Minggu, 13 November 2011

Karena Tuhan, Tidak Sekelas Manusia

Kalau ada yang meramal kita sesuatu dan kita percaya, well Tuhan bukanlah dia. Sebuah ramalan, betapa pun benarnya, adalah kebohongan. Dan kalaupun benar terjadi pun, Tuhan yang membuatnya terjadi, TETAPI bisa mengubahnya kapan saja. Peramal bukan Tuhan, karena Tuhan bukan sekelas manusia.

Kalau dokter mengatakan umur seseorang, katakanlah tinggal beberapa tahun atau bulan, iya, dokter pintar, sesuai ilmu pengetahuan. Tapi dokter tetap bukan Tuhan. Kalaupun terjadi sesuai perkiraan, yang membuatnya terjadi tetap Tuhan. Tetapi jika orang itu sudah menyerah dan pasrah, berarti dia menyerahkan hidupnya pada dokter, bukan Tuhan. Mempercayakan boleh, tentu saja. Tapi jangan lupa dengan keajaiban yang bisa dibuat Tuhan kapan saja, di mana saja, kepada siapa saja, dalam keadaan apa saja. Dokter sepintar apa pun bukanlah Tuhan, karena Tuhan tidak pernah sekelas manusia.

Kalau ada yang mengatakan kita bodoh atau masa depan suram, dia tetap bukan Tuhan, seberkuasa apa pun dia. Kita tidak bodoh, masa depan kita juga tidak ditentukan oleh perkataannya. Satu-satunya cara membuktikannya adalah dengan memperlihatkan keberhasilan kita di masa depan. Siapa pun yang meremehkan orang, dia bukan Tuhan, karena Tuhan tidak pernah sekelas manusia.

Seseorang bisa berkata apa saja, sekaya tumpukan berlian menggunungi negara, atau seberkuasa memimpin dunia. Tapi tetap bukan dia yang menentukan segalanya. Bukan dia yang menentukan nasib, hidup mati dan masa depan seseorang. Semuanya, selain diri sendiri (seperti firman-Nya kecuali hidup mati), Tuhan yang membuatnya terjadi.

Manusia bukan Tuhan, sekuat apa pun dia. Karena Tuhan, tidak sekelas manusia.




Tidak ada komentar: