Kamis, 29 Maret 2012

Selamat Datang di Kepalaku

Selamat datang di kepalaku. 

Kalau kamu melihat ada banyak sekali potret dan fragmen video menyenangkan tentangmu, jangan salahkan aku. Itu selalu tidak sengaja terekam di sana. Mataku memotretnya atau merekamnya dan mengirimnya di situ. Di kepalaku. Menjejalkan sebanyak-banyaknya apa pun tentang kamu. Katanya, biar ruangan kecil itu penuh dengan kamu.

Aku bisa apa? Aku bahkan tidak bisa mengeluarkan satu kaligrafi kecil yang bertulis namamu dari sana. Entah siapa yang menempatkannya di ruang itu. Mungkin jantungku. Aku tidak tahu.

Dan kalau kemudian ada speaker yang kemudian memainkan suara dari macam-macam ceritamu, salahkan telingaku. Aku kira telinga hanya berfungsi untuk mendengar. Aku salah paham. Ternyata fungsinya bisa sama dengan mata. Merekam. Ah, dasar. Bahkan rekaman suaramu juga ada di ruang itu. Banyak.

Sekarang begini saja. Kebetulan kamu sedang bermain di sana. Bolehkah, kamu kemasi semuanya dan kamu bawa pergi? 

Ya, bawa pergi dan masukkan di kepalanya. Seseorangmu yang sekarang.

Ya. Aku sudah tahu tentang dia.

6 komentar:

Ayya Idris mengatakan...

Andai mengusir seseorang dari kepala semudah menekan tombol delete di handphone..

Ely Meyer mengatakan...

bahas spt ini kadang nggak mudah dipahami buat seorang yg nggak begitu ngerti tentang mengungkapkan perasaan lewat uraian kata yg sangat indah

namarappuccino mengatakan...

@Ayya: its not that easy, but sometimes we have to do it. :D

@Ely: Hehehe. Maafkan mbak. Nect time, better. :)

karakiri mengatakan...

I really hold my breath reading this .. I know how it feels like
nice words :)

namarappuccino mengatakan...

:D

It still fiction though.

But, i've been there before. So i think that exactly what we feel.

Zy Al-Fikriyah mengatakan...

membaca tulisan kak namara yg ini seperti merobek kembali luka jahit dihati

ada yg sama
"Seseorangmu yang sekarang.
Ya. Aku sudah tahu tentang dia"

kalimat itu
dalam, bahkan teramat