Senin, 05 September 2011

Humor Cenat-Cenut Bikin Bibirmu Ketawa Sampai Dower

Jangan Ketawa

Di depan praktik dokter kelamin, seorang pasien bernama Gendut sudah menunggu sejak tadi. Entah karena sudah tidak tahan dengan sakitnya atau karena sudah tidak sabar menunggu giliran dipanggil, pria yang bertubuh tambun ini tampak gelisah dan mondar-mandir. Dan setelah beberapa saat kemudian, tibalah namanya dipanggil untuk diperiksa.

Dokter: “Selamat malam, ada yang bisa saya bantu?”

Gendut: “Iya, Dok. Sebelumnya boleh saya buka celana saya sekarang, Dok? Saya sudah tidak tahan sama sakitnya...!”

Dokter: “Oh, silahkan...!”

Gendut: “Baik, tapi Dokter janji nggak ketawa, ya...??”

Dokter : (heran) “Baik... saya janji tidak akan tertawa.”

Lalu Gendut membuka celananya. Ternyata “anunya” Gendut sangat kecil hanya sebesar jempol, sungguh tidak sebanding dengan tubuhnya yang gedhe. Si dokter yang melihatnya kontan tertawa terpingkal-pingkal karena geli.

Gendut: (cemberut) “Dokter tadi kan sudah janji tidak akan tertawa...?!”

Dokter : “Oh, maaf....” (dengan susah payah menahan tawa) “Baiklah, jadi apa keluhan Saudara?”

Gendut: “Anu, Dok... milik saya ini sudah tiga hari ini bengkak...!”


Perkelahian di Bar

Pada suatu malam, Anto sedang duduk santai di bar. Lalu seorang preman yang kelihatannya sedang mabuk datang menghampirinya. Tiba-tiba, preman itu menendang Anto sambil berkata, “Ini Karate dari Jepang!!!”

Anto hanya diam dan si preman memukulnya lagi sambil berkata, “Ini Boxing dari Amerika!!!”

Anto tetap diam dan si preman memukulnya kembali sambil berkata, “Ini Kung Fu dari Cina!!!”

Anto pun beranjak keluar dari bar, dan setelah beberapa saat ia datang kembali dan memukul si preman, “Bruuuk...!!!”

Si preman langsung pingsan tidak sadarkan diri. Kemudian, Anto pergi ke tempat penjaga bar untuk titip pesan, “Bang, kalau si preman sudah sadar tolong katakan padanya, INI LINGGIS DARI GUDANG!”



Tiga Tukang

Rodi, Jonet, dan Paimin adalah tiga orang tukang yang bekerja dalam satu proyek. Mereka sedang mengerjakan proyek pembangunan gedung bertingkat di kawasan Tangerang. Yang sama dari ketiganya adalah tiap hari selalu membawa bekal makanan dari rumah. Dan kini, mereka sedang istirahat, lalu membuka bekal mereka.

Rodi: “Nasi jengkol lagi... nasi jengkol lagi! Kalo besok masih dibekalin nasi jengkol, gue bakal loncat dari atas gedung ini!”

Jonet: “Mi rebus lagi... mi rebus lagi...! Kalo besok juga masih dibawain mi rebus, gue juga loncat dari atas gedung ini!”

Paimin:”Singkong goreng lagi... singkong goreng lagi...! Kalo besok juga tetep singkong goreng, gue bakalan ikut lo berdua loncat dari atas gedung ini!”

Setelah keesokan harinya ternyata bekal mereka masih sama dan akhirnya mereka pun bunuh diri dengan meloncat dari atas gedung. Dan di pemakaman kemudian para istri berkata,

Istri Rodi: “Kalo saja saya tahu dia bosen sama nasi jengkol, pasti nggak begini jadinya...”

Istri Jonet: “Seandainya dia bilang kalo dia bosen sama mi rebus, pasti akan saya buatkan yang lain.”

Istri Paimin: “Saya tidak tahu kenapa suami saya bunuh diri, padahal dia selalu membuat makanannya sendiri....”


Polisi dan Orang Gila

Suatu hari ada tiga orang laki-laki yang sedang duduk di atas benteng area pasar. Orang yang paling kiri dan yang paling kanan sedang melakukan gerakan seperti sedang memancing ikan, sedangkan yang tengah sedang melamun. Tak lama kemudian seorang polisi datang dan menegur orang yang di tengah.

Polisi: “Maaf, Mas... apa teman Anda yang di samping kiri dan kanan ini gila?”
Laki-laki yang di tengah mengangguk.

Polisi: “Kalau begitu, tolong Anda bawa pergi dari sini sebelum membuat keributan.”

Laki-laki yang di tengah mengangguk lagi, kemudian langsung melakukan gerakan seperti sedang mendayung perahu.

Polisi: “????????......”


Yang Hitam Juga

Ridwan sedang menggembalakan domba. Seorang yang lewat berkata, “Engkau mempunyai kawanan domba yang bagus sekali, bolehkan saya mengajukan beberapa pertanyaan tentang domba-domba itu?”

“Oh tentu, akan saya jawab dengan senang hati.” kata Ridwan.

Orang itu berkata, “Berapa jauh domba-dombamu berjalan setiap hari?”

“Yang mana, yang putih atau yang hitam?” tanya Ridwan.

“Yang putih.”

“Ah, yang putih berjalan sekitar lima kilometer setiap hari.”

“Kalo yang hitam?”

“Yang hitam juga.”

“Dan berapa banyak rumput mereka makan setiap hari?”

“Yang mana, yang putih atau yang hitam?”

“Yang putih.”

“Ah, yang putih makan sekitar lima kilo rumput setiap hari.”

“Kalo yang hitam?”

“Yang hitam juga.”

“Dan berapa banyak bulu yang mereka hasilkan setiap tahun?”

“Yang mana, yang putih atau yang hitam?”

“Yang putih.”

“Ah menurut perkiraan saya, yang putih menghasilkan sekitar tujuh kilo bulu setiap tahun.”

“Kalo yang hitam?”

“Yang hitam juga.”

Orang yang bertanya menjadi penasaran.

“Bolehkah saya bertanya, mengapa engkau mempunyai kebiasaan yang aneh, membedakan dombamu menjadi domba putih dan hitam setiap kali engkau menjawab pertanyaanku, padahal jawaban semuanya sama saja?”

Ridwan menjawab, “Tentu saja harus saya bedakan, karena domba-domba yang putih itu adalah milik saya.”

“Ooo, begitu....” penanya itu manggut-manggut seolah mengerti, dan bertanya lagi, “Kalau yang hitam?”

“Yang hitam juga.” Jawab Ridwan dengan santainya.



Diambil dari buku Opera van Tawa terbitan Citra Media.

Tidak ada komentar: