Senin, 10 Oktober 2011

Keping

Pecah seperti keping. Menjadi luka. Hanya saja mungkin menjadi tak tersembuhkan. Mungkin. Tetapi aku berharap tetap tersembuhkan suatu hari nanti. Meski membekas secara kentara hingga semua selalu bertanya, "Kamu luka karena apa? Kapan? Di mana? Oleh siapa?" Sampai aku bosan mendengarnya, juga bosan menjawabnya.


Hampir setiap hari aku selalu menemukan keping-keping itu. Melihatnya, merasakan rasa sakitnya. Kadang aku menyimpannya, tetapi lalu aku merasakan nyeri yang sangat di dadaku, hingga aku membuangnya lagi. Tersapu bersama angin dan terpisah tidak karuan. Tetapi entah kenapa, aku selalu dan selalu menemukan kembali keping itu.



Kepingannya selalu membawa satu paket; senyummu, riangmu, dan mengagumkannya kamu ketika membuatku jatuh cinta. Tetapi paket itu juga berisi ketika kau tidak lagi peduli denganku, tidak meneleponku, dan kau pergi bersamanya, lelaki itu. Kau bilang dia sahabatmu. Tapi tetap membuat luka yang pada kenyataannya, kamu mau melakukan apa saja dengannya. Dan pada akhirnya, sama saja. Kamu dan dia, ... kamu dan dia, ah aku tidak sanggup mengatakannya.

Kadang kita harus tahu waktu untuk berhenti. Karena itulah aku putuskan ini waktu untukku berhenti. Berhenti bersamamu. Melupakanmu. Sayangnya, ... Kamu berubah menjadi kepingan-kepingan yang terus mendatangiku.

Dan mereka bilang kamu sebenarnya juga luka ketika tidak lagi bersamaku. Ah, membingungkan! Siapa yang sebenarnya luka?!
*****

Aku menemukan keping lagi. Sial! Tolong katakan padaku bagaimana aku menghentikan kepingan-kepingan itu datang lagi kepadaku. Tolong, kumohon? Tidak ada yang tahu? Baiklah, tidak mengapa. Hanya saja kepingan-kepingan itu selalu ada setiap aku bangun tidur, sebelum tidur, bahkan dalam keramaian sekalipun! Dan anehnya, kepingan yang paling parah selalu aku temukan ketika aku sedang sendiri dan tidak tersibukkan pekerjaan. Datang ke pikiranku begitu saja. Lagi-lagi memberi nyeri yang tidak karuan, sampai di dadaku sakit sekali.

Anehnya, mereka tetap meyakinkanku bahwa kau juga mengalami luka yang sangat, terlalu sangat. Ah, dusta kan? Bahwa kau tidak bisa menerima yang lain lagi selainku. Dusta kan? Dan bahwa ketidakpedulianmu denganku pada waktu itu tidak sengaja, dan ada alasannya. Dusta kan?

Kamu tahu berapa lama waktu berlalu sejak itu? Entah berapa bulan aku sendiri lupa. Jangan tanya, aku lupa karena aku terlalu sibuk memungut kepingan yang selalu membawa memori tentangmu lalu membuangnya dan menemukannya lagi, hingga membuangnya lagi, menemukannya lagi. Terus seperti itu. Jadi, terpaksa aku menyimpannya. Setiap hari. Bisa kamu bayangkan aku menerimanya setiap hari? Hah?! HAH!?

*****

Maaf aku kemarin marah, meski kamu tidak mendengarnya. Itu karena kepingan yang selalu kutemukan. Luka itu ... kamu tahu, nyerinya kadang tak tertahankan. Kepingan-kepingan brengsek itu! Tolong jauhkan dariku. Semoga bukan kamu yang mengirimnya. Aku lelah. Lelah sekali ... Berhenti mendatangiku lewat mimpi dan lamunanku. Kumohon ...?

*****

Bandara ini terlalu sesak, terlalu sempit. Dan untuk kesekian kalinya membuatku menunggu seperti biasanya. Untunglah karena memang faktor cuaca. Sesuatu yang bisa kumaklumi. Tetapi, seperti biasa juga. Menunggu adalah waktu yang selalu menyiksaku. Kenapa? Karena aku selalu menemukan kepingan yang lain. Lagi-lagi tentangmu. Lagi-lagi membawa senyummu, lagi-lagi mengingatkanku tentangmu.

Aku memungutnya. Melihat dan mengingatnya. Baiklah, kali ini aku akan melihatmu dan kulawan habis-habisan untuk melupakanmu. Harus. Aku lelah sekali mengingatmu!

Ternyata lagi-lagi aku kalah, aku masih mengingatmu. Mengingat setiap kebersamaan aku denganmu, dulu. Dadaku tertusuk. Pikiranku limbung dan mencoba bangun lagi. Senyummu itu, ah, hal itu yang selalu membuatku mencintaimu. Tetapi tiba-tiba bayangan senyummu menjauh. Tolong, aku limbung lagi.

Aku mencerna setiap kejadian waktu itu. Lagi-lagi dadaku seperti tertusuk. Sakit sekali! Kau tidak pernah meneleponku waktu itu, tidak mencoba menemuiku, bahkan tidak bertanya kabar pada teman-temanku tentangku. Sial! Aku tidak kuat lagi.

Aku merasakannya. Apa kau merasakannya sama sepertiku? Ha?! Karena mengingat bagaimana setiap hari aku menunggu teleponmu waktu itu. Setiap hari! Sumpah! Aku memang sengaja tidak menghubungimu, karena selalu aku yang menghubungimu. Aku ingin sekali-sekali merasakan kesenangan ketika dihubungi seseorang yang kuingin bersamaku setiap malam suatu hari nanti. Tetapi ... Sudah! Berhenti! Memorimu bisa membuatku mati!
*****I

Aku melihat beberapa kepingan itu lagi. Apa angin yang membawanya kepadaku, seperti yang sudah-sudah? Sial! Kenapa angin tidak mau memihakku? Kenapa membantu kepingan itu untuk datang padaku, selalu. Aku ingin berhenti melihat kepingan-kepingan itu lagi, berhenti mengenangmu sama sekali. Berhenti teringat kembali masa laluku ketika bersamamu. Berhenti menerima luka.

Dan tiba-tiba di bandara yang membuatku menunggu ini, aku melihat dia di sana. Tidak, bukan kamu. Dia. Entah kenapa baru kali ini yang terlihat bukan kamu ketika melihat seorang perempuan. Dia tersenyum dan tertawa. Bercanda dan bercahaya.

Aku meletakkan kepingan itu, kepingan tentang kamu. Aku ingin melihat dia saja. Cahaya itu, menarik sekali di mataku. Lihat tawanya. Entah kenapa terasa menyenangkan. Hangat sekali di dadaku ini. Jangan kedipkan mataku dulu. Kumohon jangan.

Dia terduduk bersama teman-temannya seperti lukisan. Aku terdiam. Tiba-tiba saja aku tidak ingin beranjak pergi dari sini. Tiba-tiba saja aku berharap aku bisa melukis untuk membuat kenangan tentang situasi ini lalu membawa lukisan itu pergi. Tetapi itu mimpi. Aku tidak bisa melukis.

Dan aku masih diam di sini. Mengamati gerak-geriknya dari jauh. Seperti penguntit. Ah, dia tersenyum lagi. Aku merasa dingin. Apakah ini karena angin petang atau ....

Panggilan keberangkatan pesawatku sudah yang terakhir kalinya. Tapi aku juga tidak ingin melewatkan kesempatan ini. Apa yang harus kulakukan? Aku harus pulang saat ini juga. Tetapi barangkali kesempatan ini hanya sekali dan tidak terjadi lagi. Aku ingin melihatnya lagi atau berbincang. Tidak memiliki tidak apa-apa. Tapi ....

Ah, ini harus dilakukan! Tidak apa-apa. Barangkali memang sudah harus terjadi. Baiklah ... aku pergi. Selamat tinggal seorang puteri.

Aku mengambil kepingan tentangmu tadi, lalu beranjak pergi ...

                                                                 Aku memperhatikanmu dari tadi.
                                                        Aku juga tahu kamu selalu melihatku.
                                   Lalu kamu mengambil sesuatu dan pergi. Kenapa?

*****

Lagi-lagi kepingku semakin banyak. Aku tak mampu untuk tak memungutnya. Sampai-sampai menumpuk dan aku harus melihatnya satu persatu di setiap pagi dan malam hari saat sendiri. Masih membawa senyummu, masih membawa manjamu, masih membawa semua tentangmu.

Aku tak tahan rasa sakitnya, tetapi aku juga tidak tahan untuk melihat kembali setiap kepingannya. Membawa senyummu dulu dan kini. Menarik sekali. Sayangnya juga menyakitkan sekali. Semoga suatu hari berhenti.

Eh, aku melihat lagi dia di sana, gadis di bandara itu! Hanya saja sekarang aku melihatnya di sebuah kotak hitam televisi layar datar membawakan acara sebuah berita. Dia tampak bercahaya. Atau sebenarnya mataku yang bercahaya. Aku tak mengerti dan juga tak peduli. Aku duduk diam saja di depan televisi. Memandangnya tanpa henti dan berharap (lagi) untuk kali ini saja, mataku tak berkedip.

Sial! Mataku tetap berkedip.

                                                       Tidakkah kau melihatku sekarang ini?
                                Ini tampilan perdanaku membawa berita di televisi.
                                       Hatiku menjatuhkan dirinya sejak di bandara itu.
                            Dan aku ingin tahu apa kepingan yang kau ambil dulu.
Sambil berharap, barangkali hatiku adalah kepingan yang kau ambil itu.
                                            Lalu kamu menaruhnya di samping hatimu.

*****

Aku terbangun dari mimpiku tentang cahaya-cahaya. Dalam mimpiku itu, tiba-tiba cahaya-cahaya itu membakar kepingan-kepingan yang selama ini kupungut. Benar-benar dibakar habis. Menjadi hangus, hitam, dan bau.

Apa arti mimpiku?

                                                     Aku bermimpi tentangmu malam tadi.
                         Tiba-tiba aku datang sambil membawa palu bercahaya
                          dan menghancurkan semua yang pernah kau pungut.
                              Sampai semuanya hancur, menjadi debu, dan bau.
                                                                                  Apa arti mimpiku?
                                                                                         
*****

Akhir-akhir ini aku sering bermimpi tentang cahaya. Selain itu, aku berubah senang sekali melihat acara berita di televisi. Sesuatu yang biasanya aku benci. Bukan, bukan aku tidak mau tahu dengan sesuatu yang terjadi di luar sana. Hanya saja aku tidak suka dengan isi berita yang selalu tentang hal buruk. Bencana, korupsi, kejahatan, pembunuhan, dan lain-lain. Sembilan puluh sembilan persen di antaranya adalah berita buruk. Padahal aku harus selalu menjaga pola pikirku untuk berpikir positif. Bagaimana mungkin aku bisa berpikir positif jika setiap hari yang disajikan kepadaku adalah sesuatu yang negatif. Karena itu aku membencinya.

Tetapi kenapa aku sekarang melihatnya? Tidak, aku tidak melihat beritanya. Aku melihat pembawa acaranya. Aku tidak peduli dengan isi beritanya, aku hanya peduli dengan seseorang yang memiliki cahaya di sana. Dan aneh sekali! Setiap aku melihatnya, tidak ada kepingan pula yang mendekatiku. Benar-benar aneh.

Lalu acara berita pun selesai. Dan ketika itu, dia, pemilik cahaya, tersenyum. Ada getar yang tak biasa di dadaku. Getar yang menjalar pelan dari mata ke jantung hati, lalu meledak. Senyum itu, seolah-olah untukku.

        Senyum ini, bukan kuperuntukkan kepada siapa pun selain kamu.
                                                  Aku selalu tersenyum tulus kepadamu.
                                                                            Semoga engkau tahu.
                                                                                          
*****

Aku berjalan ke kantorku. Ini penerbitan yang aku dirikan sendiri. Aku sudah menginginkannya sejak sepuluh tahun lalu. Dan akhirnya memang benar-benar mewujud. Selama sepuluh tahun itu, tidak pernah ada sedetik pun di kepalaku tanpa ada penerbitan yang aku dirikan sendiri. Apa pun yang kulakukan, selalu berhubungan dengan penerbitan ini. Dan ... ternyata terbukti, bahwa ketika seseorang benar-benar berhasrat tentangnya, lalu mengejarnya dengan sebenar-benarnya mengejar, maka orang itu akan mendapatkannya.

Cukup tentang penerbitanku. Karena aku melihat keping lagi. Berada beberapa centimeter di depan kakiku. Aku terdiam dan melihatnya dengan tajam. Beberapa detik kemudian, aku mengangkat wajahku dan melompati keping itu.

Pada tangga, aku melihat satu keping lain lagi. Kentara sekali sedang tergantung pada pegangan tangga. Berwarna hitam yang sangat kontras dengan pegangan tangga yang berwarna putih. Lagi-lagi aku terdiam terpaku sesaat, tetapi kemudian aku melangkahkan kakiku satu per satu menaiki tangga itu sambil meninggalkan keping pengganggu. Entah kenapa hari ini aku benar-benar tidak berhasrat untuk memungutnya.

Pada pintu ruanganku, lagi-lagi ada keping yang menempel pada kaca pintu. Kali ini kepingnya sangat besar, seperti benar-benar ingin menarik perhatianku. Hanya saja aku langsung membuka pintu. Kali ini tanpa terdiam terpaku. Aku hanya melintas saja dan menutup pintu lagi. Dan keping itu pun terjatuh begitu saja. Pecah berantakan.

Sepertinya keping itu tidak mau menyerah. Karena ketika aku membaca koran harian yang terletak di mejaku, aku melihatnya lagi. Aku memandang koran harian itu dengan perhatian tinggi, lalu mengambil keping itu. Tanpa melihatnya, aku membuangnya begitu saja. Sepertinya kepingan tadi mencoba menutupi berita tentang ... dia, pembawa berita itu. Dan kali ini, aku benar-benar terpaku.
                                                                                          
*****

Aku memasuki kantor televisi tempatnya bekerja tepat ketika acara yang dia bawakan berlangsung. Aku beralasan bahwa aku adalah penggemarnya, dan memang kenyatannya demikian. Jadi aku meminta ijin untuk melihat acaranya, dan ... dikabulkan! Mungkin kebetulan, aku tidak tahu. Rasanya aneh saja aku diijinkan masuk. Tapi tidak mengapa, terima kasih, Tuhan.

Dan lagi-lagi dia seperti membawa cahaya di seluruh badannya. Ingin sekali kukumpulkan serpihan-serpihan cahaya itu lalu memperlihatkan kepada dia, agar dia tahu bahwa dia memang benar-benar bercahaya. Tetapi bagaimana caranya? Mengenal secara dekat saja tidak, apalagi berbincang. Tidak apa-apalah. Yang penting hari ini aku melihatnya, dengan lebih dekat.

Dan dia menyampaikan berita secara anggun, seperti lukisan. Seperti ketika aku melihatnya pertama kali di bandara itu. Senyumku mengembang. Sekali lagi mencoba agar mataku tidak berkedip, tapi sia-sia. Mataku tetap saja kadang berkedip.

Ya Tuhan! Sesaat tadi mataku dan matanya bertatapan. Hanya sekian detik pada saat dia menyampaikan berita. Aku memang berdiri di belakang kamera dua. Dan ketika dia menghadap kamera ini, kami saling berpandangan. Entah perasaanku saja atau kenyataan, tapi sepertinya untuk sekitar dua atau tiga detik, dia seperti gelagapan dan terdiam sebentar. Hal itu terjadi tepat ketika kami saling bertatapan. Tetapi, ah, sepertinya hanya perasaanku saja.

                                                                                          Dia datang.
                                 Sampai untuk sekian detik, aku lupa segalanya.
                                                     Untung saja kesadaranku kembali.
                                  Apakah kau datang kemari untuk menemuiku?

                                                  Ketika acara ini sudah selesai nanti,
                                            Aku akan berpura-pura ke kamera dua.
 Semoga ketika itu dia mendekatiku dan mengajakku makan malam.
                  Ketika itu, aku akan menerimanya dengan senang hati.

Semoga nanti ketika berita ini selesai, dia mendatangi kamera dua, lalu aku bisa mengajaknya berbincang dan mengajaknya makan malam. Aku akan melakukannya. Aku akan memberikan semua kepingan yang selama ini kupungut dan kutemukan, lalu memintanya menghancurkan dengan palu bercahaya. Sampai hancur, menjadi debu, dan bau.

Oh, lihat, dia sedang berjalan ke kamera dua. Kepinganku sudah berhamburan lari semua secara tiba-tiba. Apa mereka takut?
*****



2 komentar:

namarappuccino mengatakan...

Ah, panjang ya? :)

JOAN FR mengatakan...

sip, kereen (y)