Minggu, 10 Juli 2011

Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya


Saya sangat sangat sangat suka buku ini. Dan saya rasa, Anda pasti juga akan sangat menyukainya.

Meski ditulis oleh seorang Budha yang bernama Ajahn Brahm (Saya seorang Muslim), tapi pelajaran hidup di dalamnya benar-benar bias diterapkan oleh semua orang. Ini memang buku untuk umum. Saya benar-benar menekankan hal ini.

Kenapa saya suka buku ini?

Karena gaya bahasanya benar-benar ringan. Bukan seperti menggurui. Kadang bahkan diceritakan dengan jenaka oleh penulisnya. Iya, semuanya mengalir lancar seolah kita sedang melihat dan mendengar sendiri Ajahn Brahm sedang berbicara di depan kita, bercerita, dengan penuh senyum, dengan suara lembut (entah bagaimanapun suara aslinya), dan dengan perhatian penuh.

Dari sejak awal saja, Anda akan benar-benar dibuat terkesima dengan tulisannya tentang Dua Bata Jelek. Brahm, membangun sendiri dinding Wihara mereka. Pada suatu ketika, dengan usaha yang keras, dengan berbagai kisah yang menurut saya diceritakannya dengan brilian, akhirnya selesai. Dia membuat dengan sesempurna mungkin. Pelan, dan diperiksa detail. Setelah selesai, dia merasa bangga ketika melihat dinding itu. Sempurna! Tapi tunggu dulu, dia menatap pada satu bagian kecil di dinding itu, dan ya Ampun! Ada dua bata yang posisinya buruk! Bayangkan! Sudah dibuat sempurna tapi dua batu bata ada yang lewat!

Ajahn Brahm mengalami rasa (mungkin) kurang puas terhadap hal itu, mungkin malu. Jadi dia bahkan meminta kepada pemimpin Wihara untuk meruntuhkan dinding itu dan memulai membangun yang baru. Tentu saja ditolak. Akhirnya mau tidak mau, setiap ada tamu, dia akan menutupi tempat itu dengan berbagai cara. Menutupi dua bata buruk itu. Yang penting, tidak akan kelihatan. Semakin lama, merasa semakin khawatir, malu dan takut. Sehingga benar-benar menutupinya terus menerus.

Pada suatu ketika, secara mengejutkan, ada yang melihatnya. Ada tamu yang melihat dua bata itu! Bagaimanapun juga memang tinggal menunggu waktu. Dan si tamu itu memuji dinding itu. “Bagus sekali dinding ini.”

Ajahn Brahm terus berusaha membantahnya. Bagus dari mana? Apa dia butuh kacamata? Kan ada dua batu bata buruk itu. Di sana lho di sana.

Tapi tamu itu masih terus berkata, “Iya, saya tahu. Tapi lihat bagian lain. Bagian yang lebih besar. Bukankah bagus sekali. Kenapa harus terlalu memusingkan dua batu bata jelek itu?

Ajahn Brahm mendapat pencerahan, saya mendapat pencerahan, mungkin siapa pun yang membacanya juga mendapat pencerahan, bisa jadi Anda juga mendapat pencerahan. Seringkali, tidak hanya dalam dinding dalam cerita itu, tapi juga dalam hidup, kita terlalu fokus pada hal yang buruk, hal yang kurang, padahal sebenarnya banyak hal yang jauh lebih baik yang kita alami dan kita terima. Bukankah berarti perbandingannya jauh lebih besar?

Ah, lebih baik Anda membacanya sendiri di buku ini. Pasti akan terkesima dengan setiap ceritanya. Mungkin, memang sederhana, mungkin memang secara teori, semua orang sudah tahu. Tapi bagaimanapun juga, cara menyampaikannya tetap membuatnya berbeda.

Selamat membaca!

Ah, ingin bisa membuat buku semacam ini. Bukan persis, tentu juga berbeda, tapi yang bisa membuat orang menyukainya dan menemukan sesuatu yang baru. Memberi manfaat.


Awareness Publication
Taman Permata Buana
Jl. Pulau Bidadari II-17
Kembangan, Jakarta 11610
Telp: 085888503388
awarenesspublication@gmail.com

Tidak ada komentar: