Sabtu, 30 Juli 2011

Siapa Tahu Hanya Kabut? Kenapa Berhenti?


gambar diambil dari goligog.wordpress.com 

Jarak Pulau Catalina dengan California Selatan adalah 20 mil. Hal ini memberikan tantangan yang sulit bagi para perenang.

Juli 1952, namanya adalah Florence Chadwick. Dia akan beusaha menaklukkan jarak 20 mil itu dengan berenang. 


Pada awalnya, semua berjalan dengan lancar. Tetapi, pada jarak tertentu dia merasa sangat letih dan udaranya juga terus bertambah dingin. Hal ini diperparah dengan kabut tebal sehingga menghalangi pandangan untuk melihat daratan yang dituju. 

Florence belum menyerah. Dia ingin berenang lagi. Tetapi sekitar lima belas menit kemudian kelelahan sudah sangat dirasakannya, apalagi daratan juga belum kelihatan. Dia menyerah dan meminta untuk diangkat ke perahu yang mengikutinya. Setelah diangkat, begitu terkejutnya dia, ternyata jarak yang tersisa hanya tinggal kurang dari setengah mil. Florence berkata jika tidak ada kabut itu tentu dia akan melihat daratan yang semakin dekat, dan pasti dia tidak akan menyerah jika tahu sudah dekat.

Keinginannya belum terwujud, maka dia berlatih lagi. Dia harus mendapatkan apa yang diinginkannya. Gagal sekali bukan masalah. Kemarin adalah kemarin. Orang mungkin mencemooh kegagalannya, tetapi orang akan melupakan semua kegagalan di masa lalu jika dia berhasil dan sukses di masa depan. 

Florence mencoba berenang lagi dengan jarak yang sama dan tempat yang sama dua bulan kemudian. Kali ini awan tebal dank abut juga menghalangi pandangannya dalam melihat daratan. Tetapi, dia selalu berpikir bahwa dia selalu semakin dekat. Daratan tujuannya selalu berada di depannya, tidak pernah lari. Sedangkan Chadwick terus mendekat. Hanya masalah waktu sampai dia mencapainya. 

Chadwick tidak hanya berhasil berenang dalam jarak 20 mil tersebut, tetapi dia juga, memecahkan rekor dengan jarak yang sama, dua jam lebih awal!

(Sumber cerita: Kisah Nyata yang Ditulis Di Sebuah Buku) 
 *****

Ketika seseorang menginginkan sesuatu, akan ada kabut yang menutupi ‘pandangan’. Seringkali karena apa yang diinginkan tidak terlihat, jadi membuat orang itu ingin berhenti. Kenapa harus mengejar sesuatu yang tidak terlihat?

Pada kenyataannya, apakah Anda melihat Seoul, Korea Selatan, dari Jakarta? Tidak. Tapi Anda tahu Seoul itu ada. Sudah terbukti ada meskipun Anda tidak bisa melihatnya dari Jakarta. Begitu juga dengan apa yang Anda inginkan. Satu-satunya hal yang harus Anda lakukan agar terus bisa bergerak maju adalah percaya dan ‘bisa melihat’ bahwa yang Anda inginkan itu ada. Apa pun itu.

Chadwick mewakili semuanya. Ketika dia tidak bisa melihat karena terhadang kabut, dia merasa seolah-olah masih jauh, padahal tinggal kurang dari setengah mil. Bayangkan, dia sudah menempuh jarak kira-kira 19,5 mil! 95 persen dari jarak yang harus dia tempuh.

Pernahkah Anda mengalaminya? Anda menyerah, tapi pada kenyataannya sudah sedemikian dekat dengan tujuan. Pernah?

Lain kali, jangan dulu menyerah. Lihat dulu lebih dalam. Siapa tahu sebenarnya ‘jarak’ Anda sudah dekat dengan apa yang Anda inginkan. Siapa tahu, siapa tahu.


(Boleh copy paste, tapi kalau tidak keberatan, mohon dicantumkan juga sumbernya) 

Tidak ada komentar: