Jumat, 01 Juli 2011

Sebuah Buku Harian Tentang Seseorang

Aira, Rabu 23 September 2006


Mustahil!

Tidak mungkin ada seseorang yang melebihi apa yang kubayangkan. Tidak mungkin!

Tapi kenyataannya, setelah kulihat lagi, kau benar-benar ada di sana. Kau benar-benar sedang berbicara dan bercanda. Tersenyum dan tertawa. Yang lebih mengagumkan lagi adalah kau … cantik luar biasa!

Aku harus bagiamana menggambarkan tentangmu? Bagaimanapun gambarannya, aku yakin tidak akan sedikitpun bisa mendekatimu. Karena aku tahu, kau tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Kata-kata itu sampah ketika berhadapan denganmu. Puisi-puisi itu menjadi sekedar pasir yang tak berguna bila menceritakan tentangmu.

Tidak! Aku jamin, kau lebih dari itu.

Tetapi mungkin aku sedang bermimpi. Mungkin aku berkhayal tentangmu. Mungkin kamu adalah seorang kekasih imajinasiku, yang kemudian sekarang menjelma sempurna sampai tak ada cela.

Tetapi lagi-lagi bukan. Kamu ada! Kamu nyata! Dan sekarang sedang ada di depanku.

Semoga degub di hatiku tidak terdengar di telingamu, karena aku mendengarnya sangat keras.

DEG! DEG! DEG!

Sampai terasa memukul paru-paru sekali. Sampai terasa mendepak dada sekali.

*****

Aira, 26 September 2006


Sebenarnya, malam ini, ada yang harus kuselesaikan. Tetapi sesuatu mencegahku. Sesuatu yang bernama Rhea …

Ya, kamu. Siapa lagi?

Kamu benar-benar tak punya sopan santun. Kau tiba-tiba saja datang menggelayuti pikiranku. Padahal aku sedang membutuhkannya saat ini untuk tetap sadar.

Aku mabuk!

Aku benar-benar mabuk!

Bukan! Bukan karena minuman atau obat. Sepertinya kecanduan tentangmu.

Ah, Lupakan.

Mungkin ini hanya karena kemabukanku sehingga aku meracau tak karuan.

*****

Aira, 30 September 2006


Apa kau mempunyai semacam sihir?

Tidak? Tetapi mengapa aku seperti sedang tersihir? Mengapa segala sesuatu tentangmu membuatku indera-indera tubuhku menjadi sangat tajam?

Kau pasti punya semacam sihir! Pasti!

Sihir di senyummu, di matamu yang teduh, di rambut hitammu. Semuanya! Semua bagian tubuhmu pasti mempunyai sihir.

Jangan kelabui aku! Pasti ada mantera bukan? Pasti ada?! Jangan bohong!

Tetapi kalau itu sihir, kenapa semuanya juga mengagumimu? Kenapa semuanya seperti tak pernah berhenti membicarakanmu? Apa mereka tak tahu, hal itu membuatku tersiksa habis? Apa mereka tidak tahu, namamu benar-benar membuat dadaku kehilangan ketenangannya sampai dia mendepak-depak dadaku tak karuan?

Dan aku masih diam. Dan aku tak berhenti juga takjub. Benar-benar takjub.

*****

Aira, 5 Oktober 2006


Aku masih terengah-engah sampai sekarang.

Di tangga itu, aku benar-benar kehilangan mukaku. Aku seorang pengecut! Aku seorang pecundang! Pecundang besar!

Kamu di depanku. Benar-benar di depanku! Bahkan kita berhadapan dan berpapasan. Dan aku tak melakukan apapun! Apapun!

Sial! Aku ingin menghancurkan dunia sekarang.

Kenapa? Karena aku malu. Sangat malu. Kepadamu, kepadaku sendiri, kepada seluruh dunia. Termasuk anak-anak tangga dan dinding-dindingnya. Mereka melihat kita ketika berpapasan. Mungkin juga mereka sampai sekarang masih mencaci aku habis-habisan.

“Aira seorang pecundang! Ha..ha..ha.. Aira seorang pengecut! Ha..ha..ha..” Aku mendengar suara-suara itu sekarang. Sungguh, aku benar-benar mendengar suara itu. Suara dinding dan anak tangga yang sedang mengolokku.

Padahal, jika mereka tahu. Pada saat itu aku benar-benar ingin menyapamu. Menyapa paras yang tak bisa aku lupakan. Untuk tersenyum kepadamu atau sekadar menyapa lewat isyarat mata.

Tapi cinta benar-benar membuatku tak berkutik. Dia kurang ajar dan sok jagoan. Seenaknya saja membuatku gugup ketika berpapasan denganmu. Sedemikian gugupnya sampai aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Sampai aku tak mengerti bagaimana caranya untuk mengulum sebuah senyum atau sebuah sapaan untukmu.

Sial! Sial!

*****

Rhea, 5 Oktober 2006


Kita tadi berpapasan di tangga Aula perumahan wilayah kita. Apa kamu tahu? Apa kamu menyadarinya? Kenapa kau sama sekali tidak melihatku? Padahal aku pada saat itu terus melihatmu dengan sebuah pengharapan besar. Harapan bahwa saat kita sudah semakin dekat, kau akan tersenyum kepadaku dan menyapaku.

Tetapi aku karam. Aku tenggelam. Siapapun tolong aku!

Kamu hanya berjalan cepat menuruni tangga itu dan melewatiku. Tanpa melirikku sama sekali! Bayangkan itu!

Bagaimana bisa kau tidak melihatku? Kamu sombong! Kamu angkuh! Benar-benar angkuh!

Tetapi kamu, tetap aku kagumi.

*****

Aira, 5 Desember2006


Rambutmu lebih panjang sekarang. Tetapi, jujur, rambutmu yang sampai menyentuh punggung itu semakin membuat hatiku berantakan.

Kamu tahu, sewaktu aku ke rumahmu tadi, pada hakekatnya jantungku sudah berdebar sedemikian besar. Meski kedatanganku ada perlu dengan ayahmu, tetapi bagaimanapun juga itu rumahmu. Rumah milik sebuah wajah yang tak berhenti mengganggu tidurku. Rumah seseorang yang tak berhenti kukagumi. Rumahmu.

Saat itu juga aku berpikir, mana yang kuinginkan? Apakah kamu ada di rumah atau tidak? Kalau kamu sedang berada di rumah dan bertemu denganku, aku takut salah tingkah. Dan bila kamu tidak ada di rumah, sebenarnya aku ingin melihatmu.

Dan kamu tahu apa yang terjadi selanjutnya? Apa yang kutakutkan benar-benar terjadi. Kamu ada di rumah! Bukan! Bukan aku tidak menginginkannya, tetapi justru aku sangat menginginkannya sedemikian rupa sampai aku takut akan bertingkah janggal karena melihatmu.

Dan ternyata benarlah. Semoga saja kau tidak melihat gelagatku saat itu. Semoga gelap malam menutupinya dari matamu.

Sewaktu aku tadi memasuki rumahmu, dan yang pertama kali keluar adalah kamu, Ya Tuhan, Aku kehilangan nafasku! Sungguh, aku tidak bohong, karena aku merasa sesak saat itu. Dan apa kataku selanjutnya? Diam. Benar, diam untuk sekian detik lalu sebuah kata muncul dari bibirku. Dari sekian ribu kosakata bahasa Indonesia yang kuketahui, aku lupa semuanya! Yang terlintas saat itu hanyalah, bahwa tujuanku saat itu adalah menemui ayahmu. Sehingga kata yang terucap hanyalah, “Bapak?”

Sebenarnya apa yang sudah membuatku sedemikian rupa? Apakah rambutmu yang semakin panjang itu? Sehingga membuat wajahmu kelihatan semakin cantik dan bertambah dewasa? Sepertinya bukan. Karena pada dasarnya, menurutku, memang kamu sejak dulu sangat cantik. Apakah karena sudah lama kita tidak bertemu, sehingga aku menjadi sangat gugup? Bukan juga. Karena aku selalu gugup bila bertemu kamu. Sejak dulu demikian. Lalu apa?

Entahlah. Entahlah. Aku tak bisa menjawabnya. Yang jelas. Aku yakin malam nanti aku pasti tidak bisa tidur. Benar-benar tidak bisa tidur.

Dan yang terjadi di otakku mungkin hanya suara-suara yang berteriak untuk mendatangkan wajahmu ke imajainasi. Sepanjang malam. Sepanjang malam.

*****

Rhea, 15 Desember 2006


Ya Tuhan, aku masih berdebar sampai sekarang. Ya Tuhan, aku masih gugup sampai sekarang.

Berapa lama kita bertemu malam tadi? Sedetik? Sepuluh detik? Dua puluh detik? Berapapun, tetap saja, aku merasa senang hati.

Berapa lama aku tidak berjumpa denganmu? Tepatnya dua bulan sepuluh hari. Aku menghitungnya. Aku selalu menghitungnya, sejak kamu tak belajar di sini lagi.

Dan tiba-tiba, kamu datang, dengan minim suara, ya, tentu saja minim. Kamu hanya mengucapkan,”Bapak?”

Jadi jauh-jauh kamu datang sendiri hanya untuk mencari ayahku? Padahal ketika melihatmu itu jantungku sedang jatuh seketika. Ah semoga remang malam menutupi betapa aku kehilangan kesadaran saat itu. Sejak kau masih di luar, dan aku keluar rumah, aku sama sekali tidak menyangka bahwa yang datang adalah seseorang yang sering menggangggu tidurku. Seseorang yang namanya selalu menggetarkanku. Seseorang yang selalu menyengat keingintahuanku tentang keadaanmu.

Sungguh, waktu itu, aku benar-benar terpaku. Untuk menggerak-gerakan jariku saja aku seperti kepayahan. Ah, semoga kau tidak melihatnya. Benar-benar, sekian lama aku tak bisa bersuara. Setelah itu aku tak tahu apa yang kulakukan. Tiba-tiba saja, aku sudah berada di dalam rumah dan aku mendengar suaramu sedang berbincang dengan ayahku.

Sampai sekarang aku masih belum ingat kapan kau masuk, dan kapan ayahku menemuimu.

Ya Robbi, aku ingin melihat kamu lagi waktu itu. Maka aku bertekad untuk membuatkan air minum untukmu dan seorang temanmu itu. Aku mulai mengaduk dan membuat minum. Aku membuatnya sangat hati-hati sekali. Aku takut kamu tidak suka dengan minuman buatanku.

Tetapi belum juga selesai aku membuatnya, aku mendengar kamu berpamitan. Sebentar sekali kamu datang ke rumahku. Aku ingin kau lebih lama lagi di sini. Satu jam, dua jam. Pokoknya lebih lama lagi.

Seketika kamu keluar rumah, aku berlari sekencang-kencangnya ke jendela demi melihatmu dengan sembunyi-sembunyi.

Rambutmu lebih pendek sekarang. terakhir aku melihatmu, rambutmu hampir menyetuh pundak. Tetapi sepertinya kamu lebih kurus. Ada apa? Kamu punya masalah? Seandainya kamu mau mengajak omong aku. Aku akan membantumu sebisaku. Meski aku memintaku meninggalkan kekasihku yang sekarang ini. Satu kalimat saja darimu, maka detik berikutnya aku akan memutuskan kekasihku yang sekarang. Ini bukan main-main. Ini bukan main-main.

*****

Aira, 23 Desember 2006


ARGHHHHHH!

Aku pusing! Kepalaku seperti sedang diremukkan! Jangan memukuliku! Kumohon! Hentikan suara-suara itu!

Mengapa!? Mngapa terjadi demikian?! Mengapa kau sudah memiliki kekasih?

Hentikan! Jangan bersuara lagi.

Maaf Rhea, suara itu datang lagi.

*****

Rhea 31 Desember 2006



Melihatmu di podium itu, aku … tak bisa bergerak.

Sungguh! Kau benar-benar membuatku terpaku. Sampai aku hanya melihatmu yang sedang bersuara lantang. Dangan mata tajammu yang seolah membuat semua mata tertunduk. Benar-benar tertunduk.

Aku tak mengerti yang terjadi. Mengapa badanku sedemikian lemas saat ini? Mengapa aku tak berkuasa menggerakkan satu bagian tubuhku pun? Mengapa mereka semua memberontak kepadaku? Ada apa ini?

Selama ini aku berpikir tidak mungkin! Tidak mungkin apa yang teman-temanku katakan tentangmu itu benar dan jujur. Bagiku mereka berlebihan. Mana ada manusia sesempurna yang mereka katakan itu? Mereka sepertinya melebih-lebihkannya. Mereka bukan memujimu, menurutku mereka memujamu. Benar-benar memujamu.

Hah. Menggelikan!



Sebentar, sebentar. Sekelebat tadi wajahmu datang. Aku jadi kepayahan karenanya. Biarkan aku mengambil nafasku dulu, karena tatapan matamu yang sekelebat tadi sesaat merampoknya dariku. Dan tatapan itu kemudian menghunjam jantungku dalam. Sangat dalam sampai aku tak bisa merasakan jantungku lagi meski sekian detik.



Sudah dulu … sebentar … aku masih sesak nafas …



Tolong! Jangan datang lagi dulu. Karena aku tak bisa berpikir jika kau lakukan itu. Datanglah lagi setelah kuselesaikan menulis buku harianku ini. Setelah itu terserah bayanganmu mau apa. Karena sepertinya aku tak mempunyai kekuasaan atas pikiranku itu. Sepertinya semua hanya ingin mengikutimu.

Huf!

Mungkin apa yang mereka katakan, tidak terlalu berlebihan tentangmu. Bahkan menurutku sangat kurang sekali. Menurutku, kamu lebih dari itu. Dua kali lipat!



Aduh! Bayanganmu datang lagi.

Sudah berhenti dulu … aku ingin menikmatinya…

*****

Rhea 9 Januari 2007


Beberapa hari ini aku tidak melihatmu. Kamu kemana? Kamu sedang apa? Aku menyelidik diam-diam dengan memandang bibir semua sahabatmu yang kuharap sedang membicarkanmu. Nihil. Aku tidak mendengar apapun dan tidak mengetahui apapun.

Lalu tiba-tiba aku mendengar kabar, kamu pindah kos. Aku terhenyak. Wajah itu, apakah aku akan melihatnya lagi? Senyum itu, meski tidak pernah untukku, apakah bisa menemui hatiku lagi? Agar hatiku itu bergetar. Agar jantungku itu merasa senang.

Mengapa? Mengapa kamu tidak tetap di daerah sini saja? Mengapa harus pindah cukup jauh? Apa kau tidak tahu, di sini ada seseorang yang selalu merasa begitu bersemangat ketika melihatmu? Apa kamu tidak tahu, bagaimana jiwaku sedang menggelepar sekarang?

Aku sering bercerita dengan kakakku tentangmu. Kami sama-sama perempuan, dan kami sama-sama senang ketika berbicara tentang kamu. Ini bukan persaingan. Hanya saja kami berdebar setiap kali melihatmu. Pernah, saat itu, kami melihatmu dengan seorang teman, berjalan di dekat jalan rumah kami. Kami bersembunyi di bawah pohon rumah kami, kamu tahu, pohon depan rumah itu. Lalu kami saling berbisik dan tertawa sambil membicarakan detil tentang kamu. Kami amati satu persatu wajah kamu. Rambutmu yang hitam, alismu yang tebal, matamu yang tajam, semuanya. Tidak ada yang terlewatkan dari kamu.

Dan sekarang kamu mau pergi? Ho ho, selamat tinggal kekaguman, selamat tinggal hati yang berdebar. Karena semua yang menyebabkan kalian ada sudah pergi dari sini. Entah kapan lagi bisa menemuinya lagi.

*****

Rhea 16 Januari 2007


Kamu tidak kelihatan hari ini. Ada apa? Apa kamu sakit? Apa kamu tidak enak badan? Ada apa? Kepada siapa aku harus bertanya tentang keadaanmu? Mengapa kamu susah sekali diketahui? Kenapa kamu misterius sekali?

Aku sangat khawatir saat ini. Aku benar-benar khawatir. Otakku seperti sedang dipukuli oleh suara-suara tak mengenakkan. Hatiku seperti ditendang-tendang kekuatan terkutuk, karena tidak mengetahui keberadaanmu. Dan kau, begitu angkuhnya tak peduli. Dan kau, begitu egoisnya tanpa memperhatikan kekhawatiranku. Ada apa dengan kau ini?

Apa aku tidak berarti? Apa namaku tidak bersembunyi di celah-celah hatimu? Meski setitik? Meski sekecil apapun?

Kumohon. Aku hanya ingin kamu memperhatikanku. Itu saja tidak lebih.

Aku hanya ingin kau menyapaku. Itu saja. Tak kurang.

Dan kau hari ini malah menghilang. Aira! Menyebalkan!


*****

Aira 16 Januari 2007


Aku melihatmu dari jauh … Semoga kau tidak merasakan keberadaanku.

Aku harus pergi. Ini terakhir kalinya aku melihatmu. Aku ingin mengungkapkan betapa aku sangat ingin memelukmu saat ini, betapa aku ingin kau menatapku dan aku menatapmu, lalu kita mengucapkan selamat tinggal.

Sepertinya tidak mungkin. Kamu sudah punya kekasih. Lagipula tidak mungkin kamu mencintaiku. Siapa aku? Aku hanya seorang anak pedagang buku. Siapa kamu? Kamu adalah anak pejabat dengan mobil lebih dari satu. Hah!

Selamat tinggal Rhea!



(Boleh copy paste, tapi kalau tidak keberatan mohon dicantumkan sumbernya)

1 komentar:

fauziyah mengatakan...

waaaaa, ini cerita nyesekk bangett..!!!