Selasa, 06 Desember 2011

Mengatakannya atau Tidak? [UPDATE]



Saya pernah ditanya oleh seorang teman. Perempuan. Apa yang harus dilakukannya jika dia sudah (maaf) tidak perawan? Dia ingin jujur kepada pasangannya kelak. Prinsipnya, benar-benar terbuka agar saling percaya.

Ya. Pertanyaan ini sering sekali diajukan kepada saya. Pada momen-momen itu, biasanya saya akan langsung menghapus pesan itu. Saya takut email atau jejaring sosial saya di hack oleh orang lalu membaca apa saja di sana. Karena itu biasanya saya sering menghapus pesan-pesan yang meski penting, tapi tidak boleh terbaca orang lain. 

Oya, saya sendiri kadang heran kenapa mereka bisa bercerita semudah itu kepada saya. Mereka tidak begitu mengenal saya, bagaimana jika saya orang jahat? Jangan pernah bercerita hal yang penting tentang Anda kecuali Anda percaya kepadanya. Camkan itu. Tapi saya kemudian mengambil sudut pandang positif bahwa barangkali itu bukan akun mereka yang sebenarnya. Itu hanya akun alternatif mereka untuk bercerita. Saya memahami itu dan akan sangat maklum sekali. Aman bagi yang bercerita dan yang diberi cerita.

Setelah saya memberikan jawaban yang tentu saja dari segi sudut pandang saya, biasanya saya akan membuat mereka berjanji bahwa itu terakhir kalinya mereka bercerita kepada orang lain. Di luar mereka menepati janji itu atau tidak, setidaknya saya sudah mencoba untuk membuat mereka mengerti bahwa ada hal-hal yang bisa diceritakan kepada sembarang orang dan ada hal-hal yang tidak. Kalau akun mereka bukan yang asli saya rasa tidak masalah mereka bercerita. Saya hanya takut akun itu asli dan atau mereka setelah itu bercerita kepada orang lain lagi padahal orang lain itu tidak bisa dipercaya. Ya. Hanya itu.

Oya tentang jawaban saya, hmm, mungkin akan terjadi kontroversi. Tapi ini memang pendapat saya pribadi. Tentu saja boleh disetujui boleh tidak. 

Menurut saya, sebaiknya hal seperti itu tidak perlu diceritakan. Saya setuju dengan pendapat seorang ulama yang pernah saya baca di sebuah situs tanya jawab dulu. Bukan ulama terkenal sehingga saya lupa namanya. Beliau mengatakan kira-kira seperti ini, 

Hal yang sudah ditutupi oleh Allah, biar tetap tertutup. Jika suatu hari nanti Allah ingin memperlihatkannya, pasti terbuka juga.

Tentu saja itu tidak berlaku pada semua kasus. Tapi sekali lagi menurut saya, pada kasus yang ditanyakan teman apakah dia harus mengatakan kepada pasangannya bahwa dia sudah (maaf) tidak perawan atau tidak, jawaban ulama itu akan bisa saya gunakan. Kebetulan pertanyaan yang diajukan kepada ulama itu sama, “Apakah harus bercerita bahwa dia sudah (maaf) tidak perawan atau tidak?”

Kejujuran? Iya penting. Masalahnya, kita juga harus melihat efek ke depan. Benar, ada banyak laki-laki yang tidak mempermasalahkan hal itu. Bagi mereka cinta ya cinta, sama seperti saya. Tapi harus disadari juga, bahwa ada efek kupu-kupu* di situ. Mungkin lelaki itu sudah menerima jika perempuannya berkata jujur. Tapi yang ditakutkan, salah satunya adalah ketika suatu hari terjadi keributan pasangan (yang wajar terjadi), lalu sama-sama emosi, dan si lelaki menyebutkan masa lalu itu. Bukannya lebih baik, saya yakin pasti juga lebih buruk.

Efek lain di masa depan, bisa jadi (tidak semuanya, hanya sebagian kecil lelaki saja), ketika perempuan itu pergi sendirian menginap, si lelaki bersikap curiga. Jangan-jangan dan jangan-jangan lainnya. Tidak bagus bukan?

Atau bisa jadi juga, ada rasa penasaran di lelaki tersebut, dengan siapa perempuan itu melakukannya. Kalaupun tidak dikatakan, pastinya kalau suatu hari nanti perempuan itu ada reuni atau bertemu dengan lelaki di jalan lalu terlihat akrab, pikiran si lelaki ‘jangan-jangan ini lelaki yang dulu bersama kamu…’. Selain tidak nyaman bagi lelaki itu, pasti tidak nyaman juga bagi perempuan (dan mungkin juga bagi lelaki yang akrab dengan perempuan itu).

Mungkin masih ada efek lainnya. Saya tidak bisa menjelaskan semuanya. Lagipula sekali lagi ini hanya pendapat pribadi saja. Tidak pasti kejadiannya akan seperti itu.

Kembali ke pembahasan awal, pada intinya, suatu ‘aib’ yang sudah tidak ketahuan, jangan diberitahukan. Disimpan saja. Pada akhirnya kalau memang sudah ketahuan, pasti akan ketahuan. Lagipula, ambil risiko kita kalaupun sudah disimpan dan nanti tetap ketahuan. Berani melakukan harus berani mempertanggungjawabkan bukan?

Bagaimana dengan kasusnya terjadi karena ada unsur pemaksaan atau terjatuh? Sama. Lebih baik tidak diceritakan. 

Itu saja. Saya takut kalau membahasnya terlalu lama malah dilempari batu bata. Karena itu ini tidak akan dimasukkan pada label SHINE ON, tapi ke label My Shout saja. Biar aman.

Masalah benar tidaknya pendapat saya, saya juga tidak tahu. Siapa tahu pendapat saya benar-benar salah? Siapa tahu pendapat saya benar?


____
*(Butterfly effect) Sebuah teori yang mengatakan bahwa dari satu kepakan kupu-kupu bisa menimbulkan efek berantai yang ternyata berpengaruh besar meski jangkauannya jauh dari kupu-kupu itu. (Mohon dibenarkan jika salah)


____________________

[Update]

Baru beberapa saat tadi (sehari setelah saya menulis postingan ini kemarin), saya mendengar pendapat langsung dari seorang perempuan.

Lalu saya berpikir, benar juga. Bagi seorang perempuan, mungkin memang lebih baik jika berterus terang. Mereka ingin diterima apa adanya.

Jadi, sepertinya pendapat saya tidak sepenuhnya benar juga dalam hal ini.

Tapi apakah jika saya mengalaminya, saya akan ingin mengetahuinya. Saya rasa tidak. Saya akan mengatakan, "Sudah, tidak apa. Kita lihat saja masa depan, yang di belakang, tinggalkan saja di belakang."
Dia boleh mengatakannya sekali itu saja, setelah itu jangan dibahas lagi.

Mungkin.

5 komentar:

bluelov mengatakan...

"Hal yang sudah ditutupi oleh Allah, biar tetap tertutup. Jika suatu hari nanti Allah ingin memperlihatkannya, pasti terbuka juga."

kla aku kejujuran lebih baik dikash tau sm pendamping hidup, lebih baik kluar dr mulut kita drpda orang lain..

karena cinta itu, bukan dilihat dr perwan atau tidaknya... tapi seberapa besar dia bisa nerima kekurangan pasangannya masing2 :)

itu pendapat saya

namarappuccino mengatakan...

@Bluelov: Sebelum posting ini, saya sempat ketakutan pasti banyak yang memiliki beda pendapat dengan saya. Jadi, sempat berpikir posting tidak posting tidak. Tapi, akhirnya saya posting juga. Hehehe. Tidak apa, perbedaan yang membuat pelangi berwarna-warni dan bumi selalu terlihat indah bukan?

Ely Meyer mengatakan...

apakah juga tidak perlu mengatakan kepada calon istri bahwa sang pria sdh tidak perjaka lagi ? :)

namarappuccino mengatakan...

Dalam pendapat saya, tidak. Past stay in past.

Biasanya, perempuan memulai dengan bertanya, "Apakah kamu mempermasalahkan keperawanan" atau kalimat lain.
Sebenarnya dengan itu saja, bisa ditebak apa yang terjadi sebenarnya. Meski mungkin tidak semuanya, tapi kemungkinan besar memang sudah pernah terjadi seperti itu.

Jawaban saya akan, "Sudah, kalau tidak perlu dibicarakan. Saya tidak mau tahu."

Tapi tetap hak setiap orang karena kemungkinan besar yang sependapat dengan saya malah sangat kecil. Hehehe.

Ririe Khayan mengatakan...

MMenurutku, memang ada hal2 yg stay in silence for better reason, dan ini bukan termasuk kebohongan.

Tapi klo ttg virginitas, ini juga katanya saat malam pertama akan ketahuan? kalau pada akhirnya tahu dan si pria blg it's already belong to the past memang gak mslh. Tp jk tau kmd sikapnya 180 derajat unpreditctable, saat situasi sdh complicated apa tdk sebaiknya di ceritakan sebelum situasi jd lebih sulit?

After all, setiap org tentu bisa 'membaca' perlu dan tidaknya utk mengatakan hal tersebtut ketika sdh mengenal lbh baik sang calon pasangannya.