Rabu, 09 November 2011

Aku Baru Saja Mendengar Cerita dari Seseorang yang Mencintaimu


Aku baru saja mendengar cerita dari seseorang yang mencintaimu.

Aku mendengarnya sangat jelas. Dia seperti seorang pengkhotbah atau CEO yang sedang melakukan presentasi, sangat tahu apa yang dibicarakannya.


Ya, dia bercerita detail tentang penampilanmu. Tentang alis melengkungmu, tentang rambutmu yang bergelombang, tentang kulit pucatmu, tentang tinggi badanmu, bahkan dia tahu jam tangan apa yang kamu kenakan, parfum favoritmu dan selalu berpakaian seperti apa. Dari situ aku tahu, sepertinya dia benar-benar mencintaimu. Kenapa dia bercerita padaku? Seseorang yang sudah menjadi milikmu dan sangat mencintaimu?



Dia juga bercerita tentang kebiasaan-kebiasaan dan kesenangan-kesenanganmu. Seperti kamu suka menonton film dan membaca buku. Dan kamu akan bercerita tentang film-film itu sambil tertawa. Dia suka cara kamu bercerita dan tertawa, katanya. Ah, dia tidak tahu, aku juga sangat menyukai itu.


Di waktu senggangnya, dimana waktu-waktu tertentu itu dia tidak bisa melihatmu, dia merasa rindu. Rindu yang, entahlah, ketika dia bercerita aku bisa tahu bagaimana rasa dia ketika rindu. Seperti benar-benar ingin bertemu. Seperti bahwa dia membenci jarak dan waktu yang menghalanginya menemukanmu. Tapi, yah begitulah. Meski dia tahu kamu milikku, dia terus saja bercerita bahwa dia mencintaimu.


Aku bertahan mendengar cerita dari seseorang yang mencintaimu.
Dia mengatakan kamu cantik sekali. Lebih cantik dari gelembung warna-warni dari film-film fiksi ilmiah. Lebih cantik dari pemandangan dari air terjun Niagara yang sering cipratan airnya membuat pelangi. Lebih cantik dari terbit dan tenggelamnya matahari.
Kadang, kalau dia rindu, dia akan memejam dan membayangkanmu. Membayangkanmu sedang tersenyum, bercanda dengannya atau membawakan secangkir kopi sambil memeluknya dari belakang dan menciumi pipinya.
Tepat di situ, aku meminta dia berhenti bercerita dulu, tapi dia tak memedulikan omonganku.
Lagi-lagi dia menggambarkanmu sebagai sosok yang dicintainya setengah mati. Dia mengatakan bahwa dia tidak keberatan menemanimu seharian. Mendengarmu bercerita sepanjang malam atau sekadar menemanimu meminum susu dan roti. Dan dia tidak akan bosan dengan ceritamu, atau tawamu, atau pemandangan ketika kamu pelan-pelan mencuil dan mengunyah roti, atau ketika kamu melirik ke anak kecil di dekat situ dan tertawa sambil mengatakan, ‘lucu’.
Aku tidak tahu bagaimana membuatnya berhenti bercerita tentangmu.
Dan lagi, dia kemudian mengatakan bahwa senyummu itu candu. Dia ingin terus menjaganya seperti itu. “Jangan pernah dia menangis. Aku tidak suka dia menangis. Membayangkannya saja dadaku sesak,” katanya.
Hei! Yang dia bicarakan itu kamu! Milikku! Istriku!
Terakhir,  dia mengatakan bahwa ada cinta yang banyak darinya, … untukmu. Seberapa pun banyaknya cintamu, dia akan mengalikannya seribu untuk mencintaimu.

Oya, sudahkah aku bilang bahwa sebenarnya yang bercerita dan yang mendengar (dia dan aku) adalah orang yang sama?
****

Aku melipat kertas tulisanku itu serapi mungkin, mengendap ke meja sampingmu agar kamu tidak terbangun, dan menaruhnya di sana bersama satu bunga mawar yang kubeli tadi sore.

Besok pagi, ketika kamu terbangun nanti, aku mengharapkan ciuman bertubi-tubi darimu dan secangkir kopi susu khas buatanmu. Dan kamu akan mengucapkan selamat pagi dari senyummu.

Itu, senyummu. Lebih berharga dari apa pun yang pernah kumiliki. Kamu sangat tahu itu, bukan?

9 komentar:

Nurul Khaliza mengatakan...

ahhh.. kerenn ! :D :')

namarappuccino mengatakan...

Hehehe. Selamat datang lagi di fiksiku, dek. ^_^

Nurul Khaliza mengatakan...

Iya kka :) udah lama lho kk gak nulis fiksi, hehe kangen juga :D

namarappuccino mengatakan...

Akhir-akhir ini lagi ada pikiran. Makanya puisinya agak berkurang dan fiksinya juga beberapa hari gak bikin. :)

Semoga bisa aktif lagi.

Ditter mengatakan...

Mantaap.. Emang jagonya fiksi nih mas Erik, hehe.... Ceritanya romantis euy.... :D

Nurul Khaliza mengatakan...

semoga !

gak usah mikirn aku kak hehe #GeeR #kabur

namarappuccino mengatakan...

@Adit: Hayyah mas Adit ini. Hahahah

@Nurul: Hahahaa. kamu ini dek. Sukses ya cerpennya yang mau dikirim. SHINE ON! ^_^

dhika mengatakan...

aaah, baru baca :')
langsung minder ga pernah nulis lagiii

namarappuccino mengatakan...

lho? Kok minder dek? Come on, bulis lagi. Pasti aku baca. :)