Rabu, 23 Mei 2012

Ran

Aku suka melihatmu seperti itu. Tertawa dengan binar mata yang tak bisa kujelaskan seperti apa gambaran kegembiraannya. Lalu kamu menunjuk apa saja yang kamu lihat dan kamu sukai, seolah-olah itu adalah sesuatu yang sangat berharga sekali.

“Itu,” katamu, “Pelanginya tidak hanya tujuh warna. Ada banyak warna. Tidak melengkung juga, malah bentuknya serupa boneka. Aneh sekali. Tapi aku suka.” Kamu tersenyum lebar dan berulang kali mengedipkan mata.

Ah, kalau saja kamu tahu, aku lebih suka bahagiamu itu daripada pelangi tidak biasa ini.
“Itu juga! Lihat!” Lagi-lagi kamu menunjuk sesuatu di atas. “Ada bintang jatuh berhamburan. Nyalanya tidak kuning atau putih. Warnanya kehijauan. Seperti kembang api, hanya yang ini lebih besar. Padahal ini siang, kenapa bisa kelihatan dan bisa begitu terang?” Kamu tersenyum lebar lagi. Aku menenangkan dadaku lagi.

 Ah, kalau saja kamu tahu, matamu itu jauh lebih nyala dari bintang jatuh itu.
Dan kamu berlari lagi. Mengagumi apa saja yang kamu lihat. Menunjuk ke semuanya. Ada binatang serupa rusa yang berwarna merah jambu tapi tanduknya berbentuk seperti bulan sabit, dan juga panda berwarna ungu-biru muda. Cantik sekali. Kamu bilang mereka lucu. Kamu baru tahu ada binatang seperti itu. Tentu saja, batinku sambil tersenyum.

Puas melihat semuanya, kamu merengek minta ke pantai. Aku hanya tersenyum, menggamit tanganmu dan mengajakmu berlari. Kamu pun ikut berlari dengan tertawa. Ada semacam debu-debu cantik bercahaya menerpa setiap kulit kita. Setiap debu yang terkena kulit kita, cahayanya selalu pecah dan kemudian berpendar. Rasanya hangat. Warnanya seperti butiran emas, berkilauan. Membuat warna kulit kita juga berkilauan.

Sampai pada satu gapura berbentuk gula-gula beraneka warna, kita memasukinya. "Ah, gula-gula!" teriakmu sambil berhenti berlari. Kamu lalu menjilat gapura itu, dan tertawa. "Enak! Ini benar-benar terbuat dari gula!"

Melihatmu seperti anak kecil begitu, aku tertawa.

Kamu menarik tanganku untuk berlari lagi. Dan wussss. Angin sejuk langsung menerpa tubuh kita begitu kita berdua berjalan masuk agak jauh dari gapura gula-gula. Reflek, aku melindungi matamu dari angin itu. Kamu menyingkirkannya sambil tersenyum dan berkata, “Tidak apa.” Aku merasa dadaku mau keluar saat itu juga saking kencangnya desakan dari dalam.
Bisakah kamu berhenti melakukan itu, Ran? Tersenyum dan membuatku jatuh cinta?
Lalu kamu berlarian di atas pasir paling putih dan paling halus yang pernah kamu lihat, itu katamu. Kalau aku, sebenarnya sering melihatnya. Setiap hari. Karena itu aku membawamu ke pantai ini. Karena aku tahu kamu pasti menyukainya.

Dan ketika menyentuh air laut, kamu berteriak girang sambil tertawa. Airnya sejuk. Tidak dingin dan tidak hangat. Begitu katamu. Aku mengangguk saja menghampirimu sambil berlari kecil ikut menyeburkan kakiku di air itu.

Begitu aku sampai di dekatmu, kamu menghambur ke pelukanku dan berteriak, “Aku sukaaaaaa.” Kita sampai terjatuh karena hamburan pelukanmu itu. Tapi kamu tidak peduli. Terus memelukku sambil berulang meneriakkan 'suka' persis seperti merapelkan mantra. Aku suka pelukanmu.

“Ah, sayangnya tidak ada lumba-lumba. Aku suka lumba-lumba,” katamu setelah kita berdiri lagi. Tidak peduli dengan pasir-pasir yang menempel di pakaian kita karena memang nyaris tidak terasa saking lembutnya.

Aku hanya tersenyum, lalu menunjuk ke tengah pantai. Ada sepasang lumba-lumba yang berlompatan di air. Mirip dengan atraksi sirkus kota. Bedanya, lumba-lumbanya berwarna pink terang. Kadang mereka berloncatan satu arah, kadang berlainan arah. Kemudian mereka juga berenang seperti berdiri seolah manusia biasa. Kamu histeris bukan kepalang. Melompat-lompat girang sambil bertepuk tangan.

Kutepuk pundakmu, dan menunjukkan sesuatu lagi. Di sana, di balik bayangan dua bukit yang berjajar itu, ada pelangi lagi. Kali ini tidak satu. Tiga! Dan kamu terpukau sampai ternganga diam dengan mata yang seperti biasa, yang selalu membuatku jatuh cinta.  
Sekali lagi, bisa kamu berhenti melakukannya?
Aku selalu suka momen seperti ini. Kamu berkali-kali menepuk lenganku hanya untuk memberi tahu tentang pelangi itu. Kamu lupa ya, Ran? Aku yang memberitahumu lebih dulu. Tapi aku hanya tersenyum sambil mengangguk tanpa mengatakan apa-apa. Dan lagi, kamu meneriakkan namaku sambil terus menunjuk pelangi-pelangi itu. Iya, iya, Ran. Aku melihatnya. Tapi kamu harus tahu, pelangi-pelangi itu masih kalah cantik dengan tawamu.

Kamu memutarkan pandanganmu berkeliling ke segala arah. Tiba-tiba dari balik dua bukit yang ada pelangi-pelangi tadi, bermunculan balon udara warna-warni. Banyak sekali. Lagi-lagi kamu histeris, Ran. Lagi-lagi menghambur ke pelukku sambil menyuruhku melihat balon-balon udara itu. Iya, Ran, iya. Aku melihatnya. Indah sekali, bukan? Tapi tak pernah lebih indah dari kehalusan kulitmu.

Tepat pada balon udara keduabelas yang muncul, kamu menarik tanganku sambil berlari. Mengajakku lebih dekat ke bukit-bukit itu. Pasti lebih indah kalau balon-balon udara itu dilihat dari dekat, katamu. Aku menurutimu saja sambil berlari di belakangmu. Tidakkah kamu tahu, Ran? Rambut panjang hitammu sangat halus sekali. Hitamnya kontras dengan warna kulitmu yang putih mutiara. Aku selalu mengagumi bagaimana dua hal yang sangat berbeda warna bisa sebegitu mengagumkannya bersatu di tubuhmu.

Tanpa beralas kaki, kita sampai di bukit itu dan menaikinya. Kamu terus menerus berceloteh dan bertanya bagaimana bisa rumput-rumput bukit ini selembut itu. Sampai kakimu terasa seperti sedang menginjak sesuatu yang empuk. Mengingatkanmu pada bulu-bulu kucingmu yang lembut dan hangat. Tidak ada batu atau kerikil juga di tanah bukit itu. Semuanya hijau rumput. Ini kesekian kalinya kamu lagi-lagi berkata, "Aku sukaaaa!"

Sampai di puncaknya, sudah puluhan balon udara yang terbang. Lagi-lagi kamu menunjuk sesukamu. Balon itu seperti kelinci, balon itu seperti ubur-ubur, yang itu seperti hello kitty, semuanya kamu tunjuk satu-satu. Aku suka kalau kamu suka, Ran.

Kamu seperti tidak kenal lelah terus tertawa. Tidak ada yang bisa kulakukan selain memandangimu. Aku terlalu sering melihat balon-balon udara itu. Hampir setiap hari. Bagiku tidak begitu berarti. Aku lebih suka memperhatikan detail tentangmu.

Sudahkah aku bercerita tentang mengagumkannya keterpaduan antara kulitmu dengan rambutmu? Sudah? Hmm kalau begitu biar aku perhatikan lagi detail wajahmu. Lihat mata bening berbinar itu? Aku menyukainya. Lihat bibir merah mungil dengan gigi teratur itu? Apalagi ketika tersenyum? Hatiku jatuh di sana. Apalagi, Ran? Apalagi? Semuanya membuat hatiku menjatuhkan dirinya di sana.

Tiba-tiba kamu berhenti menunjuk dan berbicara tentang bentuk-bentuk balon udara. Sepertinya kamu sudah mulai lelah dan matahari pun sudah mulai menaburkan warna emasnya. Kamu sampai bilang, warna senjanya di tempat itu beda. "Kenapa bisa seemas itu?" tanyamu.

Aku hanya tertawa. Tentu saja bisa.

“Kita turun sekarang?” katamu dengan menggelayut manja.

“Tidak perlu,” jawabku. Aku menggandengmu dan mengajakmu ke sebuah rumah di ujung bukit. Pemandangannya langsung menghadap ke arah matahari yang tenggelam itu.

"Kita di sini saja. Aku akan menjaga tidurmu sampai nanti pagi. Sambil melihat matahari terbenam."

Kamu melihatnya takjub, walau masih dengan mata kantuk. “Seperti dongeng,” katamu, “Mataharinya tenggelam di laut dan kita melihatnya dari atas bukit hijau. Ada pelangi berbentuk lucu, pantai dengan lumba-lumbanya, lalu deretan balon udara. Benar-benar seperti dongeng."

Aku hanya tersenyum. Sejenak kemudian, kamu mulai menguap.

Aku menepuk pahaku berulang, “Barangkali kamu merasa lelah dan ingin bersandar.” Kataku sambil tersenyum. Kamu pun menyandarkan kepalamu di pahaku. Kita diam sambil merasakan sejuknya angin dan hangatnya senja.

Perlahan kamu bergumam, “Dari tadi kamu tidak mengatakan tempat ini sebenarnya di mana? Aku ingin ke sini lagi nanti.” Suaramu semakin pelan, ada napas lelah di sana. Sampai akhirnya kamu cepat sekali terlelap.

Aku memandang wajahmu, menyibakkan rambutmu sampai terlihat leher putih jenjangmu, mengelus pipimu, lalu menciumnya.

“Kamu tahu bagaimana semuanya bisa sempurna, Ran? Tentang pasir putih halus, tentang pelangi yang aneh, tentang balon udara dan semuanya? Tidak mungkin ada di dunia nyata, Ran. Kamu tahu ini di mana? Di mimpiku. Karena itu aku bisa mendatangkan apa saja semauku. Termasuk kamu. Hanya itu satu-satunya caraku bersamamu. Ketika bermimpi.” Kataku pelan sambil mencium bibirmu.

Aku tahu kamu tidak akan mendengarnya. Dan kamu akan kudatangkan lagi di mimpiku lain hari. Kalau di sini gelap, di dunia nyata berarti sudah terang. Sebentar lagi kita pasti terjaga. Setidaknya, aku yang terjaga. Kamu akan tetap di mimpiku. Selamanya.

Hanya itu yang bisa kulakukan agar aku dan kamu bisa bersama, bukan?

14 komentar:

Sarahdyahayu mengatakan...

ini baguuuus sekali kak :'D mengharukan karena itu hanya di dalam mimpi...

namarappuccino mengatakan...

Iyaaa dek, karena memang Ran hanya bisa ditemui, dipeluk, dan dimiliki dalam mimpi. :)

Aiinizza anggriani mengatakan...

RAN ?? astaga ran gemesin sama rambut hitam panjangmu ^

Mifta Chaliq mengatakan...

masnya...pas aku baca RAN, aku ga berhenti senyum. feelnya happy banget ya, nular lho.
kaya INCEPTION ya....seruuuuuu

Ririe Khayan mengatakan...

jadi iriiii...penen bisa mendatangkan apa sj yg ku mau dalam mimpiku juga....Tp gak ah, kalau hanya mimpi...

dweedy mengatakan...

Wow keren sekali! Sosok Ran membuatku jatuh cinta, padahal saya perempuan ._. mau dong sekali-kali diajak ke negeri itu :)

putrijeruk mengatakan...

Aaaaaaaaa bagus. kata-katanya, alurnya, Ran-nya. sukaaaa deh. terlebih endingnya. apa yaaaa, cerita ini... seperti ada nyawanya :)

BasithKA mengatakan...

*nyasar kesini karena rekomen teman* Wuah, bagus. Kita sama2 suka sastra, semoga bisa jadi teman baik yah dan bisa saling share. Aku follow blogmu yah :) *mau ngubek2 blogmu sekalian* :D

pengobatan penyakit kanker paru-paru mengatakan...

Jadi dirimu sendiri. Org akan menyukaimu apa adanya. Meski ada yg membenci karena alasan yg sama, tak berarti kamu hrs berubah.

Ran mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Dian Fernanda mengatakan...

hmm, ikutan happy jadinya, dan ga nyangka endingnya gtu hehe
keren-keren,
btw, kok komentar Ran di hapus ya?

Hafiz mengatakan...

Hihiihihh bagus mas :D

Mala Komalasari mengatakan...

Bagus.. menyrntuh.. seneng menemukan blog ini hehe

Dilla Mutmainnah mengatakan...

Bagus kak. Kapan kapan buka blog aku yaa.. diladilamtm.blogspot.com