Selasa, 10 April 2012

Aku Ini Lucu, Pelupa tapi Tidak Pernah Mudah Melupakanmu


Aku bisa saja berpura-pura tidak melihatmu, mengalihkan pandangan dan berjalan memunggungimu. Tidak perlu saling menyapa, tidak perlu melihat senyummu yang selalu kurindukan itu, dan tidak perlu menenangkan hatiku yang sering menendang-nendang hanya karena mataku mengganggapmu masih cantik seperti dulu.  Masalahnya, hal itu tetap tidak bisa menutupi kalau sebenarnya aku rindu.

Aku melakukan itu sebenarnya tidak untuk menjauhi. Karena aku masih di sini, berusaha sebaik mungkin menjaga senyumanmu di tiap pagi. Hanya hatiku yang pergi. Sudah waktunya dia menemukan kebahagiaannya sendiri setelah hatimu juga mulai ada yang mengisi.

Aku bisa saja juga mengatakan kepada semua orang bahwa aku tidak memiliki perasaan apa pun kepadamu. Iya, semudah orang-orang MLM menawarkan untuk bergabung dengan mereka, entah kemudian ada yang memilih bergabung, atau meski kebanyakan tidak. Ya, seperti itu. Tapi tetap tidak bisa mengubah kenyataan bahwa aku sering sembunyi-sembunyi memperhatikanmu. Mengamati dengan detail apa rambutmu sudah lebih panjang sekarang, apa kamu masih mengeluh tentang tinggi badanmu, apa kamu sehat, dan hal-hal lain semacam itu. Lihat? Aku ini lucu, pelupa, tapi tidak pernah mudah melupakanmu.


Dan kemudian, kalau pun aku sudah mulai nyaris lupa, bisa saja ketika mengunjungi kafe atau toko buku, tiba-tiba saja mereka memutar lagu yang selalu kita nyanyikan berdua. Ah, Tuhan pasti sedang bercanda. 

Tapi sungguh, aku benar-benar ingin lupa. Lupa seperti lupanya orang amnesia. Dan aku benar-benar berusaha keras untuk itu.

Dan di masa-masa aku benar-benar ingin lupa itu, ada kamu di depanku adalah halusinasi terbaikku. Mungkin rindu bisa menggagalkan lupa, sampai dia bisa mendatangkanmu di depanku meski aku sedang berusaha amnesia. Nah, jadi, kalau saja ada momen-momen tertentu dimana telingamu berbunyi, barangkali itulah momen dimana aku sedang berada pada halusinasi terbaikku, membayangkanmu.

Tapi kemudian aku menyadari sesuatu, kita, tidak mungkin melupakan seseorang. Kita punya memori. Tidak seperti memori flashdisk yang bisa diformat, memori kita tidak memiliki kemampuan itu. Pada suatu ketika, meskipun kita sudah mengira kalau kita lupa, ketika kita bertemu dengannya lagi, kita akan menyadari, ternyata kita masih belum lupa tentangnya. Ya, aku menyadarinya setelah kadang-kadang aku mengingatmu tanpa sengaja.

Yang paling penting ternyata bukan lupa, tapi melepaskan. Dengan melepaskan kita tidak perlu melupakan. Sama seperti anak kecil yang balonnya lepas ke udara. Dia akan menangis sebentar. Menangisi balon berharganya yang lepas. Tapi cepat atau lambat balon itu tidak diingat seterusnya karena tertumpuk memori-memori tentang mainan, makanan, atau film-film baru. Ya, seperti itu. 

Jadi aku akan melepaskanmu. Pelan-pelan aku berhenti mencari tahu tentangmu. Pelan-pelan aku akan menikmati apa yang ada di depanku, orang-orangnya, tawanya, kebersamaannya, semuanya. Seperti itu. Dan pada suatu ketika juga, meski aku bertemu denganmu lagi nanti, ketika itu, mungkin aku sudah tidak mencintaimu seperti dulu. Seperti balon yang terbang ke udara itu. Tapi nanti. Nanti.

Bisa jadi, dalam jeda momen-momen itu aku akan ingat sesuatu, seperti saat-saat paling melelahkanku dulu ketika aku menarik napas panjang, berusaha mengumpulkan kekuatanku untuk menyapamu. Lalu gagal. Lucu sekali bagaimana keangkuhanku berubah menjadi kepengecutan ketika bahkan sekadar untuk menyapamu nyaliku seciut kutu.

Atau aku pernah berpikir bahwa bahagia itu sederhana, kamu. Tidak perlu kalimat indah yang perlu dilanjutkan di sana untuk menjelaskan itu. Dulu. Dulu.

Ya, seperti yang kukatakan tadi. Tidak mungkin lupa. Tapi kalau sudah melepaskan, mengingat pun sudah tidak bermasalah karena kita sudah hidup di masa kini. Rindu, tapi tidak ingin kembali. Karena kita sudah berbahagia di posisi kita sekarang ini. Karena kita adalah kita sekarang, dengan kebahagiaan kita sekarang, bersama orang-orang yang mencintai kita sekarang. Bukan tentang masa lalu lagi. Karena di masa lalu, tidak pernah ada masa depan.

Ya. Suatu hari pasti seperti itu, nanti. Aku akan mengingatmu kadang-kadang, tanpa sengaja. Tapi hanya sebagai 'pernah', bukan sebagai 'sekarang', apalagi 'selamanya'.

Tapi mungkin aku akan punya pertanyaan sederhana kepada dia (siapa pun itu) yang bersamamu nanti itu, “Kamu, yang bisa selalu berada di dekatnya sesering itu, bagaimana rasanya?” 

Pertanyaan itu, bisa jadi jawabannya selalu aku ingin tahu. Meskipun mungkin, itu hanya pertanyaan yang akan terus kubatin. Selama mungkin.


15 komentar:

poenyarika mengatakan...

Cintanya masih belom kesampaian yah Nara? Kapan donk dinyatakan? :D

Mifta Chaliq mengatakan...

i really love it eR

Kampung Karya mengatakan...

ini cara menulis "kehilangan" yang begitu romantis dan kontemplatif Nara. Itu terjadi ketika tulisan ini juga dapat kurasakan sebagai nada yang bijaksana.. nice

blogwalking malemmalem

Mine and Me mengatakan...

siapa sih cewek itu?
mudah2an dia baca postingan kamu ini... spy dia bisa merasa terharu juga...
totally awesome post...

Lita mengatakan...

Aku pernah ngerasa kaya gini banget. Suka sama orang, tapi gak pernah berani bicara atau natap muka. Jadi kalo ketemu bawaannya manyun aja. wkwkwkwkwkw. Padahal sebenernya kangen gak ketulungan. Oh God, help me!

Ririe Khayan mengatakan...

Yg sudah terlewati tak mungkin dilupakan atau terlupakan...yang ada adalah 'menyesuaikan' dengan cara melepaskannya karena kesempatan yang kita mliki hanyalah untuk merasakannya 'pernah' kita alami dalam piece in the past..

namarappuccino mengatakan...

@Rika: Hihihi. Maybe, maybe not Ka. :D

@Tuta: Love it or love me? :D

@Kampung: Selamat malam mas. Eh, sekarang siang dink. baru bisa bales hari ini soalnya. :)

@Mine: Hehehe cewek itu? hmm ... :)

@Lita: And thats annoying kan Ta? pengen mengatakan tapi tidak bisa.

@Ririe: Iya. Menyesuaikan. :) Melepaskan.

Sylvia Sumitro mengatakan...

LOVE THIS. Indah sekali.. Dan setuju sekali.

Terima kasih karena sudah menyediakan tempat bacaan favorit baru untuk saya :)

Udah di share di Fb & Twitter, tapi masih pengen re-post di blog, boleh ya? Hehehe..

Salam kenal. Teruslah menulis :)

namarappuccino mengatakan...

Tentu saja boleh dan dengan senang hati. Terima kasih sudah 'ngopi' di sini. :)

ubah dunia dengan kata mengatakan...

lagi dan lagi..
tulisan mas ara selalu mempesona :)

outbound malang mengatakan...

kunjungan gan .,.
bagi" motivasi
Saat kamu menemui batu sandungan janganlah kamu ptus asa,
karena semua itu pasti akan ada solusinya.,.
si tunggu kunjungan baliknya gan.,

Farida Aziz mengatakan...

bagus banget,
banyak menginspirasi saya.belajar melepaskan tanpa melupakan :)

Anonim mengatakan...

Keren ka

Hidup Sederhana mengatakan...

hehehehe,, mas Nara tulisannya membangun sekali.. Melihat sisi-sisi yang lebih njelimet dan luas.. Aku suka cara mas Nara melukiskan suatu posisi, keadaan, dan menarik imajinasi pembaca dalam bentuk tulisan.. Semoga berkah ya mas..

Salam Bahagia..

Ruth Lidya Panggabean mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.