Rabu, 06 Juni 2012

'Puteri'

’Puteri’?

Iya?
Sudah berapa lama kita berbincang seperti ini?
Entahlah. Lama. Terlalu lama. Aku bahkan merasa kita sudah berbincang seperti ini sejak lahir tanpa kita sadari. Dengan bahasa yang hanya kita yang mengerti.
...
Kamu benar ’Puteri’. Aku juga sering merasa demikian. Bahkan barangkali kita juga sedang berbincang dalam tidur kita ’Puteri’.
Ya. Bisa jadi.
...
...  
’Puteri’, aku merindumu.  
Diam dulu, jangan bicara. Aku sedang membayangkanmu tadi. Tapi sudahlah ...
Benarkah ’Puteri’? Tetapi ’Puteri’, rinduku tidak realistis. Sangat menjengkelkan. Aku sampai benar-benar ingin bertemu denganmu.
...
Aku harus mencarimu ’Puteri’. Harus.
Baiklah. Aku tunggu. Semoga kali ini kita beruntung. Karena otakku sudah menjadi irasional karena sering melamunkanmu.

*****

’Puteri’?
Hmm?
Bagaimana jika suatu hari nanti, kita ternyata memang satu?
Dengan perbincangan kita seperti ini? Yang hampir setiap malam terjadi? Yang bahkan aku tidak mengenalmu, kau tidak mengenalku? Yang bahkan kamu di mana dan aku di mana kita tidak tahu? Bukankah dengan tanda-tanda seperti ini, pada akhirnya kita memang akan menyatu nanti?
Tetapi aku sering merasa perbincangan ini hanya khayalanku saja ’Puteri’. Hanya karena kerinduanku yang otoriter tentang sosokmu ’Puteri’.
Kadang aku juga berpikir demikian. Bahwa perbincangan kita memang hanya imajinasi. Sekedar penghibur hatiku ketika sepi. Bahkan teman-temanku sering menertawakanku ketika aku membicarakan perbincangan ini. Atau bisa juga kita hanya sebuah cerita yang ditulis seseorang di dunia nyata, sementara kita ini hanya fiksi. Tetapi sudahlah. Khayalan atau bukan. Imajinasi atau memang terjadi. Kita nikmati hal yang menyenangkan ini.
Benar ’Puteri’. Sangat menyenangkan perbincangan ini. Sampai aku selalu menunggu waktu kosong agar ini terjadi. Lagi dan lagi. Meski kadang aku memanggilmu tapi tidak ada sahutan darimu.
Aku juga sering memanggilmu, tetapi kadang kamu juga tidak menyahut panggilanku.
Maaf ’Puteri’. Aku mungkin tidak mendengar karena kesibukanku. ’Puteri’?
Hmmm?
Bagaimana jika ternyata perbincangan ini memang terjadi dan ternyata kita suatu hari nanti menjadi satu?
Entahlah. Menurutmu?
Entahlah ’Puteri’. Aku juga tidak tahu. Tetapi jika memang kita nanti menjadi satu, aku ingin berbincang denganmu terus. Dengan itu aku bisa tetap melihatmu.
Hmmm. Menyenangkan. Berbincang sepanjang waktu. ... Bagaimana bila nanti bosan? Apa yang harus kulakukan? Memelukmu? Menciumimu membabi buta? Dan lalu apa lagi? Memelukmu? Menciumimu lagi? Ah sepertinya menyenangkan. Aku ingin seperti itu. Kamu mau?
Ah, ’Puteri’. Kamu membuat khayalanku terbang sangat tinggi. Tentu saja aku mau. Semoga saja bayangan tentang kita menyatu bukanlah khayalan. Seperti juga tentang perbincangan ini. Semoga bukan khayalan.
Apapun itu. Jika khayalan itu memang terjadi, aku harap kau tidak pernah melukaiku ...
Ah, ’Puteri’. Jika aku nanti melukaimu, akan kukubur hidup-hidup hatiku ’Puteri’.
Jangan! Bukankah jika khayalan itu memang terjadi, berarti hatimu juga sudah menjadi milikku? Bukankah aliran darah dari jantungku langsung menuju jantungmu dan juga sebaliknya? Jika kau kubur hatimu, aku bisa mati.
’Puteri’ ...
...
*****
’Puteri’, kamu di mana?
Di sini. Masih di sini.
Tetapi aku tidak melihatmu ’Puteri’. Aku sudah mencarimu di mana-mana.
Benarkah? Aku di sini juga mencarimu.
Kalau begitu akan kucoba mencarimu lagi ‘Puteri’.
Biar kuberi tahu kotaku. Aku ada di (........)
...
...
Benar kan ’Puteri’? Setiap aku atau kamu mengatakan kota tempat masing-masing tinggal, selalu tidak terdengar.
Benar. Bahkan suaraku sendiri tidak terdengar olehku ketika mengatakan kota ini.
Biarlah ’Puteri’. Aku akan mencarimu. Sampai ketemu.
Walaupun lama? Walaupun ternyata perbincangan ini hanya imajinasi?
Jika memang ini imajinasi, tidak mengapa. Aku akan menganggapnya nyata.
Lalu bagaimana ketika kau menemukan seorang gadis, dan kamu mencintainya?
Berarti aku sudah menemukanmu ’Puteri’.
Bagaimana jika itu bukan aku?
Tetapi itu kamu. Karena apa pun yang terjadi, gadis yang yang kucintai suatu hari nanti pasti kamu. Meski aku belum melihatmu.
Tetapi ... baiklah. Terserah kamu saja ...
...
*****

Kamu tahu? Beberapa bulan lalu aku bertemu seseorang. Dia sangat menyenangkan. Aku kira itu kamu.
Ya Tuhan! Jadi karena itu kamu tidak berbincang denganku? Tidak mungkin itu aku ’Puteri’. Aku masih di sini.
Iya. Aku tahu. Baru kemarin aku sadar. Dia memang mengagumkan. Membuat mataku berbinar, dan jantungku berdebar. Tetapi masih belum bisa menghasilkan badai di dadaku. Sementara berbincang denganmu saat ini saja, di hatiku sudah tercipta badai.
... Syukurlah ’Puteri’. Aku pikir aku sudah kehilanganmu. Aku gemetar ’Puteri’. Aku memanggilmu hampir setiap malam, tetapi tidak ada jawaban sama sekali. Aku ketakutan setengah mati.
Jangan takut. Bukankah aku sudah kembali?
Ah, kamu tidak merasakan yang kurasakan selama ini ’Puteri’. Aku benar-benar frustasi. Benar-benar berpikir bahwa perbincangan kita selama ini memang hanya imajinasi. Aku benar-benar gemetaran ’Puteri’. Aku menggigil. Aku merasa dingin. Aku berpikir, apakah ini memang suhu udara yang semakin lama semakin dingin, ataukah karena kau sudah mengambil hatiku? Aku nyaris merasa mati ’Puteri’! Nyaris!
Jangan! Apakah kau mencoba bunuh diri?
Ah ’Puteri’. Jangan konyol. Apapun yang terjadi aku tidak akan bunuh diri ’Puteri’. Tidak akan. Hanya saja aku merasa sepi. Benar-benar sepi. Seolah aku hanya sendiri di dunia ini. Karena itulah aku nyaris merasa mati. Karena sepi ’Putri’. Sepi bukan main.
Syukurlah. Hei ... aku sudah kembali. Dan aku belum mengambil hatimu ...
Itu yang kamu tahu ’Puteri’. Tetapi hatiku sudah ikut kemanapun kamu pergi. Kamu memang tidak mengambilnya atau mencurinya. Memang hatiku yang ingin mengikuti kemanapun kau pergi.
Ah, kamu jangan memujiku seperti itu ...
’Puteri’ ...
Hmm?
...
...
*****
Aku berada di kota cinta. Aku menyebutnya demikian, karena begitu banyak cinta di sini.
Benarkah? Kenapa kamu di sana ’Puteri’?
Entahlah. Sesuatu membawaku ke sini. Tiba-tiba dua bulan lalu aku naik jabatan lalu sering keluar kota. Dan sekarang aku di sini. Ah sepertinya hatiku ingin menetap di sini.
Mmm ...
Tetapi mungkin memang harus seperti itu. Aku bersekolah bersama banyak teman, kemudian lulus. Kebetulan salah seorang teman menawarkan pekerjaan setelah aku bekerja di sana-sini. Tiba-tiba karena satu hal, salah satu staff pentingnya sakit keras dan harus istirahat dua minggu. Aku ditunjuk untuk menggantikannya. Ternyata pekerjaanku diterima dengan baik. 
...
Hei, kamu masih mendengarkan?
Iya, ’Puteri’. Aku masih mendengarkan. Aku akan selalu mendengarkan apa pun yang kamu katakan.
Terima kasih. Kamu membuatku tersenyum. Begitulah. Aku berhasil mengerjakannya, lalu perkerjaan lain juga selesai dengan baik. Dan di sini aku sekarang.
Aku sekarang benar-benar mengerti bahwa hidup memang sudah ada yang mengatur. Tetapi aku yang menentukan pilihan-pilihanku sendiri. Aku memilih pekerjaan. Aku memilih menerima tanggung jawab, sampai aku memilih sekolah-sekolah itu. Semuanya berhubungan dan membawaku ke sini. Itu memang takdir. Tetapi itu juga karena pilihan-pilihanku ...
Kamu brilian ’Puteri’. ... tetapi kota cinta? Di mana itu ’Puteri’? Bisa kamu menggambarkannya kepadaku?
Kota yang sangat menyenangkan. Begitu damai. Tidak gerah, tetapi juga tidak dingin.
Besok ada festival di sini. Festival untuk merayakan hari cinta. Orang akan berkumpul di pusat kota. Di sebuah tugu yang berbentuk hati.
Tugu berbentuk hati? Festival? Hari cinta?
Ya Tuhan, ’Puteri’! Aku juga di sini. Aku juga di kota ini! Kita berada di kota yang sama ’Puteri’!
Benarkah? Kamu sungguh-sungguh? Sumpah?
Sumpah, ’Puteri’! Sumpah! Aku di kota ini. Aku benar-benar di kota ini.
Ya Tuhan ... Aku gemetaran sekarang ini. Seperti gempa sedang melanda tubuhku. Apakah ini nyata? Bukankah perbincangan kita hanya imajinasi?
’Puteri’, aku lebih gemetaran dari kamu. Benar-benar lebih gemetaran. Dan entahlah. Mungkin memang imajinasi. Tetapi aku tidak peduli.
Kamu akan datang ke festival itu? Aduh. Gemuruh di dadaku tidak bisa kuhentikan.
Aku datang ’Puteri’, aku pasti datang. Dan kamu pasti tidak tahu betapa sulitnya aku mengendalikan teriakan-teriakan girang yang ada di kepalaku saat ini. Aku benar-benar ingin melihatmu. Sangat ingin sekali.
Aku juga ingin sekali melihatmu. Ya Tuhan, aku benar-benar gemetaran.
Kamu tidak mengerti ’Puteri’. Aku juga demikian. ... aku hampir pingsan karena kegirangan ...
Hei!
Hei!
Jangan!
...

*****


’Puteri’?
Ya?
Aku di sini. Di tugu berbentuk hati.
Benarkah? Kamu di mana? Aku tidak melihatmu ...
Banyak sekali orang di sini ’Puteri’. Bagaimana cara kita bisa bertemu. Kamu tepatnya di mana?
Di sini. Di lingkaran tugu hati ini.
Aku juga di sini. Tetapi ada ratusan orang di sini ’Puteri’.
Aku memakai baju putih.
’Puteri’, di sini banyak gadis yang memakai warna putih ...
Lalu bagaimana?
...
...
’Puteri’! Nyalakan cahayamu!
Maksudmu?
Entahlah. Kamu jangan bergerak. Diam saja di tempatmu dan nyalakan cahayamu. Cahayamu ’Putri’. Bukan api atau lampu. Cahayamu saja. Nyalakan dengan cara apapun. Akan kulihat nyala itu untuk menemukanmu.
Cahayaku? Melihatku?
Lakukan saja ’Puteri’. Kumohon? Sebagaimana kita berbincang melalui tanpa suara dan hanya melalui hati selama ini. Kamu pasti bisa menyalakan cahayamu. Aku akan melihatmu. Aku pasti melihatmu. Kumohon?
Baiklah. Aku coba ...
*****

’Puteri’, kamukah itu?
Ya. Ini aku. Dan ...
Benar ‘Puteri’. Ini aku.
Ya Tuhan. Kamu tahu? Barangkali inilah berhenti itu. Seperti hanya ada aku dan kamu. Menikmati spesial effect tak tentu yang membuncah di seluruh tubuhku. Seperti melayang. Bukan, seperti terbang. Tanpa beban.
Ah ’Puteri’. Apa yang kurasakan sekarang ini, lebih dari itu. Semoga kamu tidak mendengar suara ribut dalam jantungku ini. Dia berteriak kegirangan karena senang bukan main setelah melihatmu ’Puteri’.
Terlambat. Aku sudah mendengarnya. Tidak apa-apa. Suaranya menyenangkan. Dan semoga kamu tidak ...
Melihat pijar bintang di matamu? Terlambat ’Puteri’. Aku melihatnya. Sangat kentara sekali. Hal seperti itu tidak bisa disembunyikan ’Puteri’.
Kamu tahu? Kamu lebih dari yang kubayangkan ...
Jangan ’Puteri’. Itu kalimatku ... untukmu ...
Kalau begitu itu kalimat kita.
...
...
Boleh aku mendekat ’Puteri’? Untuk melumat rindu yang kurang ajar ini?
Tentu saja. Aku sudah memimpikan lama untuk melihatmu dari dekat.
Tunggu sebentar ’Puteri’. Apakah perbincangan kita selama ini hanya fiksi? Atau memang benar-benar terjadi?
Aku tidak peduli. Aku benar-benar tidak peduli. Bukankah kamu akan mendekatiku saat ini?
Iya ’Puteri’. Iya ...


(Yogyakarta, Juli 2008)


______
Ini cerpen lama. Sengaja dipasang lagi. Seperti 'Posesif" kemarin. Saya sedang membutuhkan ide-ide liar seperti ini agar tidak selalu menulis flashfiction, tapi ke cerpen juga muncul lagi. :)
Maaf kalau sudah membaca. Gak ada salahnya dibaca lagi. Karena ini salah satu Favorit saya.
Dan terinspirasi oleh satu bagian dialog kecil di novel "Supernova" mbak Dewi Lestari.

14 komentar:

Ely Meyer mengatakan...

jadinya puteri dan pangeran dong :)

Una mengatakan...

Aseeeekkkk... Hihihi... ^^
Eh btw mas Jogjanya di sebelah mana? :D *penasaran*

Syamatahari mengatakan...

nam rumah baruuu, keren euyyy^^

namarappuccino mengatakan...

@mbak Ely: Hehehe gak ada pangerannya mbak. :D

@Una: Una Jogja? Aku daerah Karangkajen.

@Syam: Heheheh. Welcome lagi Syaaam. :D

Una mengatakan...

Dulu lama di Jogjaaa ^^
Deket sekaliii, rumah nenekku di Timuran, utara Prawirotaman. :D

Ririe Khayan mengatakan...

Supernova...novel yg gak bosen2 aku baca, meski berulang2 membacanya ttp saja serasa ada yang baru..
" rasa memiliki itu hiudp seprti sel. Semula satu dan kemudian terpecah jadi seribu satu. dan aku mneyimpan sel-sel yang sehat, puteri. Ia akan terpecah di luar kendali cinta itu sendiri"

namarappuccino mengatakan...

@Una: waaa itu mah deket banget dek. Bangetnya tetep pakai banget. Jalan kaki juga bisa.

@Ririe: Hehehe aku entah sudah berapa kali membaca ulang Rie. ada bagian dimana antara Rana dan tokoh pria berbicara pakai hati. Nah, lalu terciptalah cerpen ini.

Ririe Khayan mengatakan...

Rana dan Ferree...bicara pakai bahasa kebathinan...so live. I like that part too

namarappuccino mengatakan...

@Ririe: yap bennar. Ririe hebat. :D

Alpha Mike's mengatakan...

Ksatria, putri dan bintang jatuh... dialognya sperti Ferre dan Diva.... :D nice Mas Ara

T A N G A N K A N A N mengatakan...

sedang mengalaminya :) , dan hanya bisa menyunggingkan sedikit senyum di ujung bibir ketika membaca ending dari cerita....

Teguh Kurnaen mengatakan...

saya baru baca ini melumat rindu.:))
event: menulis di blog dapet android, ikutan yuk!

namarappuccino mengatakan...

@Alpha: Yap benar. :)

@Tangan Kanan: Waaaa really? Semoga happy ending seperti di cerita ini. :) In real life, we can call it, social media sebagai pengganti percakapan batin. heheheh

@Teguh: waaa terima kasih. :)

nonasan mengatakan...

kereeeen. saya suka saya sukaaaa :D