Senin, 30 April 2012

Memaafkanmu Lagi


Tahukah kamu, menurutku, kamu cantik sekali mengenakan kacamata itu. Dengan terusan hitam, tas hitam dan perpaduan kulit putihmu itu, sempurna sekali. Seperti itulah yang selalu aku suka darimu. Semua yang kamu kenakan saat ini adalah yang selalu aku bilang kalau kamu cantik sekali mengenakannya.

Masalahnya menjadi beda. Sesuka apa pun aku melihatmu saat ini, tetap membuatku nyeri. Kamu melakukannya, … lagi. Ini untuk ketiga kalinya.

Tapi tidak ada yang bisa kulakukan. Aku hanya diam memandangimu dari kejauhan. Sesekali menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan cepat. Sesekali lain, aku menengadahkan kepalaku memandangi langit-langit lobi hotel yang meski menarik, tidak pernah bisa membuat fokus perhatianku di situ. Ya. Pikiranku ke mana-mana. Terutama ke arahmu dan lelaki berkemeja putih itu. Tidak tahu apa yang sedang kalian bicarakan. Aku penasaran, tapi aku juga tidak bisa melakukan apa-apa. Aku tidak mau membuat keributan. Jadi, di sinilah aku. Duduk di dekat pot-pot tanaman besar sambil meminum kopiku. Aku suka kopi, tapi kali ini rasanya tetap pahit sekali.

Lihat. Kalian berdua tertawa. Sesekali kamu menepuk lengannya, kali lain kamu memandangnya dengan perhatian ketika dia bercerita. Perhatian penuh itu, tawa itu, biasanya milikku.

Aku masih berpikir positif. Mungkin hanya seorang teman lama. Tapi ini hotel. Iya, tapi kan sekadar di lobi. Tidak masalah kan dua orang berbeda jenis mengobrol di lobi hotel?

Sudah setengah jam. Oya, aku tidak pernah mengikutimu. Aku hanya menemui seorang teman lama di hotel ini. Lalu pada saat beranjak pergi, aku melihatmu duduk di lobi sendiri sambil menerima telepon. Aku ingin menyapamu, tapi kemudian lelaki berkemeja putih itu menyapamu lebih dulu. Cium pipi kanan cium pipi kiri. Sudah pernah merasakan nyeri, sayang? Ini aku sedang merasakannya. Lagi. Bagi banyak orang hal seperti itu bisa, bagiku tidak, sayang. Maaf. Aku tidak bisa memahami pergaulan seperti itu. Kamu boleh bilang aku udik, tidak apa, aku terima.

Aku memutuskan untuk tidak jadi menyapamu dan mengambil tempat duduk agak jauh di belakangmu. Memesan kopi dan berpura membaca buku yang selalu ada di tasku. Satu-satunya alasan aku melakukan itu adalah aku ingin tahu apa yang akan selanjutnya terjadi.

Kamu masih ingat kejadian beberapa waktu belakangan ini, sayang? Ketika aku tanpa sengaja melihat kamera digitalmu? Memang benar-benar tidak sengaja, sayang. Aku hanya ingin melihat fotomu bersama teman-temanmu. Ya, awalnya memang kamu berfoto bersama teman-temanmu. Para gadis yang senang bertemu dan arisan itu. Lalu di foto yang urutan belasan, aku melihat di sana. Aku bertanya lagi, kamu pernah merasa nyeri sayang? Saat itu aku merasakannya untuk pertama kali. Ada beberapa fotomu dengan seorang pria ganteng. Bukan foto biasa, karena ada foto kalian berciuman bibir, ada foto dia mencium pipimu, ada foto kamu merebah ke dadanya, dan foto-foto lainnya. Jangan memaksaku mengingat foto itu satu per satu. Aku tidak mau.

Kamu beralasan itu foto lama dengan mantan pacarmu yang setahun lalu. Aku mengangguk dan tersenyum. Iya, paham, kataku. Ya, sudah, tidak apa. Toh hanya masa lalu.

Ketika kamu bertanya apakah aku marah, aku hanya menjawab tentu saja tidak. Kan hanya masa lalu. Kamu pun meminta maaf. Aku memaafkanmu. Aku meminta kita tidak membahas itu lagi dan membuat kamu berjanji untuk tidak bertemu dengannya lagi. Seperti itu aku mencintaimu.

Oya, ada yang kamu lupa, sayang. Aku orangnya teliti. Ketelitianku dalam melihat hampir mendekati photographyc memory*. Di foto yang sudah kamu hapus setelah aku melihatnya tadi, aku sudah melihat tanggal foto tersebut. Kejadiannya empat hari sebelum aku melihat foto tersebut. Kamu lupa mematikan pengaturan agar tidak menampilkan tanggal ketika memotret, sayang. Lain kali hati-hati.

Lalu kamu ingat ketika aku melihatmu turun dari mobil mewah hitam itu? Ketika dia membukakan pintu untukmu lalu mencium keningmu? Dan kemudian ketika saling bersalaman, kalian berpelukan? Dia mencium pipi kanan kirimu dan bahkan telingamu sampai kamu tertawa geli? Nyeri adalah sesuatu yang meremas-remas jantung ketika kita melihat sesuatu, sayang. Sudahkah kamu pernah merasakannya? Ini yang kedua kalinya aku merasakannya.

Setelah lelaki itu pergi, kamu terkejut melihatku yang berjalan mendekatimu. Aku masih tersenyum. Kamu masih ingat, kan, sayang? Kamu yang kelabakan. Bahasa tubuhmu benar-benar mengatakan kamu sedang gugup, sayang. Aku memang bukan orang yang mahir membaca bahasa tubuh orang, sayang. Tapi dengan pandangan matamu yang beralih ke sana kemari dan kedua tanganmu yang saling meremas, lalu kata-katamu yang patah-patah. Ah, sayang, bahkan orang bodoh pun tahu kalau kamu sedang kelabakan sekarang. Lain kali hati-hati.

Kamu mengatakan dia sahabat lamamu sejak SMP. Sangat dekat sekali seperti saudara. Dia juga sering bercanda. Makanya dia memeluk dan menciummu. Aku kira, sedekat apa pun dan sebercanda apa pun tidak akan melakukan itu, sayang. Memeluk dan mencium kening bahkan kupingmu. Tapi ya sudah, lupakan saja. 

Kamu meminta maaf. Ah, sayang. Aku mencintaimu, sangat. Aku mampu melakukan apa pun kalau itu hanya untuk membahagiakanmu. Jadi memaafkanmu sekali lagi? Tentu saja. Kamu pun lalu berjanji akan menjaga sikapmu terhadap lelaki, sedekat apa pun itu. Batasnya adalah berjabat tangan. Janjimu itu sudah cukup untuk memaafkanmu lagi. Aku percaya janjimu. Sudahkah aku bilang bahwa aku sangat mencintaimu? Jadi, aku memaafkanmu, lagi. Tidak apa. Lupakan kejadian itu, dan ayo kita merajut masa depan aku dan kamu. Seperti itu aku mencintaimu.

Tapi hari ini, sayang, aku melihatmu lagi. Dari bahasa tubuh dan pandangan mata kalian, terlihat intim sekali. Tapi aku merasa kamu akan menepati janji. Jadi, mungkin itu hanya teman lama. Lagipula tadi hanya cium pipi kanan cium pipi kiri. Memang sudah tidak sesuai janji, tapi, mungkin hanya sebatas itu. Kita akan berbicara nanti tentang itu.

Tepat ketika kopiku hampir habis, kamu dan dia beranjak dari kursi itu. Kamu menggamit lengan lelaki berkemeja putih itu dengan manja dan tertawa. Bahasa tubuh yang kalau dijelaskan mungkin seperti orang yang jatuh cinta. Kamu sudah menggunakan bahasa tubuh dua kali seperti itu dengan lelaki yang semuanya tidak sama. Dan ini ketiga kalinya. Sayang, aku merasa nyeri lagi. Kamu pernah merasa seperti ini? Apa ini, sayang? 

Kalian berjalan dan memasuki lift. Aku masih melihat dari kejauhan. Dari layar angkanya, kalian ke lantai enam. Tidak ada kolam renang atau ruang pertemuan di sana. Hanya ada kamar-kamar. Apa ini, sayang?

Aku memutuskan untuk pulang setelah itu. Tentu saja setelah beberapa menit menenangkan diriku. Terlalu lama di hotel ini, aku bisa pusing setengah mati memikirkan berbagai kemungkinan. Jadi aku harus segera pergi. 

Tapi sepertinya, bahkan keadaan tidak pernah memihakku, sayang. Bahkan ternyata berbagai kemungkinan yang tadi terus membayang di kepalaku ketika di hotel itu, tetap mengejarku ketika aku di jalan pulang. Argh! Aku harus berhenti memikirkan ini. Harus.

Aku baru tahu kalau waktu ternyata bisa berjalan sangat lambat, sayang. Karena pada kenyataannya, sampai malam, ketika aku selesai mandi dan makan malam di pecel lele pinggir jalan, aku tetap tidak bisa mengusir berbagai kemungkinan itu. Jadi, aku memutuskan untuk ke rumahmu. Siapa tahu kamu sudah pulang. Mungkin pikiran jelek itu bisa cepat hilang kalau aku sudah melihatmu di rumah.

Sampai di sana, ibumu bilang kamu katanya mau menginap di rumah teman. Sial. Aku merasa kepalaku seperti dihantam ribuan pertanyaan. Menginap? Sial. Aku merasa mataku dihantam ribuan kejadian-kejadian yang terbayang. Lantai enam? Sial. Sial.

Setelah berpamitan, aku mengatur napasku dan meneleponmu. Aku bertanya kamu di mana, dan kamu menjawab sudah di rumah. 

Oh, ternyata nyeri bisa lebih sakit dari nyeri yang menyerangku belakangan ini. Aku baru tahu itu. 

Ketika aku menanyakan boleh ke rumah dan mau dibawakan makanan apa, kamu hanya menjawab tidak usah, besok saja. Sudah malam dan takut aku kecapekan. Kamu tidak tega. 

Lalu ada suara bariton seperti mengatakan 'dari siapa' di seberang sana dan tiba-tiba telepon terputus. Sesaat setelah itu ada sms dari kamu yang mengatakan kalau baterai mau habis dan kamu lelah sekali, jadi ingin tidur secepatnya.

Baiklah, aku mengerti. Aku hanya membalas agar kamu cepat beristirahat dan jangan lupa makan malam dulu. Sudah. Itu. Lalu aku pulang dengan berbagai kemungkinan. Ah, tidak. Ternyata bukan berbagai, sekarang sudah menyempit. Ya. Kamu tidak ada di rumah, berbohong dengan mengatakan di rumah, aku melihatmu ke lantai enam hotel itu, melihatmu bergandengan tangan dengannya, lalu dua kejadian sebelumnya. Ya, kemungkinan apa lagi selain,… ‘itu’? Argh aku harus berhenti memikirkan ini!

Besok pagi, aku akan meminta penjelasan semuanya. Aku akan mengatakan apa yang aku lihat di hotel itu dan lain sebagainya. Aku sangat yakin besok kamu akan meminta aku memaafkanmu, lagi. Dan dengan tatapan matamu itu, dengan rengekan manjamu, dengan tangismu bahwa kamu menyesalinya; ya, hal-hal yang sudah dua kali ini kamu lakukan, aku pasti akan tersentuh. Aku pasti akan mau melakukan apa saja untukmu seperti yang sudah-sudah.

Aku terlalu mencintaimu, sayang. Aku tidak suka melihatmu menangis. Jadi senyeri apa pun aku saat ini, aku pasti akan memaafkanmu lagi. Seperti itu aku mencintaimu.

Bedanya, kali ini aku akan pergi.


____
*Photographic memory adalah sebuah kemampuan yang ketika seseorang melihat sesuatu dalam hitungan detik, dia bisa menghafal apa yang dilihatnya. Bahkan satu halaman penuh buku. Dari angka, kalimat, dan lain sebagainya. Persis seperti memotret lalu menyimpannya di kepala.

7 komentar:

Ririe Khayan mengatakan...

Ada batas maksimal buat hati untuk forgive and forget...finally forgive but everything won't be the same any more

dweedy mengatakan...

Ahhh... Suka ceritanya :)

fauziyah mengatakan...

wahh, kamu tegar sekali mas,:'(

Syam Matahari mengatakan...

Tadi udah komen, kok gak muncul yah... grrrr, nulis ulang deh :'(

Well Namara, tulisannya keren seperti biasa. Tp kaloh boleh kasih masukan, tulisan yg seperti ini lebih baik kalau tidak terlalu panjang dan mendetail yg penting perasaan kamu sampai, dn yg mbaca bisa merasakan apa yg kamu rasakan. hehehe, sotoy yah saya...

#saya kan pembaca blog kamu, saya gak mau dong kehilangan greget tulisan-tulisan kamu yang selalu simple tapi mengena langsung ke hati :)

namarappuccino mengatakan...

@Ririe: Yap. Pada akhirnya, memaafkan pun memang boleh. Tapi kadang, harus pergi agar tidak terus tersakiti.

@Dweedy: Terima kasih, dek. ^_^

@Fauziyah: Eh? Hehehehe. Ini murni fiksi kok. :D

@Syam: Hehehe. bloggernya error mungkin, Syam.
Kebetulan sedang belajar memperpanjang tulisan. Karena sedang belajar menulis novel. Kalau untuk blog memang lebih baik pendek-pendek.
Siaaaap. Nanti dilaksanakan biar gak terlalu panjang. :)

fauziyah mengatakan...

pemakaian kata aku kamu, terkesan true story jadinya mas,,,suka intronya, kalo tokoh di situ suka cewek berkacamata, kalo aku suka cowok berkacata, B-)

namarappuccino mengatakan...

Hehehe. Mungkin karena aku lebih nyaman menggunakan kata ganti pertama. Tapi pernah juga kata ganti ketiga seperti di yang berjudul Posesif.

Berkacamata selalu membuat seseorang lebih ... "Hmmm". :)