Sabtu, 14 April 2012

Kalau Waktu Kita Nanti Menghabis, Kita Akan Tetap Berbahagia, Bukan?


Apa kamu ingat pertama kali perbincangan kita? Aku masih ingat. Kurang lebihnya. Bagaimana bisa lupa sesuatu yang tidak mau aku lupa? Tapi, sudahlah, lupakan saja. Seingatku kamu yang pertama kali menyapa ketika itu, meskipun sebenarnya aku menginginkan menyapamu lebih dulu dari yang kamu tahu.

Lalu sejak itu seperti candu. Membuat kita berdua ketagihan. Eh, atau aku saja yang merasakannya? Ketagihan? Baiklah, anggap hanya aku yang merasakan. Iya, aku ketagihan untuk terus bertemu dan bercanda denganmu. Bagiku, apa pun yang keluar dari mulutmu (tolong digarisbawahi kata apa pun karena memang benar-benar apa pun), selalu terdengar menarik dan membuatku tersenyum. Ah, mungkin bukan karena ceritamu. Mungkin memang faktor 'kamu'. Tapi apa kamu pernah menyadari itu? Canduku?

Dan setiap sapa sederhanamu, seperti, "Sedang apa?" atau, "Sudah makan?", menjadi semacam baterai yang baru diisi ulang sehingga kekuatannya sepenuh sebelum digunanakan. Dan hal-hal semacam itu, membuatku merasa diperhatikan, dijaga, diberi kehangatan. Apa kamu tahu, kalau kadang, cinta bisa datang dari hal-hal sederhana seperti itu? Apa kamu sengaja melakukannya hanya pada orang istimewa atau memang kamu seperti itu kepada setiap orang? Argh, benar-benar membuatku ingin tahu. Kadang aku mengkhayal bahwa kamu melakukannya hanya pada seseorang yang istimewa. Itu berarti membuatku menjadi orang istimewa bagimu. Tapi itu kan khayalanku, lupakan saja.

Tapi memang terlalu sering bertemu, berbincang dan bercanda, benar-benar membuatku lupa bahwa aku, kamu, tidak seharusnya berada di tempat ini. Tempat bernama ‘cinta’. Dan sekarang, ketika aku sudah merasa nyaman, aku harus bagaimana?

Masalahnya, cintaku ini tidak bisa dihentikan meski berulangkali pikiran dan mulutku berkata jangan karena kamu sudah bersama seseorang.

Apa kamu juga merasakan serupa? Itu mungkin akan menjadi pertanyaan ‘satu juta dolar’, karena aku merasa aku tidak akan tahu jawabannya.

Apa kabar dia, lelakimu? Apa kabar kamu? 

Pertanyaan kedua yang lebih penting. Yang pertama, abaikan saja. Itu hanya basa-basiku untuk bisa berbicara denganmu.

Masih ingat? Katamu, lebih mudah menghapus sesuatu yang belum kita tulis karena tidak perlu ada yang dihapus. Benarkah? Apakah karena itu sekarang ini kita berusaha untuk tidak menulis kisah baru tentang aku dan kamu? Apa karena itu sekarang ini kita berangkat bersamaan tapi berbeda tujuan? Saling menjauh? Agar tidak ada sesuatu yang harus dihapus karena belum sempat kita tulis? Aku tidak mau seperti itu, tapi kalaupun harus, aku bisa apa, kamu bisa apa?

Dan sekarang aku rindu, apa kamu juga begitu? Beberapa bulan tidak berbincang denganmu aku menjadi semacam sakaw, menginginkan tawamu, sapamu, atau sekadar pertanyaan, "Kamu, apa kabar?".

Ah, tapi kamu juga pasti tidak tahu itu.

Satu hal yang aku sadari, dan mungkin kamu jauh di sana juga menyadari, suatu ketika nanti, waktu kita akan menghabis. Aku dan kamu pergi. Tidak pernah bertemu lagi, tidak pernah berbincang lagi, bahkan tidak saling mengingat lagi. Ah, salah, abaikan yang terakhir, karena mungkin aku akan masih mengingatmu, walaupun sesekali waktu, seperti saat ini. Mengingatmu sambil menulis apa saja tentangmu.

Ketika waktu menghabis nanti--waktu kita tentu saja, kita berdua akan berbahagia, bukan? Pasti? Seperti yang kamu bilang, entah itu berdua atau sendiri-sendiri dengan pasangan masing-masing. Tapi yang penting aku dan kamu berbahagia, nanti. Mau berjanji?


7 komentar:

Nurul Khaliza mengatakan...

Pertamanya kak..
aww..sakaw hehe :) like this :D

namarappuccino mengatakan...

hehehhe. I once had 'sakaw' dengan perbincangan.

Arif Zunaidi Riu Aj mengatakan...

aku juga masih ingat, kalimat sapa apa yg ia tanyakan kepadaku. dan sapanya itu benar2 membuatku selalu rindu.

sakaw nih...

Aiinizza Wynata mengatakan...

auw...kata2nya mengalir bgt kak...

Chici Elsa mengatakan...

tulisan kak namara bikin galau nih.. hehe

suka banget baca-baca tulisannya :)

IrmaSenja mengatakan...

selamat malam,...kunjungan pertama sobat :)

tak apa jika menjadi candu, jika itu menenangkanmu ^^

hizkiA mengatakan...

keren... menyentuh