Rabu, 29 Februari 2012

Mulai Sekarang, Hatiku Sudah Bisa Menjadi Rumahmu?


Kamu masih cantik, seperti dulu. Tidak banyak berubah. Lihat rambutmu, masih hitam. Sangat terawat. Kulitmu pun demikian, masih terawat meski sekarang lebih pucat. 

Aku mencintaimu, sangat. Sudah tampak saat pertama kali kamu kulihat. Di sana, di sebuah restoran kecil. Kamu mencolok sekali di antara teman-temanmu. Tidak, bukan berarti aku mengatakan ketiga temanmu tidak cantik. Oh, tentu, mereka juga cantik. Hanya saja, entah kenapa kamu yang paling menarik perhatianku. Kamu pasti pernah merasakan kamu melihat hal yang semuanya hampir mirip, tapi tetap satu yang menarik perhatianmu, bukan? Nah, seperti itu yang kurasakan saat itu.

Aku masih ingat detail tentangmu. Dengan sepatu berhak sedang, dress warna hitam, jam tangan juga hitam, bahkan tasmu pun hitam. Semakin menambah kontras dengan warna kulitmu yang putih. 

Tahu apa yang menarik perhatianku? Mungkin karena tawamu ketika itu. Lepas. Riang. Dengan mata berbinar. Ah, menarik sekali. 

Sebelumnya, aku tidak pernah berani mendekati seorang gadis pun. Aku ini introvert dan pemalu. Tapi entah kenapa ketika itu, aku punya nyali sangat tinggi. Sehingga ketika kamu sedang mencuci tangan, aku menghampirimu, mengajakmu sedikit berbincang, dengan dada gemetar tentunya, dan mengajakmu berkenalan. Tahukah kamu, itu pertama kali aku mengajak berkenalan seorang gadis, dan belum pernah lagi sampai sekarang. Temanku sampai berkata, rekor!

Entah bagaimana, semakin lama, intensitas kita bertukar sapa melalui pesan telepon, microblogging, atau bahkan ketemuan meningkat. Banyak sekali cerita untuk dijabarkan satu-satu. Tapi singkatnya, aku jatuh cinta.

Kurang lebih setahun setelah perkenalan itu, aku melamarmu, dan kamu menerima lamaran itu. Ah, itu salah satu hari paling membahagiakanku. Meskipun kita jarang bertemu, tapi setidaknya sekali dalam dua minggu kita bertemu. Sebentar, sekadar makan malam atau menonton film, lalu pulang. Tidak banyak berbincang.
Entah kenapa intensitas kita dalam bertegur sapa melalui pesan ataupun microblogging sangat jauh berkurang. Kamu menjawab pesanku juga kadang pagi kukirim pesan, malam baru kamu jawab. Kalaupun kutelpon, jawabmu sering singkat. Ah, semua berubah. Kata orangtuamu juga bahkan kamu jarang pulang ke rumah. 

Benarkah? Bahkan jarang pulang ke rumah?

Aku sering menanyakanmu tentang itu, dan jawabanmu selalu tidur di rumah teman. Aku percaya.
Belakangan, aku tahu, dengan mataku sendiri. Tidak sengaja memang. Aku hanya menuju ke kontrakan seorang teman. Sebelum sampai rumah temanku, beberapa blok dari sana, aku melihatmu. Keluar dari sebuah rumah dengan dua orang lelaki. Kamu sedang merapikan kancing bajumu yang sepertinya sedang terbuka. 

Aku meminta sopir taksi memperlambat laju mobil, dan berhenti agak jauh, tapi masih terlihat. Seorang lelaki mencium lehermu, dan seorang lagi memeluk pinggangmu dan memasukkanmu ke mobil. 

Pernahkah kamu merasa nyeri, sayangku? Nyeri yang senyeri-nyerinya? Kalau belum, coba sekarang kamu sebentar saja menjadi aku. Aku sedang merasakannya. Rasanya seperti terbakar. Ah tidak, lebih seperti jantungku sedang diremas kekuatan terkutuk. Ah, bukan juga. Lebih sakit dari itu. Entahlah.

Aku diam saja di kursi belakang taksi. Setengah gemetaran. Mataku terasa panas, seperti ada air yang memaksa keluar. Tapi aku berhasil memaksanya untuk tidak keluar. Sudahkah kubilang aku gemetaran? Kalau sudah pun biar aku mengatakannya lagi. Karena gemetarku dua kali lipat sekarang. Aku sampai mencengkeram kursiku.

Kamu tahu, itu pemandangan paling pahit yang aku pernah lihat. Jika ada yang bertanya kenapa aku tidak mengejarmu ketika itu atau mengikutimu, aku tidak tahu. Sumpah aku tidak tahu. Pikiranku kosong. Nalarku dikalahkan oleh sesuatu yang menyesak hebat di dadaku. Bahkan sampai di rumah temanku aku permisi ke kamar mandi. Berjongkok di pojok kamar mandi, memegangi kepalaku, dan aku tidak ingin melakukannya, sumpah, tapi airmataku keluar begitu saja. Aku menangis. Masih dengan badan yang setengah gemetaran.

Setelah agak reda, aku keluar, permisi ke teras belakang dan meneleponmu. Kamu mengangkatnya agak lama. Aku sampai tidak bisa membayangkan apa yang sedang kamu lakukan di mobil itu. Tapi begitu kamu angkat, aku hanya mengatakan, “Aku beberapa menit tadi melihatmu.”

Hening. Tidak ada suara, dariku atau dari kamu. Sepertinya kamu paham maksudku. Lalu telepon ditutup begitu saja.

Aku langsung pulang ketika itu. Temanku sampai kebingungan ada apa.

Sejak itu, hubungan kita benar-benar merenggang. Semua rencana kita juga berantakan. Orangtuaku dan orangtuamu sering menanyakan kepadaku kelanjutan dari acara lamar melamar kemarin. Aku sering member alasan kita berdua sedang sibuk. Secepatnya akan dilanjutkan. Begitu yang kamu suruh aku untuk mengatakan kepada mereka bukan? Lewat sms itu.

Sudah dua bulan sejak itu, dan kamu bahkan sudah sebulan tidak pulang ke rumah. Ibumu sering meneleponku apakah sedang bersama aku? Aku menjawab tidak. Apakah kamu ijin kepada mereka pergi denganku? Aku tidak bisa berbohong kepada seorang ibu, ibu siapa pun itu. Apalagi beliau adalah ibumu. Aku beralasan mungkin urusan pekerjaan. Ibumu pun mengatakan memang ijinnya begitu. Syukurlah kamu tidak membawa namaku.

Tiba-tiba, kemarin aku mendapat telepon dari rumah sakit yang mengatakan bahwa kamu di sana. Dan kamu meminta rumah sakit untuk meneleponku. Aku bergegas ke sana secepat aku bisa. Aku keluar dan berlari sekencang mungkin ketika taksiku terjebak kemacetan. Berlari dan berlari sampai nafasku terengah dan semua orang melihatku.

Begitu sampai ke jalan yang agak lancar, aku memanggil taksi lagi sampai ke rumah sakit. Lagi, aku berlari bertanya ke sana kemari seperti orang panik yang gila dengan wajah berkeringat dan pucat. Untunglah, khirnya aku menemukanmu di Instalasi Gawat Darurat.

Aku terpaku. Melihatmu terbujur begitu saja di kasur. 

Seorang suster membawakanku air minum dan beberapa tisu. Mungkin dia kasihan melihatku keringatan dengan nafas terengah-engah. Aku melakukan apa yang harus dilakukan. Menandatangi semua hal dan menyewakan sebuah kamar. Aku minta yang terbaik. Besok, mungkin aku harus menjual motor baru kesayanganku jika biayanya tidak cukup. Tidak apa. Semoga tabunganku cukup. Acara melamar kamu kemarin lumayan menguras tabungan, tapi aku memang ingin terbaik. Ah, semoga benar-benar cukup.

Pagi ini, kamu masih tidur. Masih sangat cantik. Aku terjaga semalaman memandangimu, siapa tahu kamu akan terbangun.

Dan ketika kamu terbangun, kamu hanya melihatku yang sedang tersenyum dan membelai rambutmu. Aku lega sekali.

Ada jeda di sana. Beberapa saat, tapi entah, rasanya terlalu lama kalau disebut jeda. Tapi kenyataannya jedanya memang hanya beberapa kedipan mata. 

Tiba-tiba air matamu keluar. Menetes pelan. Satu. Lalu menetes lagi. Dua. Akhirnya semuanya tumpah. Airmatamu deras. Kamu menangis sesenggukan. Aku pun begitu. 

Aku langsung memeluk kepalamu. Tidak mengapa meski sambil menangis. Kedua tubuh kita sampai gemetar karena sama-sama sesenggukan.

Begitu kamu mau mengeluarkan suara setelah melepas pelukan, aku mencegahmu dengan menaruh satu jariku ke bibirmu.

“Tidak apa, aku sudah tahu semuanya,” kataku.

Tadi malam, suster menjelaskan kepadaku bahwa kamu overdosis. Aku pun menangis ketika melihat banyak bekas suntikan di lengan dan bagian tengah tanganmu. Lebih menangis lagi ketika cek darahnya selesai. Aku sampai lagi-lagi terduduk di pojok kamar rumah sakit. Memandangimu dari jauh. Tes darahnya mengatakan kamu positif terkena HIV.

Aku lemah. Lemah sekali. Sampai untuk beberapa waktu aku masih terduduk di situ nyaris semalaman.
Tadi malam aku juga mengecek tas dan hp kamu. Ada banyak foto yang menjelaskan aktivitasmu selama ini. Memang tidak ada foto yang aneh-aneh ataupun ketika kamu melakukan penyuntikan, tapi ada banyak foto di sana sedang di nightclub. Laki-laki dan gadis temanmu sering berbeda. Sesuatu meremas jantungku lagi malam itu. Lebih kencang dan lebih sakit dari yang dulu. Tapi, setidaknya aku lega melihat kamu sudah terbangun. 

Aku belum menghubungi siapa pun. Aku tahu, kamu pasti takut dan malu dengan orangtuamu. Entah kapan aku akan menghubungi mereka. Biar sementara aku saja yang tahu. Biar aku saja yang menjagamu.

Kamu masih menangis tergugu sambil menutup mukamu. Aku masih membelai rambutmu mencoba menenangkanmu.

“Tidak apa, sayangku. Mulai sekarang, kamu akan baik-baik saja di sini, bersamaku. Aku akan menjagamu sepanjang aku bisa. Selelah-lelahnya, semalam-malamnya. Aku akan tertawa bersamamu, menangis bersamamu. Kita akan melewatinya bersama,” bisikku.

Kamu semakin menangis tergugu.

Ah, sayang. Kamu tidak tahu. Aku, selalu menyiapkan hatiku untukmu. Hatiku akan selalu siap sebagai rumahmu yang sebenarnya. Tempat kamu merasakan kenyamanan, kehangatan, dan kasih sayang. Setelah sekian lama kamu hilang, akhirnya kamu kembali. Lupakan saja semuanya, sayang. Aku tidak peduli apa yang kamu lakukan dengan para lelaki itu. Lupakan. Sekarang, kamu sudah pulang ke rumahmu, hatiku. Tidak mengapa. Apa pun keadaanmu, aku akan menerima. 

Dan karena kamu sudah kembali ke rumahmu, kita teruskan sesuatu yang belum selesai. Pernikahan kita. Kita bisa menjaga apa yang terjadi sekarang ini menjadi tetap rahasia, bukan?

Aku terus berkata sendiri dalam hati. Pada suatu saatnya nanti, ketika kamu sudah tidak menangis lagi, dan sudah tenang, juga bisa menerima hatiku sebagai rumahmu, aku akan mengatakannya langsung. Kamu akan menerimanya kan, sayang? Aku berjanji akan membuatmu bahagia. Aku berjanji akan mencintaimu sepanjang sisa hidupmu. Ah tidak, aku berjanji mencintaimu sepanjang sisa hidupku, seberapa lama pun itu.

Mulai sekarang, kita berdua akan bersama, bukan? Kamu tidak akan pergi lagi, kan?







21 komentar:

Ditter mengatakan...

Wuih, sedih banget, Mas. hehe....

Rajin banget lho, nulis cerita sepanjang ini... Mantap. Sukses terus, Mas!

Sarahdyahayu mengatakan...

Ah... Ini sangat mengharukan :') sebuah tulisan yang tak dapat aku prediksi akhirnya akan seperti ini. sungguh sebuah kisah cinta yang.... #speechless (y)

namarappuccino mengatakan...

@Mas Adit: hehehe. suka fiksi soalnya mas.

@Dek Sarah: ah, dibaca lagi oleh dek Sarah. terimakasih *salim*

Kiky Saky mengatakan...

sedih # ngelap ingus...

Jarang banget ditemukan sosok AKU dalam kehidupan nyata...

alsysloves mengatakan...

hiiiks, sedihnyaaa, #berkaca2,

Happy Fibi Ananda ❤ mengatakan...

Paling nyesek pas bagian 'AKU' liat si cewek dengan cow. lain.. Bneran fiksi yg kyknya dapet banget, mas :)..
Ditunggu kisah lanjutan dari cerpen ini, ya :)..

Mifta Chaliq mengatakan...

aargghhh you did it again, haru tapi kesel ehehhe

ila mengatakan...

demi ya ka namaraaa, keren banget deh kaaaa :)
Ka, kenapa gak buat buku aja, ka? Tulisanmu itu rapi banget tiap kata paragrafnyaa

putrijeruk mengatakan...

baguuuus nih tapi sedih :(
si cowok kelewatan nih baiknya..

F u n y mengatakan...

"Pernahkah kamu merasa nyeri, sayangku? Nyeri yang senyeri-nyerinya? Kalau belum, coba sekarang kamu sebentar saja menjadi aku. Aku sedang merasakannya. Rasanya seperti terbakar. Ah tidak, lebih seperti jantungku sedang diremas kekuatan terkutuk. Ah, bukan juga. Lebih sakit dari itu. Entahlah"

^is it Love?
i feel it too :)


"Pagi ini, kamu masih tidur. Masih sangat cantik. Aku terjaga semalaman memandangimu, siapa tahu kamu akan terbangun.

Dan ketika kamu terbangun, kamu hanya melihatku yang sedang tersenyum dan membelai rambutmu. Aku lega sekali.

Ada jeda di sana. Beberapa saat, tapi entah, rasanya terlalu lama kalau disebut jeda. Tapi kenyataannya jedanya memang hanya beberapa kedipan mata.

Tiba-tiba air matamu keluar. Menetes pelan. Satu. Lalu menetes lagi. Dua. Akhirnya semuanya tumpah. Airmatamu deras. Kamu menangis sesenggukan. Aku pun begitu.

Aku langsung memeluk kepalamu. Tidak mengapa meski sambil menangis. Kedua tubuh kita sampai gemetar karena sama-sama sesenggukan.

Begitu kamu mau mengeluarkan suara setelah melepas pelukan, aku mencegahmu dengan menaruh satu jariku ke bibirmu"

beneran sweet banget kak. yang kebayang cuma film korea hehehe. aaaah kak namara, kece banget tulisanmu, walau aku ga terlalu suka yang romance2 gt, tapi melting juga. aaaaah :3

Ririe Khayan mengatakan...

Mencintai tanpa syarat dan ketentuan ya..

Rosa Al-Rosyid mengatakan...

terlepas dari saya punya hak ato tidak, saya orang yang paling nggak rela mereka akhirnya bersama!

Aiinizza anggriani mengatakan...

walah kak ara... haduhh ngambil tissue dulu...
super deh kalau ada pria kek gitu..

T A N G A N K A N A N mengatakan...

>.< iihhh Tanggung jawab!!! bkin mataku basah dikantor, dan celakanya adalah disaksikan beberapa rekan kantorku T.T #pukul2lenganmu

Vika Etiana mengatakan...

gilak kapan aku bisa nulis kayak mas ini yah T.T

Nur Lailatuz Zahra mengatakan...

ini so sweet banget :D
maaf ya kalau nati saya bakal asering-sering mampir ke sini buat baca cerita semacam ini lagi :)

Tiesa mengatakan...

akhirnya bisa juga mendarat di sini setelah ganti browser *niat!*

begitu sampai disuguhi cerita yang menyedihkan dan mengesalkan pulak. perempuan bodoh dan lakilaki bodoh, sungguh serasi T.T

nonasan mengatakan...

Haaaa nahan nafas bacanya. Suka banget :'D

namarappuccino mengatakan...

@Kiky: Sebenarnya ada. Banyak. Kadang kita terpengaruh dengan kerupawanan saja sehingga melupakan yang di dalamnya. :)

@Alsy: Maaf. :D

@Happy: Kelanjutannya? hmmm :)

@Mifta: :D So sorry, dear. :D

namarappuccino mengatakan...

@ila: Doain saja ya dek. :D Tapi sedang sibuk nulis buku lain. T_T

@Putrijeruk: Believe it or not, selalu ada orang seperti dia. Laki atau perempuan. Tapi selalu ada. :)

@Funy: Hehhe aku nulisnya juga sambil membayangkan soalnya dek. :D

@Ririe: Ririiii so sorry belum bisa blog walking. Blog ini aja belum keurus. Gak ada postingan baru. T_T Yang lama kutaruh di yang tanggal baru.

@Aii: Tapi ada kok dek. :D

namarappuccino mengatakan...

@Tangankanan: :D Maaf. *kasih tisu*

@Vika: Pasti bisa lebih dari ini dek. Practice makes perfect. :)

@Rosa: Hehehe. Mungkin aku juga sama. Tidak rela. :) Tapi jika dua-duanya memang menginginkan, aku akan merelakan. :)

@Nur: Tentu saja malah senang. :)

@Nonasan: Selamat datang di sini. :) Semoga takaran 'kopi, gula dan air panasnya' pas. :)