Selasa, 26 Juli 2011

Kalau Semua Harus Sempurna, Kenapa Kita Diturunkan di Bumi dan Tidak Tetap di Surga Saja?


gambar diambil dari connect.in.com 

Seorang gadis sedang menatap cermin, lalu memandang poster artis-artis dari Korea. Dia berguman, “Andai aku sesempurna itu.”

Seorang pria menghentikan sepedanya, melihat ke sebuah rumah yang dari dalam garasinya keluar sebuah mobil mewah. Dia bergumam, “Andai kekayaanku sesempurna itu.”

Oh, bukan. Bukan menyalahkan manusia berharap. Berharap boleh, kadang harus.


Kesalahannya, banyak orang mengejar kesempurnaan dengan kadang sampai bertindak tergesa-gesa dan tidak peduli dengan norma maupun etika. Yang mengejar kesempurnaan harta kadang korupsi, merampok, menjual diri, atau melakukan hal-hal lainnya. Yang mengejar kecantikan sampai harus operasi plastik yang kadang malah merusak setelah sekian lama. Yang mengejar kesempurnaan jabatan, kadang harus sogok sana-sogok sini atau juga menjual diri. Ah, terlalu banyak contoh yang bisa disebutkan.

Tidak, tidak. Bukan berarti kita harus kemudian bersikap puas dengan segala yang ada. Mengejar kesempurnaan itu dibolehkan, kalau tidak bisa dibilang dianjurkan. Tetapi tentu saja dengan cara yang wajar. Dan ketika pengejaran tidak berhasil, kita harus sadar bahwa memang pada kenyataannya hidup kita tidak akan pernah bisa sempurna. Selalu ada ujian, ada sandungan, ada kesedihan, ada kekecewaan, ada masalah, ada saat-saat terpuruk dan lain sebagainya. Inilah yang menjadikan kita manusia.

Kita harus mengalami masa-masa seperti ini. Jika tidak, kita tidak akan tahu bagaimana rasanya bahagia. Kenapa kita bisa merasakan manis? Karena kita mengenal rasa asam, kecut maupun pahit.

Kenapa kita menikmati keindahan? Karena pernah merasakan atau melihat keburukan, kekotoran, maupun berantakan.

Kenapa kita bisa merasakan bahagia? Karena ada perasaan kesedihan.

Bayangkan jika semua perasaan adalah sama, semua warna sama, semua bentuk sama, semua rumah sama, semua wajah sama. Tentu kita tidak tahu bagaimana rasa, rupa dan warna yang lain bukan?

Artis-artis yang cantik dan ganteng-ganteng yang kita puja itu kalau kentut juga bau. Anda boleh tertawa, tapi memang begitu kenyataannya bukan? Justru dengan kentut yang bau itulah mereka sempurna. Apa kita tahu bahwa mereka tidak ngiler kalau tidur? Siapa tahu kan mereka ngiler? Ngiler itu juga membuat seseorang sempurna.

Inilah, banyak orang yang mengira sempurna adalah seperti gambaran surga. Tidak, tidak. Bukan demikian. Jika memang sempurna adalah rupawan luar biasa, kecukupan tanpa kekurangan, hanya ada kebahagiaan, … Kalau semua harus seperti itu, kenapa kita diturunkan di bumi dan tidak ditempatkan di surga saja? Kita diturunkan di bumi untuk belajar tentang “kesempurnaan” bumi, bukan “kesempurnaan” surga.

Tetapi apa itu “kesempurnaan” dalam artian bumi? Yaitu dengan mengalami cobaan, masalah, kekurangan dan lain sebagainya.

Bukankah kita mengalaminya? Kalau begitu kita sudah sempurna … Tidak salah lagi. Anda bisa merasakannya?

(Boleh copy paste, tapi kalau tidak keberatan, mohon jangan lupa mencantumkan sumbernya)

Tidak ada komentar: