Kamis, 14 Juli 2011

[Kisah Nyata] Ikatkan Pita Kuning pada Pohon Oak Tua di Kotamu

gambar dari en.wikipedia.org
Pada tahun 1971, sebuah surat kabar New York menulis kisah nyata tentang seorang pria yang hidup di kota kecil White Oak, Georgia, Amerika. Pria ini menikahi seorang wanita cantik dan baik. Sayangnya dia tidak menjadi suami dan ayah yang baik. Dia sering pulang dalam keadaan mabuk, lalu memukuli anak dan istrinya.
Satu malam, dia mencuri semua uang istrinya, dan naik bis menuju ke kota besar, New York. Bersama beberapa temannya, dia mendirikan sebuah usaha dan sukses. Untuk sesaat, dia benar-benar menikmati hidup. Setiap hari dia berjudi, mengkonsumsi obat, dan berganti wanita.
Bulan dan tahun berlalu. Bisnisnya tiba-tiba mengalami kebangkrutan dan mulai kekurangan uang. Lalu dia mulai melakukan berbagai tindakan criminal. Dia menulis cek palsu dan menggunakannya untuk menipu banyak orang. Pada suatu saat, dia ditangkap polisi dan dijebloskan ke penjara selama tiga tahun.
Di penjara, dia mulai merindukan rumahnya. Merindukan istri dan anaknya. Di benar-benar ingin berjumpa dengan mereka. Setiap hari di pikirannya hanya berisi tentang keinginan-keinginan itu.
Akhirnya di masa-masa akhir hukumannya, dia memberanikan diri untuk menulis surat kepada istrinya, untuk menceritakan betapa menyesal dirinya. Bahwa dia begitu rindu dengan istri dan anaknya itu. Dia berharap bisa kembali, namun juga akan sangat mengerti bahwa mungkin semuanya sudah terlambat sekarang. Oleh karena itu, di akhir suratnya dia menulis,
“Sayang, engkau tidak perlu menunggu aku. Namun jika engkau masih ada perasaan padaku, maukah kau menyatakannya? Ikatlah sebuah pita kuning pada satu-satunya pohon beringin besar di kota kita itu jika kamu masih mau menerimaku kembali. Apabila aku lewat di beringin itu dan tidak menemukan pita kuning yang diikat, tidak apa-apa. Aku mengerti. Aku tidak akan turun dari bis dan akan terus menuju Miami. Dan aku berjanji untuk tidak akan mengganggumu lagi dan anak-anak seumur hidupku.”
Akhirnya hari pelepasannya pun tiba. Dia sangat gelisah. Tidak pernah ada surat balasan satu pun dari istrinya. Dia bahkan tidak tahu apakah istrinya menerima surat itu atau tidak. Dan jika dia menerimanya, apakah istrinya itu mau mengampuninya?
Dia menaiki bis menuju ke Miami, Florida, yang melewati kampong halamannya, White Oak. Dia begitu gugup ketika hampir sampai di White Oak. Seisi bis mendengar ceritanya karena dia membutuhkan dukungan. Dan semua penumpang pun kemudian meminta kepada sang supir bis untuk berjalan pelan-pelan ketika melewati White Oak, terutama di pusat kota di mana pohon beringin yang disebut orang itu berada.
Hatinya berdebar kencang ketika mendekati pusat kota. Dia mulai berkeringat dingin. Wajahnya terus menunduk tidak berani mengangkat kepalanya.
Akhirnya, dia memberanikan diri melihat pohon itu.
Air matanya langsung menetes seketika. Dia tidak melihat sehelai pita kuning. Tidak ada satu helai pita kuning. Yang ada adalah ratusan helai pita kuning yang memenuhi pohon itu.

Sang supir langsung menelepon surat kabar untuk menyampaikan cerita ini. Pada akhirnya, pada tahun 1973, seseorang menulis lagu tentang cerita ini dengan judul, “Tie a Yellow Ribbon around the Old Oak Tree.” Dan lagu itu menjadi hits pada tahun itu.

I’m coming home

I’ve done my time

And I have to know what is or isn’t mine

If you received my letter

Telling you I’d soon be free

Than you know just what to do

If you still want me

If you still want me

Oh tie a yellow ribbon

‘round the old oak tree

Its been three long years

Do you still want me

If I don’t see a yellow ribbon ‘round the old oak tree

I’ll stay on the bus, forget about us

Put the blame on me

‘Cause I couldn’t bare to see what I might see

I’m really still in prison

And my love she holds the key

A simple yellow ribbon is all I need to set me free

I wrote and told her please

Oh tie a yellow ribbon ‘round the old oak tree

It’s been three long years

Do you still want me

If I don’t see a yellow ribbon ‘round the old oak tree

I’ll stay on the bus, forget about us

Put the blame on me

If I don’t see a yellow ribbon ‘round the old oak tree

Now the whole damn bus is cheering

And I can’t believe

I see a hundred yellow ribbons ‘round the old

*****

Anda pernah menceritakan cinta seperti itu? Cinta yang mau menerima dan memberi kesempatan kedua?
Anda pernah mengalami penyesalan tulus seperti itu? Penyesalan yang tidak akan melakukan kesalahan yang sama?
Anda pernah merasa terharu seperti itu? Seperti sudah melepaskan, ikhlas apa pun yang terjadi, tapi malah Anda mendapatkan?

Saya tidak tahu saya akan senang menjadi pria itu, atau istrinya. Menjadi keduanya pun saya senang bukan kepalang. Sebagai pria itu, saya hanya meminta sebuah pita kuning, tapi diberikan ratusan. Anda tahu betapa susahnya mengikat ratusan pita kuning? Dan sebagai istrinya, dia senang karena orang yang dicintainya akan kembali. Dan kali ini, membawa kasih sayang.
Bahkan menjadi penumpang bis itu pun saya akan senang bukan kepalang. Mungkin saya akan ikut menangis juga. 

Ah, Anda percaya dengan keajaiban? Anda percaya dengan cinta yang tulus? Anda percaya bahwa seseorang bisa sangat menyesal? 

Saya tidak tahu bagaimana dengan Anda. Tapi saya percaya semuanya.

Selamat menikmati hidup nyata. Yang tidak hanya keburukan, tapi juga banyak kebaikan. Hanya berbeda cara memandang. Hanya benar-benar berbeda cara memandang.

Selamat siang. 
SHINE ON selalu.


(Cerita berdasar dari sebuah buku yang saya lupa judulnya)

9 komentar:

Anonim mengatakan...

2 kata ..

LUAR BIASA :)

namarappuccino mengatakan...

^^ iya. mengharukan banget

Ely Meyer mengatakan...

auh .. aku air mataku sempat menitik membaca tulisan ini, pas membaca tak kira nggak ada satu pun pita kuning, tapi ratusan pita kuning, nggak kebayang bagaimana wajah pria itu melihat ratusan pita kuning, pasti kangsung menangis terharu ya
betapa pemaafnya istrinya

namarappuccino mengatakan...

Sama mbak. Membayangkan perasaan lelaki itu ketika melihat banyak sekali pita kuning di pohon itu, pasti dia ingin menangis.

MA's SHOP mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Anonim mengatakan...

kak ,aku izin share yah :))

Anonim mengatakan...

kak ,aku izin share yah :))

Anonim mengatakan...

kak ,aku izin share yah :))

George Situmeang mengatakan...

Dari awal cerita, saya hanya mengikuti dengan perasaan biasa saja, tapi pada saat membaca tidak ada sehelai pita kuning yang terikat, melainkan ratusan pita kuning yang yang terikat, disitu air mata terharu saya menetes.......sungguh mulia hati seorang ibu.....praise the Lord