Kamis, 17 November 2011

Siapa Peduli?


Saya suka membaca buku, dan salah satu favorit saya adalah buku Ajahn Brahm yang berjudul “Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya.” Saya membacanya berulang sampai entah berapa belasan kali. Buku pertama dan kedua. Keduanya sama-sama enak dibaca. Penulisnya memang seorang pendeta Budha, tapi siapa peduli dari mana dan siapa yang menulisnya. Bagi saya yang penting adalah apa yang disampaikannya. Saya juga suka kalimat-kalimat Bunda Theresa. Saya Muslim, tapi saya menerima apa pun yang disampaikan orang tanpa melihat latar belakangnya, selama yang disampaikan adalah baik.

Nah, kembali pada buku Ajahn Brahm tadi, saya menemukan cerita favorit saya di sana. Seperti ini.

*****
Sepasang pengantin baru tengah berjalan bergandengan tangan di sebuah hutan pada suatu malam musim panas yang indah, seusai makan malam. Mereka sedang menikmati kebersamaan yang menakjubkan tatkala mereka mendengar suara di kejauhan: "Kuek! Kuek!"

"Dengar," kata si istri, "Itu pasti suara ayam."

"Bukan, bukan. Itu suara bebek," kata si suami.

"Nggak, aku yakin itu ayam," si istri bersikeras.

"Mustahil. Suara ayam itu 'kukuruyuuuk!', bebek itu 'kuek! kuek!' Itu bebek, Sayang," kata si suami dengan disertai gejala-gejala awal kejengkelan.

"Kuek! Kuek!" terdengar lagi.

"Nah, tuh! Itu suara bebek," kata si suami.

"Bukan, Sayang. Itu ayam. Aku yakin betul," tandas si istri, sembari menghentakkan kaki.

"Dengar ya! Itu a... da... lah... be... bek, B-E-B-E-K. Bebek! Mengerti?" si suami berkata dengan gusar.

"Tapi itu ayam," masih saja si istri bersikeras.

"Itu jelas-jelas bue... bek, kamu... kamu...." Terdengar lagi suara, "Kuek! Kuek!" sebelum si suami mengatakan sesuatu yang sebaiknya tak dikatakannya.

Si istri sudah hampir menangis, "Tapi itu ayam...."

Si suami melihat air mata yang mengambang di pelupuk mata istrinya, dan akhirnya, ingat kenapa dia menikahinya. Wajahnya melembut dan katanya dengan mesra, "Maafkan aku, Sayang. Kurasa kamu benar. Itu memang suara ayam kok."

"Terima kasih, Sayang," kata si istri sambil menggenggam tangan suaminya.

"Kuek! Kuek!" terdengar lagi suara di hutan, mengiringi mereka berjalan bersama dalam cinta.

Maksud dari cerita bahwa si suami akhirnya sadar adalah: siapa sih yang peduli itu ayam atau bebek? Yang lebih penting adalah keharmonisan mereka, yang membuat mereka dapat menikmati kebersamaan pada malam yang indah itu.

Berapa banyak pernikahan yang hancur hanya gara-gara persoalan sepele?
Berapa banyak perceraian terjadi karena hal-hal "ayam atau bebek"?

Ketika kita memahami cerita tersebut, kita akan ingat apa yang menjadi prioritas kita. Pernikahan jauh lebih penting ketimbang mencari siapa yang benar tentang apakah itu ayam atau bebek. Lagi pula, betapa sering kita merasa yakin, amat sangat mantap, mutlak bahwa kita benar, namun belakangan ternyata kita salah? Lho, siapa tahu? Mungkin saja itu adalah ayam yang direkayasa genetik sehingga bersuara seperti bebek!

*****
Hahaha. Ajahn Brahm ini lucu sekali. Tapi benar, ya, siapa tahu itu adalah ayam yang direkayasa genetic sehingga bersuara seperti bebek? Yak an? Yak an? Hahaha.

Baiklah, sekarang serius. 

Kenapa kita peduli dengan hal-hal di luar hanya untuk membuktikan siapa yang benar dan siapa yang salah? Toh tidak masalah juga itu ayam atau bebek. Tidak masalah siapa mendukung partai mana dan kemudian berdebat partai politik dukungan siapa yang lebih baik. Tidak masalah tim mana yang didukung. Kita boleh melakukannya (berdebat benar dan salah) dengan orang lain tentang hal di luar kehidupan berpasangan kita. Tapi begitu kita berdua, kenapa mempermasalahkan hal-hal di luar sana yang bahkan sama sekali tidak berhubungan dengan kita?

Tidak, saya tidak mengatakan bahwa kita harus egois mementingkan diri sendiri dan tidak peduli dengan apa yang terjadi di luar sana. Oh, kita harus peduli. Sangat peduli malah. Tapi tidak perlu mempermasalahkan perbedaan pendapat, bukan? Kalau pendapat berbeda, ya sudah. Silakan masing-masing mendukung partai politik atau tim tertentu atau apa saja. Tapi, tapi, tapi, … ada satu hal yang paling sama di antara kita dan pasangan kita, CINTA.

Sudah, pedulikan itu saja.

Lagipula untuk masalah sekecil bebek atau ayam, harga diri kita tidak akan jatuh. Justru mungkin akan membuatnya semakin jatuh cinta. Benar begitu bukan?

Oya, sebenarnya itu benar ayam atau bebek? Saya tidak tahu. Ajahn Brahm juga tidak tahu. Lagipula, siapa peduli?





2 komentar:

Nurul Khaliza mengatakan...

Saya pun seperti itu kak :)

Bukan soal penulisnya siapa, tapi tentang isinya :D

Kita sama!

namarappuccino mengatakan...

Yap dek. Yang penting isinya. :)