Selasa, 13 Maret 2012

Semua Kata Selalu Itu


Aku selalu menemanimu seharian berbelanja. Membawakan barang belanjaanmu, sambil kadang tanganmu menarikku ke rak-rak yang berjubel itu. Dan aku akan seperti anak kecil yang mengikutimu, menuruti saja ke mana pun kamu langkahkan kakimu. Aku tidak begitu suka belanja, tapi kalau denganmu, aku menyukainya.

Di lain waktu, aku selalu makan siang atau malam berdua denganmu. Aku suka kopi, tapi kamu selalu memaksaku memesan jus buah atau sup buah. Kamu tidak mau tahu. Katamu, kebanyakan kopi tidak baik buat tubuhku. Ya sudah, tidak apa. Aku menurutimu. Untuk memesan makanan pun, salah satunya harus sayur. Harus, harus dan harus, katamu. Agar aku tidak mudah sakit dan bisa terus menemanimu jalan-jalan. Untuk buah, aku memang suka, tapi aku sama sekali tidak suka sayur. Tapi karena makannya bersamamu, aku menyukainya.

Di sela-sela makan itu, kita selalu saling bercerita. Kita bisa bercerita tentang siomay pinggir jalan yang murah dan enak tapi penjualnya galak, atau kotornya kamar mandi sebuah SPBU, atau teman kita yang bulu hidungnya panjang. Ya. Hal-hal sepele yang bisa membuat kita tersenyum atau tertawa cekikikan. Kadang juga mengarah ke pembicaraan serius, seperti teman kantormu atau bos kamu, saudaramu, dan lain sebagainya. Aku jarang bercerita. Aku lebih suka mendengarkan. Tetapi kalau boleh jujur, sebenarnya aku paling tidak suka ngobrol berlama-lama dengan orang. Tapi karena aku ngobrolnya bersamamu, aku menyukainya.

Dan yang selalu aku ingat, kamu pernah menjadikanku nomor satu. Kamu akan menutup telepon dari siapa pun itu, jika di selanya ada nada panggilan telepon dariku. Kalau kamu sedang di luar bersama teman-temanmu pun, kamu akan datang ke tempatku jika aku sedang membutuhkanmu. Aku tidak pernah mengira aku akan dijadikan nomor satu, tapi sekarang yang menjadikanku nomor satu adalah kamu. Aku sangat menyukainya.

Ya. Aku selalu menyukainya. Menyukai apa pun yang berhubungan denganmu.

 *****

Aku menatap tulisan ini di blogku yang merupakan postingan beberapa bulan lalu. 

Tulisan ini sudah tidak relevan lagi sekarang ini. Aku akan mem-posting tulisan baru. Sama persis dengan tulisan ini. Tapi, aku akan mengganti setiap kata ‘selalu’ dengan kata ‘pernah’. Kecuali di paragraf terakhir. Biarlah tetap menggunakan kata ‘selalu’.

Aku mulai membenci kata ‘pernah’.


10 komentar:

Arif Zunaidi Riu_aj mengatakan...

kata-katanya bagus. pemilihan diksinya juga cool.

btw, izin follow blognya ya...

salam kenal. :)

namarappuccino mengatakan...

Tentu saja. Aku sedang menuju 'rumah'mu juga bro. :)

Syam Matahari mengatakan...

Wow... tadinya sy kira fiksi lagi namara, tapi setelah baca notenya sepertinya ini pengalaman pribadi. heheheh, tetap suka dg tulisanmu :)

namarappuccino mengatakan...

Hehehe. Sayangnya, sekali lagi, ini malah sebenar-benarnya fiksi, Syam. :D

fauziyah mengatakan...

iyya, percaya, fiksi kok, :D #soktau,,

namarappuccino mengatakan...

Hahahaha. *bekep dek Fauziyah* ;D

Ikesusest mengatakan...

eh ini fiksi ? kayak kenyataan :)

namarappuccino mengatakan...

Fiksi kok, Ike. :)

Ririe Khayan mengatakan...

kenapa kalimat terakhir, kata 'selalu'nya gak ikutan di agnti 'pernah'.....time goes bye, finally everything gonna belong to the past..

namarappuccino mengatakan...

Hehehe. Suatu hari mungkin akan diganti pernah. Si tokoh sedang berusaha karena kejadiannya tertulis baru beberapa waktu lalu.