Selasa, 13 Desember 2011

Sengaja?


Kamu bisa saja ketika itu tidak menggubris semua ceritaku, mengabaikannya dan menganggap ceritaku hanya angin lalu. Tapi kamu malah melakukan sebaliknya. Kamu tidak hanya mendengar, kamu benar-benar memperhatikan. Duduk di depanku berlama-lama, memandangi setiap gerak mimik mulutku, dan mendengarkan setiap aksara yang keluar dari sana.

Baru kali itu aku merasa diistimewakan.

Kamu juga bisa saja memintaku bercerita yang lain atau memintaku diam saja. Ya, aku akan menuruti kedua hal itu, karena aku selalu menghargai siapa pun yang berbicara denganku. Tapi lagi, kamu tidak melakukannya. Kamu malah ikut tertawa pada setiap cerita lucu yang aku ceritakan, yang kadang, aku sendiri bahkan tidak menganggap itu lucu.

Itu. Di situ aku merasa kamu istimewa.

Dan lalu kamu bisa saja pergi setelah itu. Tidak perlu sering bertemu denganku. Cukup saling menyapa ketika bertemu di jalan, di toko buku, atau di kafe langgananmu. Mungkin berbasa-basi sebentar saling menanyakan kabar dan kemudian menanyakan kabar orang lain yang kita kenal. Ya. Seperti itu. Tapi, lagi, kamu malah betah berlama-lama bertemu denganku. Menemanimu ke toko buku, menemanimu membeli baju, atau sekadar mengajakku nongkrong sebentar di warung kopi berlatar belakang sawah itu.

Dan di sana, aku merasa, tawamu selalu berbeda dari semuanya.

Ah, kamu sebenarnya bisa melakukan apa saja. Tapi kenapa kamu harus melakukan sesuatu yang membuatku tidak pernah menyangkanya? Membuatku jatuh cinta tanpa kamu menyadarinya.

Sekarang, bagaimana aku ‘mengakhiri’ cerita ini selanjutnya?


11 komentar:

Judika B.M. mengatakan...

Sadar diri atau tau diri adalah cara teraman yg bisa kita lakukan untuk menghindari adanya peristiwa tersakiti dan menyakiti secara tidak sengaja.

Tau diri adlah salah satu bentuk dari pernyataan menganggap diri tidak layak baginya shg ada kemungkinan dia jg melakukan hal yg sama dengan org lain. Dengan tau diri, maka tak akan ada pihak yg tersakiti apalagi menyakiti secara tidak sengaja :)

namarappuccino mengatakan...

Masalahnya. Orang-orang yang 'tidak sengaja' melakukannya inilah yang, tidak salah juga, tapi kalau tidak sengaja membuat seseorang jatuh cinta, padahal dia tidak, wooow.

Tapi semoga setiap orang yang melakukan hal-hal seperti itu adalah sengaja.

Tau diri pun, Judika. Kadang memang mengurangi rasa sakit sedikit (kalau tebakannya benar bahwa orang yang diincar tidak merasakan yang sama). Kalau tebakannya salah, ternyata orang yang dikejar juga jatuh cinta, lalu kita malah tahu diri dan menghindarinya, lukanya akan lebih besar.

Kalau Judika, enaknya ceritanya akan jadi seperti apa selanjutnya? :D

Nurul Khaliza mengatakan...

Secara pribadi, aku maunya si cowok ini bahagia.

Kasihan, di setiap fiksi jadi yang menderita :)

namarappuccino mengatakan...

Hehehe. kan ada juga yang tokoh "aku"nya happy dek. :D

Ririe Khayan mengatakan...

Dalam Frase"Menemanimu ke toko buku, menemanimu membeli baju..." sepertinya ada kata ganti yg salah ketika (mu---->ku)?

Sering terjadi perbedaan persepsi dan harapan akan menimbulkan 'bersimpangan' rasa, yg satu mengganggapnya biasa tp pihak satu menerima sebagi special attention.

Jadi, mending di ungkapkan biar tahu yg sebenarnya daripada dipendam ternyata si dia jg pny rasa yg sama? Kalo ternyta karena perbedaan mempersepsikan...ya setidaknya kita tahu yg sebenarnya (daripada membuat kesimpulan sendiri)....*TEORI TOTAL* hehehe

namarappuccino mengatakan...

Sepertinya memang harus diedit. Tapi maksudnya memang menemanimu kok, Rie. :D Maafkan. Nanti saya edit.

Naaa itu, seringnya bagi beberapa orang tidak berani mengambil risiko itu.

Dan tokoh "aku" di semua fiksiku ini telanjur semuanya "pengecut" :p

Judika B.M. mengatakan...

Yah, itu dia, org2 'yg tdk sengaja' ini tdk salah, dan mreka akan mrasa bersalah ktika mnerima pgakuan pada saat mreka brada dlm posisi tdk memiliki rasa yg sama krna tdk bs membalas perasaan org yg mengincarnya.

:) kl ternyata org itu jg jatuh cinta yaa, huaa.. :'( well, di bgian ini dia hrus tau kalau org yg mgincarnya itu mrasa 'tau diri' atau 'mrasa tdk layak' shg tugasnya adlah mghilangkan rasa tadi pd org yg sdg mgincarnya krna mreka punya rasa yg sama.

:p kalau aku enaknya si 'aku' tetap mncintai diam2 tp dgn cara manis lwt smua prhatiannya. smntara si 'kamu' diam2 jg mrasakan cinta dan dia hrus tau kl 'aku' memilik rasa 'tdk layak' selain cintanya shg tugas 'kamu' adlh mghilangkan rasa tadi. oh, how beautiful their feelings. *mulai melayang*

namarappuccino mengatakan...

Waaa ceritanya memang harus seperti itu. Daripada aku diprotes mulu tokoh, 'aku'nya menjadi objek derita. T_T

Ternyata keduanya memiliki rasa yang sama. Hanya bingung dari mana memulainya. :D

Judika B.M. mengatakan...

:'(
i can feel apa yg dirasain tokoh 'aku'nya. dia sangat tulus sekali dan terlalu takut memulai segala sesuatu. ayo dong Ara, dmulai dengan 'kamu'nya yg menyadari rasa si 'aku'

maunya ada peristiwa apa gitu yang bkin 'kamu' membuat 'aku' tdk perlu merasa 'tidaklayak'.

*im waiting Ara

fauziyah mengatakan...

sedang menikmati fiksi ini,,aku punya gambarannya di otak q,kayak filem, :D

namarappuccino mengatakan...

@Judika: Done. ^_^ Hope you like it, Judika. :)

@Fauziyah: Hihii. aku juga ketika menulis, memiliki gambaran seperti itu dek. Seolah-olah terjadi denganku atau melihatnya di depanku. :D Ahhhh. kadang tersipu sendiri. :p