Selasa, 19 Juni 2012

Leaving You



Kamu tahu, ada hal yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya dan sekarang aku harus melakukannya. Ya. Leaving you, meninggalkanmu, melepasmu, atau entah menggunakan bahasa apa lagi yang pada intinya sama; tidak bersama denganmu, tidak mengingatmu lagi, atau apalah bahasa yang tepat untuk itu.

Pada awalnya aku merasa seperti batu. Sulit. Apalagi ketika momen-momen tertentu membuat kita kadang-kadang masih bertemu. Dalam kasus itu, aku bisa mengatakan, melupakanmu adalah hal yang mungkin paling sulit kulakukan dalam hidupku. O, kamu bisa bilang aku perayu atau apa saja, tapi ini aku, sedang mengatakan hal yang sebenarnya.

Asal kamu tahu, memoriku cukup luar biasa. Bisa menyimpan ribuan gigabyte atau bahkan jutaan kata para ahli tentang otak. Aku tidak tahu kebenarannya. Tapi aku tahu memoriku memang benar-benar luar biasa jika menyangkut kamu. Ya. Kamu.


Aku akan menjelaskannya dengan sederhana. Kamu ingat rok pendek hitam dan atasan biru itu? Itu pertama kali aku bertemu denganmu. Atau terusan kuning yang kamu kenakan ketika kita sejenak berfoto di dekat pancuran air itu? Itu pertemuan ketiga kita. Yang kedua dan yang lainnya juga aku ingat.

Aku juga ingat sepatu apa saja yang pernah kamu pakai. Tentu saja yang kamu kenakan ketika bertemu denganku. Kamu suka sepatu dan mengoleksinya. Ya. Aku tahu. Oya, jam tangan dan tas juga. Iya aku masih mengingat beberapa di antaranya.

Apa lagi. Kesukaanmu? Kebiasaanmu?Aku ingat semuanya. Tapi nanti saja. Kalau kamu mau menanyakannya, aku akan menjelaskannya. Satu per satu. Sepertinya butuh lebih dari seharian.

Dan memori tentangmu itu, apa kamu tahu bagaimana rasanya harus men-delete nya satu per satu dari otakku? Berat, karena memang kenyataannya tidak bisa. Otak manusia tidak punya tombol delete. Tapi tidak apa. Berangsur nanti, aku pasti bisa tidak terlalu mengingatnya. Catat ya, ‘tidak terlalu mengingatnya’, bukan ‘lupa’.

Kalau ada yang bertanya kenapa aku melakukan itu, leaving you, alasannya sederhana. Ternyata, dengan bertahan di sini dan melakukan hal-hal bodoh seperti mengingatmu, memikirkanmu, mencari tahu tentangmu, dan segala tetek bengek yang terpusat kepadamu, malah justru membuatku terpuruk. Aku sama sekali tidak bergerak maju. Stuck in you. And that’s annoying me. So, I decided to leave you. To let you go.

Lagipula apa enaknya hidup di masa lalu. Dunia berputar, orang-orang masih terus berjalan, masih ada anak-anak kecil yang tertawa riang, dan lain sebagainya. Dan pikiran serta hatiku terjebak denganmu? Yang benar saja. Aku tidak mau. Sudah cukup mengenangmu. Sekarang waktunya aku mencari kebahagiaanku sendiri. Siapa tahu di sana, ada seseorang yang menungguku?

Dan mengutip twit @susyillona, “Jika dengan bertahan tak membuatmu jauh lebih baik, mungkin melepaskan adalah pilihan terbaik.”

Ya aku memiliki pemikiran yang sama dengannya. Bertahan denganmu, sepertinya tidak membuatku jauh lebih baik, setidaknya dalam hal perasaanku. Tentu saja tidak baik. Kenapa harus memikirkan seseorang yang sedang jatuh cinta dengan pasangannya? Perbuatan bodoh. Karena itu aku akan melepaskanmu. Sudah, kamu pikirkan kebahagiaanmu saja.

Lagipula untuk apa aku mempertahankan sesuatu yang sudah tidak kumiliki lagi, hatimu. Mempertahankan adalah kita berjuang agar tetap menjadi milik kita. Kalau hatimu sudah bukan milikku, mau kuperjuangkan bagaimanapun akan tetap tidak menjadi milikku. Hati memilih, bukan dipilih. Termasuk hatimu. Jadi, lihat aku, leaving you…

Karena sebenarnya,
Masa lalu tidak pernah bisa menyakitimu.

Kadang,
Kamu sendiri yang mengundangnya datang untuk menyakitimu.

Entah sengaja entah tidak.
Entah sadar entah tidak.

22 komentar:

Una van Wiebs mengatakan...

Eh fiksi? Kirain curhat :p

namarappuccino mengatakan...

Hehehe pure fiksi kok,Una. :D

Judika B.M. mengatakan...

once you have feelings for someone, those feelings will always be there. You may not like them anymore, but you still care. :)

Dear Ara, its my 1st comment since i walked on your page. Rata2 yg Ara tulis bener2 menyentuh, membuat terenyuh, kadang membuat perasaan absurd bahkan cenderung rapuh. I really flattered. Sesuatu yg ditulis dari dan dengan hati pasti terasa mengalir :)

namarappuccino mengatakan...

Dear Judika. Hei i know you. Dari twitter kan? Nice to know that you're read my blog too. ^_^

Hehehe kadang masih tergesa-gesa menuliskan kok. Seperti yang ini, masih merasa something missing. Just dont know yet, which words.

I just read your tumblr.

Lidya - Mama Pascal mengatakan...

ooh cuma fiksi toh :)

Judika B.M. mengatakan...

Iah, we know each other from twitter (: udah bbraapa waktu lalu aku baca dan selalu ngikuti diam2 (but im not a stalker yah) (: and Ara is a managing editor of one of media production at Yogya, isnt it? (:

fiksi yg ditulis dari dan dengan hati pasti akan selalu menyentuh hati. Dan cuma hati yg tau apa dia sempurna atau msh ada yg kurang (:

Ely Meyer mengatakan...

meninggalkanmu sambil memohon bantuan waktu ... tapi apakah semudah itu ? :)

namarappuccino mengatakan...

@mbak Lidya: hehehe iya mbak. Sebenarnya lebih kepada siapa pun yang baca, yang belum bisa move on, semoga bisa membuat dia berpikir lagi untuk move on. Ada kebahagiaan yang menunggu dia.

@Judika: Hehehe. yap. Redaksi pelaksana.
Lebih kepada karena menulisnya tergesa. Shouldnt do that anymore. Tergesa.

@Mbak Ely: Hehehe. Gak kok mbak, waktu membantu, tapi keputusan untuk melepaskan, selalu dari diri orang itu. Jika tidak mau melepaskan, waktu sebanyak apa pun tetap tidak akan cukup untuk meninggalkan.

Judika B.M. mengatakan...

im looking for the 'like' or 'retweet' button over here to like your comment (Jika tidak mau melepaskan, waktu sebanyak apa pun tetap tidak akan cukup untuk meninggalkan) for mbak Ely, but i didnt find it. where's it?

fauziyah mengatakan...

i couldn't let him go,,tapi hatinya sudah tidak memilihku,,nahh, bingung jadinya saya..

namarappuccino mengatakan...

Him yang dicerita ini, sedang letting her go dek. :)

Kalau untuk dek Fauziyah, semoga bisa let him go. :)

Ririe Khayan mengatakan...

di frame ini bisa jd ini fiksi, tp bagi sebagian besar orang, leaving some one karena alsan " Jika dengan bertahan tak membuat jauh lebih baik, mungkin melepaskan adalah pilihan terbaik.”...banyak yg harus memilih langkah ini...

Ririe Khayan mengatakan...

I liket this "waktu membantu, tapi keputusan untuk melepaskan, selalu dari diri orang itu. Jika tidak mau melepaskan, waktu sebanyak apa pun tetap tidak akan cukup untuk meninggalkan."

namarappuccino mengatakan...

Tujuan utamanya agar membantu orang yang membacanya untuk move on, Rie. :)

pinkletters mengatakan...

terima kasih kak buat leaving younya. ini yang aku butuhkan :D

namarappuccino mengatakan...

Sama-sama dek. Ayo kita move on. kembali berjalan. :)

BLOG TERBAIK mengatakan...

Tolong beri saya cara untuk dapat mewujudkan hal itu,,,,#Melepasnya...

namarappuccino mengatakan...

Setiap orang mungkin memiliki pendapat yang berbeda, tapi intinya sama dan sederhana.

Sebuah beban hanya akan menjadi berat jika kita terus membawanya. Begitu dilepaskan dan ditinggal, beratnya hilang. Lega.

Mungkin, jangan mencari tahu lagi, jangan menyimpan hal-hal tentang itu lagi (kalaupun iya, kunci rapat dan jangan dilihat lagi kecuali kalau yakin sudah melepaskan), dan melakukan aktivitas seperti biasa.

DiGiTaLyZm JouRNaL... mengatakan...

kak...klo kita sudah terlanjur jatuh cinta bagaimana..

cukup bodoh untuk bertahan..padahal dia sudah milik orang lain...

dan dia tidak memilihku karna suatu alasan..tanggung jawab...

tadinya aku mengikuti kata hati malah jadinya bgini...
apakah seterusnya harus mengikuti logika kah??

namarappuccino mengatakan...

@Digital: Langkah pertama, berhenti mencari tahu tentang dia dek. Ini harus. Teruslah berjalan. Terus saja. Jangan menengok ke belakang. Sampai suatu ketika, tanpa sadar, kamu akan sampai di titik yang nyaman dan lupa belakang.

Ada kalanya kamu rindu, tapi tidak ingin kembali. Ya, seperti itu.

Mengikuti logika? Tentu saja. Mengikuti hati harus, tapi jangan lupakan logika juga. :)

Sylvia Sumitro mengatakan...

Kalau kata Mbak Dewi Lestari, "Cinta tidak memilih. Cinta dipilih."
Nah loh.. =p

Laini Laitu mengatakan...

kak,
kalau pengen "Leaving You" tapi masih terjebak dalam kebodohan keboodohan seperti yang ada di postingan kakak yang terakhir gimana? -__-