Jumat, 08 Juli 2011

Itu Hal Biasa ... Tidak Apa ...

gambar dari tubagusivan.com

Ini adalah salah satu cerita favorit saya. Mungkin juga akan menjadi favorit Anda. Entah awalnya cerita ini dari siapa, saya lupa. Tetapi sampai sekarang, saya selalu mengingatnya.
Pada suatu hari, ada sebuah lomba. Saya lupa itu lomba apa. Kalau tidak salah balap mobil mainan. Penontonnya lumayan banyak ketika itu karena sampai diikuti oleh para wartawan. Di final terakhir, tinggal beberapa peserta. Karena pesertanya tinggal sedikit, semua penonton pun terfokuskan pada para peserta ini. Ada salah satu anak yang diam, memegang mobil mainannya, lama. Kamera para wartawan pun mengarah ke arahnya. Satu menit, dua menit, entah berapa menit, tapi lama. Semua orang melihatnya. Tersenyum karena melihat seorang anak kecil berdoa. Pasti untuk sebuah kemenangan, batin mereka. Hal yang wajar untuk seorang anak kecil.


Final pun dimulai. Perlombaan berjalan sangat seru. Mobil-mobil mainan itu pun saling mendahului. Pada garis akhir, Anda tahu siapa pemenangnya? Anak yang berdoa tadi. Dia senang bukan kepalang, meski tidak menunjukkannya secara berlebihan. Hanya terlihat benar pada aura wajahnya yang berbinar. Beberapa anak lain yang tidak juara terlihat bersedih, bahkan ada yang menangis.
Wartawan pun berebut mewawancarai anak itu, “Luar biasa! Pertandingan yang hebat! Kamu pasti senang sekali menjuarainya.”
Si anak kecil itu hanya tersenyum sambil mengangguk.
Wartawan kembali bertanya, “Sebelum lomba tadi, kami melihat kamu berdoa khusyuk sekali. Pasti kamu berdoa untuk menang, bukan? Dan lihat, doamu sudah dikabulkan Tuhan.”
Si anak kecil melihat wartawan tadi lalu berkata, “Tidak, tidak. Bukan itu yang saya doakan. Rasanya tidak adil jika saya berdoa untuk sebuah kemenangan yang berarti saya menginginkan teman yang lain kalah. Saya hanya berdoa dan memohon sangat kepada Tuhan agar saya diberi kekuatan agar tidak menangis jika saya kalah dalam lomba ini.”
Wartawan terdiam. Para penonton yang sebagian besar adalah anak ibu yang mengantar anak mereka terdiam. Para penonton televise di rumah juga terdiam. Untuk beberapa saat, tiba-tiba saja semuanya sunyi senyap.
Ada pelajaran berarti dari anak kecil yang luar biasa. Bukan kemenangan yang dia doakan. Oh, tentu saja dia menginginkan kemenangan. Semua orang menginginkannya. Jika tidak, kenapa ikut lomba? Yang membedakan adalah, benar dia menginginkan kemenangan, tetapi yang dia doakan ternyata bukan itu, tetapi tidak menangis jika kalah. Menurut saya ini luar biasa.

Saya tidak tahu apakah ini kisah nyata atau cerita untuk motivasi saja. Tetapi kenapa harus mempermasalahkan dari mana asalnya yang nyata atau tidak? Bukankah yang harus diambil pelajarannya?

Dalam hidup, kita semua, benar-benar kita semua-tanpa kecuali, pernah mengalami masalah. Saya pernah, Anda pernah, saudara Anda pernah, teman Anda pernah, orang-orang yang terlihat bahagia pernah, bahkan orang terkaya di dunia pun pernah. Masalah adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. Kenapa? Karena kita manusia. Kita tidak mungkin tidak mengalami masalah apa pun dalam hidup kita. Sayangnya, ada perbedaan pandangan pada semua orang mengenai hal ini. Banyak orang ‘menerimanya’ dengan memaki, mengutuk, bahkan sambil bertanya, “Kenapa aku?”. Sementara bagi yang lain, menerimanya, menghadapinya, lalu melanjutkan hidup seperti biasa. Saya tidak tahu Anda masuk bagian yang mana? Tapi saya berharap yang kedua.

Intinya adalah, jangan berdoa untuk dihindarkan dari masalah. Masalah itu selalu membuat Anda belajar untuk lebih kuat. Ini benar. Saya tidak berbohong. Ketika Anda bisa melalui sebuah masalah, perhatikan, benar-benar perhatikan apa yang terjadi pada Anda. Lega luar biasa. Satu lagi, jika ada masalah sama, entah pada Anda atau pada orang lain, Anda jadi tahu apa yang harus dilakukan. Tidak lagi panik atau harus berpikir keras. Mental Anda pun sudah bisa mengatasinya. Itulah kenapa banyak orang yang menjadi jauh lebih bijak atau lebih kaya setelah berhasil melaluinya. Catat, berhasil melaluinya.

***
Semua Manusia yang Masih Hidup Bisa Melaluinya

Akan ada pertanyaan lain, bagaimana dengan yang tidak bisa melaluinya? Tidak bisa melalui masalah? Maaf, tapi siapa yang tidak bisa melaluinya? Anda? Atau orang lain? Jika mereka masih hidup, berarti bisa melaluinya. Satu-satunya yang tidak bisa melaluinya hanyalah orang yang sudah mati. Saya tidak bilang Anda bisa mengatasi masalah itu. Yang disampaikan adalah melaluinya. Iya, melaluinya. Manusia tidak bisa menghalangi badai, gempa atau tsunami. Kalau Allah ingin terjadi, pasti terjadi. Rumah bisa hancur, barang berharga bisa habis, mungkin juga kehilangan. Lihat, manusia tidak bisa menghalanginya, mengatasinya. Tapi jika masih hidup, orang itu pasti bisa melaluinya. Kehilangan iya, tapi bisa melaluinya. Itulah artinya bahwa badai pasti berlalu. Badai selesai. Benar-benar selesai. Yang harus dilakukan adalah berkemas, membersihkan, mencari apa yang bisa dilakukan untuk bertahan.

Anda juga memiliki masalah yang harus diselesaikan. Bisa ringan bisa berat. Tergantung pribadi orang dalam memandangnya. Tetapi semua sama, bisa melaluinya. Bisa saja hancur, berantakan, kehilangan. Tapi juga bisa melaluinya. Selalu. Kehilangan ya sudah, ayo kita cari lagi. Lepaskan yang sudah hilang. Bukan berarti tidak boleh mengenang, tentu saja boleh. Tapi lepaskan. Ikhlaskan. Jangan membawanya ke mana-mana setiap hari, setiap waktu. Sangat tidak menyenangkan membawa beban. Kurangi bebannya. Lanjutkan perjalanannya. Lalui saja. Lalui saja.

Tidak ada komentar: