Selasa, 10 April 2012

Karena Itulah Kenapa Hujan Selalu Menyenangkan


Aku selalu suka melihatmu seperti ini. Memandang hujan sambil tertawa. 

Lalu kamu akan bercerita bahwa di atas hujan itu, sebenarnya ada peri-peri yang menaburkan bunga. Di surga, ada tumbuhan yang bunganya berguguran seperti bunga sakura pada musim semi kalau di bumi, hanya saja tentu saja bunganya lebih indah dari yang ada di bumi. Lalu para peri dan bidadari mengambili reruntuhan bunga yang berjumlah sangat banyak itu dan menaburkannya ke bumi. Karena faktor beda udara, bunga-bunga surga tersebut berubah menjadi tetesan air. Karena itulah hujan selalu menyenangkan. Itu guguran bunga dari tanaman surga yang ditaburkan para bidadari dan peri.

Aku terus tertawa setiap kamu menceritakannya. Meski kamu sudah berulangkali mengatakannya, entah kenapa tidak pernah terasa membosankan. Mungkin karena tawa dan binar matamu yang selalu kentara sekali ketika menceritakannya. Lihat? Bagaimana bisa aku tidak jatuh cinta, jika kamu terus melakukannya. Itu, keriangan dan kehangatan tawamu itu. 

Dan jika hujannya tidak terlalu deras, seringkali kamu akan menarikku ke sana di bawah hujan. Berbasah-basahan. Tentu saja setelah meninggalkan barang berharga seperti handphone dan lainnya. Menitipkannya kepada penjaga toko, atau meninggalkannya di mobil. Yang paling sering, meninggalkannya di mobil. 

Setelah itu, kita akan bergandengan tangan, menari, menendang genangan air, atau mengumpukan air di kedua telapak tangan kita, lalu mengguyurkannya lagi ke muka kita. Aku melihat percikannya, seperti bunga.
Tidak akan ada percakapan ketika itu, setidaknya nyaris tidak ada, kecuali ketika kita sudah kedinginan, dan ingin berhenti, maka salah satu dari kita akan meneriakkannya. Ya, kita, harus berteriak karena suara kita selalu dikalahkan hujan.

Ah kamu masih ingat itu, bukan? Karena aku selalu ingat itu.

Oya, kita sudah kenal berapa lama? Setahun lebih? Hampir dua tahun kalau tidak salah. Dan tidak sekalipun terlewatkan pikiran bahwa betapa menyenangkan kalau kerianganmu itu bisa selalu ada di setiap hariku. Masalahnya adalah, kamu sudah bersama lelakimu dan tidak ada yang bisa kulakukan tentang itu. Dan aku hanya selalu tersenyum dan berkata dalam hati, "Dia tidak tahu betapa beruntungnya mendapatkanmu. Aku yang tahu. Aku."

Ah, sampai kapan pun aku akan tetap suka hujan. Wanginya, suaranya, udaranya, pemandangannya, semuanya. Apalagi ketika aku menikmatinya ketika bersama kamu. Bersama secangkir kopi hangat dan beberapa roti. Lalu kita akan berlama-lama mengunyahnya. Aku tidak tahu alasanmu mengunyah lebih lama. Kalau alasanku, karena ingin lebih lama bersamamu di café itu. Begitu juga dengan kopinya. Kita akan berlama-lama meminumnya. Lagi-lagi alasanku, biar lebih lama berbincang denganmu. Tapi apa kamu tahu?

Dan meski hujan reda, biasanya kita masih akan tetap berbincang di sana. Itu juga kalau kamu, tidak menarikku untuk bermain hujan di luar sana. Kalau tidak, ya berarti kita akan bermain hujan.

Baru aku tahu, belakangan, ketika kamu melakukannya, itu berarti kamu sedang ingin menghiburku. Iya, biasanya setelah aku bercerita tentang sesuatu masalah, entah urusan kantor, teman, atau apa pun itu. Setelah ceritaku, kamu akan menarikku ke dalam hujan, tentu saja kalau sedang hujan. Jikapun tidak, biasanya kamu akan mengajakku ke karaoke untuk menyanyikan lagu-lagu riang. Kamu selalu berhasil membuatku tertawa ketika itu. Tapi, meski begitu, aku lebih suka kalau hujan. Bermain hujan selalu membuatku senang karena kamu juga terlihat begitu riang. Kedinginan dan demam keesokan harinya, terbayar lunas dengan senangnya aku meluangkan waktu bersamamu.

Sekarang ini sudah musim penghujan lagi. Dan sudah beberapa hari ini, kamu memintaku menemanimu. Kita makan, menonton, ke toko buku atau karaoke. Kamu tidak seceria biasanya. Aku tahu. Aku selalu tahu. Tapi aku juga tidak pernah menanyakannya kepadamu karena aku juga tahu, kamu tidak suka seseorang mencampuri urusanmu. Pada suatu saatnya nanti, kalau kamu sudah ingin bercerita, kamu pasti akan mengatakannya sendiri kepadaku, atau kepada siapa pun itu yang kamu percaya. Yang terpenting saat ini, aku ingin menemanimu, memastikan kamu baik-baik saja.

Lalu, di tengah perbincangan kita di café itu, gerimis turun. Sebelumnya kita sama-sama tahu bahwa hujan akan turun. Aku mencoba mengajakmu bercanda di tengah jeda perbincangan kita karena kemurunganmu, “Lihat, peri-peri sedang menaburkan bunga surga.”

Kamu hanya tersenyum.

Sejenak kemudian, kamu memandang hujan dari balik kaca. Agak lama. Menghela napas agak panjang, lalu memandangku dan tersenyum.

“Aku melihat dia bersama seorang wanita,” katamu. Lalu kamu memandang hujan lagi.

Aku diam saja. Memandang matamu yang, … aku tahu, kamu sedang mati-matian agar tidak mengeluarkan airmata. Kamu selalu berpura-pura kuat. Aku tahu. Aku selalu tahu kebiasaanmu. 

Ini sudah keberapakalinya kamu bercerita melihat dia bersama seorang wanita? Ketiga kalinya kalau tidak salah. Dan kamu masih bersama dia. Entah kamu bodoh, atau terlalu cinta. Sepengatahuanku, perbedaan jatuh cinta dan bodoh itu tipis. Seperti kebodohanku yang nyaris dua tahun ini mencintaimu diam-diam. Padahal, aku tahu, kamu sudah bersama lelakimu. Lihat? Itu bodoh atau jatuh cinta. Dan kamu dengan lelakimu itu, itu juga bodoh atau jatuh cinta? Ah, sudahlah, lupakan saja.

Gerimis di sana sudah mulai bertambah deras. Kamu juga masih saja memandangi hujan. Masih menahan mati-matian agar airmatamu tidak keluar. Kamu pernah merasa nyeri? Ini. Ini aku sedang merasa nyeri, memandangmu yang sedang sakit hati. Ah, tapi nyeriku pasti tidak senyeri kamu.

Aku memandang hujan juga, memandangmu, lalu memandang hujan lagi. Berulang.

Aku kemudian tersenyum, mengambil tasmu yang berisi hp dan dompetmu, lalu menyerahkan kepada penjaga kafe bersama hp dan dompetku. Titip sebentar, kataku. Lalu aku menarik tanganmu yang kamu sambut dengan terbengong tapi tetap mengikuti genggaman tanganku. Aku menarikmu keluar café, dan menghamburkan diriku ke hujan. 

Kamu memandangku heran. Lalu tertawa. Sedetik kemudian, kamu ikut menghambur ke dalam hujan bersamaku.

Kamu lihat, aku sedang melakukan apa yang selalu kamu lakukan selama ini. Menghiburmu dengan bermain hujan. Rasakan ‘bunga-bunga surga yang ditabur para peri’ ini.

Kita menari, bergandengan tangan, menendang genangan, persis seperti dulu ketika kamu selalu menarikku ke dalam hujan. Dari balik café, penjaga dan pengunjung hanya tersenyum melihat kegilaan kita ini.
Beberapa saat kemudian, ada jeda gerakan di sana. Aku melihatmu, dan kamu melihatku. Lalu, aku sedikit meneriakkan sesuatu,

“Aku mencintaimu!”

Kamu memandangku, diam, tersenyum. Lalu menari lagi di tengah hujan.

Ah, teriakanku diambil alih suara hujan. Ya sudah, aku ikut menari lagi bersamamu sambil berulang kali mengatakan, “Aku mencintaimu.” Lagi, lagi, dan lagi. Aku tidak peduli kamu mendengarnya atau tidak. Yang penting, aku sedang ingin mengatakannya kepadamu.

Dan kita masih menari, bersama ratusan ribu bunga berbentuk air yang ditaburkan para peri.

Oya, kalau sudah waktunya nanti, bisa aku mengajak hatimu pergi?

9 komentar:

Nurul Khaliza mengatakan...

Kakk *nangis*
Kereenn :) :*

namarappuccino mengatakan...

hehehe. sedih ya dek? Aku harap aku tidak akan pernah mengalami seperti itu. :)

fauziyah mengatakan...

aku punya visualisasi adegan ini mas, pengalaman sendiri, tp ceritanya beda, #adegan ujan2an berdua, menari di bawah rintik hujan, sedang orang heran memandang kami,,kyk anak kecil sih, tp itu moment indahh bgt,,baru tau klo ujan turun ad peri di sana, makanya tiap kali ujan, hatiku jadi damaiii banget, :D

namarappuccino mengatakan...

Waaaa. beneran dek? Kereeeen! :)

Annisa Solikha mengatakan...

keren bgt kak....:3

''Ah, sampai kapan pun aku
akan tetap suka hujan.
Wanginya, suaranya, udaranya,
pemandangannya, semuanya.''

Mami Zidane mengatakan...

Saya juga suka hujan lho......

Bagus banget ceritanya mas

fauziyah mengatakan...

komentar lagi ahh, bagus benerr ceritanya, suka hujaann..!!! :D

dinky mengatakan...

langsung dibaca begitu liat judulnya. aku suka hujan. apalagi sesaat setelah hujan berhenti. menyesapi bau petrichor itu sungguh membawa kesejukan tersendiri. nice story, love the way u write. :)

Fahmi Nur Amalia mengatakan...

bagus bangeeeeeet ceritanya :')

Aku pikir hujan cuma bisa membawa ketenangan, ternyata juga kegembiraan :)