Kamis, 02 Februari 2012

Posesif

Sampai umurnya yang sudah menginjak dua puluh lima tahun ini, hidupnya berjalan sangat biasa. Membosankan! Pergi, pulang, tidur, makan. Begitu saja, berulang setiap hari. Mungkin kadang sedikit bersenang-senang, tetapi hanya kesenangan semu sementara, seperti pesta, nonton dan sebagainya. Hal itu, jujur, tak bisa membuatnya bahagia.

Tetapi jangan salah paham, sudah belasan, mungkin puluhan lelaki yang mencoba merayu untuk menjadikannya kekasih maupun istri. Ada yang setampan Tom Cruise, ada yang milyarder, pejabat, om-om, pemuda seukurannya, pemuda yang lebih muda darinya, bahkan kakek-kakek. Menggelikan bukan? Bayangkan kecantikannya sampai para lelaki itu berkorban mati-matian. Nihil! Tak ada yang berhasil. Atau setidaknya belum untuk saat ini.


Sundarti namanya. Mungkin nama itu memang agak kedesaan, tetapi kecantikannya eksotik. Sukar ditangkap imajinasi. Itulah yang menggoda para lelaki untuk memilikinya. Bahkan pernah ada seorang perempuan yang ingin menjadi kekasihnya, tergila-gila! Tetapi Sundarti mencak-mencak. Menjijikkan! Dia normal. Mendamba seorang laki-laki impian.

Sebenarnya dia tak mengharapkan sosok yang sempurna, karena dia juga tahu bahwa tak ada yang sempurna di dunia ini, apalagi sesosok makhluk yang bernama lelaki. Tidak mungkin!

Tampan? Mungkin. Sesuai dengan kecantikannya. Kaya? Boleh juga. Lumayan sebagai jaminan hidup ke depan. Tapi yang penting baginya hanyalah seorang lelaki yang baik. Itu saja. Tidak lebih, tidak kurang. Tetapi sepertinya sulit sekali ditemukan. Biasanya kebaikan para lelaki itu ada maksudnya. Yah, tentu saja, kecantikan dan keelokan tubuhnya, apa lagi?

Sampai suatu ketika, di sebuah pagi, dia melihatnya. Benar-benar melihatnya. Sampai mengucek mata berkali-kali, mungkin salah lihat, batinnya. Tetapi berulang kali mengucek matanya, tetap sama. Laki-laki itu nyata!

Mencolok sekali di antara kerumunan manusia itu. Pagi itu memang terjadi sebuah kecelakaan. Cukup keras suaranya. Dan di antara kerumunan penolong itu, laki-laki itu di sana. Dengan pakaian serba putih.

Maka Sundartipun segera berlari menuruni tangga apartemennya, sebelum dia hilang. Terengah-engah dia terus menuruni tangga secepat mungkin. Terlambat! Sampai di sana, korban yang ternyata seorang ibu itu sudah masuk mobil ambulan. Dan laki-laki yang misterius itu sudah tak ada lagi di antara kerumunan.
Sundarti menyesal sekali. Seharusnya larinya lebih cepat!

*****

Kejadian pagi itu terus mengendap di memori Sundarti. Kerinduan menjelma menjadi keinginan untuk bertemu lagi. Semoga. Laki-laki itu benar-benar menyita waktunya. Selalu datang melalui angan-angan dan mimpi. Sundarti sampai tersiksa karenanya.

Tepat seminggu kemudian, Sundarti melihat laki-laki itu lagi. Kembali mengucek mata. Itu benar-benar dia! Tepat di sana, di seberang jalan! Laki-laki itu sedang memandu seorang buta menyeberang jalan.

Sundarti menginjak remnya secara mendadak hingga berhenti di tengah jalan yang cukup padat. Dia tak berpikir apa pun. Pokoknya hanya laki-laki itu yang diinginkannya. Sundarti lalu turun untuk menghampiri laki-laki yang lagi-lagi berpakaian serba putih itu.

Pengemudi mobil di belakangnya berteriak memaki Sundarti. Seorang laki-laki setengah baya yang bertampang sadis. Tetapi Sundarti hanya melihatnya sekilas dan berlari menyeberang jalan. Dia tak mau kehilangan laki-laki baik itu. Bunyi bel-bel mobil yang memekak tak karuan tidak digubrisnya sama sekali. Dia hanya berlari dan berlari. Itu saja. Peduli apa dengan mobil-mobil itu!

Sundarti sampai di tempat orang buta dengan terengah-engah. Laki-laki itu tidak ada lagi. Ah, sekali lagi dia terlambat. Sekali lagi larinya kurang cepat. Sial!

“Pak di mana laki-laki itu?” tanya Sundarti dengan nafas masih terengah.

“Laki-laki? Laki-laki yang mana?”

“Yang mengantar bapak menyeberang tadi!?”

“Loh, dia laki-laki? Aku kira perempuan, soalnya parfumnya wangi sekali.”

Sundarti mendengus kesal. Sia-sia berbicara dengan orang buta! Dia mengedarkan pandangan ke sekeliling jalan. Tetap nihil. Tak ada laki-laki itu. Malah dia melihat lalu lintas menjadi kacau karena ulahnya. Dia kembali ke mobilnya dengan kesal. Makian atau suitan menggoda dari pengemudi lain tak dihiraukannya. Langsung tancap gas.

*****

Berhari-hari Sundarti tidak bisa tidur sejak pertemuan yang kedua itu. Susah makan juga. Dia tak bisa berhenti memikirkan laki-laki itu. Sombong sekali! Datang dan pergi sesuka hati! Pekerjaan kantornya menjadi agak terbengkalai. Berkali-kali bosnya yang tua itu memanggilnya. Ah, kupikir tidak hari-hari ini saja. Bos yang bermata jalang itu juga sering memanggilnya selama ini. Dengan alasan macam-macam. Tetapi entah mengapa bosnya bertingkah agak aneh belakangan ini. Kadang-kadang mengunci pintu ruangannya dan duduk di meja berhadapan tepat dengan Sundarti. Kadang-kadang menepuk-nepuk bahu Sundarti dnegan nasehat-nasehat tentang pekerjaan. Sundarti mendengus. Alasan! Mau cari kesempatan kan?

Lama-lama Sundarti mulai bosan di kantor. Bosan dengan tatapan menjijikkan bosnya, bosan dengan rekan-rekan kantornya yang kebanyakan laki-laki, yang selalu mencuri pandang rok pendeknya, bosan dengan lirikan kebencian rekan-rekannya yang perempuan. Semuanya terasa memuakkan. Dia harus pergi dari sini!

Dia menuju kantin, dimana bisa bebas untuk sementara. Yah, untuk sementara saja. Toh setelah ini dia harus ke kantor lagi.

Kantin tersebut tepat menghadap jalan raya dengan kaca tembus pandang yang sangat lebar. Dan, hei! Dia melihat laki-laki itu!

Laki-laki itu hanya sekitar dua puluh meter darinya, sedang duduk bersandar di kursi pinggir jalan. Mengawasi satu tempat dengan tatapan tajam.

Sundarti terpekik kegirangan. Baru kali ini dia bisa melihatnya sedekat ini. Wajahnya terlihat sangat jelas. Seperti bersinar. Alisnya lebat. Kedua matanya tajam. Dan rambutnya yang lurus agak berombak benar-benar gelap. Kontras dengan kulitnya yang putih. Apalagi dengan pakaiannya yang sepertinya tidak mempunyai persediaan lain selain warna putih.

Tak mau membuang waktu, Sundarti segera menghabiskan kopinya dan keluar dari kantin. Kali ini harapannya sungguh besar. Sangat besar. Karena ini pertama kalinya dia bisa sedekat ini dengan laki-laki itu.

Tiba-tiba seorang perempuan tua menjerit karena kehilangan tasnya. Bersamaan dengan itu, seorang pemuda berjaket hitam berlari ketakutan tepat ke arah laki-laki misterius itu, bermaksud lari ke seberang jalan.

DUG!

Penjambret itu tersungkur. Sundarti melihatnya. Laki-laki pujaannya itu yang menjegalnya.

Lalu orang-orang beramai-ramai mengerubuti pemuda itu dan menangkapnya. Sekali lagi, laki-laki itu menjadi pahlawan di mata Sundarti. Dia semakin menyukainya. Semakin menginginkannya. Andai saja laki-laki itu menjadi milikku seorang, sungguh menyenangkan, batin Sundarti.

Seperti tersadar, Sundarti berlari dan menyibak kerumunan. Matanya nyalang mencari laki-laki itu. Tidak ada! Benar-benar tidak ada! Dia segera menyibak lagi kerumunan tersebut untuk keluar dari sana. Pasti belum jauh.

Matanya nyalang lagi mencari, seperti elang. Bukan, seperti ular. Dan dilihatnya seseorang berjalan dengan tenang ke gang yang lebih sempit. Sundarti berlari mengejarnya. Kali ini harus! Harus tahu di mana dia tinggal! Dia tak berharap untuk menemui pemuda itu dulu. Yang penting tahu tempat tinggalnya dulu. Kalau sudah tahu, bukankah semuanya lebih mudah?

Sundarti berjalan beberapa belas meter di belakang laki-laki itu. Mengendap. Semoga laki-laki itu tidak mengetahui bahwa dia sedang diikuti.

Di sebuah gang kecil, laki-laki itu membelok. Sundarti tetap mengikutinya dan bersembunyi tepat di belakang tembok sebelum belokan. Laki-laki itu melihat ke belakang, seolah-olah takut ada yang mengikutinya. Tak ada siapa pun.

Hati Sundarti berdebar. Apakah di gang sempit ini dia tinggal? Sundarti mengintip perlahan. Matanya terbelalak. Mulutnya melongo. Dia seperti tak percaya dengan penglihatannya.

Ini pasti tidak nyata! Berulang kali dia bergumam. Tetapi berulang kali pula matanya meyakinkan bahwa itu memang nyata.

Saat Sundarti mengintip tadi, tiba-tiba dari balik punggung laki-laki itu keluar sepasang sayap. Pelan. Sangat pelan. Merobek pakaian belakangnya, lalu sayap tersebut terus melebar. Sepasang sayap putih dan halus. Lebih halus dari sayap merpati. Ukuran masing-masingnya sebesar manusia dewasa. Sesaat kemudian sayap itu mengepak sampai wajah Sundarti seperti di terpa angin kencang. Laki-laki itu memandang langit, dan perlahan tubuhnya terangkat sedikit demi sedikit. Semakin tinggi dan tinggi. Lalu hilang.

Sundarti masih termangu. Matanya terus melotot. Nafasnya memburu. Makhluk apa itu? Siapa dia?

*****


Disandarkan punggungnya ke tembok pelan. Mengatur nafas lalu meninggalkan tempat itu. Kadang dia menggelengkan kepala pelan dan bergumam entah apa.

Sundarti bermimpi lagi. Hampir setiap hari sejak peristiwa itu dia terus bermimpi. Matanya merah. Wajahnya agak kusut. Pekerjaannya cukup kacau. Hal itu makin membuat bosnya sering memanggil Sundarti untuk menghadap. Bosnya mencoba mengambil kesempatan lagi dengan menepuk bahu Sundarti berulang dan wajahnya semakin mendekat. Tetapi kali ini Sundarti menghindar. Dia mendesis dan melotot. Tatapannya seperti berkata, ‘Jangan ganggu aku!’ atau ‘Tinggalkan aku sendiri!’. Lalu Sundarti pergi dari ruangan itu meninggalkan bosnya yang melongo. Dibantingnya pintu sampai membuat rekan-rekannya keheranan.

Dia membolos sejak itu dan mengendarai mobil tanpa tujuan. Hanya pergi. Itu saja keinginannya. Lepas dari semuanya. Mungkin lepas dari hidupnya juga.

Entah kebetulan, entah bukan, Sundarti melihat laki-laki itu lagi. Berjalan dengan tenang meninggalkan kerumunan di belakangnya. Apa lagi yang dia lakukan kali ini?

Lagi-lagi Sundarti menghentikan mobilnya mendadak. Untungnya kali ini jalanan cukup sepi, dan dia sempat menepi terlebih dahulu. Dia berlari ke bagasi dan mengambil sesuatu yang panjang dan terbungkus kertas koran. Entah apa. Lalu dia berlari mengejar laki-laki itu. Harus terjadi! Harus!

Laki-laki itu berkelok ke jalan sempit. Sundarti masih menguntitnya dan berhenti sebelum kelokan. Laki-laki itu kembali menengok ke belakang, memastikan tak ada orang yang melihatnya. Saat sepasang sayap keluar lagi perlahan dari punggungnya, tiba-tiba Sundarti berlari kearah laki-laki itu dan …

CRASH! Darah muncrat!

CRASH! Sekali lagi benda yang dibawa Sundarti, yang ternyata sebuah pedang itu menebas begitu saja.

Laki-laki itu mengerang. ARGH! Wajahnya kesakitan. Dia terjatuh. Matanya berkunang-kunang. Punggungnya terasa sakit. Sundarti menyerang dari belakang. Laki-laki itu tergolek lemah. Dia melihat sepasang sayapnya putus. Rupanya Sundarti memotong keduanya. Lalu semua hitam.

*****


Laki-laki itu terbangun. Punggungnya masih terasa nyeri. Matanya mengerjap. Dia berada di sebuah ruang gelap dan pengap. Di mana ini?

“SAYAPKU! SAYAPKU!” Tiba-tiba dia berteriak.

Dia menjerit berulang sampai lemas, lalu disandarkan punggungnya ke tembok. Dia meringis sebentar menahan sakit.

Suara langkah kaki. Laki-laki itu menjamkan telinganya. Ada yang datang!

Pintu terbuka pelan. Laki-laki itu merasa matanya terluka oleh cahaya yang tiba-tiba masuk. Terasa menyilaukan. Sangat menyilaukan. Seorang perempuan berdiri di sana. Cantik sekali! Berkulit putih, berambut hitam. Matanya yang bening mengerjap berulang. Perempuan itu tersenyum.

“Siapa kamu?” kata laki-laki itu serak. Nyeri di punggungnya masih agak terasa.

“Aku Sundarti. Dan kamu adalah kekasihku.” Kata perempuan itu tersenyum jenaka.

Laki-laki itu terbelalak tak percaya. Jadi, perempuan ini yang memotong sayapnya?

“Kenapa kau memotong sayapku?”

“Seharusnya aku dulu yang bertanya. Kenapa kau mempunyai sayap? Siapa kamu?”

“Aku tidak bisa mengatakannya kepadamu?”

“Kenapa?”

“Karena rahasia.”

“Baik. Kalau begitu, kamu harus tinggal di sini selamanya. Oke?” Sundarti tersenyum lalu bermaksud keluar.

“Tunggu!” Cegah laki-laki itu. “Aku ini … an Angel.”

Sundarti menatap lagi laki-laki yang sedang bersandar itu. Dia tidak kaget. Dia sudah menduganya ketika melihat laki-laki itu mengeluarkan sayap untuk pertama kalinya.

“Malaikat? Lalu kenapa orang-orang bisa melihatmu? Termasuk aku?”

Laki-laki itu menggeleng. “Tidak mungkin orang-orang itu melihatku. Tetapi entah kenapa kamu bisa melihatku.”

“Tetapi aku sudah melihatmu tiga kali!” Sundarti bersikeras. “Waktu kecelakaan itu, lalu waktu kamu menyeberangkan orang buta dan waktu kamu menjegal penjambret itu.”

Laki-laki itu mendesis. Jadi perempuan ini sudah melihatnya sebanyak itu?

“Mereka tidak melihatku. Tugasku adalah menyelamatkan orang yang seharusnya belum mati. Seperti korban kecelakaan itu. Dan laki-laki buta itu, kalau tidak kuseberangkan, seharusnya ada seorang gadis yang menyeberangkannya. Dan kalau itu terjadi, pria buta itu akan ditabrak sebuah mobil.”

“Jadi itu tugasmu? Lalu penjambret itu? Kamu yang menangkapnya kan?”

“Aku tidak bermaksud menangkapnya. Aku hanya mencegahnya menyeberang jalan. Karena akan ada sebuah bis dengan kecepatan tinggi. Padahal waktu itu belum saatnya mati. Jadi aku menjegalnya agar dia selamat.”

“Jadi benar kalau mereka bisa melihatmu bukan?”

“Tidak. Tidak sama sekali. Ibu yang kecelakaan itu, sepersekian detik setelah kecelakaan, aku yang memberi nafas bantuan sampai ada orang yang menggantikanku hingga dia selamat. Semuanya tidak melihatku. Lalu pria buta itu, kamu lupa ya? Dia kan buta?! Dia hanya merasakan sentuhan kulitku. Dan penjambret itu, dia tidak melihatku. Dia pasti hanya merasa seperti tersandung sebuah batu atau semacamnya.” Laki-laki itu meringis lagi.

“Kenapa kau memotong sayapku?” Laki-laki itu berkata lirih. Matanya mengiba akan sebuah jawaban.

Sundarti mengangguk ringan. “Bukankah sudah aku bilang, kau sekarang kekasihku. Aku ingin kau selalu bersamaku.”

Laki-laki itu ternganga. “Tetapi kenapa?”

“Aku tak tahu. Aku hanya ingin kau selalu di sini. Aku tak ingin kau pergi dariku. Itu saja. Sudah! Jangan bertanya lagi!”

“Tapi aku malaikat dan kamu manusia.”

“Lalu kenapa?”

“Kita bukan sepasang.”

“Lalu kenapa?” Sundarti bersikeras. Dia benar-benar keras kepala.

Laki-laki itu menangis. Terisak. Lupa dengan luka di punggungnya. Lupa dengan nyeri bahwa dia tak bersayap lagi.

“Teman-temanku akan datang dan membebaskanku dari sini.” Laki-laki itu mengancam.

“Lalu? Akan kubunuh mereka semua! Tidak boleh ada yang mengambilmu dariku, mengerti?!” Sundarti melotot.

“Dan jangan coba-coba kabur dari sini! Aku akan melakukan apapun untuk menangkapmu lagi! Dan ingat, aku sudah berani memotong sayapmu, maka aku bisa melakukan lebih dari itu. Jelas? Aku hanya ingin kau terus di sini, menemaniku. Bahkan aku akan menyiksamu bila perlu. Kalau itu satu-satunya cara agar kau tetap di sini. Mengerti?”

Sundarti pergi dari ruangan gelap itu dengan tenang.

“Aku akan ke kantor dulu. Sampai sore nanti!” serunya ringan. Dia tersenyum riang.

Laki-laki itu meneelungkup. Berteriak. Menggeletar.

“ARGGGGGGGGGH!”


_______
Cerpen ini pernah diposting sebelumnya dengan judul sama. Sengaja diposting ulang (hanya dengan mengganti tanggal) agar pikiran saya bisa mencari ide liar lagi seperti ini. :D
Maafkan bagi yang sudah membaca.

8 komentar:

_EmalkU_ mengatakan...

bgus...

namarappuccino mengatakan...

hehehe. cerpen lama, terus diedit ulang. ^^

Anonim mengatakan...

Uhm. Baca ini jadi keinget film apaa gitu, lupa judulnya. *masiingetinget*

Aaah,Nara. *rollingeyes*

Anonim mengatakan...

Uhm. Baca ini jadi keinget film apaa gitu, lupa judulnya. *masiingetinget*

Aaah,Nara. *rollingeyes*

Una mengatakan...

Agak kedesaan hihihi, ndeso gitu ta.
Keren mas keren... kasian amat tuh malaikatnya @_@

namarappuccino mengatakan...

@Anonim: Heheh. Eh ini jangan-jangan Rika lagi tapi munculnya anonim? Huaaaa

@Una: Hehehe. Sekali-kali malaikat seperti itu dek. :D

Ririe Khayan mengatakan...

Tokoh sundartinya 'keren'..benaran liar deh sampai berani motong sayap si angel..

namarappuccino mengatakan...

Hehehe, And dia cantiknya juga keren. (in my imagination)