Kamis, 22 Desember 2011

Bukan Dia

Aku bukan dia, yang akan berpura-pura sibuk ketika kamu mulai bercerita dan mencari alasan untuk segera pergi dari sana. Aku yang biasanya akan menemanimu berlama-lama setelah itu. Mendengar setiap kalimat yang kamu sampaikan sampai detail kata per katanya. Mencoba merekamnya sesempurna mungkin agar kalau pada suatu ketika kamu menanyakannya, aku mungkin bisa menceritakannya nyaris persis sama seperti yang kamu ceritakan semula. Dari situ, aku berharap kamu sadar bahwa kamu diperhatikan dan bahwa kamu istimewa. Walaupun yang melakukan adalah aku, dan bukan dia.
Aku bukan dia, yang pada suatu waktu ketika kamu meneleponnya, dia akan menjawab singkat karena dia sedang sibuk, lalu menutupnya. Aku tahu, karena setelah itu, kamu akan meneleponku dan bercerita tentang apa yang dilakukannya. Di situ aku akan mendengarmu dengan perhatian dan kehangatan yang bisa aku berikan. Menenangkanmu dan meyakinkanmu bahwa semuanya akan baik-baik saja. Aku selalu melakukannya seperti sebuah kebiasaan, sebagaimana kamu selalu menghubungiku setiap kali kamu terluka oleh sikapnya. Kebiasaan.

Aku bukan dia, yang selalu menghadiahimu banyak hal. Dari boneka sampai cincin berlian bermata dua. Mengajakmu ke restoran-restoran mahal dan bertemu orang-orang terkemuka. Lalu mereka akan memuji betapa cantik pasangannya sampai dia terus menerus tersenyum bangga. Dia akan membelikanmu gaun, sepatu, dan tas yang berbeda untuk setiap acara yang akan didatanginya itu. Kamu selalu menghadiri acaranya, tapi dia jarang sekali menghadiri acaramu atau keinginanmu. Meski itu sekadar nonton film atau nongkrong di warung tenda kaki lima. Seperti biasa, kamu akan meneleponku untuk menggantikannya melakukan semua itu.
Ini sudah berlangsung lama. Dan aku selalu menggantikan posisinya ketika dia tidak bisa melakukannya. Kalau kamu terluka, aku yang dengan tergopoh-gopoh dan kelimpungan mencari akal agar kamu bisa kembali tertawa. Aku juga yang akan datang ketika kamu meneleponku memintaku datang. Aku akan menyambar pakaian dan kunci pada detik berikutnya setelah telepon itu ditutup untuk segera ke sana. Dan kalau sedang hujan, lalu kamu meneleponku untuk mengatakan sedang lapar, aku sering menerobos hujan agar bisa membelikanmu pecel lele kesukaanmu di dekat perempatan jalan Sudirman. Aku tidak punya mobil. Aku hanya punya sepeda motor dan jas hujan. Itu sudah cukup untuk menerobos hujan selama satu jam pergi pulang. Biasanya setelah itu aku akan menarik selimut dan menggigil kedinginan di kamar.
Aku akan melakukan semuanya, dan tetap melakukan itu sampai entah jangka waktu berapa lama. Masalahnya, ada yang kamu lupa. Kalaupun kamu terus menerus bercerita tentang dia, bukan berarti aku tidak bisa jatuh cinta. Aku lelaki, dan kamu perempuan yang sampai-sampai selalu dia bawa ke pesta untuk membuatnya bangga. Bagian mana yang sulit untuk kamu pahami bahwa hanya menunggu waktu sampai aku jatuh cinta? Dan asal tahu saja, aku sudah melakukannya, jatuh cinta. Dan itu sudah berlangsung lama. Menurut kamu kenapa aku mau menerobos hujan, kenapa aku segera datang begitu kamu ingin aku datang, atau kenapa aku melakukan apa yang selalu kamu minta aku lakukan? Teman baik? Kamu terlalu naïf. Lelaki sepertiku dan perempuan semengagumkanmu? Yang benar saja. Tapi ya sudahlah, lupakan saja.
Oya, satu lagi. Aku bukan dia. Jadi, bisakah kamu berhenti salah memanggilku dengan namanya? Walaupun tidak sering dan sesekali saja, tapi kamu pasti tidak tahu seperti apa rasanya setiap kali mendengarnya.



10 komentar:

Nurul Khaliza mengatakan...

"Menurut kamu kenapa aku mau menerobos hujan, kenapa aku segera datang begitu kamu ingin aku datang, atau kenapa aku melakukan apa yang selalu kamu minta aku lakukan? Teman baik? Kamu terlalu naïf. Lelaki sepertiku dan perempuan semengagumkanmu? Yang benar saja. Tapi ya sudahlah, lupakan saja."

Contoh betapa cinta, dapat dengan mudahnya bertepuk sebelah tangan.

Adyta Dhea Purbaya mengatakan...

Aku seperti membaca curahan hati bebii :D
Aku dan bebii, sebelum seperti ini, dulunya kayak apa yang ditulisan ini mas...
Bebii selalu ada setiap aku butuh. Bebii itu selalu siap dengerin aku cerita. Bebii juga yang selalu memeluk saat aku nangis karena dikhianati pacar-pacarku. Iya. Pacar-pacarku :D
Dua tahun begitu. Hingga akhirnya kami sadar satu hal. Sebetulnya. Kami membutuhkan satu sama lain :)

zahrina mengatakan...

Mas... speechless sampe bingung mau komentar apa. Semoga ga ada lagi cinta bertepuk sebelah tangan yang sedemikian sakit, tapi indah untuk dibaca, seperti ceritanya mas ini...

Ririe Khayan mengatakan...

kadang kita lupa bahwa ada diri kita yang perlu dicintai. Mencintai orang yg tidak mencintai kita, secara tidak langsung kita menempatkan diri untuk melukai diri sendiri. Tapi itulah cinta...

Cyaam mengatakan...

Pertama: tagline blognya ganti yah?atau baru? Saya sebelumnya gak ngeh dg keberadaan kata "mencintaimu sekali lagi" disitu.

kedua: nokomennnnnn untuk postingannya. huhu... sekuat apapun km mengatakan ini imajinasi/fiksi sy yakin, ini adalah penggaln dr kisah hidupmu.

Annesya mengatakan...

ra, mbok ya kadang-kadang ada komedinya gitu lho. masa setiap saya ke blogmu saya selalu pengen bunuh diri,isinya cinta bertepuk sebelah tangan semua *kendhat* :"(

namarappuccino mengatakan...

@Nurul: hihihi. Mungkin. Mungkin juga karena tidak pernah mengatakan. Belum tentu bertepuk sebelah tangan. :D

@Adyta: ehm. Suatu cerita yang dimulai seperti insya اَللّهُ langgeng. Amin. :)

@Zahrina: amiiiin. Amin.

@Ririe: *kasih jempol untuk quotenya*

@Syam: hehehhe. Bukan. Dulu "Do what you love, love what you do". Ganti karena aku lagi suka fiksiku yang "Mencintaimu Sekali Lagi" :)

Hehehe. Dan sepertinya sekeras apa pun aku membantah, tetap gak ada gunanya ya. One sentence: "Sometime, people only believe what they want to believe." :)
Gak pernah sekalipun mengalami kisahku yang seperti ini Syam. :)
Tapi sekarang, selalu menikmati setiap fiksiku yang dikira nyata. :) terima kasih Syaaaaaam. *salim*

@Annesya: hahahha. Maafkan. Padahal posting sebelum ini malah happy banget. Aku hanya menulis apa pun yang ada di kepala. Biasanya dari satu kalimat sederhana. Ini dari kalimat "Aku bukan Dia" lalu aku panjangkan.
Di BB, masih banyak note yang satu kalimat dan bisa dibikin fiksi. Pengen setiap hari posting, tapi kalau aku sendiri tidak puas dengan yang kutulis, gak ada gunanya. Minimal, enak dibaca.
Tapi perasaan memang akhir-akhir ini kok banyakan sedihnya ya? T_T

srrriii mengatakan...

aduh dalem yaaa.. :'(
emang namanya mirip ya mas, sampe disebut salah gitu namanya..
hehe

Vika Etiana mengatakan...

bener-bener fiksi? nggak ada campuran kisah nyata?
kenapa bisa sebagus ini :'(
saya mau bisa nulis kayak gini :p

BLOG TERBAIK mengatakan...

kenapa selalu kau tak bisa mengungkapkannya..bilang Kau cinta padanya...dan pasti akan ada Endingnya..atau mungkin kau berharap kalau cerita ini ngga akan pernah ada endingnya..heheehhe..