Sabtu, 01 Oktober 2011

Tuhan, Kau Sedang Bercanda Kan?

Sudah lebih dari satu jam aku di sini, memandangimu, mengamatimu. Di bawah cahaya remang-remang semacam lentera.

Pakaianmu biasa, terkesan seadanya. Kadang, kamu mengelap keringat di keningmu, tapi masih sambil tertawa. Entah kenapa, kamu di mataku terlihat sangat bahagia. Aku sampai mengamatinya seperti gerakan lambat dalam film-film. Cara kamu tertawa, cara kamu berbicara, cara kamu memperhatikan setiap omongan orang dengan perhatian yang mengagumkan. Semuanya.

Lihat? Kamu sudah menjadi mantra. Setidaknya bagi mataku, karena aku masih saja senang mengamatimu.

*****

Kali ini, sudah tiga gelas kopi tubruk terjun ke perutku dan beberapa gorengan di dekat Malioboro ini. Malam juga sudah hampir jam satu. Tapi kamu masih di sana. Bercanda dan tertawa sambil menyediakan teh atau kopi bagi orang-orang di sana, termasuk aku. Tidak terlihat keluhan di wajah manismu. Mungkin itu yang membuatku betah berlama-lama.

Tuhan, apa KAU mendengarku? Sepertinya aku sedang jatuh cinta. Terlalu cepat? Tidak juga. Ah, KAU pasti mengenal benar tentang cinta pada pandangan pertama, Tuhan. Ini, ini. Sepertinya aku sedang mengalaminya.

Lalu orang-orang mulai pergi. Mungkin memang sudah waktunya. Ini sudah pukul setengah dua. Aku berpikir, sepertinya aku harus memesan satu gelas kopi tubruk lagi untuk bisa berbicara denganmu, mengenalmu. Mumpung warung remang-remang ini sudah sepi.

Saat kamu menyuguhkan kopi, aku memberanikan diri memintamu duduk.

Santi, kamu menyebutkan namamu. Masih dengan senyum. Manis, meski tidak seperti bintang film. Tapi, dengan kulit cokelat khas Indonesia dan rambut hitammu, bahkan dengan pakaian seadanya itu, kamu tetap masih cukup manis.

Lalu kita berbicara berdua. Ternyata kamu lucu, bisa membuatku tertawa. Entah kenapa, aku merasa kehangatan di dada. Ah, tidak juga. Ternyata hangatnya sampai ke otak dan mata. Aku nyaman di sini, dengan kamu berbicara.

Sepertinya aku memang kedatangan cinta. Iya kan, Tuhan yang Di Atas Sana?

Tidak terasa, sudah sejam mungkin kita berbicara. Simbok-simbok, yang katanya tetanggamu itu sudah mulai memberesi tikar dan piring-piring. Kamu harus membantunya, katamu. Tapi kemudian kamu diam sejenak, memandangku sambil tersenyum.

"Jadi malam ini sampeyan mau menyewaku, kan? Cuman dua ratus ribu sudah sama losmennya dua jam. Sampeyan akan jadi pelanggan pertamaku malam ini. Tenang saja, nanti aku mandi dulu sebelum melayani sampeyan," katamu sambil berdiri dan memintaku menunggu dulu. Harus membantu si simbok.

Dari sejak kamu berbicara kalimat itu tadi, aku belum bersuara apa-apa.
Tuhan, KAU sedang bercanda kan?

4 komentar:

Qonita Karimah mengatakan...

wow.

namarappuccino mengatakan...

Hehhehe. Hope it doesnt happen in real life.

Joni mengatakan...

Pilihan yang sulit......:)))

Antara melanjutkan ngobrolnya atau melanjutkan ngopinya..

namarappuccino mengatakan...

hihihi