Kamis, 10 November 2011

"Tidak Ada, Saya hanya Menertawakannya"


Pada suatu ketika, saya mengenal seorang teman. Gadis biasa. Dia seseorang yang tipikalnya selalu ceria. Kebetulan, dia adalah seorang yang berada. Setidaknya keluarganya adalah keluarga yang berada. Jika dilihat dengan ‘berada’nya keluarga dia, kita pasti tidak tahu apa yang terjadi. Ternyata, ada sebuah kejadian besar. Keluarganya sedang mengalami kesulitan. Kesulitan yang sangat besar. Dari sini, saya sudah belajar bahwa 
"Sesuatu tidak selalu seperti apa yang terlihat."
Iya. Yang dilihat orang mungkin memang dia masih memiliki mobil dan lain sebagainya. Tapi tidak ada yang tahu kesulitan dia bukan?

Singkatnya, ternyata memang masalah finansial. Lebih besar daripada yang bisa saya atau Anda bayangkan. Sama sekali tidak kelihatan, tapi berdasarkan apa yang dia ceritakan, pada kenyataannya dia dan keluarganya memang mengalami kesulitan.

Dan dengan masalah yang berat seperti itu, dia masih tegar. Hidup berjalan biasa. Bermain, iya. Tertawa, iya. Melakukan aktivitas seperti biasa, iya. Intinya, semua berjalan seperti biasa.

Dan ketika seorang sahabat menanyakan kepadanya, "Bagaimana kamu bisa melaluinya?"


"Tidak ada. Saya hanya menertawakannya."

MENERTAWAKANNYA! Anda dengar itu? Menertawakannya.

Oya, sebelumnya, bagi dia, ada yang bisa dilakukannya agar tidak terjadi kesulitan seperti itu? Tidak ada. Semua sudah terjadi. Mau tidak mau. Apa bisa diulang waktu sehingga tidak separah itu? Tidak bisa juga. Dia bukan Tuhan. Apa bisa, misalnya melakukan sesuatu dan abrakadabra! Semuanya selesai dalam waktu singkat? Tidak. Ini bumi, bukan surga. Tidak semua permintaan dikabulkan sesegera mungkin.

O, lihat. Tidak ada yang bisa dilakukannya pada hal yang sudah terjadi. Mau melakukan apa pun, menangis, meratap, marah, memukul, frustasi, mengurung diri, berteriak, tetap apa yang sudah terjadi tidak akan berubah. Tidak sekecil apa pun.

Mungkin karena itulah kemudian dia memutuskan untuk "menertawakannya". Iya. Jika semua hal tidak bisa mengubah apa yang terjadi, daripada meratap atau frustasi, memang yang paling baik mungkin adalah menertawakannya. Menertawakan kenapa bisa seperti itu, menertawakan kenapa ada orang bisa sekejam itu menipu, menertawakan dia dan keluarganya kenapa bisa tertipu, menertawakan bagaimana besarnya usaha mereka untuk bangkit kembali, menertawakan semuanya.

Menertawakan tentu tidak membuat semua keadaan yang sudah terjadi menjadi berubah. Tentu tidak, tapi setidaknya, hati kita menjadi sedikit lebih baik.

Pernahkah Anda merasa malu karena mengalami sesuatu yang memalukan dan semua menertawainya? Apa yang Anda lakukan? Kalau saya, saya akan ikut tertawa. Saya tidak akan menjadi bahan tertawaan, tapi menjadi seseorang yang tertawa bersama mereka. Iya, kita bisa malu, menutup diri, dan pergi. Tapi, itu akan membuat mereka bertambah tertawa, mungkin. Jadi lebih baik, kita ikut menertawakannya.

Oya, pernah mendengar bahwa di dunia ini sekarang sudah banyak sekali "klub tertawa"? Kalau belum, ketahuilah bahwa tidak satu dua. Tapi banyak. Menyebar ke seluruh dunia. Apa yang dilakukan mereka? Tidak ada. Hanya tertawa, tertawa, tertawa dan tertawa. Mungkin ada sedikit perbincangan di awal dan di akhir pertemuan selayaknya klub biasa. Tapi sepanjang pertemuan itu, mereka akan tertawa. Kenapa mereka melakukannya?
"Karena tertawa itu menyembuhkan."

Mungkin, tidak menyembuhkan total rasa sakit atau pahit di hati kita. Tapi sedikit menguranginya.

Oh ya? Kalau saya? Apa yang saya lakukan? Oh, saya selalu menertawakan semua kepahitan yang terjadi dalam hidup saya. Hahaha.

Hidup memang hebat ya? Hahaha.

Lihat, saya terjatuh waktu patah hati itu. Hahaha. Lihat, saya dibohongi orang ketika melakukan wirausaha pertama kali. Hahaha. Lihat, lihat, lihat. Hahaha.

Baiklah, sudah tertawa, sekarang, saatnya kembali berjalan. Memperbaiki semua keadaan dan mengusahakan apa-apa yang saya butuh dan inginkan.



5 komentar:

Nurul Khaliza mengatakan...

Biarkan waktu menyelesaikan masalah.
Apa yang harus kita lakukan sambil menunggu waktu menyelesaikannya?

Tertawalah.

namarappuccino mengatakan...

Wew dek Nurul sudah online juga sepagi ini. :D

Iya, mari kita tertawakan. :)))

Nurul Khaliza mengatakan...

Hahaha :)
Iya kak, online terlalu cepat sepertinya.

Dibby mengatakan...

mari tertawa.. hahahahahaha :D

namarappuccino mengatakan...

Hahaha
:D