Senin, 14 November 2011

Kita Juga Bisa Membuat Orang Lain Berbahagia


Pernahkah Anda sedang merasa sedih, patah hati, atau mengalami masalah dan butuh dihibur oleh seseorang? Ditenangkan, dibuat nyaman, disenangkan? Tapi pada saat seperti itu, tiba-tiba ada seorang kerabat, saudara atau sahabat datang dengan juga wajah sedih dan ingin dihibur. Aneh. Kita sedang ingin dihibur, tapi malah orang lain meminta kita (dengan sengaja atau tidak) untuk menghiburnya.

Dan mungkin karena kebaikan hati Anda, atau apa pun alasannya, Anda kemudian mengajaknya berjalan-jalan, mengajaknya makan makanan kesukaannya, melakukan hal-hal yang disukainya dan Anda menemaninya, atau bahkan hanya sekadar menemaninya bercerita. Memeluknya, menggenggam tangannya erat, dan mengatakan semua akan baik-baik saja. Bahwa ada Anda, orang terdekatnya akan  selalu bersamanya.

Lalu setelah melihatnya puas bercerita, atau ketika Anda selesai mengajaknya melakukan hal yang dia suka hingga dia kembali bisa tertawa; entah kenapa, Anda juga tertawa dan merasa lega. 

Pernahkah?


Kadang ketika melihat seseorang tertawa karena kita, melihat seseorang merasa senang karena kita, melihat seseorang merasa lega karena apa yang kita lakukan, kita juga merasa senang yang tidak bisa digambarkan. Berbahagia.

Karena itu, mungkin (benar-benar mungkin), kadang, ketika kita sedang merasakan sesuatu--terjatuh barangkali, atau bersedih, atau masalah apa saja, lalu ada seseorang yang ingin berbagi kesedihannya, untuk bisa sedikit terhibur, sadarkah kita bahwa semuanya juga ada rencana Tuhan di baliknya? Mengirimkan orang itu untuk kita tenangkan perasaannya, untuk kita membantunya tertawa?

Iya. Bisa jadi pada kenyataannya, Tuhan memang berencana melakukannya. Mengirim orang yang butuh untuk dihibur, justru ketika kita sedang butuh dihibur.

Mungkin, banyak artinya. 

Pertama, mungkin Tuhan sedang menunjukkan, hei, seterpuruk apa pun kamu sekarang ini, ada orang yang masih membutuhkanmu, mencintaimu, mempercayaimu. 

Kedua, mungkin Tuhan sedang menunjukkan, hei, Aku tahu kamu sedang mengalami sesuatu yang berat, tapi lihat, ada juga yang mengalami sesuatu yang berat. Kamu tidak sendirian.

Ketiga, mungkin Tuhan hanya ingin mengajarkan kekuatan bahwa kita pasti bisa melaluinya. Lihat, kita bisa menghibur orang lain bahkan di saat kita sedang sangat membutuhkan dihibur. Kalau kita saja bisa menghibur orang lain, kenapa kita tidak bisa menghibur diri sendiri? Kalau kita saja bisa membuat orang itu tertawa, pasti kita sendiri juga bisa tertawa lagi, kan?

Keempat, mungkin Tuhan hanya ingin memberitahu tentang arti berbagi. Seseorang tidak bisa hanya meminta untuk dibagi kesenangan saja. Itu egois. Dalam berhubungan dengan orang lain, kadang kita harus menerima ketika mereka terjatuh juga. Itu namanya sahabat, keluarga atau saudara.

Kelima, mungkin Tuhan hanya ingin memperlihatkan pada kita dunia di luar sana. Hei, lihat di luar sana. Seberat apa pun masalah kamu, bumi masih berputar. Orang-orang masih bersekolah dan bekerja. Masih ada sinetron yang tidak habis-habis masa tayangnya. Masih ada lagu-lagu baru. Masih ada anak-anak Alay. Masih ada orang-orang yang tertawa ketika Anda berjalan-jalan. Masih ada Anda. Masih ada kita yang walaupun sedang terpuruk, terpuruk saat ini, bukan berarti terpuruk selamanya juga, bukan?

Keenam dan seterusnya sampai sejuta? Ah, Anda bisa menemukan sendiri alasannya. Selalu ada makna sesuatu di balik sesuatu.

Cara paling baik untuk dihibur,
Barangkali adalah dengan menghibur.

2 komentar:

panduan belajar blog mengatakan...

Cara paling baik untuk dihibur,
Barangkali adalah dengan menghibur.

#saya belum paham kalimat itu.

namarappuccino mengatakan...

Itu pepatah lama.

Dan belakangan ini, saya menyadarinya dan memahaminya.

Kadang, untuk berbahagia, bisa dengan cara membahagiakan orang lain.
Untuk bisa tertawa lega, dengan membantu orang lain agar bisa tertawa lega.

Sederhana hukum imbal balik (Bukan mengatasnamakan tendensi)
"Bahwa apa yang kita berikan, kita akan selalu menerima lebih."

Mungkin itu penjelasan sederhananya. :)