Jumat, 24 Februari 2012

Sekarang Aku Melakukannya Persis Seperti Kamu




gambar diambil dari inshaallaah.wordpress.com
Aku suka sekali hujan. Seingatku, ah tidak, aku memang benar- benar ingat, kamu juga sangat suka hujan. Satu, kamu suka garis-garis basah di udara yang dibentuk hujan. Dua, kamu suka udaranya yang tidak terlalu dingin, tapi juga menghilangkan panas. Tiga, kamu suka suaranya ketika air mulai menyentuh semuanya, dinding, atap, tanah, pohon, semuanya. Dan empat, katamu ini alasan paling utama, kamu bisa berlari di tengah hujan dan tertawa, padahal kamu sedang menyembunyikan air mata. Berpura-pura bahagia padahal sedang menangis sesenggukan.

Lihat? Aku ingat benar kan? Bahkan urutannya aku tidak lupa, dari alasan satu sampai empat.


Dan saat ini, di luar sana sedang hujan. Aku melihat seorang gadis lari menerobos hujan dengan langkah riang. Aku jadi teringat kamu, lagi. Keriangannya, cara dia berjalan, semuanya. Kecuali, dia bukan kamu. Hei, jangan-jangan dia juga seperti kamu? Terlihat riang menerobos hujan, padahal dia sedang menangis. Tapi air matanya langsung dihajar hujan sehingga tidak kelihatan. Iyakah?

Kamu meneleponku ketika itu. Lelaki itu, iya, lelaki brengsek itu melukaimu lagi. Memang, kalian bukan pasangan, dan hanya berteman. Masalahnya adalah, aku dan kamu sama-sama tahu kalau kamu mencintainya, sangat. Sampai aku sering ikut merasakan sakit di dadamu sangat menyengat.

Kamu sering bercerita tentangnya. Sudah berteman berapa lama? Dua atau tiga tahun kalau tidak salah. Pergi ke mana-mana berdua, tertawa, bercanda, semuanya. Sampai tanpa disadari, di hatimu tumbuh cinta. Tapi apa dia, lelaki itu mengetahuinya? Katamu sepertinya tidak. Ah, mana mungkin? Setiap orang yang dicintai pasti tahu kalau seseorang itu mencintainya. Kamu juga pasti tahu ketika seseorang mencintaimu, bukan?

Dengar ya, dia pasti tahu bahwa kamu mencintainya. Tidak mungkin tidak. Dan ketika kamu bercerita bahwa dia kemudian berhubunan dengan orang lain, oh, aku tahu kamu luka. Sangat tahu. Itu pertama kalinya kamu main hujan-hujanan. Dan ketika aku tanya kenapa berhujan-hujan? Kamu hanya menjawab, aku suka hujan. 

Aku diam. Matamu merah. Ah, kamu hanya menyembunyikan tangis. Aku tahu. Menangislah. Sekencang-kencangnya, sepuas-puasnya. Aku akan di sini menungguimu, ikut bermain hujan denganmu. Asal saja kamu tahu, kamu akan baik-baik saja di sini, bersamaku.

Aku melihatmu tertawa, menengadahkan kedua tanganmu menadah air hujan, lalu membuangnya ke atas secara berulang. Aku melihatmu masih tertawa, mempermainkan genangan air hujan dengan kakimu, menendang-nendangnya sehingga bercipratan ke mana-mana. Kamu mengajakku ikut bermain di genangan itu. Aku melihatmu tetap tertawa, memutar tubuhmu dengan kedua tangan membuka dan wajah ke atas, menerima setiap tetesan serbuan hujan. Tapi ada yang tidak kamu tahu, bahwa aku tahu ketika dadamu terguncang menahan senggukan tangisan. Aku juga tahu matamu yang sangat memerah. Dan meski dihapus hujan, aku melihat air matamu. Kentara sekali.

Lalu kamu duduk, aku duduk. Kamu menyandarkan kepalamu di bahuku. Hujan mulai reda. Kamu memalingkan muka, mungkin mencoba menutupi mata merahmu. Terlambat, aku sudah tahu dari tadi. Tidakkah kau tahu aku juga merasa nyeri?

Di lain waktu, kamu meneleponku lagi, mengajakku ke sebuah taman. Begitu sampai, kamu juga bermain hujan. Ada apa lagi ini? Bukankah dia, lelakimu itu sudah tidak bersama gadis itu sebulan lalu? Hanya bertahan enam bulan hubungan mereka.

Aku keluar menerobos hujan. Ikut basah bersamamu.

Lagi, kamu tertawa. Kelihatan riang bermain hujan. Orang yang tidak tahu, akan mengira kamu sedang bahagia. Masalahnya, aku tahu. 

Aku menyebut nama lelaki itu setengah berteriak dan bertanya di mana dia, kamu menjawab dengan tertawa dan menengadahkan kepala menerima terpaan hujan, “Dengan kekasih barunya.”

Jangan begitu. Jangan terus-terusan mencoba menipuku dengan tawamu dan bermain hujan. Aku tahu kesedihanmu, aku tahu.

Aku menemanimu sekitar satu jam kalau tidak salah. Kedinginan. Besoknya aku pasti meriang, seperti ketika pertama kali kamu mengajakku bermain hujan. Seperti juga ketika aku menemanimu semalaman hanya untuk bercerita. Kamu ingat, seringkali kamu mengajakku begadang ketika kamu sedang entah bahagia atau luka. Kamu akan mengajakku bercerita. Setelah itu aku akan meriang keesokan harinya.
Apalagi ketika kamu sakit typhus dan harus menginap di rumah sakit selama tiga malam. Aku nyaris tidak tidur ketika itu. Keluargamu yang jauh di Kalimantan, kesulitan untuk datang, jadi aku yang menjagamu. Menyediakan semua yang kamu inginkan. Begitu hari kamu sudah boleh pulang, kamu dijemput lelaki itu. Dan aku pulang naik taksi, sendirian.

Banyak peristiwa setelah kamu bermain hujan yang kedua kalinya itu. Kebanyakan, aku menemanimu sampai tengah malam untuk bercerita, atau membelikanmu Chitato, Cokelat, atau Cappuccino kesukaanmu. Kadang, kamu memintanya tengah malam. Selelah apa pun, aku akan membelikan dan mengantarnya ke kos kamu. 

Ah, aku ingin tahu kenapa aku berada di sini, mengenalmu, dekat denganmu. Apa ini takdir atau hanya sebuah keadaan acak yang kebetulan menimpaku. Yang jelas, dua minggu lalu, aku menerima undangan pernikahanmu.

Sudah berapa lama kita tidak bertemu? Tiga bulan, ya? Secepat itu? Nama lelaki di undangan itu, nama lelakimu yang dulu selalu kamu ceritakan itu. Kamu dan dia? Kamu pasti sedang bercanda, kan? Iya, kan? Aku mengusap undangan itu berulang, nama yang tertera tetap sama. 

Dan sekarang, hujan deras ini membawa ingatanku tentangmu. Besok adalah hari pernikahanmu. Aku kebingungan mau datang dengan pakaian apa. Ah, atau aku tidak usah datang saja? Tapi aku rindu. Aku ingin melihatmu. 
Kamu lihat tetes hujan deras di luar itu?
Sebanyak itu pula rinduku padamu.
Oya, waktu aku bilang tadi kalau seseorang pasti tahu ketika dia dicintai. Kamu juga pasti tahu kan kalau kamu dicintai? Olehku?

Hujannya bertambah deras. Aku menghentikan bis entah di daerah mana. Turun dan bermain hujan sambil tertawa. Aku melakukan sesuatu persis seperti yang kamu lakukan ketika hujan dan kesedihan datang bersamaan. Bermain hujan. 

Orang-orang pasti melihatku seperti sedang bahagia bermain hujan. Mereka tidak tahu, sama sekali tidak tahu. Yang tahu hanya aku. Eh, kalau kamu melihatku, kamu juga pasti tahu apa yang kusembunyikan melalui tetesan hujan di mata dan pipiku. Bukankah begitu?



20 komentar:

ceritaparalel mengatakan...

nice post, jadi inget adegan pelem2 korea (india sudah gak musim) hehehe

namarappuccino mengatakan...

hehehe. aku mengimajinasikan juga seperti itu. korean film.

^^

Posting blognya juga bagus.
Aku seperti Tayak. Ngeyel kalau ingin sesuatu. ^^

minky_monster mengatakan...

untunglah ini cuma fiksi. Sedih sekali rasanya kalo di posisi yg seperti itu.

benjalang mengatakan...

Manis sekali. Suka!

wordshaker mengatakan...

bagus banget! somehow seperti twist dari ceritaku. :)

dhika mengatakan...

*mewek*

namarappuccino mengatakan...

@minky: Semoga kita tidak pernah mengalaminya. :) amin

@Benji: tulisan-tulisan Benji juga keren. ^^

@wordshaker: :) oya? pasti bagus juga. Mau baca ah.

@Dhika: lho? mewek lagi. :)

DiGiTaLyZm JouRNaL... mengatakan...

kak..tabah sekalii ya dirimu..hiks~~

namarappuccino mengatakan...

@Digi: eh? hihihih. fiksi kok dek. ^^ Everything is unreal, kecuali mungkin yang berjudul "Fey". Fiksi juga, tapi agak benar-benar dari hati karena pernah mengalaminya. :D

_EmalkU_ mengatakan...

akakakkaka..... seru,seru!

namarappuccino mengatakan...

^^

jamal lewinsky mengatakan...

jadi meleleh bacanya heheheh but nice bgt ceritanya,.,,, gan blog u udah gw follow ya...^^

namarappuccino mengatakan...

:) thanks mampirnya bro.


Siiip aku ke lokasi.

F u n y mengatakan...

deras hujan yang turun mengingatkanku pada dirimu~ *theme song*

huaaaah main ke blog ini, walau ga update tapi lumayan bikin melting huaaah *terharu*

Ely Meyer mengatakan...

ada berbagai macam hujan di sini , dari yg cuma seperti garis garis sampai yang seperti jutaan kapas turun dari langit :)

Ririe Khayan mengatakan...

Kalau rindumu sebanyak hujan...maka rindu nya mungkin sebanyak udara karena dia lebih memilih cinta yg lain

Ririe Khayan mengatakan...

Weiii, baru 'ngeh' kalau 'rumah'nya udah pindah dot com...congrats ya. Capuccino'nya mana neh buat ngrayain pindahan rumahnya?

Tiesa mengatakan...

biasanya kamu menemani dia bermain sekaligus menyembunyikan perasaan dalam hujan, kali ini kamu berlari di lebatnya hujan sendiri... entah bahu siapa yang akan kau sandar saat hujan reda nantinya

sediiihhh :((

Nathalia mengatakan...

bersamaan rinai hujan, sebanyak itu pula, doa-doa naik kepada-NYA ..


saya ingin seperti kamu, berhujan-hujanan, tapi ndak jadi, deraan sinus, terkadang lebih sakit dibanding malarindu :D

Maurine magdalena mengatakan...

saya juga suka hujan.. alasannya logis, seperti yang kamu poskan pada blogmu.. :)

blognyahrinz.blogspot.com