Minggu, 02 Oktober 2011

Sudah Waktunya?


gambar diambil dari www.austintenantadvisors.com
Kamu, bisa meminta waktumu sebentar? Tenang saja, tidak membutuhkan telingamu, hanya membutuhkan matamu untuk membaca. Itu pun kalau kamu bersedia. Ini tentang timelineku, tentang twitku.

Iya, aku tahu. Mungkin tidak terlalu penting. Masalahnya, sebagian besar twitku tentangmu. Iya, tentangmu. Sekarang sudah paham kenapa aku ingin kamu mengetahui ceritaku tentang timelineku, bukan? Boleh kuteruskan menulis dan kamu nanti membaca?

Kalau kamu melihat twit seperti ini dariku,
Selamat pagi, kamu.
Atau seperti ini,
Lagi-lagi kamu, sedang bersembunyi di balik setiap selamat pagiku.
Itu untukmu. Kata ‘kamu’ di setiap tulisanku, selalu tentangmu. Dan masih kulakukan sampai sekarang. Entah sampai kapan.


Dulu juga, kamu pernah bersedih bukan? Tentang lelaki yang melukaimu. Saat itu kamu bercerita tentang masa lalumu itu di salah satu blogmu. Bahwa lelaki itu, melukaimu. Lalu aku menulis twit,
Kemari, bawa sedihmu, biar aku bawa lentera dan cerita lucu untuk menghangatkanmu.
Masih tentang kamu lagi bukan, twitku?



Dan sewaktu @DrVampir membuat tema tentang #bahagiaitu, aku juga langsung ingat kamu. Menuliskan twit langsung dari hatiku. Mungkin karena itulah aku mendapat beberapa mention setelah twitku di RT @DrVampir. Ini twitku ketika itu,
#bahagiaitu ada secangkir kopi, beberapa kerat roti gandum, dan senyummu di setiap pagiku. @DrVampir
Juga seperti sekarang ini, ketika @hurufkecil dan @elnaa_ membuat permainan #15harimenulisdiblog, kembali aku menulis tentangmu, seringnya. Kamu lihat kan, apa yang kutulis di blog yang kamu baca ini? Masih saja tentangmu. Selalu.



Masih ingat jugakah twitku yang ini?
Kalau hatimu merasa tenang, hangat, dan nyaman, barangkali karena namamu sedang kudoakan.
Asal tahu saja, aku memang selalu mendoakanmu. Di subuhku, di Dhuhaku, di siangku, di asharku, di maghribku, di malamku, bahkan di sepertiga malamku. Pasti di waktu-waktu itu, hatimu merasa nyaman bukan? Oh, tidak. Aku tidak pernah berdoa agar kamu menjadi milikku. Tidak sekalipun terpikir berdoa itu. Doaku hanya agar kamu selalu baik-baik saja dan berbahagia, di mana pun, bersama siapa pun, sedang melakukan apa pun. Itu saja. Bahkan, doa tentangmu selalu jauh lebih dulu dari doaku sendiri.



Yang paling sering adalah aku menulis tentang rahasiaku yang mencintaimu. Seperti ini misalnya,
Kita di sini lagi, di sebuah lingkaran tanpa henti. Kamu, aku, dan rahasia di masing-masing dada.


Kamu harus ingat janjiku ini. Ada juga di twitku.
Pagi selalu datang, sayang. Seperti aku, akan datang kapan pun kamu membutuhkan.
Itu benar. Aku sama sekali tidak berbohong ketika menuliskannya.

Aku juga lupa kapan waktunya, tapi ketika itu sepertinya karena aku tidak berani mengatakan cinta padamu dan kamu lelah menunggu, sampai aku punya perempuanku dan kamu punya lelakimu. Dan aku menulis,
Di suatu malam, kita sama-sama berangkat. Berbeda arah. Apakah itu artinya kita saling menjauh?


Ada satu twitku yang pasti menjejali timeline followerku yang seingatku, itu twit paling membuatku, mmm bagaimana mengatakannya, ... Jatuh. Iya, aku jatuh. Itu adalah saat aku tahu, kamu sudah bersama lelakimu.
Lalu kamu berjalan. Aku memandangi punggungmu. Berharap tidak pernah lagi seperti itu.


Dan setelah berjalan lama, kita mulai jarang berbincang. Tidak ada catatan di blog kamu lagi. Aku tidak bisa membaca hatimu lagi. Sepertinya kamu sedang bersama lelakimu. Dan aku, aku juga 'terpaksa' bersama perempuanku. Belajar mencintai. Membangun cinta.
Kita sedang saling melupakan, sayang. Tidakkah kamu merasakan?


Ah, kalau aku menuliskannya terus, tidak akan cukup waktu seharian. Sepertinya ini sudah mencakup ceritaku tentangmu di timelineku.

Oya, terakhir. Aku dulu menulis,
Bahagia melihat tawamu.
Masih ingat itu? Itu hari pernikahanmu dengan lelakimu. Ada dua hal di twitku itu, kejujuran sekaligus kebohongan. Kejujuran ketika mengatakan bahagia melihat tawamu, tapi juga bohong karena tawamu adalah pernikahanmu. Kalau saja kamu tahu, menulis twit yang terakhir itu, aku sedang duduk di pojok kamar. Selama itu, aku sudah tidak tidur semalaman. Dan berlanjut sampai tiga malam. Bisa seseorang mengatakan kepadaku ada apa ini? Kenapa saat aku membutuhkan airmata, malah aku tidak bisa memunculkannya? Rasanya sangat menyesakkan tidak bisa menangis ketika kita kepayahan mencoba menangis.

Tapi baiklah. Sekarang, sudah saatnya aku pergi dan meninggalkanmu, bukan?





9 komentar:

dhika mengatakan...

Kalau hatimu merasa tenang, hangat, dan nyaman, barangkali karena namamu sedang kudoakan.
*jeda*
*mewek* :'((((

namarappuccino mengatakan...

:) Terima kasih sudah membaca dek. ^^

Nurul Khaliza mengatakan...

Dalem !

keren, kakak :)

namarappuccino mengatakan...

@Nurul: waaa terimakasih sekali dek ... Seneng kalau ada yang nyaman membacanya

Anonim mengatakan...

kamu, sebegitu berharganyakah ia ..?

keren

namarappuccino mengatakan...

@Anonim: Kalau dari tulisan ini, ia, lebih berharga dari itu. Jauh lebih berharga dari setiap tulisan yang menceritakannya. :)

fauziyah mengatakan...

nice story,,

namarappuccino mengatakan...

Hehehe. Terima kasih, dek Fauziyah. :)

Ririe Khayan mengatakan...

Semalam tidak tidur? Terus 3 malm berikutnya? huaaa....aku mah gak bakal bisa tuh begadang selama itu? Kalau sedih terus bisa nangis terus ketiduran deh...bangun tidur sdh berkurang kok tingkat kepekatan fundah gulananya...

Selamat menunaikan ibadah dibulan Ramadhan, seoga membawa diri menjadi insan yang ebih bertaqwa...mohon maaf lahir bathin yaa...