Senin, 05 Desember 2011

Ternyata Memang Tidak Baik-Baik Saja


Awalnya, semuanya baik-baik saja.

Aku berkendara ke rumahmu berlima. Kami mendengarkan lagu, berbincang dan bercanda tentang apa saja. Tidak terpikirkan olehku apa-apa.

Semuanya masih baik-baik saja.

Kami sampai di rumahmu, turun, mengucap salam dan berbasa basi sebentar dengan papa mamamu dan dipersilakan duduk.

Lalu kamu keluar bersalaman dengan semuanya termasuk denganku. Tersenyum dan dua telapak tangan kita bersentuhan. Detik itu juga, aku tahu semuanya tidak akan lagi baik-baik saja. 

Kulitmu yang menyentuh kulitku tadi, hangatnya menjalar sampai jantung. Dan mataku tiba-tiba saja memotret senyumanmu dan menyimpannya dalam harddisk memori otakku. Dibiarkan di sana, entah untuk sementara atau selamanya. Ya, mereka bisa bilang aku ini berlebihan. Bagaimana kalau kubilang memang seperti itu yang terasa?

Dan ternyata, memang semuanya tidak baik-baik saja.

Satu jam kurang, tapi aku sendiri entah merasa waktunya kurang atau merasa ingin segera pergi dari sana. Aku ada di dua persimpangan. Merasa kurang karena ya, aku suka senyummu itu, aku suka cara dudukmu itu, aku suka ketika kamu berbicara, aku suka ketika kamu memandang orang dengan perhatian penuh ketika orang itu berbicara, aku suka cara kamu menyuguhkan teh hangat, aku suka … ah, terlalu banyak. I just love everything!

Tapi aku juga merasa ingin segera pergi dari sana, karena tidak ada yang tahu betapa kesulitannya aku mengangkat kepalaku untuk memandangmu berlama-lama. Aku malu. Takut ketahuan kalau aku mengagumimu. Aku malu. Takut ketahuan kalau aku menyukai semua tentangmu. Aku malu. Takut ketahuan kalau ternyata aku masih punya rindu.

Dan satu lagi, tidak ada yang tahu juga bahwa aku berusaha keras menyelesaikan setiap kalimatku. Ya. Sangat keras. Karena aku tahu kamu selalu memperhatikan orang yang sedang berbicara dengan seksama. Setiap katanya, setiap gerakannya. Dan ini, aku sedang berbicara. Kamu pasti sedang memperhatikanku di sana. Dengan mata yang pasti tidak akan lepas dari orang yang berbicara, seperti biasa. Karena itu aku berjuang keras menyelesaikan setiap kalimatku agar getar yang di dada tidak menyusul keluar dan menjelma suara. Ya. Pasti akan sangat memalukan sekali jika suaraku sampai bergetar. Untungnya, aku berhasil mengendalikannya.

Tiba-tiba saja sudah sekitar satu jam kami di sana. Momen itu aku benar-benar tidak tahu apakah waktu berjalan sangat lambat atau sangat cepat, karena itu tadi, aku tidak tahu ingin tetap di sana lebih lama atau segera pergi agar tidak ada yang tahu apa yang terjadi padaku. Tapi tiba-tiba saja kami harus berpamitan. Ya. Sudah malam. 

De Javu!

Adalah momen ketika telapak tanganmu menyentuh telapak tanganku dan kamu tersenyum kepadaku. Ya. Itu de javu. Ada yang menjalar lagi ke jantungku. Ada yang terekam lagi oleh mataku.

Lalu pada saat berpamitan dan dua tanganmu bergerak ke kiri kanan melambaikan, itu. Aku juga suka momen itu.  Apalagi (mungkin kesengajaan Tuhan) kamu melakukannya dengan senyuman. Ya. Itu. Di situ aku mengetahui sesuatu.

Awalnya, semuanya baik-baik saja. Semua berubah ketika aku menyentuh tanganmu, melihat senyummu, mendengar suaramu, dan merasakan di sana di sekitarmu. 

Ternyata memang tidak baik-baik saja. Ternyata memang cinta. Masih. Sama seperti dulu ketika aku tidak pernah bisa mengatakannya kepadamu lalu memutuskan pergi darimu dan bersama perempuan yang mengejarku itu.

Ternyata memang tidak baik-baik saja. Ternyata aku tidak pernah bisa lupa. Ternyata, sebenarnya aku ingin melihat senyummu lebih lama. Itu aku ketahui sesaat setelah keluar dari rumahmu. Ya. Dua perasaan yang ‘entah’ antara berlama atau pergi tadi, ternyata aku lebih ingin berlama. 

Aku tidak mau pergi darimu lagi. Aku mau melihat senyummu lagi, berbicara denganmu lagi, berlama-lama meminum teh buatanmu lagi. Aku harus mengumpulkan nyali. Aku harus mencari cara agar aku bisa menemuimu lagi. Ya. Tunggu aku. Aku sedang mengumpulkan nyali. Agar tidak seperti dulu lagi, pergi.

Awalnya, semuanya baik-baik saja. Ternyata sekarang aku kembali lagi jatuh cinta.




9 komentar:

bluelov mengatakan...

wachhh ayoooo dapatkan cintanya heeee

jadi inget beberapa tahun yang lalu, slam kenal :)

nice post

Lidya - Mama Pascal mengatakan...

semangat trus supaya bisa kembali lagi:)
Thanks ya sudah mampir ke blgoku,maaf baru berkunjung sekarang,maklumibu RT ada aja gangguannya kalau mau BW (Alasan hehehe)

Evi mengatakan...

Tulisannya bagus banget Mas..Sampai tak terasa berlama-lama membacanya sampai ke bawah. Gurih banget di rasa otak ;)

namarappuccino mengatakan...

@Bluelov dan mbak Lidya: Tapi fiksi kok mbak. :D

@mbak Evi: Hehehe. mbak Evi juga enak dibaca. *Iri* karena mbak punya banyak pengalaman menjelajahi dan mencoba berbagai hal yang dari dulu pengen kucoba. :)

Belajar Bisnis Online mengatakan...

berkunjung sob..salam blogger
sukses selalu ...:)

Ririe Khayan mengatakan...

De javu ya? Asli sampai sekarang saya masih belum paham suasana de javu yg seperti apa * lugu*

namarappuccino mengatakan...

@Belajar: Yap salam blogger juga sob. Sukses selalu.

@Ririe: Hehehe. Dulu pernah baca bahwa tingkatan de javu itu ada beberapa macam dan berbeda. Ada yang memang kejadian benar-benar berulang (tertinggi), ada yang pernah memimpikannya lalu menjadi nyata, ada yang pernah ke suatu tempat tapi lupa waktunya, ada yang pernah merasakan hal yang sama dan lain sebagainya.
Di fiksi yang ini, de javunya lebih kepada merasa hal yang sama. ^_^

Ida Ayu Melati mengatakan...

enggak :p paling merenung di rumah. hiihihhii...
jangan berhenti menulis ya... nanti macet, kayak saya... hehehe

namarappuccino mengatakan...

@Ida: I love writing. :D Semoga tidak berhenti, amiiin.