalu bisa membuatnya tertawa.

“Tidak akan kau tagih lima miliar lagi, kan?”

“Tidak. Hari ini gratis. Sepuluh kali konsultasi, gratis sekali.” Gadis itu tersenyum.

Lelaki itu terbahak sekali lagi. Aku sedang benar-benar jatuh cinta.

Perasaan ini… hangat bukan?
Hangat? Aku rasa kamu bisa membakar sekelilingmu.          

Apa kamu bisa membaca pikiranku. Karena itu yang sedang aku pikirkan sekarang ini.

Tidak, tidak. Aku tidak bisa membaca pikiranmu. 


Lelaki itu melongo, dan gadis itu tersenyum.

“Diminum kopinya.”

“Oiya. Terima kasih.”

*****


Ada sms lagi yang menyampaikan rindu. Lelaki itu mengambil nafas, mengetik sesuatu.

Maaf, aku sama sekali sudah tidak berselera disiksa.
Rindu ini sudah bukan milikmu. Untuk apa menanyakan sesuatu yang sudah bukan milikmu?
Biarkan semua seperti seharusnya. Ku dan kamu melangkah pergi. Terlupa.
Sudah lupakan semua. Kita terluka, dan suatu hari kita akan terlupa. Tetapi semuanya akan baik-baik saja. Sedikit demi sedikit cintamu mengalami abrasi. Pengikisan sedikit demi sedikit hingga kemudian mati.
Aku kembalikan rindumu.

Sms yang panjang. Dia mengirimnya. Lalu menekan tombol sebuah nomor.

“Halo, hari ini bisa ketemu? … Iya. Ada sesuatu yang harus kubicarakan. … iya. Denganmu. Dengan siapa lagi. …. Iya. Tempat biasa? Dua jam lagi? … yap. See you there.”

Hari ini, ada bidadari yang ingin kumiliki. Bukan berarti aku akan mengekangnya. Justru dengan bersamaku, aku bisa selalu memastikan bahwa dia terus tertawa dan bahwa dia baik-baik saja. Karena namanya selalu muncul dalam doaku sebelum namaku dan impianku sendiri. Iya. Dia …



(Boleh copy paste, tapi kalau tidak keberatan, mohon dicantumkan juga sumbernya) 

Tidak ada komentar: