Kamis, 13 Oktober 2011

Tentang Ksatria Berkuda Putih

Aku mencari ... tetapi belum menemukan. Sampai kepalaku menjadi imajiner. Selalu membayangkan seseorang yang protagonis. Dengan segmen cerita yang selalu menampilkanmu sebagai sosok ksatria, ... mmm atau mungkin pangeran, yang berkuda putih dan tampan. Entahlah. Yang jelas segmen cerita itu selalu menampilkanmu sebagai pahlawan.

Tetapi sekali lagi itu hanya provokasi otak yang sangat hambar. Membuatku terbang, … memang iya. Tetapi terbang yang sama sekali tidak nyaman karena aku hanya sendirian. Dan pada akhirnya, semua hanya menjadi hitam. Terbangku berhenti ketika ku tersadar dari mimpi dan kembali kepada kenyataan.

Ah, mimpi-mimpi ini membosankan. Aku ingin ksatriaku datang dan menyelamatkanku dari mimpi-mimpi ini. Mengajakku ke wilayahnya yang menampilkan kenyamanan absolut. Membuatku tenang dan ingin tak setapakpun lepas dari jangkauan pelukannya.

Dan … sekali lagi, aku tergeletak dalam muram. Angan-anganku begitu saja dicampakkan oleh kesadaran. Ksatria itu tidak juga datang.

Menyebalkan!

*****


Senja ini memikatku.

Hamparan warna emasnya yang bergelantungan di langit barat, menarik mataku. Garis-garisnya serupa dengan mengagumkan. Dan kau rasakan hening ini ksatriaku? Damainya hampir setara dengan bayanganku tentang senyummu. Kenapa tidak dari pagi sampai pagi lagi suasananya seperti ini? Mungkin bisa ksatriaku. Mungkin … jika kau di sini bersamaku.



Angin di sini mulai mengelus kulit-kulitku. Aku merasa dingin. Maukah kau memelukku? Dengan pelukan paling hangat yang bisa kau berikan? Mau?

Kamu diam saja. Ah, Menyebalkan!

*****


Pagi ini aku terbangun, lagi-lagi dalam sendiri. Lama-lama situasi ini semakin tidak menyamankanku. Aku merasa sepi, entah kenapa. Bernyanyi sendiri, memasak untukku sendiri. Hef! Kenapa suasana seperti ini tidak segera pergi?

Jika kamu di sini, aku ingin memeluk dan menciumimu bertubi-tubi. Berhenti sebentar. Lalu kembali memeluk dan menciumimu bertubi-tubi. Lalu kau akan tertawa sambil meledekku. Ah, malu …

Kemudian kau akan memakan masakanku dan meminum kopi buatanku. Ah, bisa kau lihat binar di mataku saat ini? Tidak? Kenapa? Bukankah kentara sekali?

Aduh bayanganmu buyar lagi.

Menyebalkan!

*****

Jasmine tea, minuman favoritku. Apa minuman favoritmu, ksatriaku?

Aduh, Ya Tuhan! Rindu ini bisa membunuhku. Otakku bergerak liar secara arbiter terus-terusan membayangkanmu. Sampai meminum teh pun aku mengajak bicara dengan kamu melalui hatiku.

Kamu lihat wajah-wajah di luar di balik jendela café ini? Wajah-wajah itu … yang mana ksatriaku? Yang mana kamu? Kenapa tidak ada yang mampu membuat hatiku seperti gempa.

Hef! Kembali kepada minuman saja. Mau ‘kan ksatriaku? Tidak perlu menjawabku, toh memang aku selalu berbicara sendirian selama ini. Jasmine tea di café ini, entah ada resep apa di dalamnya, tetapi selalu seperti candu yang memberikan kehangatan menembus jantungku. Membuatku sejenak melupakan berkas-berkas terdakwa yang dibela oleh atasanku yang seorang pengacara. Aromanya khas. Rasanya hampir seperti senja yang kuceritakan padamu waktu lalu. Ya, mirip seperti itu.

Kamu mau suatu hari menemaniku meminum jasmine tea ini? Kamu tidak perlu melakukan apapun. Duduk dan diam di seberangku. Dan aku? Aku akan memandangimu sepuasku. Menyenangkan! Atau kamu berbicara apa saja. Benar-benar apa saja. Berbicaralah sampai membosankan kalau perlu. Tetapi asal kau tahu, aku tidak akan pernah bosan mendengarmu.

Ah, aku harus pergi. Kembali ke pengadilan lagi. Suatu hari aku harap kamu benar-benar berada di seberangku sambil meminum jasmine tea favoritku, atau minuman favoritmu. Terserah. Selama bersamamu, apapun minumannya aku mau.

Menyenangkan!

*****


Pengadilan hari ini membosankan. Setahuku terdakwa ini memang bersalah. Dia menodai gadis cantik itu. Tetapi dia seorang aparat keamanan. Menggunakan pengaruhnya untuk mengancam gadis cantik berkulit putih itu. Gadis itu memang pemakai obat terlarang, tetapi bukan berarti pembenaran untuk terdakwa menikmati tubuh gadis itu sebagai bentuk pertukaran agar gadis itu tidak dipenjara.

Bahkan atasanku tahu itu. Tetapi demi profesionalitas, katanya, dia harus membelanya. Bayarannya juga gedhe. Ah, bagaimana ini? Meskipun katanya terdakwa itu sulit lepas dari tuduhan ini, dan pasti dilepas dari jabatannya. Tetapi atasanku mengusahakan agar tidak dipenjara. Hah! Sial! Kalau aku jadi hakim, hukumannya adalah dikebiri! Sumpah! Biar tidak terjadi lagi!

Ah, maaf ksatriaku. Aku mengeluh. Kamu di mana? Aku ingin melihatmu. Sebentar saja. Bolehkah?

*****


Mungkin kamu belum mengerti Ksatriaku, rindu ini sudah tidak bisa di stastistik. Bermutasi menjadi keinginan irasional dan mimpi-mimpi. Lalu membuat turbulensi di otakku dan mengacaukan semua yang ada di sana.

Pikirku menjadi irasional. Isinya berserakan di mana-mana. Kecuali kamu. Hanya stagnan tetap di tempat biasa. Memakan hampir semua tempat di otakku. Berkilau secara spektakuler dengan alunan akustik yang melenakan.

Hanya saja kamu secara diktator seenaknya tidak pernah memperkenalkan diri ataupun memperlihatkan wajahmu. Ini mengerikan, ksatriaku! Mengerikan. Tidakkah kau tahu rasanya merindu hingga hatimu mau meledak? Tidakkah kau mendengar jeritan dari tempurung kepalaku ingin meneriakkan namamu secara membabi buta. Nihil, ksatriaku! Nihil! Kau ... acuh.

Dan, kilaumu jangan terlalu terang, ksatriaku? Aku memang meminta cahaya, tapi tidak dengan kilau seperti ini. Mataku bisa buta karenanya. Bisakah redupkan sedikit nyalamu agar aku bisa menatapmu? Bisakah mendinginkan sedikit cahayamu agar aku berani mendekatimu? Bisakah jangan melayang terlalu tinggi biar aku bisa meraihmu?

Apa warna rambutmu? Bagaimana kulitmu? Apakah matamu tajam atau sendu? Bagaimana dengan tubuhmu? Gemuk atau langsing? Suaramu? Di mana tempat tinggalmu? Usiamu?
Argghhhh! Aku benci ini!

Menyebalkan!

*****


Ksatriaku, aku terbangun dari mimpi tadi malam. Lagi-lagi dalam kesendirian. Ini sungguh-sungguh menyiksa, ksatriaku. Benar-benar menyiksa! Seperti hidupku terus berotasi dalam hal-hal yang sama. Setiap hari. Setiaaaap hari ...

Bisakah kamu datang lebih cepat, ksatriaku? Hari ini? Besok hari? Satu minggu lagi? Sebulan lagi? Bisakah? Kumohon? Tidak? Baiklah. Tidak mengapa berapa lama pun. Asal kamu tahu bahwa aku menunggumu ... selalu.

Ada konspirasikah Ksatriaku? Untuk menunda kedatanganmu dan keberanianku mendekatimu? Apakah ini ada dalam ramalan nostradamus bahwa kita akan bertemu? Semoga ada, ksatriaku. Karena ramalan Nostradamus kadang benar, meski aku sama sekali bukan orang yang percaya ramalan.

Tetapi Ksatriaku, ... prasangkaku tentang adanya konspirasi untuk menunda kedatanganmu ini benar-benar membuat tsunami otak yang besar. Sampai aku setengah mampus menahan sampah polusi rindu.

Datanglah cepat, Ksatriaku. Bawalah senyuman terhangat. Buat mataku luluh. Biar kuberikan hatiku utuh.

*****


Aku butuh insulin Ksatriaku. Secepatnya. Setiap hari. Insulin tidak biasa yang terbuat dari senyummu dan binar di matamu di setiap pagi ketika aku membangunkanmu. Lalu aku akan bawel berkata ini itu.

Mengomel tentang kebandelanmu menunda mandi atau bermalas-malasan di kasur. Insulin-insulin semacam itu pasti menyamankanku. Dan ketika aku melihat cincin kawin kita, maka otakku akan overload. Mabuk kepayang!

Tetapi itu masih visi, Ksatriaku. Pikiran dan mimpi-mimpi yang belum mempunyai identitas. Masih mistis untuk dilihat dalam dimensi nyata.

Aku membenci visi ini, Ksatriaku. Seperti sebongkah kesombongan tentang tabir yang bisa seenaknya dibuka dan ditutup, sampai aku merasa seperti pecundang. Aku benar-benar ingin visiku menjadi nyata!


*****


Ksatriaku, ada teroris di otakku!

Menyerang sampai dalam karena terprovokasi oleh roman-roman picisan masa lampau. Dimana kisah cinta begitu romantis.

Teroris itu bernama rindu egois. Benar. Egois karena tidak memikirkan hidupku. Yang dipikirkan hanya kamu, Ksatriaku. Jika pun memikirkan hal lain, barangkali hanya pengalihan sekejap. Dan sekejap kemudian kembali berpikir tentangmu lagi.

Dan otakku dijadikan semacam eksperimen tentang objektifitas paranoid dan ikhtisar rindu. Paranoid karena takut kehilangan kamu meski bahkan memilikimu pun aku belum, dan ikhtisar rindu karena memang ini sebuah rindu yang terajut setiap hari. Lalu apa yang terjadi kemudian aku tidak tahu, Ksatriaku.

*****


Kamu di sini. Dan aku bawel setiap pagi membangunkanmu. Terus mengomel agar kamu cepat bangun. Berbicara tentang malasnya kamu, bahwa kamu harus cepat berangkat, cepat mandi. Anehnya, aku tak pernah lupa menyediakan kopi di samping ranjangmu.

Bahkan ketika pulang pun, aku kadang masih mengomel tentang segala sesuatu ... kadang-kadang memang melelahkan. Tetapi kau tak pernah jenuh. Kau masih tersenyum. Lalu menyediakan sebuah puisi dan sebuah mawar untukku. Setiap hari demikian.

Aku ingat beberapa puisi yang kamu berikan untukku. Memang semuanya singkat, tetapi selalu mampu memberiku perasaan benar-benar dicintai olehmu. Seperti, ”Aku ingin mengumpulkan setiap serpihan cahaya, lalu memberikannya untukmu”. Atau seperti, ”Ini tentang sesuatu yang orang-orang biasa menyebutnya cinta, yang membuatku selalu mampu melakukan apa pun untukmu ...”. Atau juga kata sederhana seperti, ”Aku tak keberatan menemanimu setiap hari”.

Ah, ksatriaku ... Kau membuatku benar-benar jatuh cinta.

Dan kamu tahu? Salah satu momen favoritku adalah ketika bertemu denganmu di toko buku itu. Kau terlihat letih malam itu. Tetapi entah kenapa aku tak bisa berhenti mencuri pandang wajahmu. Awalnya kamu tidak menyadarinya. Tetapi setelah beberapa menit kemudian, kamu memandangku dan tersenyum. Ya Tuhan, aku langsung jatuh hati.
Saat itu aku benar-benar ingin berkata, ”Tinggalkan sejenak larimu, dan sandarkan letihmu di pundakku”. Tetapi nihil. Tidak ada suara di bibirku meski sebenarnya menggema di batinku.

Ah, rasa ini boleh kulanjutkan sebentar lagi?

Dan kamu tahu doaku benar-benar terwujud, waktu itu kamu mendekatiku dan berbicara tentang buku yang aku pegang. Kamu sudah membacanya. Lalu kita berkenalan. Dan ajaib. Semuanya terjadi begitu saja.

Tetapi momen terfavoritku adalah setiap kali kamu memanggil namaku. Rasanya seperti ... menyenangkan! Seperti mimpi. Karena kamu milikku dengan benar-benar ada cincin kawin kita di jarimu. Tapi ini bukan mimpi. Ini sedang benar-benar terjadi.

Dan kamu tahu Ksatriaku, tidak masalah apapun yang terjadi. Selama kau bersamaku, aku pasti bisa melalui semuanya ...

Sudah subuh hari. Saatnya membangunkan Ksatriaku yang tertidur seperti bayi. Seperti biasa, aku akan memeluknya sambil menciuminya. Rutinitas setiap pagi untuk membangunkannya sejak pernikahan kita sebulan lalu.

Aku bahagia. Kamu juga bahagia kan kstariaku?

1 komentar:

fauziyah mengatakan...

ini cerita, uhmm..