Rabu, 09 Mei 2012

Mungkin Kebetulan



Pada suatu ketika aku mendengar kamu bercerita tentang betapa kamu menyukai sebuah lagu tepat beberapa hari setelah aku upload tentang lagu itu di blogku. Kita? Suka lagu yang sama? Siapa yang duluan? Sepertinya aku. Jangan-jangan kamu mendengar lagu itu, setelah aku meng-uploadnya? Ah, tapi pasti tidak. Pasti hanya kebetulan.

Aku juga selalu membaca fiksimu. Dalam cerita itu, tokoh utamanya, si gadis, mencintai laki-laki yang entah kenapa, beberapa ciri dalam tokoh itu mirip aku. Mirip, tapi tidak sama. Tapi, mungkin memang kebetulan. Mungkin perasaanku saja yang ke-geer-an. Ya. Kebetulan.

Aku pun pernah menemukanmu membaca buku. Itu adalah buku yang aku suka. Karena itu aku sering menawarkan orang lain untuk membacanya. Pada suatu ketika, kamu bercerita membaca buku itu. Dan suka sekali, sama seperti aku suka buku itu. Buku yang kuceritakan, kamu baca? Kebetulan? Iya. Pasti. Lagipula itu buku laris. Jadi semua orang pasti mengetahuinya. Pasti kebetulan saja.

Ini. Pada suatu ketika, aku menemukan ada nama dengan inisial seperti namaku di salah satu bukumu. Seperti. Tapi yang punya inisial itu pasti juga banyak sekali. Bagaimanapun juga huruf hanya 26. Jadi, mungkin kebetulan mirip. Kamu pasti memikirkan seseorang yang kebetulan inisialnya mirip aku. Ya. Kebetulan.

Oya. Kebetulan juga kamu perhatian sekali kepadaku. Menanyakan kabar, menanyakan makan, menanyakan kesehatan ketika sakit, dan lain sebagainya. Ah, kamu. Sering membuatku merasa bersemangat dalam beberapa jam ke depan, bahkan seharian. Kamu pasti tidak mengetahuinya bukan? Bahwa setiap apa pun yang kamu katakan, dan itu untukku, aku merasa seperti seorang anak kecil yang mendapatkan balon atau permen. Girang bukan kepalang. Tapi kemudian aku berpikir, karena kita teman, mungkin kamu memang selalu melakukannya. Bukankah teman selalu saling memperhatikan? Ya, perhatianmu juga mungkin kebetulan. Kebetulan aku ini teman. Kebetulan. Jadi kamu perhatian.

Dari dulu aku mencintaimu. Dan dulu, hal sekecil apa pun yang kamu lakukan untukku membuatku berpikir kamu merasakan hal yang sama. Tapi sejak aku mengajak kamu makan malam berdua di tempat yang menyenangkan, dan kamu menolaknya ketika itu, aku kemudian menganggap semua hal antara kamu dan aku yang terlihat berhubungan sebagai, “mungkin kebetulan.”


8 komentar:

Nurul Khaliza mengatakan...

Ah, persis kisahku kak.

Jangan kebetulan, tolong! :)

namarappuccino mengatakan...

Semoga tidak 'kebetulan' ya dek. Semoga. :)

Lulu Syifa Fauziah mengatakan...

Waaa aku suka rangkaian kata-katanya.
Sukaa deh *ngacungin jempol* :D

namarappuccino mengatakan...

@Lulu: Terima kasih, dek. :D

Manik Mata mengatakan...

Mungkin juga tidak kebetulan kak. Semua sudah ada yang merencanakan bukan?

Fitri mengatakan...

glad to know there's someone who has the same story as me :)

Happy Fibi mengatakan...

Keren banget, Om >.<
Ini mirip2 kisahku *halah,ngaku2*..

Suka postingan ini :D

BasithKA mengatakan...

Beberapa paragraf diatas yang "mengulang" ditutup dengan klimaks yang dalam. Aku suka! :D