Senin, 26 Maret 2012

Masih Ingat Kertas Itu?

Masih ingat ketika itu? Kita pernah bertengkar. Tidak berbicara semalaman. Kamu tidur di kamar, aku tidur di sofa ruang tamu. Aku lupa kita bertengkar karena apa, tapi yang jelas aku marah, kamu pun marah.

Anehnya, pagi ketika aku bangun, tubuhku sudah berselimut. Pantas aku tidak merasa dingin. Di sampingku juga sudah ada kopi dan nasi goreng telur mata sapi kesukaanku. Aku tersenyum. Aku mengambil secarik kertas dan menulis sesuatu.
Bagaimana kalau kamu berikan aku senyummu pagi ini, dan nanti kubawakan brownies kesukaanmu?
Kamu tersenyum, aku tersenyum. Lalu kita makan nasi goreng berdua, saling menyuapi. Ah, mesranya. Kamu tahu, aku selalu suka makan pagi berdua bersama manjamu.

Lihat? Serasinya kita? Kalau kamu masih ingat ketika seseorang masih sekolah di taman kanak-kanak, iya taman kanak-kanak. Seumuran segitu, adalah masa dimana seorang anak belum keracunan apa-apa. Jadi ketika hari ini mereka bertengkar, besok paginya mereka bermain lagi. Iya, seperti kita. Seperti yang kuceritakan tadi.

Tapi, ... Ada suatu masa yang aku selalu ingat benar dalam kepala, mungkin kamu juga. Kita pernah bertengkar hebat semalaman. Berbeda pendapat. Kamu ingin membantu semua biaya pernikahan adikmu, aku berpendapat, jangan semua. Setidaknya separuh saja. Membantu secara total selalu menghasilkan ketergantungan. Aku tidak setuju. Apalagi yang digunakan adalah tabungan bersama kita. Aku marah.


Itu pertengkaran kita yang paling parah. Kita pisah ranjang, tidak hanya semalam, tapi bermalam-malam. Aku tidak pernah lagi kamu masakkan. Tidur di sofa pun tidak kamu selimuti seperti dulu lagi. Ya sudah, mungkin kamu sedang marah.

Sebulan tidak ada perubahan. Aku sudah mulai resah. Rumah sudah seperti sesuatu yang kurang nyaman. Kamu pun lebih sering menginap di rumah adik, kakak atau orang tuamu. Aku sering sendirian di rumah. Makan mi tengah malam. Ya sudah, tidak apa, mungkin kamu masih marah. Sebenarnya sudah tidak apa juga, toh, uangnya sudah terpakai. Bulan depan juga pernikahan adikmu harus dilaksanakan.

Sampai akhirnya, kabar itu datang. Kamu memberiku kartu nama. Aku membacanya, konsultan pernikahan? Aku ... Aku ... Entahlah, aku tidak tahu apa yang kupikirkan ketika itu. Yang jelas, aku resah luar biasa. Aku mencintaimu. Aku tidak mau terjadi apa-apa dengan pernikahan kita, dengan taman kanak-kanak kita yang biasanya malam bertengkar, pagi sudah sarapan bersama lagi.

Tapi sepertinya tidak ada yang bisa mengubah pemikiranmu. Ya sudah, aku jalani saja.

Pertemuan pertama, tidak ada yang banyak dibahas, hanya kita saling menyalahkan. Sama-sama keras. Sampai konsultan pernikahan harus menenangkan kita. Pergi bersama, kita pulang terpisah, kamu naik taksi meski aku sudah merelakan aku yang naik taksi saja. Kamu tetap tidak peduli.

Pertemuan kedua, kita masih saling ngotot membenarkan diri sendiri. Aku sempat marah. Konsultan itu akhirnya menyerah. "Ya sudah," katanya, "Kalian pulang saja. Besok datang lagi kemari, dan itu yang terakhir kali. Nanti sepulang dari sini, kalian tulislah apa yang ingin kalian ubah dari pasangan kalian. Kita lihat besok, kalau dari catatan itu, terlalu berat untuk saling berubah, ya sudah, saya pasrahkan pada kalian. Saya nyerah."

Kita pulang, masih terpisah, bedanya, kamu pulang ke rumah orangtuamu.

Semalaman aku tidak bisa tidur. Entah berapa kertas sudah kuremas. Aku menulis, tidak ingin kamu keras kepala. Lalu aku ingat, kamu dulu pun juga sudah pernah, ah tidak juga, justru kamu sering mengalah, buktinya kamu menyelimutiku dan memasakkanku. Itu yang aku remas dan buang kertasnya.

Kemudian aku ganti menulis ingin kamu menghargai suamimu. Aku diam sejenak, teringat, dulu, sebelum kita menikah, gadis secantik kamu, mau terus-terusan kuajak makan di pinggir jalan. Bahkan beberapa bulan di awal pernikahan kita, kamu dengan berbesar hati menerima tinggal di kontrakan rumah kecil. Itu pun sebagian memakai uangmu. Aku kembali meremas kertas itu dan membuangnya. 

Setelah itu masih ada beberapa kertas lagi, tapi terus menerus aku teringat betapa baiknya kamu.

Akhirnya, kuputuskan untuk tetap menulis. Aku membulatkan tekadku. Keadaan seperti ini harus berubah. Aku tidak ingin terus seperti ini. Lalu aku menulis. Tidak apa. Kamu harus menerimanya. Kamu harus tahu apa yang kamu inginkan.

Pertemuan ketiga dengan konsultan. Aku lihat kamu mengeluarkan kertas dari tasmu. Menyerahkan ke konsultan. Mukamu masam. Dari tadi hanya salaman denganku, itupun tidak mencium tanganku. Sudah berulang kali seperti itu.

Aku juga menyerahkan kertasku ke konsultan.

Konsultan itu membaca kertas-kertasmu. Ada tiga lembar kalau tidak salah. Dia tersenyum. Menaruh kertas darimu di sampingnya.

Dia lalu membaca juga kertas dariku. Sangat cepat. Hanya saja, konsultan itu langsung terdiam. Aku lihat matanya berair. Dia membaca berulang. Dia mengusap air matanya.

Kamu kebingungan. Mukamu memerah, melotot ke arahku. Sepertinya kamu marah.

Kamu merebut kertas dari konsultan itu, tidak sabar ingin segera tahu. Membacanya, dan pemandangan serupa terjadi lagi. Kamu menutup mulutmu, matamu berkaca-kaca. Membaca kertas itu lagi dan memandangku berulang.

Tiba-tiba kamu menghambur memelukku sambil sesenggukan menangis.

Aku diam. Balas memelukmu. Erat. Sepertinya tidak pernah kita berpelukan seperti ini.

"Boleh aku membaca kertas-kertas darimu?" kataku setelah kita saling melepas pelukan.

Kamu mengambil kertas-kertasmu dari meja konsultan, meremasnya dan memasukkan ke tas.

"Sudah tidak penting lagi," kamu kembali memelukku.

"Mulai sekarang, kita akan membicarakan segala sesuatunya berdua," katamu lagi. Aku tersenyum. Ini salah satu hari terbahagiaku.

Aku ingat, malam itu aku hanya menulis,
"Sayang, aku menulis beberapa, tapi aku ingat, bahwa aku mencintaimu. Itu saja. Aku menerimamu seperti adanya kamu. Dulu, sekarang, sampai kita berdua tua renta nanti.

Tapi kalau boleh aku meminta, boleh aku meminta satu hal saja? Dalam keadaan apa pun, di mana pun, aku ingin kamu bahagia. Bisa?" 
Itu saja.

Oh, ya? Berarti sekarang, kita bisa kembali ke taman kanak-kanak kita lagi, bukan? 


3 komentar:

Alien Tampan mengatakan...

Wah. Kunjungan perdana ini. Keren tulisannya :)

fauziyah mengatakan...

ikutan nangis sesenggukan, :')

Uzay ^,^ mengatakan...

Speecsless..