Selasa, 29 November 2011

Kalau Aku Bisa Mengubah Tangismu Menjadi Senyuman, Cukupkah Untuk Mendapat Hatimu?




Dan di sini aku dalam posisi tidak tentu. Melihatmu menangisi kepergian lelaki itu. Ya. Lelaki itu. Yang dulu katamu sangat tampan, baik, dan sudah mapan. O, tentu aku menyetujuinya. Aku kira semua orang akan sependapat denganmu juga. Dia tampan, baik, dan sudah mapan. Aku benci mengulanginya. Tapi aku memang harus mengakuinya.

Dan berapa lama kamu bersamanya? Empat bulan? Enam bulan? Ya. Delapan bulan sepuluh hari, kamu bercerita. Di masa-masa itu, kamu memang terlihat selalu tertawa. 

Dia sering membawakanmu bunga, pada suatu hari kamu lagi-lagi bercerita. Aku belum pernah melihat matamu memiliki cahaya seperti itu sebelumnya. Berbahagia. Menjemputmu dan mengajakmu ke tempat-tempat yang belum pernah aku kunjungi. Kamu pun baru mengunjunginya ketika itu. Ketika bersamanya.

Dia juga membelikanmu banyak gaun, sepatu dan tas. Ya, tentu saja. Dia banyak bertemu orang-orang penting dari kelas atas. Pasti siapa pun yang bersamanya harus terlihat ‘wah’ juga. Dan aku akui, kamu terlihat cantik sekali dengan apa pun pemberiannya. Bergemerlapan. Ini bukan berlebihan. Kamu memang terlihat ‘gemerlapan’.

Tapi semua berakhir sore tadi. Kamu meneleponku sambil menangis. Membutuhkan telingaku. Iya. Tentu saja. Aku selalu datang dengan segera.

Kamu berada di pojok di salah satu skydining. Kamu suka tempat makan ini, karena kamu selalu bisa melihat cahaya-cahaya lampu dari atas. Terlihat romantis.

Biasanya, di tempat ini, kamu selalu ceria. Bercerita dengan begitu mudahnya tentang apa saja. Termasuk lelaki itu. Tapi melihat senyummu yang setengah terpaksa kali ini dan mengingat tangismu di telepon tadi, sepertinya untuk kali ini, aku tidak bisa mengharapkan keceriaanmu seperti biasa.

Ya. Kamu bercerita tentang melihatnya bersama seorang gadis cantik dan seksi. Berangkulan mesra memasuki sebuah hotel berbintang lima. Kebetulan kamu di sana sedang ada acara pernikahan salah satu teman SMA. Kamu berpikir betapa bodohnya karena tidak mengejar dan memakinya. Kamu tidak bodoh. Kalau kamu melakukannya, kamu justru akan terlihat bodoh. Orang seperti dia bisa memutar balikkan fakta. Berpura-pura tidak mengenalmu misalnya.

Kamu hanya bisa diam dan tanpa permisi langsung pulang dari acara pernikahan temanmu itu. Mengendarai mobilmu sambil terus menangis sesenggukan. Bahkan menelepon lelaki itu pun kamu tidak sanggup.

Ya sudah. Kamu sudah di sini. Aku akan menemanimu semalaman ini. Sampai besoknya lagi, dan besoknya lagi. Sampai tangismu berhenti dan kamu bisa tertawa lagi.
Aku tidak memiliki mobil berlambang kuda jingkrak seperti dia. Tidak memiliki rumah dengan taman luas seperti dia. Tidak akan sanggup membawamu ke restoran yang untuk memesan tempat pun harus minimal sebulan sebelumnya. Aku juga tidak akan dipanggil bos dan dikenali semua orang seperti dia. Aku ini orang biasa. Ke mana-mana hanya menaiki motor roda dua.

Tapi, kalau aku bisa mengubah tangismu menjadi senyuman, cukupkah untuk mendapat hatimu?

“Tidak apa-apa. Menangis saja. Sepuasmu. Semuanya akan baik-baik saja. Kamu akan mendapat seseorang yang lebih baik dari dia.”

Hanya itu kata-kata yang keluar dari mulutku.



10 komentar:

Amdhas mengatakan...

Yeah..cinta tak bisa di nilai dengan harta.

namarappuccino mengatakan...

Yap. Tapi mungkin kadang wajar bagi seorang perempuan menginginkan seorang pria yang mapan. Dan mungkin juga wajar bagi seorang pria yang takut mendekati seorang perempuan karena dia adalah orang biasa.

Manusiawinya.

Tapi tetap tergantung individunya. Selalu ...

Syam Matahari mengatakan...

Cinta sudah menjelma dalam pandangan publik, bahkan hati pun bisa diarahkan... xixixi, cinta cinta cinta :)

Ely Meyer mengatakan...

rasanya tidak semua perempuan berpikiran spt itu, walau di jaman spt ini byk jumlahnya.

Mereka mereka yg nggak sadar bahwa cinta krn harta suatu ketika bisa luntur seketika saat harta tak ada lagi, byk kasus yg kulihat dan kudengar , akhirnya hanya duka lara di sepanjang hidupnya.

Mungkin juga byk faktor salah satunya pandangan masyarakat, keluarga dsb, bahwa mempunyai pasangan yg kaya adalah yg terbaik, yg terkadang membutakan mata perempuan.

namarappuccino mengatakan...

@Syam: Hmm. Cinta. Memang gak ada habisnya kalau dibahas. :D

@Ely: Saya setuju mbak Ely. Tidak semua perempuan seperti itu. Dan sebenarnya mau meneruskan fiksi ini dengan bahwa gadis itu juga mencintai lelaki ini. Tapi lelaki ini tidak berani mengungkapkan karena merasa beda 'kelas'.
Sesuatu yang ironis, tapi kadang terjadi.

zahrina mengatakan...

Aku mau baca cerita selanjutnya mas :DD

Nurul Khaliza mengatakan...

Mau dilanjutkan k'erick? Lanjutkan saja! :D

namarappuccino mengatakan...

@Zahrina: hehehe. tapi itu selesai. :D Nanti bikin yang happy ending saja, yang berbeda. :)

@Nurul: Hehehe. Ganti cerita lain saja ya dek. :D

Nurul Khaliza mengatakan...

Iya kak :D

Dan, boleh happy ending mungkin?
Kasihan cowoknya, kalau sad ending terus hehe :)

Hidup Sederhana mengatakan...

bagus sekali fiksimu mas.. :)