Rabu, 04 April 2012

Beruntungnya Saya


Pada suatu ketika saya pernah merasa lelah karena berjalan terlalu lama. Kaki rasanya pegal-pegal dan juga mungkin merasa sakit. Bayangkan saja, berjam-jam berjalan atau berdiri di kereta. 

Lalu saya melihat seseorang berjalan menggunakan tongkat karena salah satu kakinya tidak ada. Saya sampai diam saja tidak berkata apa-apa dan menyesal sudah mengeluh. Beruntungnya saya. Tubuh saya sempurna.


Kadang, saya merasa pekerjaan yang saya lakukan terlalu memberatkan. Dengan mungkin gaji tidak sebanding dan waktunya yang selalu dari pagi sampai sore. Padahal bekerja juga membutuhkan pikiran, waktu dan fisik. Begitu pulang rasanya sangat melelahkan. Kenapa semuanya semelelahkan ini?

Sampai pada suatu ketika, saya memperhatikan benar apa yang ada di perjalanan ketika menuju kantor. Saya melihat banyak hal. Saya melihat seseorang yang lumpuh membawa mangkuk di pinggir jalan di lampu merah, saya melihat seseorang dengan bersepeda membawa kursi-kursi yang sangat besar untuk dijual, saya melihat seseorang memukul batu dengan palu untuk dijadikan kerikil. Ah, beruntungnya saya. Punya pekerjaan yang tidak berat dan berada di ruangan yang tidak panas.

Lain waktu, saya merasa kamar saya terlalu sempit. Ada banyak barang yang harus saya masukkan. Dan karena sempit, mau tidak mau sirkulasi udara juga kurang bagus sehingga kalau siang hari terasa sangat panas. Benar-benar panas sekali.

Sampai pada suatu malam, saya melihat seorang perempuan bersama anaknya yang masih gadis di sebuah lahan kosong, tidur dengan atap kardus dan alas kardus. Mereka adalah yang pernah saya lihat di pinggir jalan menjadi peminta-minta. Tiba-tiba saja, ruangan saya terasa sangat luas begitu saya memasukinya. Beruntungnya saya.

Saya pernah menginginkan mobil yang nyaman. Sepeda motor terlalu panas jika harus berkendara pada siang hari. Sudah begitu, udara kotor sering menimpa muka dan hidung saya. Rasanya menyebalkan. 

Suatu ketika dalam perjalanan, saya melihat seseorang berjalan, dia buta. Suara gemerincing tongkatnya sangat kas. Sekitar sejam atau dua jam lalu saya melihat dia di lain tempat, juga berjalan. Dan sekarang, ketika saya pulang, dia masih berjalan. Tiba-tiba kendaran yang saya kendarai terasa nyaman sekali. Enak sekali dikendarai. Beruntungnya saya.

Pernah pada suatu ketika, saya tidak berselera makan karena lauk pauk yang disediakan sepertinya kurang enak. Saya ingin makan enak supaya makan saya juga banyak. 

Lalu saya melihat berita di televisi, ada orang yang makan nasi aking. Badan mereka sangat kurus. Anak-anak mereka juga. Bahkan perutnya membuncit. Saya ingin menangis. Sejak itu, saya makan apa yang ada di meja makan. Menikmatinya. Dan Anda tahu, ternyata memang semuanya nikmat. Beruntungnya saya.

Sejak itu, saya mengalami banyak hal. Entah kenapa, setiap saya merasa kurang, saya ditunjukkan bahwa di luar sana, ada yang jauh lebih kurang. Sekarang, saya merasa lebih. Ah, beruntungnya saya.
Apakah kalian juga seberuntung saya?


1 komentar:

Annisa Solikha mengatakan...

jadi malu sama diri sendiri yg kurang bersyukur -_-