Selasa, 02 Agustus 2011

Fey

gambar diambil dari www.wallpapers-free.org
Mari kita berbicara, Fey. Selagi kamu masih di sini dan aku masih memiliki nyali di hari ini. Selagi lagu Catch the Windblows-nya Endah dan Rhesa mengalun sebagai layar waktu kita ini. Biasanya kita akan meresapinya dan bersenandung berdua, tapi kali ini tidak. Kamu diam saja, biarkan kali ini aku yang berbicara, sekali lagi, selagi aku masih memiliki nyali.

Kamu tahu, Fey? Bersamamu, aku suka perasaan ini. Yang menggetarkan, yang penuh rasa rindu, yang benar-benar aku ingin berada seperti ini sepanjang waktu.

Dengarkan aku, Fey. Aku mencintaimu. Barangkali seperti bumi yang mencintai matahari sehingga rela mengelilinginya sampai jutaan kali hingga hari ini. Dan seperti itu pula aku. Rela mengunjungi tempat ini hampir setiap hari hanya untuk merampok waktu, dan menghabiskannya bersamamu. Ah, tapi apa kamu pernah tahu alasanku itu, Fey? Kalau begitu, sekarang kamu sudah tahu.


Kamu tahu, Fey? Aku mencintaimu sudah sejak dulu. Entah sampai kapan kamu akan bisa tahu tentang itu. Aku sendiri sampai sekarang tidak bisa memastikan apa kamu tahu atau tidak. Tapi, Fey, harusnya kamu tahu ketika aku selalu memperhatikan detail tentangmu. Apa yang kamu kenakan, kebiasaanmu, yang kamu lakukan, kata dan kalimatmu. Semuanya, Fey, semuanya. Ah, pasti kamu tahu kan Fey? Pasti tahu. Karena aku sejelas itu mencintaimu.

Lalu ketika kamu bercerita tentang kamu berada di tempat gelap itu selama ini, demi Tuhan, aku ingin mengeluarkanmu dari sana. Cahayamu terlalu terang untuk berada di sana. Meski mungkin aku hanya akan bersenjata lentera dan pendaran cahayanya, semoga cukup.

Aku akan membawamu, mengajakmu, menggandeng tanganmu ke tempat yang jauh lebih hangat dengan cukup terang cahaya. Tidak menyilaukan atau menyakiti matamu ketika sampai di sana. Daripada di tempat yang gelap itu, meski kamu merasa senang di sana, tapi aku takut di sana kamu akan mengalami sakit, lagi dan lagi. Aku menginginkan kamu selalu tertawa, Fey. Cintaku sesederhana itu. Kumohon, jangan lagi ada rapuhmu luruh hanya gara-gara kegelapan itu. Kemari, genggam tanganku kapan pun kamu tergoda kegelapan itu.

Fey, aku ingin menjadi telinga, dan seseorang yang selalu tenang, mengatakan padamu bahwa semua akan baik-baik saja. Memberimu kehangatan mata sedalam aku bisa. Memberimu senyum tulus, semanis aku bisa. Memberimu perasaan nyaman sedamai aku bisa.

Sebentar, dengarkan dulu. Biar aku yang berbicara, Fey. Kamu diam saja dulu. Kali ini saja. Nyaliku sedang tinggi. Ya?

Di lain waktu, kamu ingat, kamu bercerita lagi tentang berbagai hal. Apa pun itu, selalu menyenangkan mendengarmu bercerita. Aku rela menjadi telinga dan mata itu sepanjang waktu. Mendengar suaramu dan melihat rona pipimu yang malu-malu. Kemari, ceritakan lagi tentangmu. Kemari, bagi lagi semua kekonyolanmu. Kemari, temani aku di separuh rotasi bumi lagi hampir setiap hari. Biar kupilin semuanya satu per satu. Biar aku menikmati kerianganmu satu demi satu. Biar imajinasiku bermain di sana, seolah sambil kamu bercerita, aku menggenggam tanganmu.

Fey, aku suka semua pikiranmu. Yang menganggap cinta itu seperti udara. Bisa datang dan pergi kapan saja. “Bukankah yang membutuhkan tabung oksigen untuk membantunya bernafas malah berarti dia sedang tidak baik-baik saja?” katamu. Lucu. Tapi benar.

Kamu juga menganggap cinta itu seperti air. Tidak bisa digenggam. Bahkan kamu menyuruh orang untuk pergi ke bak mandi dan menggenggam air biar percaya. Supaya kamu bisa berkata, “Benar bukan? Tidak bisa digenggam. Mungkin akan memberi kesan basah saja. Setelah itu, jika ada angin atau matahari, pasti hilang kesan basahnya.”

Kamu, yang selalu bercerita bahwa kamu suka menikmati langit malam ketika sedang cerah-cerahnya. Atau melihat burung-burung yang beterbangan dan hinggap di mana saja. Yang suka duduk berlama-lama di teras. Bahkan, kamu, yang secantik itu, Fey, suka duduk berlama-lama di kloset. Di sana kamu bisa bercerita panjang lebar, katamu. Tentang lelakimu, tentang rahasia, tentang orang, tentang kehidupan. Kamu bilang, mau bercerita sepanjang dan selebar apa pun, kloset itu setia. Mampu menjaga rahasia. Aneh, tapi lucu. Ah, kamu ini, Fey. Selalu bisa membuatku tersenyum.

Kamu, yang pernah meminta pasangan kepada Tuhan dengan sedemikian detailnya. Dari sifat, perawakan, sampai cara dia tertawa. Apa di dalamnya juga ada aku, Fey? Maaf, bercanda.

Sebentar, Fey. Diam dulu. Tolong. Biar aku selesaikan dulu apa isi hatiku padamu. Kumohon? Bisa jadi ini satu-satunya kesempatanku. Ya?

Aku menginginkan gadis sepertimu, Fey, yang selalu ingin menghadirkan bintang-bintang di kedua mata lelakimu, membuatnya bercahaya lagi karena perasaan dibutuhkan dan didamba seorang perempuan. Yang tak pernah ingin kehilangan senyum lelakimu, dan menawarkan kehangatan sebuah pelukan. Yang selalu memberi perhatian lewat sapaan dan perhatian. Meski itu sekadar pertanyaan, “Sudah makan?”

Kamu, Fey, yang tak pernah mau menjadi perempuan kedua. Dan demi Tuhan, aku selalu mendoakanmu untuk tidak pernah menjadi perempuan kedua atau yang pertama pada lelaki mana pun. Aku mendoakanmu menjadi satu-satunya perempuan bagi laki-laki itu seumur hidupnya. Tidak berlebihan kan, Fey, doaku?

Kamu, yang menyukai lelakimu yang gentleman, yang membukakan pintu pada perempuan, entah muda entah tua, yang memberikan tempat duduk di kereta atau bus kepada perempuan atau yang jauh lebih tua. Aku juga seperti itu.Tapi apa aku pernah masuk dalam pikiranmu? Sebentar saja? Tidak? Ya sudah, tidak mengapa, lupakan saja. Aku hanya bercanda.

Kamu juga menyukai lelaki yang setia, Fey, pada suatu hari kamu bilang. Yang betah berlama-lama denganmu. Ah, Fey, kenapa kamu mengatakan itu. Lelaki mana pun pasti mau melakukannya untukmu. Apalagi aku. Aku akan ikut jatuh bersamamu. Tapi tidak hanya itu, aku akan membantumu berdiri kembali. Ayo, melangkah lagi. Lihat, ada cahaya di sana. Pasti hangat. Pasti menyenangkan. Setelah itu aku akan seperti anak kecil yang hatinya berbunga-bunga melihat kamu tertawa.

Ini bukan lucu, Fey. Jangan tertawa. Aku serius mengatakannya. Dengar dulu. Biar aku lanjutkan, ya, Fey? Boleh?

Kamu tahu, aku ingin menjadi lelaki seperti dalam ceritamu itu, Fey, yang bisa membuatmu mengunyah roti berisi selai strawberry lebih pelan dari biasanya sebagai alasan kamu bisa lebih lama berdua. Bercerita tentang apa saja. Keseharianmu, keseharian lelaki itu, atau merancang masa depan berdua.

Aku ingin menjadi lelaki seperti dalam ceritamu itu, Fey, dimana kamu ingin menikmati cerahnya senja bersamanya, sambil meminum teh di udara terbuka. Kemudian kalian tertawa sambil melihat langit dan bongkahan awan yang kadang bentuknya lucu.

Aku tetap ingin menjadi lelaki seperti dalam ceritamu itu, Fey, yang kadang dengan sengaja, kamu bersembunyi agar dia mencarimu. Atau kamu akan berpura-pura tidak mampu melakukan sesuatu padahal kamu sangat mampu, hanya agar dia membantumu. Atau menjadikannya sebagai tempat kamu berbagi senyum hanya untuk memberi tahu bahwa kamu tidak pernah berada di mana-mana. Kamu tetap selalu di sana, bersamanya. Ah, Fey. Aku ingin di sana.

Aku masih ingin menjadi lelaki seperti dalam ceritamu itu, Fey, yang kamu tidak peduli pergi bersamanya ke arah mana, entah pakai ransel atau koper, entah menginap di hotel bintang lima atau losmen biasa. Yang penting, kamu bersama dia. Iya, bersama lelaki itu. Ah, beruntungnya dia.

Aku ingin menjadi lelaki itu, yang kamu ingin mengatakan kepadanya, “Aku ada karena kamu ada. Hanya itu.” Menyenangkan sekali sepertinya.

Aku ingin menjadi lelaki itu, yang kamu bilang kepadanya, “Jangan ke mana-mana, tetap di sini. Di sini. Kamu punya cerita, aku punya telinga.” Yang kamu menggombal kepadanya, “Sini, letakkan telingamu di nadiku. Bahkan denyutnya pun menyebut namamu.” Ah, Fey.

Bagusnya, kamu tidak pernah melambaikan tangan atau berusaha menarik perhatian lelakimu hanya untuk membuat lelakimu sadar, bahwa dia kamu tunggu. Atau itu buruknya? Sehingga lelakimu itu tidak bisa menyadarinya? Bagaimana lelaki itu tahu, Fey? Ah, tapi semoga lelaki itu tahu. Siapa pun dia.

Bagusnya lagi juga, kamu, tidak pernah memanjat jendela lelakimu, tidak berlari menyongsong ketika melihat dia berjalan di sekitarmu. Itu kiasan, Fey. Kamu yang sepintar itu pasti tahu itu.

Sebentar. Iya, aku memang berpanjang lebar. Dengarkan sebentar, Fey. Sebentar lagi. Mumpung aku masih punya nyali.

Apa kamu tahu, seberapa mudahnya aku mencoba untuk selalu meletakkan sosokmu di sudut-sudut mataku, Fey? Mudah? Iya, mudah. Karena aku bisa melakukan itu di mana saja, kapan saja. Seperti otomatis, Fey. Seperti kamu mengikutiku ke mana saja. Kamu pernah mengalaminya, Fey? Aku sedang mengalaminya.

Apa yang kamu suka, Fey? Aku akan menyukai semuanya? Langit? Bahkan ketika cerah membiru, mendung ataupun hitam malam? Iya, aku juga menyukainya. Atau laut? Untuk menghayati keluasannya, kehidupan di dalamnya, sampai suara ombaknya yang merdu? Iya, aku juga akan menyukainya. Hujan? Ah, tanpa kamu menyukainya, aku juga akan menyukainya, Fey. Sama. Apa lagi? Apa lagi, Fey?

Sebentar, aku hanya tahu kamu suka film menegangkan. Benar? Teka-teki. Benar juga? Karena aku sering kamu kalahkan. Komik Kariage Kun juga, kamu pernah bercerita suka. Benar? Apalagi? Beri pertanyaan kepadaku tentangmu, Fey. Apa saja. Aku yakin bisa menjawabnya.

Kamu tahu, diam-diam, aku mencuri beberapa sajakmu dan memasangnya di sajakku. Bukan bermaksud mencuri, Fey. Hanya untuk kamu tahu, bahwa sajak-sajak itu ditujukan kepadamu. Kamu pernah membacanya? Sepertinya tidak. Karena kamu tidak pernah berbicara apa pun mengenai sajakku. Apa pun. Tidak mengapa. Lupakan saja.

Fey, kapan pun mata kita setatap, tahukah kamu seberapa besar aku ingin melompat dan mendekapmu erat?

Fey, aku mencintaimu. Maukah kamu menjadi kekasihku? Istriku?

*****

Aku masih menatapmu dengan mata yang kamu atau siapa pun bahkan tak akan bisa menggambarkan kehangatan yang luar biasa di dalamnya. Tetap tidak bisa berkata apa-apa. Dan semua pembicaraanku itu bayanganku saja. Angan-angan. Aku tidak pernah bisa sepatah katapun dari semuanya, kuucapkan. Bisu, Fey. Bisu seperti biasa.

Lalu seseorang datang. Tampan. Sepertinya juga baik.

Aku melihatmu, seperti berkata, "Dia lelakimu?"

Kamu mengangguk meski tak mendengar suara.

Bisa kamu berhenti bersamanya, dan bersamaku saja? Ah, bercanda, Fey. Jangan menganggapnya serius.

Sampai sekarang, aku tak tahu apa arti senyum kecil dan tatapan asingmu ketika berdiri dari bangku, dan mengucapkan selamat tinggal padaku. Baiklah, Fey. Iya, aku tahu. Mungkin. Aku membacanya sebagai benar-benar selamat tinggal. Kamu tidak akan mengajakku berbincang lagi bukan? Ah, Fey. Aku akan benar-benar merindukan setiap momen ini dalam hidupku. Sampai ketika aku nanti menemukan perempuanku.

Kelak, kita akan punya segalanya, Fey, kecuali waktu. Karena bertemu adalah sesuatu yang mustahil di masa depan nanti. Aku tahu itu.

Sekali lagi, mencintai diam-diam itu melelahkan. Sangat melelahkan, Fey. Tapi, kadang, tidak ada yang bisa dilakukan selain itu. Satu-satunya cara, seperti yang bisa aku katakan, aku masih akan memastikan kamu baik-baik saja. Semampuku, sejangkauanku.

Sudah ya, Fey. Aku juga pergi dulu.


(Boleh copy paste, tapi kalau tidak keberatan, mohon dicantumkan juga sumbernya)

3 komentar:

fauziyah mengatakan...

ya ampun, g yangka klo endingnya bakal kyk gni, *nangis guling2

namarappuccino mengatakan...

Hehehe memang seperti itu dek. :)

Ririe Khayan mengatakan...

# kalau cinta seperti air dan udara, ya sudah jangan di gengaam ....biarkan dia tetap mengalir seprti adanya..

# Kalau setia itu seperti bumi mengelilingi matahari, maka fey akan bilang carilah mataharimu yang bisa menerima kesetiaanmu...#Fey jadi-jadian

# Semoga kamu juga menjadi lelaki satu-satunya bagi mataharimu #doa Fey