Selasa, 17 April 2012

Tidak Gratis


Bagaimana kalau pada saat kamu pulang malam, dengan semua rasa lelah dan cemberutmu itu, aku memasak untukmu sesuatu? Aku tidak begitu bisa masak, tapi kalau nasi goreng kecap pedas aku cukup bisa. Menggoreng ayam dan tempe pun bisa. Tentu saja menggunakan bumbu instan. Hahaha. Maafkan. Tapi tidak apa, bukan? Oya, atau mau mi instan?

Minumnya apa? Kamu suka teh. Aku tahu dari pertama kali kamu meramu teh untuk tamu, dulu, waktu kita pertama kali bertemu. Rasanya lain. Ya. Akan aku buatkan kamu teh hangat, tidak begitu manis, seperti yang selalu kamu buat.

Lalu aku akan mengajakmu ke teras depan rumah dan menikmati taman kecil kita di sana. Tidak terlalu besar, tapi tetap nyaman. Biar aku mendengarmu bercerita tentang pekerjaan atau kejadian di jalanan. Kalau sudah, ganti aku yang akan bercerita. Tapi kamu pasti paham, aku suka bercanda. Jadi maafkan kalau tiba-tiba ceritaku melesat ke mana-mana. Ya, kamu tahulah. Lelucon-lelucon kecil yang selalu aku cari di buku atau internet setiap hari. Apa kamu dengar kata setiap hari? Ya. Yang kamu dengar benar. Aku melakukannya setiap hari. Aku harus memperbarui lelucon baru. Aku suka tawamu. Jadi, aku ingin melihatnya setiap hari. Kadang garing, maafkan. Tapi kadang, kamu malah menertawakan kegaringan ceritaku itu. Tidak apa, yang penting aku bisa melihatnya. Kamu tertawa.

Setelah itu, mungkin aku bisa sedikit memijat pundakmu, atau kamu menyandarkan kepala ke pundakku, atau tidur dengan kepalamu di pahaku. Ya. Hal-hal seperti itu.

Memijat, memasak dan membuat teh hangat? Lelaki melakukan itu?

Kenapa? Tidak boleh? Tidak setiap hari. Sesekali. Kalau kamu pulang malam dengan wajah cemberut karena pekerjaan yang menumpuk. Daripada nanti aku kena getahnya, lebih baik aku melihat kamu tertawa. Lagipula setiap hari kamu yang melakukan itu untukku. Sesekali aku yang melakukannya tentu tidak apa.

Oya, tapi ini tidak gratis. Segala sesuatu ada bayarannya. Iya, kita suami istri. Tapi aku orangnya perhitungan.

Aku minta dibayar dengan sederhana. Dari kedua mata yang aku sukai sejak dulu itu, jangan ada air hangat keluar dari sana. Satu lagi. Setelah aku melakukannya, boleh aku melihat senyummu saja? Malam ini dan juga esok pagi? Setiap hari?

Itu saja. Dibayar itu saja.

9 komentar:

Syam Matahari mengatakan...

#grrrrrr

kalau ini bukan kisah nyata dihidupmu, itu artinya imajinasimu LIAR namara. hihi, sukaaaa! kamu menceritakannya seolah-olah terjadi dihidupmu :)

namarappuccino mengatakan...

Hehehe seperti biasa. Fiksi. Tapi rasanya, saya memang akan melakukannya suatu hari nanti. :)
Karena memang itu keinginan. Sesekali.

Baru menyadari malam tadi sepertinya akan menyenangkan. :D

NF mengatakan...

hmmm boleh juga nih diterapkan nanti malam... hehe..

Evi mengatakan...

Wah..pasti yg jadi objek akan memerah pipinya sepanjang hari kalau dapat doping seperti ini..

namarappuccino mengatakan...

@Nufadilah: Malam ini Nufadilah menerapkan. Suatu hari nanti (Semoga tahun depan ya Allah *berdoa dengan sangat*), giliran saya yang menerapkan. :D

@Mbak Evi: Hehehe. Kalau besok sudah ada orangnya, aku suruh baca ini mbak. :D

fauziyah mengatakan...

berbahagialah isterimu kelak, :D

namarappuccino mengatakan...

Hehehe, aku mungkin akan lebih berbahagia dek. :)

destini mengatakan...

Wah...so sweet banget kak Araaaa :D

Mifta Chaliq mengatakan...

Sarapan macam apa ini???
waaaahhhhh