Jumat, 30 September 2011

Bisa Minta Hal Itu Saja?


gambar diambil dari www.kabine18.de
Hei kamu! Iya, kamu. Yang selalu berdiri atau duduk di situ, di depanku, membawa berbagai ceritamu. Bahwa kamu tersesat di sana, di sebuah jalan gelap dengan begitu banyak kesenangan di mana-mana. Kamu tergoda. Mencebur di sana dengan penuh tawa.

Lalu aku datang―katamu, tidak membawa apa-apa, hanya lentera. Tidak membawa mobil dengan lambang kuda jingkrak atau mobil-mobil mewah lainnya. Sederhana. Aku hanya menemanimu bercerita―masih katamu. Tapi hal itu bisa menarikmu dari jalan gelapmu.

“Aku punya cerita dan kamu selalu menyediakan telinga,” katamu. “Entah kenapa, itu yang membuatku suka di depanmu berlama-lama. Membawa banyak sekali cerita. Lalu aku akan bercerita tentang apa saja. Tentang aku, tentang jalan gelapku, tentang teman-temanku. Semuanya. Dan kamu mendengarkan tidak hanya dengan telinga, tapi juga matamu, sikap dudukmu, bahkan mulutmu yang hanya akan berbicara setelah aku berhenti bercerita. Apa kamu tahu betapa menyenangkan itu?”


Iya, aku tahu. Tapi apa kamu juga tahu aku merasakan kesenangan itu jauh berlipat daripada kamu? Dan sebenarnya, ini pertama kalinya aku jenak berlama-lama mendengarkan seseorang cerita. Apa itu kamu juga tahu? Tidak? Ya sudah, lupakan saja.

Yang menjadi masalah kemudian adalah, aku jatuh cinta. Sebuah hal yang seharusnya tidak boleh karena kita berbeda, setidaknya menurutku kita berbeda. Kamu, yang punya semuanya; kecantikan, kepintaran, sifat lucu dan manjamu, kekayaan; ah, sudahkah aku bilang kamu memiliki semuanya? Dan aku, lelaki biasa yang mengagumi tidak hanya dari mata, tapi dari hati, waktu dan pikiranku juga. Apa ini seimbang?

Aku pernah bercerita tentang hal itu. Tentu saja aku tidak menyebut namamu. Aku hanya berkata sedang jatuh cinta dengan seseorang, tapi kami berbeda liga. Terlalu jauh. Dan kamu hanya mengatakan, “Ah, terlalu banyak berpikir.” Hal itu selalu membuatku bertanya apa iya aku terlalu banyak berpikir? Apa iya sebenarnya hanya ketakutanku saja?

Dan ketika kamu bercerita tentang belum punya cinta, aku selalu berkata, “Ah, untuk orang seperti kamu, pasti mudah sekali mendatangkan cinta.”

Kamu selalu diam, dan aku pun terkejut ikut diam. Seharusnya aku tidak mengatakan itu, lagi, lagi, dan lagi. Karena aku tahu apa yang akan kamu tanyakan sekarang.

“Seperti aku? Define?” Nah, tu kan. Kamu pasti akan meminta penjabaran. Dan di sini kita lagi, seperti de javu. Aku menceritakan pendapatku tentangmu. Bahwa kamu cantik sekali, lucu, pintar, bisa membuat orang di sekitarmu nyaman, bla, bla, bla. Lalu kamu hanya memandangku dengan senyum tak biasa. Dan mata itu, ah, seperti ada sesuatu yang tersimpan di sana dan aku tidak bisa melihatnya.  
Sial. Boleh aku melihat apa yang tersimpan di sana?

Sudah berapa kali kita seperti itu? Mengulang dialog yang sama, tatapan sama, kediaman sama, degub jantung kencangku yang sama? Tapi tak pernah terjadi apa-apa setelah itu. Tidak ada kata cinta keluar dari mulutku.

Tetapi, kamu pasti tahu aku mencintaimu kan? Pasti tahu dari caraku menyediakan waktuku, dari caraku menjabarkan tentangmu. Masalahnya adalah, aku tak pernah bisa mengatakan itu, sampai sekarang. Sudah setahun aku mendengar ceritamu. Terus. Dan sudah setahun aku menyimpan rapat cintaku, meski kita dan beberapa teman kita sama-sama tahu bahwa aku … mencintaimu.

Sampai pada suatu ketika, di sinilah kita, di bandara. Kamu hanya memintaku mengantar di sana tapi tetap tidak mau mengatakan kamu mau ke mana. Nanti saja setelah di bandara, katamu.

Di sana kamu hanya memintaku duduk di sebuah kafe kecil di pojok bandara. Sengaja memilih tempat ini karena sepi, katamu, jadi bisa berbicara berdua.

Aku bingung. Berbicara apa? Ada apa?

“Aku mau pergi,” itu katamu.

Iya, tentu saja aku tahu kamu mau pergi. Kita kan sedang di bandara. Tapi aku belum sempat mengatakan kalimatku itu.

“Tapi ada yang ingin aku lakukan dulu sebelum itu,” katamu lagi.

“Apa?”

“Ini,” lalu entah kenapa, aku merasa waktu berhenti. Aku tidak mendengar suara apa-apa, tidak melihat apa-apa, kecuali kamu.
Benarkah ini? Atau ini imajinasiku saja?
Semua berlalu cepat. Terlalu cepat meski tadi aku merasa waktu sedang berhenti. Tapi tetap saja terlalu cepat.
KAMU MENCIUM BIBIRKU!
Kamu tersenyum, “Aku selalu ingin merasakan bagaimana bibirku bersentuhan dengan bibirmu. Hangat, nyaman, seperti ada aliran listrik kecil di seluruh tubuhku.”
Itu? Kecil?Aku merasa seperti gempa!
Aku masih diam. Termangu.  
Kamu pasti tidak tahu apa yang terjadi sekarang di dadaku, bukan?
“Aku mau pergi. Lama. Ada lelaki yang meminangku. Sudah setahun aku menunggu seseorang yang selalu menemani separuh rotasi bumiku di siang hari, kadang juga malam hari untuk mengatakan cintanya. Sayangnya aku tidak pernah mendengarnya. Lelaki itu, yang selalu menemaniku bercerita, tidak pernah mengucapkan cinta. Beberapa bulan lalu, seseorang mendekatiku. Dia baik dan aku menerima cintanya. Bukankah kamu bilang, untuk menuju tempat yang diinginkan, kita harus meninggalkan tempat yang sekarang? Ini aku, meninggalkan tempat yang sekarang.”

Dia berdiri, tersenyum, berkata,”Kamu, lelaki yang paling bisa membuatku nyaman dalam bercerita. Kamu, beda dengan hampir semua lelaki yang kukenal sebelumnya. Tapi, aku tahu, kita pasti berbahagia, entah bersama atau sendiri-sendiri di kemudian hari.”

Aku masih belum bisa berkata apa-apa. Ada panas di mata, ada ... entah apa, tapi seperti ada yang meremas sesuatu di dadaku.

“Suatu hari nanti, kalau kita berjumpa lagi, … ah lupakan. Aku pergi.” Dia tersenyum dengan mata merah. Aku tidak suka tatapannya.

Aku masih diam terpaku. Dia membelakangiku dan berjalan menjauh. Dari belakangnya, aku melihat dia seperti mengusap mata.
Tolong berhenti! Berhenti di situ! Ini, kuberikan lagi waktuku. Lebih banyak dari sebelumnya. Semuanya! Tukar dengan hatimu. Tapi tolong berhenti. Sekarang juga. Kumohon.
Aku masih menatapnya tanpa suara di bibir, hanya di dada.

Ciuman itu, ciuman pertamaku. Sepertinya ciuman kenangan. Asal kamu tahu, aku benci jika hanya menjadi kenangan.
Kamu lupa, bahwa meski tidak mengatakannya, tapi kamu tahu aku mencintaimu. Kumohon berhenti sekarang dan biar aku mengatakannya.
Bisa aku meminta hal itu saja?


12 komentar:

Anonim mengatakan...

dan akupun ikut terdiam setelah kubaca tulisanmu....
dadaku sesak dan lidahku kelu....karena haru.....

#sibuk nyari tissue neh...wkwkwkwkk.....

weldone Rick....!!!!

Anonim mengatakan...

Hai, permisi berkunjung. Bagus. :')

namarappuccino mengatakan...

@Anoni 1: pasti mbak Tunis ya.... maaf mbak jadi sibuk nyari tisu. :D

@Anonim_2: Ah, justru saya yang senang dikunjungi. :)

_EmalkU_ mengatakan...

mantap, romantisnya dapet... sukses ya? :)

namarappuccino mengatakan...

@_EmalkU_: Terimakasih. Puisi-puisinya juga bagus, barusan berkunjung keblog Kejujuran Sunyi. ^^

freeyourhead mengatakan...

Permisi mas, berkunjung, dan bagus, hiks :')

namarappuccino mengatakan...

@Zahrina: Selamat pagi Zahrina. Aku sedang berkunjung ke blogmu. pada saat menulis ini. :) Juga bagus.

BasithKA mengatakan...

Sebuah pertemuan tentu ada perpisahan, tapi akan lebih sulit berpisah dengan orang yang kita cinta. Dalem banget yah hehehe aku sedang menelusuri blogmu ini, semoga saja bisa kenal lebih jauh denganmu, serta karakter menulismu :) Salam sesama pecinta sastra! ;)

Anonim mengatakan...

speechless :'(

Nila Lazuardi mengatakan...

semua artikel nya sukses bikin aku tambah galau mas broh #nangiskejer

somewheresomeday mengatakan...

Diterbitin aja, Mas. Bagus!

Ichink mengatakan...

Tulisannya bagus-bagus, layak terbit menurutku. Ayo dibukukan saja mas :)