Minggu, 11 Desember 2011

Kamu, Aku, dan Fiksi

Kadang, aku merasa ini tidak adil sama sekali. Dan aku akan memberikan semua alasannya kenapa aku bisa mengatakan seperti itu.

Kamu pasti tahu benar kalau aku sudah mencintaimu berulang kali. Lagi, dan lagi. Seringnya pada momen berbeda, tapi pada intinya tetap sama, aku mencintaimu, lagi. Selalu seperti itu dan itu terjadi pada hampir semua cerita.

Kamu juga pasti tahu benar kalau dalam cinta-cinta itu, seringkali aku tidak bisa mengatakannya kepadamu. Meski begitu, aku kadang juga cukup punya nyali untuk beberapa kali mengatakannya. Ya, beberapa kali saja. Lebih seringnya, aku tidak mengatakannya.

Walau demikian, dari semua hal, bagian favoritku adalah ketika momen kamu menjadi istriku. Ya. Itu. Aku selalu suka bagian itu. Dan aku akan melakukan banyak hal untuk membahagiakanmu. Aku menulis puisi di setiap pagi, memijatmu, atau menemanimu nongkrong di teras rumah kita dengan secangkir teh atau kopi. Itulah momen di mana aku akan mendengarmu bercerita atau sekadar melihat rumput-rumput taman rumah dengan gangguan jemuran kita di sana.

Di banyak cerita itu, ada yang aku benci. Ada bagian di mana kamu tidak mencintaiku, atau aku terlalu pengecut habis untuk mengatakan mencintaimu, atau bahkan kamu punya lelakimu. Aku selalu membenci semua bagian itu. Tapi aku bisa apa, dan kamu juga bisa apa. Karena pada hakikatnya, hasilnya selalu sama. Aku mencintaimu. Itu saja.Selalu saja seperti itu.

Sayangnya, nah ini bagian yang paling tidak adil, aku dan kamu hanyalah tokoh fiksi yang diciptakan Namarappuccino pada semua cerita-cerita itu. Kita menjadi bahan favorit ‘si bodoh’ Namarappuccino untuk memenuhi kegilaannya terhadap imajinasi, dijadikan cerita, lalu sebagian orang mengira cerita itu nyata. Dan setiap hari, kita harus selalu merasa berdebar karena terus menerus berpikir kali ini kita akan berperan seperti apa? Apa kali ini kamu yang balik mencintaiku setengah mati, atau aku yang tetap menjadi objek derita yang lagi-lagi mencintaimu setengah mati? Ah, 'si bodoh' Namarappuccino itu terlalu mengistimewakanmu.

Tidak adil. Sudah menjadi tokoh fiksi, itu pun menjadi seseorang yang selalu mencintaimu.




4 komentar:

panduan belajar blog mengatakan...

sudut pandang yang bagus.
tidak masalah akan mendapatkan takdir seperti apa karena aku kamu itu menjalani sebuah peran.

Ririe Khayan mengatakan...

aku,kamu dan fiksi....bukankah ada sebagian yg gak fiksi? Minimal ide ceritanya? *nebak doang*

namarappuccino mengatakan...

@Panduan: Waaa nice words bro.:)

@Ririe: hihihi. fiksi kok. Kalau ada kesamaan, itu hanya kebetulan. *jiaah dah kayak sinetron aja alasannya. :D

Rosa Al-Rosyid mengatakan...

langsung jatuh cinta ma blog ini sejak pertama buka. heemmm... meskipun bikin galau... tapi saya suka :)
salam kenal namarappucino..