Senin, 03 Oktober 2011

Sudah Dengar Degub Jantungku?


gambar diambil dari kiyfhns.wordpress.com
“Kemari,” kataku sambil menepuk bahuku. Barangkali, kamu mau mendengar ceritaku sambil menyandarkan kepalamu.

Kamu hanya tersenyum. Berjalan melangkah ke arahku, dan menyandarkan kepalamu ke bahuku.
Kamu tahu? Aku selalu suka momen-momen seperti ini. Kamu bersandar di bahuku. Siapa tahu, kamu bisa mendengar suara di dalam jantungku yang terus menyebut namamu. Ah, aku bercanda. Tapi kamu bisa mendengar degubnya, bukan? Meski bersandarnya tidak tepat di dadaku. Well, sebenarnya, setiap degubnya selalu bersamaan dengan menyebut namamu di hatiku.


Pernah suatu ketika aku mengatakannya kepadamu, tentang bagaimana setiap degub jantungku menyebut namamu. Dan kamu hanya tersenyum malu.

“Dasar tukang rayu,” katamu. Untuk kali ini, kamu salah. Aku tidak sedang merayu. Aku menceritakan yang sebenarnya. Biarlah kamu beranggapan bahwa aku memang tukang rayu. Bagiku, senyummu yang malu-malu itu, lebih berarti dari sebutan apa pun yang ditujukan kepadaku.

“Kamu mau bercerita tentang apa?” katamu setelah menyadarkan kepalamu. Sepertinya kamu memang hapal sekali dengan kebiasaanku. Jika aku memanggilmu kemari, pasti ada yang aku ceritakan.

“Tentang kehilangan,” kataku.

Keningmu berkerut. Nyaris saja kamu berdiri dari sandaranmu. Cepat aku menyambar, “Tidak apa, dengarkan dulu.”

Kamu tersenyum, aku tersenyum.

“Dulu …, dulu sekali. Aku pernah mencintai. Sangat. Sampai ingatanku tentang dia begitu lekat. Aku menulis, selalu tentangnya. Melihat apa pun selalu teringat dia. Dia membuatku nyaman dan tenang. Aku belum pernah merasakan seperti itu sebelumnya.”

Kamu cemberut, “Sepertinya aku tahu siapa dia.”

Aku tersenyum, “Iya, tepat. Dia orangnya. Tidak perlu aku menyebut sebuah nama, bukan? Aku lanjutkan ceritaku dulu, ya?”

Kamu mengangguk. Masih cemberut.

“Iya, benar. Tepat seperti dugaanmu, orangnya adalah dia. Cantik, iya. Putih, iya. Pintar, iya. Singkatnya, dia hampir memenuhi semua kriteria gadis idamanku.”

Kamu terbangun. Menunduk. Masih dengan muka cemberut.

Aku tersenyum. 

“Dan aku kehilangannya ketika itu. Sempat jatuh. Dadaku ngilu. Aku dibakar cemburu ketika dia pergi bersama lelaki itu. Entah kenapa, bahkan film paling lucu menurut teman-temanku pun tidak ada yang bisa membuatku tertawa ketika itu. Yang jelas, saat itu aku merasa duniaku benar-benar kelabu.”

Kamu masih cemberut.

“Lalu datang kamu. Masih ingat kata-katamu waktu itu?”
Luka hari ini, bisa jadi senyum esok hari. Tidak ada yang tahu.
Katamu, kamu mengambilnya dari SHINE ON quote. Ringan, singkat, tapi mengena. 

“Sampai sekarang aku masih mengingatnya. Aku pasang dalam-dalam di kepala. Kapan pun aku merasa sedih, luka ataupun jatuh, aku akan mengucapnya seperti mantra. Kamu tahu kenapa? Karena sekarang aku tahu artinya."

“Iya, dulu aku luka. Aku mengakuinya. Terlalu sombong jika aku tidak mengakuinya. Tapi lalu aku menyadari sesuatu. Kehilangan tidak harus berarti sebenarnya kehilangan. Ketika seseorang melepaskan, dia malah justru mendapatkan.”

“Dan di sini aku, mendapatkanmu. Kamu, sekarang menjadi doa dalam setiap tidur dan jaga. Sudah kuceritakan bukan, bagaimana setiap degub jantungku menyebut namamu? Aku tidak ingin berlebihan, tapi memang kenyataannya seperti itu. Dan di sini, di dadaku, aku selalu berkata kepada Tuhan untuk selalu menjagamu, menjadi bagian dari kebahagiaanmu.”

Kamu mulai tidak cemberut lagi.

“Apalagi ketika dalam setiap selamat pagiku, ada kamu dan secangkir kopi di sampingku. Itu. Itu yang membuatku selalu jatuh cinta kepadamu setiap pagi. Lagi, lagi dan lagi.”

“Oh tentu saja aku akui, dulu aku mencintaimu kecil. Tapi entah kenapa, kamu dan aku bisa menumbuhkannya setiap hari. Sampai kehilanganku yang dulu tidak ada lagi. Kehilangan? Ah tidak juga. Bagaimana kalau kita hapus saja kalimat itu? Bagaimanapun juga, kenyataannya aku tidak pernah kehilangan. Aku malah mendapatkan. Lihat? Ada kamu bukan? Yang senyummu, lebih berarti dari waktu.”

“Satu lagi yang selalu aku ingat darimu. Lagi-lagi kamu ambil dari SHINE ON quotes. Dan aku menyimpannya sampai kini. Masih, di dalam kepala. Oh, tidak juga ternyata. Aku menyimpannya dalam kepala, hati, dan keseharianku.”

Yang memang milikmu, pasti akan menjadi milikmu.
Yang memang bukan milikmu, tidak akan menjadi milikmu.
Yang belum waktunya datang, juga tidak akan datang sekarang.
Bagian mana yang belum dimengerti?

Lihat? Sederhana sekali. Tapi mencakup rahasia kehidupan bukan? Kadang, kita sama sekali tidak kehilangan. Perasaan kita saja yang merasa kehilangan. Padahal, bisa jadi sejak awal memang ditakdirkan bukan untuk kita. Bukankah seharusnya kita tidak kehilangan sesuatu yang bahkan tidak pernah kita miliki? batinku.

“Oh ya, jangan lupa, kalau aku mencintaimu.”

Kamu mulai tersenyum. Menyandarkan kepalamu. Sekarang, di dadaku. Aku ingin mendengar degub jantungmu yang terus mendoakanku, katamu.

Sudahkah kamu melihat bagaimana kamu tersenyum dan membuatku jatuh cinta setiap kali kamu melakukannya?



4 komentar:

Dian mengatakan...

suka benget...

Dian mengatakan...

bagus banget...

namarappuccino mengatakan...

^_^ dibaca aja sudah seneng. apalagi ada yang suka cerpen ini.

Terimakasih Dian.

Ririe Khayan mengatakan...

Tak ada yyg bisa mempercepat apa-apa yg ditetapkan untuk datang lebih lama. Juga tak akan ada yg bisa menghambat apa - apa yg akan dipercepat terjadinya:)