Sabtu, 16 Juli 2011

Spiritual Entrepreneurship

            Suatu hari di tahun 1923, delapan dari orang-orang terkaya di dunia berkumpul di sebuah hotel di kota Chicago. Kabarnya jika uang mereka dikumpulkan, jumlahnya melebihi jumlah uang semua orang di seluruh dunia ketika itu. Banyak sekali.
            Berikut yang terjadi kepada mereka dua puluh lima tahun kemudian:
  1. Charles Schwab, presiden direktur besi baja independent terbesar di dunia, meninggal dunia dalam keadaan bangkrut.
  2. Richard Whitny, presiden Bursa Saham New York, melakukan kehidupan sehari-harinya di balik jeruji penjara Sing Sing.
  3. Jesse Livermore, pialang saham “gaya pengecut” yang paling terkenal di Wall Street, ditemukan bunuh diri.
  4. Ivan Krueger, penguasa monopoli dagang terbesar di dunia, juga ditemukan mati bunuh diri.
  5. Howard Hopson, presiden direktur perusahaan gas terbesar di Amerika Utara, dimasukkan ke rumah sakit jiwa.
  6. Arthur Cutton, spekuan komoditi gandum terbesar, mati di luar negeri dalam keadaan tidak bisa membayar hutang.
  7. Leon Fraser, presiden Bank International Settlement, mati bunuh diri.
  8. Albert Fall, anggota Kabinet Presiden, diberi pengampunan ketka menjalani hukuman penjara sehingga diberi kesempatan untuk mati di rumah.

Kisah nyata tersebut bisa kita temukan dalam buku Bob Proctor yang berjudul “You Were Born Rich”.
Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa orang yang begitu kaya, bahkan termasuk yang paling kaya di seluruh dunia mengalami kisah hidup yang tragis?
Apakah cukup hanya sekedar mengejar sesuatu saja? Dengan berbagai cara? Jawabannya tidak. Tidak cukup.
Jika kita mengejar sesuatu dengan berbagai cara tanpa menghiraukan hal lain, kemungkinan besar kita akan terpuruk seperti mereka. Uang memang tidak bisa membeli segalanya, meski uang bisa membeli banyak hal.
Dan akan selalu banyak orang yang mengatakan bahwa uang bukanlah berarti kebahagiaan. Prestise, bisa jadi. Tapi belum tentu tentang kebahagiaan. Karena orang yang memiliki uang banyak, belum tentu mereka bahagia. Kita tentu sering bertemu dengan jutawan yang bermuka masam, sering marah-marah, mengumpat dan sombong bukan? Itu bukti nyata bahwa uang banyak belum tentu memberikan kebahagiaan.
Tidak, tidak. Bab ini bukan untuk mempengaruhi bahwa kita tidak perlu menjadi kaya. Kita wajib kaya. Dengan kekayaan, kita bisa melakukan banyak hal. Membeli barang yang kita suka, melakukan hobi, dan yang lebih penting lagi membantu orang lain bahkan dalam skala kecil seperti keluarga.
Kita wajib kaya, tetapi ada spiritualnya yang bisa membuat kita terhindar dari kisah tragis ke delapan orang tersebut. Atau setidaknya, meskipun kita orang kaya, kita harus terhindar dari tragedi perebutan warisan, persaingan tidak sehat, menggunakan ilmu hitam, atau bahkan tingkat frustasi tinggi yang sering membuat kepribadian kita sama sekali tidak menyenangkan dengan marah-marah tidak jelas kepada semua orang dan bermuka masam.
Entrepreneurship pun ada spiritualnya. Meskipun segala sesuatu memang ada spiritualnya. Ada moral yang harus kita jalankan. Inilah yang akan membedakan kita dengan penjahat. Karena kita memiliki moral dan etika. Dan yang lebih penting lagi memiliki agama.
Tentu saja ini bukanlah buku agama. Tetapi memang spiritual entrepreneurship ini sebenarnya pasti diajarkan oleh agama manapun.
Dan karena buku ini adalah tentang entrepreneurship, maka yang akan dibicarakan juga tentu saja adalah berhubungan dengan entrepreneurship. Jika hal ini benar-benar kita lakukan, semoga kita tidak akan mengalami kejadian seperti delapan orang di atas. Dan lebih penting lagi, kita menjadi pribadi yang tidak menghambakan uang saja, tetapi juga memperhatikan hal lain dan menjadi orang yang melalui segala hal dengan hati yang besar.
            Dan inilah spiritual entrepreneurship itu …        

Bersyukur
            “Saya menangis ketika saya tidak mempunyai sepatu dan berhenti menangis ketika melihat seseorang yang tidak mempunyai kaki.” (Pepatah Persia)

            Untung sedikit lebih baik daripada tidak mendapatkan untung apapun. Memiliki sedikit lebih baik daripada tidak memiliki apa-apa sama sekali. Penghasilan kecil lebih baik daripada tidak berpenghasilan. Rugi sesaat lebih baik daripada bangkrut.
            Mengembangkan rasa syukur sangat penting. Rasa syukur bisa memberikan kita ketenangan ketika masalah terjadi. Sehingga tidak membuat keputusan yang tergesa-gesa dan amburadul.
            Bersyukur, menjauhkan kita dari rasa frustasi, keluh kesah, amarah, dan kesedihan yang berlebihan. Memberikan nilai positif dari batin, cara pandang dan cara berpikir. Ketika batin, cara pandang dan cara berpikir kita positif, maka cakrawala kita akan luas, “wadah” kita semakin besar.
            Perbedaan sebuah danau tawar dan air dalam gelas adalah volume air atau “wadah’. Ketika keduanya sama-sama diberi garam segenggam tangan, maka air dalam gelas akan menjadi asin minta ampun, sedangkan air dalam danau tidak akan berpengaruh apa-apa.
            Jika hati kita seperti volume air dalam danau tersebut, maka masalah yang terjadi tak akan mempengaruhi jiwa kita. Tentu saja kita akan meluangkan waktu dan otak untuk menyelesaikannya, atau membuatnya lebih baik. Tetapi hati kita tetap tenang dan tidak menjadi frustasi karena masalah itu.
            Jika dalam menjalankan kehidupan entrepreneur kita mengalami masalah; entah itu rugi, bangkrut, kena tipu, karyawan pergi, banyak hutang dan lain-lain. Kita sebaiknya tetap bersyukur karena kita masih diberi kesehatan, keluarga dan otak serta tenaga untuk melakukan sesuatu hingga bisa mengembalikan usaha kita.
            Seandainya saja laboratorium Thomas Alfa Edison tidak terbakar, mungkin dia tidak akan menemukan lampu yang menerangi kita saat ini. Kenapa? Karena ketika laboratoriumnya terbakar, dia tahu bahwa dia harus mencoba sesuatu yang baru. Dan kesalahan-kesalahan yang terjadi ketika mencoba menciptakan sesuatu sudah menjadi abu. Sehingga daripada dia harus membuka catatan yang salah, sekarang dia diberi kesempatan untuk mempunyai catatan baru.
            Ketika sesuatu sudah hilang, ya sudah biarkan saja hilang. Untung sedikit, ya sudah tidak apa-apa, kita akan bisa untung lebih banyak lagi selama kita masih berpikir ke depan. Karena kita hidup bukan dimasa lalu. Kita hidup di hari ini, di saat ini. Dan untuk merencanakan sesuatu di masa depan agar kita mendapatan sesuatu yang lebih baik.
            Bagaimana cara kita bisa bersyukur?
            Ini mengenai jalan pikir dan hati. Setiap masing-masing manusia lahir juga memiliki sifat bersyukur, semuanya. Karena itulah ketika kita berbincang sering berkata “untung saja tidak ada mobil di belakang ketika orang itu jatuh mengendarai motor” atau “untung saja hari tidak hujan.” Untung saja adalah kata yang secara tidak sadar kita mengucapkan syukur.
            Sebagian orang selalu memikirkan setiap kejadian buruk yang menimpanya, sehingga dia frustasi. Semoga kita tidak termasuk ke dalam golongan orang itu. Tetapi jika kita termasuk ke dalam golongan itu, kita harus mengubah cara berpikir kita. Memulai berpikir bahwa segala kejadian memang harus terjadi. Bahwa takdir tidak bisa diubah, tetapi nasib kita bisa dirubah atas usaha kita sendiri.
            Dan bila sesuatu yang buruk terjadi pada bisnis kita hari ini, atau keuntungan yang kita dapatkan masih kecil, jangan khawatir … karena semuanya akan baik-baik saja.      

            “Bersyukurlah bahwa kita belum memiliki semua yang kita inginkan.
            Jika sudah, apalagi yang mau kita cari?
            Bersyukurlah ketika kita tidak mengetahui sesuatu,
            Karena itu memberi kita kesempatan untuk belajar.
            Bersyukurlah ketika masa-masa sulit,
            Karena masa-masa itulah yang membuat kita tumbuh kuat.
            Bersyukurlah atas keterbatasan kita,
            Karena hal itu memberi kesempatan bagi kita untuk terus berkembang.

            Bersyukurlah pada setiap tantangan baru,
            Karena itu akan membangun kekuatan dan karakter kita
            Bersyukurlah atas setiap kesalahan yang kita buat,
            Karena itu memberi pelajaran yang berharga.
            Bersyukurlah ketika kita lelah dan membutuhkan istirahat,
            Karena itu berarti bahwa kita sudah membuat perbedaan.

            Sangat mudah bersyukur atas semua hal yang baik.
            Hidup yang penuh kekayaan akan datang pada mereka yang juga bersyukur atas kemunduran yang terjadi.
            Rasa syukur bisa mengubah sesuatu yang negatif menjadi sesuatu yang positif.
            Temukan cara untuk mensyukuri semua kesulitan kita,
            Dan semuanya itu akan menjadi berkah bagi kita.”
            (Unknown)


Bersabar
“Terimalah masalah sebagai bagian yang tidak terpisahkan di dalam hidup ini, dan ketika ia datang, tegakkanlah kepala anda, lihatlah dengan tajam mata anda dan katakanlah, ‘Aku akan lebih besar darimu. Kamu tidak dapat mengalahkanku.” (Ann Sanders)
            Setiap manusia di dunia ini pernah megalami hal-hal paling buruk dalam hidupnya. Entah itu Bill Gates, Warren Buffet, atau manusia paling kaya lainnya. Kunciya adalah mereka bertahan, bersabar dan tidak menyerah.
            Yang membuat Indonesia bisa merdeka adalah kesabaran para pahlawan yang meski berjuang ratusan tahun, mereka tetap berjuang meski pada masa itu mereka kalah dalam peralatan. Seperti kata Ralph Waldo Emerson, “Seorang pahlawan tidaklah lebih berani daripada orang lain; ia hanya lebih berani lima menit lebih lama.”
            Ya, seringkali yang terjadi adalah orang-orang yang mampu bersabar terhadap kegagalan atau masalah yang mereka hadapi membuat mereka menjadi orang sukses. Thomas Alfa Edison mengalami kegagalan yang berulang dalam percobaannya membuat lampu, dan dia bersabar. J.K. Rowling ditolak naskahnya oleh beberapa penerbit ketika menawarkan novel Harry Potter pertama kali, dan dia bersabar. Kolonel Sanders menawarkan resep ayam goreng rahasianya di berbagai restoran lalu mengalami penolakan, dia tetap bersabar. Sampai pada akhirnya mereka menemukan apa yang mereka cari.
            Bayangkan jika mereka menyerah pada saat itu. Barangkali dunia kita bisa jadi tidak seterang ini ketika malam hari. Barangkali kita tidak bisa membaca novel Harry Potter yang fenomenal itu. Barangkali kita tidak bisa menikmati renyahnya Kentucky Fried Chicken.
            Sesuatu kadang terjadi. Bagi sebagian orang, sesuatu itu bisa jadi akhir dari semuanya. Namun bagi sebagian lain, sesuatu itu bisa jadi hanya sebuah kayu yang merintangi jalan. Yang harus dilakukan hanyalah memindahkan batu itu ke pinggir jalan, lalu melanjutkan perjalanan.
            Kita harus dan memang akan menjadi sebagian orang yang menganggap masalah sebagai kayu di tengah jalan.
            Yang harus dipahami adalah bahwa Allah selalu mengirimkan sebuah masalah satu paket dengan penyelesaiannya. Itulah mengapa Allah selalu memberi cobaan yang sesuai dengan kemampuan masing-masing. Kadang kita belum menemukan paket penyelesaian masalah, tetapi jika kita mencari, pasti menemukan.
            Maka, ketika sesuatu terjadi, kita akan mengusahakan sesuatu. Melakukan yang terbaik yang bisa kita lakukan dan bersabar. Selebihnya, kita serahkan pada Allah.
            Maka sesungguhnya, bersama kesulitan itu ada kemudahan.” (Q.S. Al Insyiraah: 5)

Berbagi
            “Kebahagiaan bergantung pada apa yang engkau berikan, bukan pada apa yang engkau dapatkan.” (Mahatma Gandhi)
           
Kita akan berbicara tentang sebuah keajaiban. Bukan tentang menara pisa atau Tembok Besar Cina. Kita berbicara tentang keajaiban memberi.
Perhatikan ini, benar-benar perhatikan. Amati sekeliling kita, lalu fokuskan pada orang yang senang memberi. Ajaib! Orang tersebut tidak pernah merasa kekurangan! Ada saja rezeki yang datang menghampirinya.
Percaya atau tidak itu benar terjadi.
Bill Gate dan Bono menerima penghargaan dari majalah TIME pada tahun 2005 sebagai “Person Of The Year.” Pada tahun itu temanya adalah “Melakukan sesuatu yang baik”. Pasangan suami istri Gates menerima penghargaan karena yayasan mereka yang berhasil membantu kehidupan lebih dari 700.000 jiwa di berbagai negara berkembang.
Sedangkan Bono berjuang untuk memerangi kemiskinan di seluruh dunia dengan menyerukan kepada para pemimpin Negara-negara kaya untuk menghapus hutan dan berhasil mengurangi US$40 miliar hutang Negara-negara miskin.
Dan apakah Bill Gates maupun Bono mengalami yang kekurangan?
Memberi dan menerima adalah sebuah hukum pasti. Hanya saja banyak orang yang belum memahaminya. Bagi karyawan, dia harus memberikan pekerjaan untuk mendapatkan gaji. Ketika membeli, kita harus memberi uang untuk mendapatan barang yang diinginkan. Untuk mendapatkan cinta, kita juga harus memberi cinta. Kehidupan sehari-hari selalu mengajarkan itu.
Kadang dalam memberi, kita seperti tidak mendapatkan apapun pada saat itu. Seperti berbagi kepada panti asuhan atau orang miskin. Tetapi sesungguhnya kita selalu mendapatkan sesuatu. Barangkali anak yang kita bantu menjadi penemu obat yang kita derita suatu hari nanti. Seperti yang terjadi pada Sir Winston Churchill.
Seorang petani miskin di Scotlandia menolong anak kecil yang terperosok di Lumpur yang dalam. Esoknya ayah si anak kecil menawarkan berbagai macam kepada Fleming, nama petani itu. Namun Fleming menolaknya. Lalu si orang kaya menawarkan untuk menyekolahkan anak Fleming dengan sekolah yang sama seperti putranya. Anak petani itu juga dimasukkan di Universitas terbaik pada saat itu. Anak itu, yang bernama Sir Alexander Fleming, akhirnya menemukan penicillin. Bertahun-tahun kemudian, anak si orang kaya terserang pneumonia dan tahukah obat apa yang menyelamatkannya? Penicilin. Anak yang diselamatkan Penicilin itu adalah Sir Winston Churchill.
Ketika memberi, kita selalu mendapatkan sesuatu. Selalu. Bahkan lebih dari yang kita beri. Seringkali yang kita terima adalah berlipat-lipat. Kadang bukan oleh orang yang kita beri, tetapi rezeki terus menerus datang seusai kita memberi. Percaya atau tidak, itu benar terjadi. Sudah demikian ketetapan Allah.
Dan mulai saat ini, kita akan lebih sering berbagi.
“Kemakmuran bermacam-macam dalam bentuk dan kedermawanannya. Yang dermawan akan makmur, yang egois/pelit tak akan menjadi kaya. Memberi harus didahulukan, barulah menerima datang dengan sendirinya. Kelihatannya aneh, tetapi ini benar.” (Stephen W.K. Tan)

Tidak cukup satu bab untuk membahas tentang Spiritual Entrepreneurship. Karena itu barangkali akan ada buku khusus yang membahas tentang hal ini dalam waktu dekat. Entah kenapa, ketika menulis bab ini, benar-benar ingin menjadikannya buku sendiri. Sepertinya akan sangat bermanfaat. Semoga dalam waktu dekat akan menyusul buku itu.
Semoga …

Tidak ada komentar: