Minggu, 18 September 2011

Film Action Indonesia Layak Tonton: "The Raid" dan "Badai di Ujung Negeri"



Memang ada beberapa film yang sudah cukup menonjol di Indonesia dari segi kualitas meski tentu saja belum bisa dibandingkan dengan film luar, seperti sekuel "Laskar Pelangi", film Horor "Rumah Dara", dan mungkin ada beberapa film yang bagus yang tidak bisa disebutkan satu-satu. Tetapi film action? Sepertinya belum. 

Sebelumnya sudah ada, sekuel "Merah Putih", "Darah Garuda", dan sekuel selanjutnya saya lupa. Sayangnya, menurut beberapa orang, termasuk saya sendiri, film itu terlalu "Rambo" untuk ukuran Indonesia semasa perjuangan. Padahal kenyataannya tidak demikian seharusnya walaupun tentu saja pasti ada pejuang yang menonjol. Juga ada film "Merantau" yang digarap sangat apik, tapi belum terlalu booming.

Nah ini, dua film yang layak ditonton sebagai film action yang sepertinya, akan lebih baik daripada film sekuel "Merah Putih".

Yang pertama adalah "The Raid". Berikut Trailernya:


Film ini menjadi film Indonesia satu-satunya yang tayang di ajang Toronto International Film Festival (TIFF) ke-36 di Kanada, September. Film yang semula berjudul ‘Serbuan Maut’ itu akan menjadi film pembuka dalam program ‘Midnight Madness’.

Midnight Madness’ adalah program kompilasi film yang terdiri atas sepuluh film terpilih dari berbagai negara, seperti Amerika, Prancis, Inggris, Belgia, dan Jepang. Masuknya film ‘The Raid’ dalam TIFF membuat jejak baru di peta perfilman Indonesia. Sebab, TIFF adalah ajang debut sutradara kenamaan dunia seperti Michael Moore, David Cronenberg, dan John Woo, sehingga karyanya dikenal di seluruh dunia.

Pemutaran film itu menandai rilis internasional pertama The Raid, film kedua PT Merantau Films.  Dalam pemutaran perdana itu, hadir sutradara Gareth Huw Evans serta pemeran utama, Iko Uwais dan Joe Taslim.

Sebagai film aksi, The Raid mendapat banyak pujian dari kritikus film dan sineas selain dari penonton. Peter Sciretta dari Slash film memujinya sebagai film aksi terbaik. “This is the best action film I’ve seen in years,” katanya.

Pendapat senada mengemuka dari Alex Billington (First Showing). “It truly is one of the best action films I’ve seen in years.”

Brad Miska (Bloddy Disgusting) juga memuji The Raid sebagai film aksi terbaik. “Its’ one of the best action movies ever assembled. The Raid is ultracinema, the highest octane of energy you’ll ever see on the big screen.”

James Rochi (MSN Movies) menyatakan, The Raid menyamai Die Hard. “The best Aristotelian-unity action film since Die Hard.”

Bahkan, Drew McWeeny (Hit Fix) tanpa ragu memujinya nyaris sempurna. “A near perfect action movie.”

Film ini berkisah tentang sebuah apartemen kumuh yang terletak di pusat kota Jakarta yang penuh dengan pecandu narkoba dan drifters yang dipimpin oleh Tama, seorang gembong narkotika kejam yang menggunakan rumah petak untuk tempat kumpul para pelanggan, penegak hukum, dan pembunuh.
Blok apartemennya tidak tersentuh hukum hingga sampai suatu ketika, sebuah tim SWAT elit yang dipimpin oleh Rama (Uwais) menyerbu masuk ke dalamnya sehingga terjadi pertempuran brutal antara keduanya.
Pasukan Rama menghadapi labirin di setiap lantai, tembak-menembak dengan para penjahat, dan bertempur melawan mereka. Setiap kali mencapai lantai lebih atas, mereka menemui rintangan yang lebih besar dan peperangan mematikan.

If you want over-the top bone crushing, knife slashing action which will leave you fighting to catch your breath. This is it! 9 out of 10 stars!” puji Tim Hannigan (Horror Movies).

The Hollywood Reporter menilainya, “Ultra-violent action movies don’t get much more exciting or intentive than this kick-ass feature from Indonesia.”

Kritikus film Andrew Parker menyatakan, “The Raid achieves action movie perfection and is a must see for genre buffs of all kids at this year’s festival.” Dia bahkan memberikan rating lima bintang (***** dari 5 bintang).

Anton Sirius (Aint It Cool) menyatakan, “The Raid featured basically everything you could possibly want in an action film.”

Selain apresiasi positif para penonton, sineas dan kritikus film, The Raid bahkan menjadi trending topic di Twitter Kanada dan disebut sebagai “The Most Talked About Film”.

Selain itu, Sony Pictures Worldwide Acquisition (SPWA) membeli hak distribusi The Raid untuk wilayah Amerika. SPWA mendaulat Linkin Park sebagai music scorer film The Raid yang rilis di wilayah distribusinya.

Mike Shinoda dari Linkin Park menyatakan sangat antusias menggarap music scoring “The Raid,” yang sekaligus menjadi debutnya mengerjakan music scoring. Shinoda bekerja sama dengan Joseph Trapanese, komposer berbakat yang menggarap film Walt Disney Tron: Legacy pada tahun 2010.


Film ini disutradarai oleh Gareth Evans yang sebelumnya juga sempat menelurkan film Merantau. Seperti film sebelumnya, film ini juga menyuguhkan adegan aksi dengan koreografi dan efek yang sangat bagus dan dinilai menjadi salah satu film terbaik di ajang Toronto International Film Festival 2011.

Sejumlah aktor kawakan ikut terlibat dalam film ini diantaranya, Iko Uwais yang terkenal dengan aksinya di film Merantau, Joe Taslim (Karma), dan Ray Sahetapy (Mengaku Rasul).

Sayangnya, Intan Melvina dari PT Merantau Films, pada Rabu (14/9) di Jakarta, menyatakan, untuk wilayah Indonesia, The Raid dirilis pada Januari 2012, sedangkan di negara lain sudah tayang terlebih dahulu. 

Catatan, selain Toronto, film ini juga ditampilkan di Festifal Film SITGES dan juga BUSAN.

Hak Edar nya sudah dibeli
Sony Picture di Amerika Serikat dan dunia
Alliance Kanada
Momentum Inggris
Madman Australia
SND Prancis
Kosch Jerman
Kadokawa Jepang
HGC Cina
Calinors Turki

 
*****

Yang Kedua adalah Badai di Ujung Negeri, berikut trailernya:


Badai adalah marinir yang ditugaskan di pos jaga perbatasan Indonesia di sebuah pulau di laut cina selatan. Penemuan mayat misterius mempertemukannya kembali dengan Joko, sahabat lama yang ditugaskan di kapal KRI

Anisa seorang gadis setempat mempertanyakan kepastian hubungannya dengan Badai. Badai ragu untuk membuat keputusan karena dia bisa dipindah tugaskan kapanpun, kemanapun

Dika, anak nelayan teman Badai ditemukan mati. Kesalahpahaman Joko dan Badai tentang kematian Nugi, adik Joko, mempengaruhi kerjasama mereka dalam menemukan siapa pembunuh Dika dan mayat-mayat lainnya yang belakangan bermunculan terapung di laut. Badai dan Joko dijebak ke pulau terpencil sementara para pembunuh merencanakan pembajakan sebuah kapal tanker di laut perbatasan, memanfaatkan kelemahan konflik di antara mereka dan kondisi kapal KRI yang sudah tua

Ini adalah film pertama yang melibatkan TNI setelah dulu sekali pernah ada film tentang TNI AU. Bagi yang menyukai dunia militer, seperti saya, apalagi ini bercerita tentang Taifib (Intai Amfibi) dan Kopaska (Komando Pasukan Katak), film ini sangat layak tonton.

Film ini sountracknya dikerjakan salah satunya oleh Ipang, mantan personel BIP dan akan beredar pada 29 September 2011.

Sumber 3\
dan berbagai sumber lainnya.

Tidak ada komentar: